Ruang tamu terasa seperti ruangan pengadilan bagi mereka. Udara penuh ketegangan, seakan dinding rumah ikut menahan napas menunggu sesuatu pecah.
Audrey berdiri di depan pintu kamar, sedangkan Barbara di sampingnya. Tangan mereka masih menggenggam. Meskipun begitu Audrey merasa genggaman itu kini terasa rapuh, seperti dua orang yang sedang berdiri di tepi jurang.
Ellen berdiri di tengah ruang tamu. Tubuhnya tegap, namun sorot matanya… sorot itu menusuk lebih dari apa pun.
Tatapan seorang kakak yang telah menunggu terlalu lama.
Tatapan seseorang yang terluka.
“Audrey.” Ellen mengucapkannya dengan suara yang tidak dapat ditebak, apakah surara marah, kecewa, atau rindu. Mungkin semuanya sekaligus.
Audrey hampir mundur. Barbara mempererat genggamannya.
“Aku di sini,” bisiknya.
Audrey mengangguk kecil lalu melangkah maju. Setiap langkah terasa seperti pasir hisap. Ellen maju satu langkah juga, dan seketika itu pula jarak kecil di antara mereka berubah menjadi tembok besar.
--
“Apa kabar, Len?” suara Audrey akhirnya pecah.
Ellen tertawa kecil. Tawa yang pahit, jauh dari hangat. “Kamu menanyakan kabar aku sekarang? Setelah bertahun-tahun kamu hilang? Setelah kamu nggak pernah jawab teleponku, pesan-pesanku, suratku?”
Audrey menunduk. “Maaf—”
“Jangan bilang maaf,” Ellen memotong. Suaranya tiba-tiba meninggi. “Kamu bilang maaf tapi kamu nggak pernah jelasin apa yang terjadi. Kamu tiba-tiba berubah… kamu mulai minum, pakai obat, keluar malam… lalu kamu pergi. Kamu ninggalin aku!”
Barbara refleks berdiri di depan Audrey, seolah melindunginya.
“Ellen,” katanya hati-hati. “Tolong jangan serang dia seperti ini…”
Pandangan Ellen terfokus ke Barbara karena berdiri dii depan Audrey.
“Oh, kamu Barbara, ya?” Ellen menatapnya dingin. “Kamu yang selama ini jaga dia selama di Bintan?”
“Ya.”
“Bagus.” Ellen mendengus. “Tapi kamu nggak tahu apa-apa tentang apa yang sudah aku lalui bersama adikku.”
Barbara menahan napas. Meskipun begitu dia tidak mundur sedikit pun.
“Tetapi, aku tahu satu hal,” Barbara membalas pelan. “Audrey butuh dimengerti, bukan diserang.”
“Apa kamu pikir aku nggak ngerti dia?” Ellen membentak. “Dia adikku!”
Audrey terkejut mendengar nada itu.
“Ellen…”
Ellen memandang Audrey yang sudah berdiri di samping Barbara.
“Kenapa kamu pergi dariku? Kenapa kamu berubah seolah aku ini siapa? Kenapa kamu nggak percaya sama aku?!”
Audrey memejamkan mata. Tersengal. “Aku… nggak bisa.”
“Kenapa?!”
“Aku takut…”
Ellen memicingkan matanya, "Takut apa?”
“Aku takut kamu ikut hancur kalau kamu tahu apa yang terjadi sama aku!” Audrey berteriak akhirnya.
“Aku takut kamu lihat aku sebagai orang yang kotor! Orang yang nggak layak jadi adikmu!”
Kata-kata itu memukul ruangan seperti petir.
Ellen terpaku.
Barbara menatap Audrey dengan mata berkaca-kaca.
---
Ellen perlahan mendekat dan mencengkram badan Audrey. “Audrey… apa maksud kamu?”
Audrey melepaskan cengkraman Ellen dan mundur setengah langkah. Tangannya gemetar. “Aku… aku nggak mau kamu lihat aku seperti ini. Aku nggak mau kamu tahu apa yang Jack lakukan.”
Ruangan seketika membeku.
Ellen diam. Barbara menghela napas tercekat, mengetahui kata itu akhirnya keluar.
“Jack?” Ellen mengulang dengan suara rendah. Rendah dan berbahaya. “Jack… siapa?”
Audrey menelan ludah. “Pacarmu… dulu.”
Mata Ellen melebar. “Kamu bohong.”
“Ellen…”
“KAMU BOHONG!” Ellen berteriak, membanting tasnya ke lantai. “Jangan fitnah dia! Jangan bawa-bawa Jack ke sini cuma karena kamu mau cari alasan buat semua kelakuan kamu!”
Barbara maju. “Ellen, tolong dengarkan…..”
“Diam!” Ellen menatap Barbara tajam. “Kamu bukan keluarganya! Jangan ikut campur!”
Barbara menggertakkan gigi. “Kalau kakakmu sendiri nggak bisa lindungi kamu, maka aku yang akan lakukan itu!”
Kalimat itu membuat Ellen makin marah.
“Jadi kamu pikir kamu tahu semuanya?! Kamu pikir kamu tahu seper ti apa Audrey sebelum dia berubah?! Kamu pikir, kamu mengenal dia seperti aku?!” Ellen mendekat ke Barbara. “Kamu cuma kenal dia dalam keadaan rusak. Cuma kenal dia waktu terpuruk. Kamu nggak tahu apa-apa tentang hidup kami!”
Barbara menahan napas antara kesal dan marah. Namun kali ini Audrey yang berdiri di tengah mereka.
“BERHENTI!” Audrey berteriak. Suaranya pecah, hampir histeris. “KALIAN BERDUA JANGAN BERTENGKAR!”
Barbara dan Ellen tersentak.
Air mata Audrey yang dari tadi ditahannya, jatuh deras. “Aku capek. Aku capek banget lihat kalian nyerang satu sama lain. Aku capek jadi alasan semua orang saling marah.”
Dia mundur selangkah, tubuhnya bergetar hebat. “A... aku cuma… mau kalian dengarkan aku. Tanpa nyalahin siapa pun. Tanpa marah. Bisa kah?”
Ellen membuka mulut, namun Audrey menggeleng cepat.
“Aku dipecundangi Jack!”
Kata-kata itu jatuh seperti batu yang menghancurkan seluruh sisa ketegangan menjadi kekacauan.
“Dia… dia nodai aku, Len. Waktu aku mabuk. Waktu aku nggak berdaya.”
Ellen menutup mulut dengan tangan. Lututnya goyah. Seakan tidak percaya apa yang di dengarnya. "Kamu bohong!"
“Aku nggak bohong,” suara Audrey bergetar. “Aku cuma nggak tahu cara bagaimana aku bilang ke kamu. Kamu cinta dia… dan aku… a... a.... aku takut jadi perusak hidup orang lagi. Jadi aku lari. Dan aku… benci diriku sendiri.”
Ellen menangis, bukan menangis kecil, melainkan tangisan remuk. Tangis seseorang yang baru saja ditampar oleh kenyataan paling kejam dalam hidupnya.
Audrey ikut menangis, Barbara menangis, ruang tamu itu berubah menjadi tempat di mana semua luka terbuka, semua kebenaran keluar, semua pertahanan runtuh.
Dan dalam kekacauan itu, akhirnya Ellen berbisik.
“Audrey… adikku… kenapa kamu harus menanggung semua ini sendirian…?”
Audrey menatapnya, tersedu. “Karena aku pikir kamu bakal pergi kalau aku bilang.”
Ellen memeluk Audrey…. pelukan keras, seolah ingin menyatukan kembali semua kepingan adiknya yang pecah.
“Tuhan… Drey…” Ellen menangis di bahunya. “Aku nggak akan tinggal diam. Aku janji. Aku nggak akan biarkan kamu disakiti lagi. Tidak oleh siapa pun. Bahkan kalau itu masa lalu kamu sendiri.”
Barbara berdiri di belakang Audrey. Diam, meskipun dengan mata penuh air. Untuk pertama kalinya, Audrey berada di tengah dua orang yang sama-sama mencintainya dengan cara mereka sendiri.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup Audrey, Audrey tidak merasa sendirian di dalam lukanya. Beban berat yang selama ini dipukulnya sedikit berkurang, rasa beban yang ditutupi dia selama ini dari dua orang yang dikasihinya.