Audrey tidak tidur malam itu. Meski tubuhnya lelah, pikirannya terus bergerak tanpa henti, seperti roda yang dipaksa berputar meski hampir patah. Setiap kali dia mencoba memejamkan mata, bayangan wajah Ellen muncul dingin, menjauh, dan penuh luka yang tidak pernah mereka bicarakan.
Ketika pagi datang, Audrey duduk di lantai dekat ranjang. Lututnya ditekuk, kedua tangan menutupi wajah. Dia gemetar, entah karena dingin atau karena takut.
Pintu kamar berbunyi pelan.
“Audrey?”
Barbara.
Suara yang biasanya memberi rasa aman, hari ini justru membuat Audrey ingin menangis. Ia tidak tahu bagaimana menghadapi semua ini, trauma, rasa kehilangan, kedatangan Ellen, dan perasaan yang semakin rumit terhadap Barbara.
Barbara mendekat perlahan, berjongkok di depan Audrey. “Kamu belum makan. Kamu bahkan belum minum air sejak tadi malam.” Ketika Barbara melihat jumlah air dalam teko dan gelas tidak berubah.
Audrey tidak menjawab. Suaranya terkunci di tenggorokan.
Barbara menyentuh pundaknya, lembut dan dengan hati-hati. “Hei… lihat aku.”
Audrey mengangkat wajah. Matanya sembab, hidungnya memerah. Sorot itu! Campuran ketakutan, putus asa dan menusuk Barbara lebih dari yang Audrey sadari.
“Aku takut…” bisik Audrey.
“Apa yang kamu takutin?”
“Ellen.”
Barbara duduk di sampingnya, menarik Audrey ke dalam pelukan. “Dia kakak kamu. Dia nggak datang untuk nyakitin kamu.”
“Tapi dia berhak marah… berhak benci aku…” Audrey tersedak. “Sejak kejadian itu, aku nggak pernah kasih dia penjelasan. Aku hilang. Aku lari dari semuanya… termasuk dari dia.”
Barbara mengusap punggungnya pelan. “Dia akan mengerti.”
“Enggak. Kamu nggak tahu dia, Bar. Waktu Mama meninggal, dia butuh aku. Tapi aku malah… jatuh. Dan waktu aku jatuh… dia sendirian.”
Barbara terdiam.
Audrey lanjut bicara dengan suara pecah, “Mama pergi… aku kehilangan kendali… terus Jack… dan semuanya… semuanya berantakan. Aku bahkan nggak tahu siapa yang lebih aku kecewakan, diriku sendiri, atau orang-orang yang aku sayang.”
---
Barbara akhirnya memegang kedua pipi Audrey, memaksanya menatap. “Aku sayang sama kamu, Audrey. Namun kamu harus tahu satu hal, kamu bukan beban! Kamu bukan orang jahat. Kamu cuma seorang gadis yang terlalu banyak disakiti oleh dunia.”
Audrey menggeleng dengan cepat. “Kamu nggak tahu semuanya.”
“Kalau kamu mau, kamu bisa cerita.”
“Aku takut kamu pergi setelah tahu semuanya.”
Barbara menghela napas pelan, meskipun begitu ia mendekat, menempelkan dahinya pada dahi Audrey. “Dengerin aku. Tidak ada satu pun yang bisa bikin aku ninggalin kamu. Kamu dengar?”
Audrey menutup mata. “Jangan janji kayak gitu. Semua orang yang pernah janji sama aku… akhirnya pergi.”
“Kalau semua orang pergi darimu,” suara Barbara turun menjadi bisikan, “biar aku yang tetap tinggal.”
Audrey kembali menangis. Suara tangisnya kecil, terputus-putus, seperti seseorang yang memohon dunia berhenti sejenak agar dia bisa bernapas.
---
Beberapa jam kemudian, Audrey duduk di tepi tempat tidur dengan tangan menggenggam erat tepi selimut. Barbara ada di sampingnya, tidak melepasnya sedetik pun.
“Bar…” suara Audrey hampir tak terdengar.
Barbara menoleh. “Hm?”
“Aku… kalau Ellen datang nanti…” Audrey terdiam, mencari kata-kata. “Kamu boleh tetap di sini? Jangan pergi.”
Barbara tersenyum sangat lembut sekali. “Aku nggak akan kemana-mana.”
Audrey mengangguk, meski jelas rasa cemas belum hilang. “Aku nggak bisa hadapi dia sendirian.”
“Kamu nggak sendirian,” jawab Barbara. “Aku akan ada tepat di sebelah kamu saat dia masuk.”
---
Waktu terasa cepat bagi Audrey, siang berganti sore ketika suara klakson dari luar rumah terdengar. Audrey langsung tegang. Napasnya berhenti sepersekian detik.
Barbara memegang tangannya erat, penuh keyakinan.
“Aku di sini,” katanya untuk meyakinkan Audrey yang gelisah.
Audrey mengangguk, meskipun begitu tubuhnya bergetar semakin keras. Suara langkah kaki dari luar semakin dekat. Pintu depan dibuka. Suara seorang perempuan terdengar. Suara yang telah lama tidak di dengar oleh Audrey.
“Audrey…?”
Ellen.
Audrey menutup mata. Air mata jatuh begitu saja.
Barbara meremas tangannya. “Ayo,” katanya lembut.
Audrey menarik napas panjang. Napas paling berat dalam hidupnya. Lalu dia bangkit.
Dengan Barbara di sisinya, ia melangkah menuju ruang tamu… menuju masa lalu yang selama ini Audrey lari darinya.
Dan saat itu, Audrey sadar satu hal.
Jika ia harus menghadapi seluruh rasa sakit itu, maka ia ingin Barbara menjadi orang yang pertama kali menggenggam tangannya. Audrey merasa ada sedikit keberanian, ketika berjalan menuju ruang tamu.