Kau Yang Memulai

1104 Words
Rania menikmati kopinya bersama Rachel Manager di Bakery miliknya sekaligus sahabat yang ia percaya keduanya duduk di sebuah cafe yang Americano nya sangat Rania suka, kenapa? entahlah mungkin karena rasanya pas di lidah wanita itu atau karena kopinya di minum di saat yang tepat ia tidak peduli yang jelas Rania menyukainya. Wanita itu menunggu Dave di sana pria yang ingin membicarakan soal kerjasama yang mereka setujui kemarin lusa dan untuk menghindari hal-hal yang berpotensi membuatnya kembali terpesona dengan Dave ia mengajak Rachel, setidaknya begitu. Dave datang bersama seorang pria paruh baya, agak pendek dengan perut buncit yang mengenakan setelan jas rapi sementara Dave terlihat lebih santai dengan kemeja biru muda dan celana berwarna khaki yang fit di badannya, terlihat begitu mencuri perhatian dan pandangan Rania yang tidak bisa lepas darinya. Oh astaga lagi-lagi. Pria itu tersenyum, bahkan dari kejauhan sudah melambaikan tangannya dan entah kenapa Rania membalas dengan tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang rapi kemudian ketika sadar responnya berlebihan ia menurunkan kembali tangannya dengan bingung. "Maaf saya terlambat." Ujar Dave yang kemudian duduk di depan Rania, "Ini Pak Heri manager produksi saya." Tangannya memberi isyarat pada pria di sampingnya agar memperkenalkan diri. Pak Heri menjabat tangan Rania dan Rachel sembari wanita itu memperkenalkan siapa Rachel pada keduanya. Dave memesan Macchiato dan Croissant sementara Pak Heri memilih Espresso yang membuat Rania mengernyit, gelas kecilnya memberi pengaruh besar sebab rasa Espresso begitu pekat itu sebabnya disebut one shot Espresso. Namun ternyata pembicaraan itu tidak seperti yang Rania bayangkan matanya tidak bisa berhenti menatap bagaimana Dave dari atas hingga bawah bahkan cara pria itu berbicara, seingat Rania ia tidak segila ini kemarin bahkan tidak pernah segila ini memperhatikan seseorang dalam hidupnya seperti ada banyak tanda tanya di sekeliling Dave yang membuatnya takjub ketika satu persatu terjawab lewat hal apapun tanpa di sengaja seperti bagaimana ia minum kopinya atau memperlakukan karyawannya atau apa dia menyukai Croissant di toko ini. Sepele, bahkan Rania sendiri tidak paham kenapa hal semacam itu di pertanyakan. "Jadi kita sepakat?" tanya Dave suaranya terdengar dalam dan penuh penekanan Rania bahkan langsung tersadar dari pertanyaan-pertanyaan dalam pikirannya, pria itu mengangkat kedua alisnya menatap wanita yang juga menatapnya pandangan keduanya terdiam di manik mata masing-masing saling memberi arti yang tidak di mengerti oleh yang lain. Rania mengangguk setelah kesadarannya muncul tersenyum mengiyakan pertanyaan Dave soal kerjasama mereka, ia bahkan puas dengan jalannya pembicaraan tersebut Dave memimpin dengan baik, planning yang ia buat sangat jelas dan membuat Rania tidak sabar melakukan satu per satu rencana mereka. Dan terlepas dari itu Rania menyukai suara Dave yang membuat ia tanpa sadar menahan nafas. Rania mungkin tidak sadar tapi Dave juga sama dengan dirinya memiliki segudang ketertarikan pada wanita luar biasa ini, ia hanya menutupinya dengan baik memikirkan umurnya saat ini rasanya ia perlu mengontrol diri dari bertindak berlebihan dan membuat Rania tidak nyaman dengan perasaan dangkal tersebut. Atau perasaan itu baru bertumbuh hanya saja keduanya tidak melihat hal itu lebih jauh, membiarkan alurnya mengalir meski beberapa kali melakukan pencegahan dari kondisi yang membuat mereka bisa jatuh cinta. Tidak ada yang tahu bahwa segalanya bisa berawal dari sesuatu yang disebut kebetulan. Dave baru saja melepaskan Sany, dan rasanya sangat tidak etis jika ia sudah jatuh cinta pada wanita lain padahal hubungannya dengan Sany cukup jauh. Tapi meski Dave mengontrol dirinya tetap saja bukan ia yang memiliki kehendak untuk jatuh cinta. Keduanya berpisah begitu saja setelah berjabat tangan, Rania berkali-kali mengerjapkan matanya dari bayangan tentang pria itu ketika ia dan Rachel tengah duduk di mobil untuk kembali ke toko Bakery miliknya. Ia harusnya sudah jera dengan makhluk bernama laki-laki mengingat bagaimana masa lalu membuatnya cukup terpuruk tapi pria itu cukup mengganggunya bahkan ketika Dave tidak melakukan hal apa-apa. Ia mulai berpikir harusnya tidak menerima tawaran kerjasama ini tapi bukankah sangat tidak profesional kalau ia memikirkan urusan pribadi di atas segalanya. Esok paginya ketika Rania terbangun dari tidurnya yang entah kenapa tidak nyenyak ia di kejutkan dengan suara bising dari proyek pembangunan saluran air di depan rumahnya yang membuat kepala wanita itu tiba-tiba sakit seperti di hantam batu besar, telapak tangannya memukul kepala dengan rambut berantakan itu dengan sedikit kesal. Tidak ada pilihan lain selain obat dan juga ia butuh spa. Sepertinya. Pukul 3 sore ketika Rania keluar dari tempat spa yang berada di lantai 3 salah satu Mall besar di ibukota, dimana ia sudah di sambut hangat sejak dari bagian reception. Tempat itu sudah ia datangi sejak setahun terakhir dan rutin setiap minggu wajar saja jika wajahnya menjadi tidak asing lagi di sana, wanita itu juga tidak pernah pelit memberikan uang tips pada terapisnya karena mereka kadang mendengarkan cerita Rania sebelum wanita itu tertidur dengan nyaman di temani lilin aromaterapi yang khas. Perutnya tiba-tiba saja mual, wanita itu belum sarapan sejak pagi kecuali secangkir americano yang ia beli dengan sistem drive thru sebelum datang ke mall ia tidak kuat berlama-lama mendengar bisingnya mesin yang di bawa para petugas yang tengah melakukan proyek sehingga buru-buru keluar rumah, wanita itu memutuskan untuk naik eskalator dan pergi ke restoran favoritnya, nuansa bambu dan ornamen berwarna merah mendominasi di bagian depan dan yang paling Rania sukai adalah aroma dari gurihnya curry dan katsu. Kali ini wanita itu memesan bento lengkap dengan chicken katsu dan semangkuk udon, juga ocha yang membuatnya semakin relaks. Melihat porsinya yang hampir memenuhi satu meja orang pasti akan berpikir bahwa setelah ini Rania akan diet mati-matian namun nyatanya tidak, kesibukannya membuat wanita itu berolahraga secara alami. Ia sampai pada suapan terakhir udonnya dengan kuah gurih yang membuatnya tidak tahan untuk menghabiskan semua isi di mangkuk. "Kelihatannya kamu menikmati banget ya?" suara dari belakang Rania membuatnya terdiam dengan mata membulat, rasanya tidak asing ia pernah mendengar suara seperti ini dimana? Pikirnya. Pria itu, Dave. Ia mendekat dan memberi isyarat untuk Rania mengijinkannya duduk di depannya sementara wanita itu masih takjub dengan kebetulan yang terjadi. "Loh kamu ... kamu disini?" tanya Rania. Wanita itu menarik serbet kemudian menyeka sudut bibirnya karena takut cara makannya barusan membuat penampilan Rania berantakan. "Makan siang, kebetulan aku suka shabu-shabu disini." Jelas Dave sambil tersenyum. "Ahh~ shabu-shabu iya, disini enak banget sih emang." Wanita itu juga terlihat antusias ketika berbicara soal makanan apalagi ia termasuk jenis yang pemilih dan cukup rajin mengeksplor tempat makan baru. Kemudian pembicaraan keduanya mengalir begitu saja seperti hujan di musim semi yang jatuh perlahan kemudian tumpah semakin banyak tanpa bisa di kendalikan. "Kamu santai hari ini?" tanya Dave, "Mau pergi jalan bareng?" Rania terdiam, ia tahu keputusannya kali ini akan berpengaruh juga pada apa yang terjadi dengan keduanya di masa depan. Pilihan selalu datang padanya untuk mendekat atau memberi jarak. Wanita itu meremas jarinya sendiri berpikir satu, dua kali sebelum berkata, "Oke."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD