Kau Yang Mengganggu Pikiranku

1110 Words
Rania akhirnya memutuskan untuk pulang setelah hampir satu jam menemani Dave menghabiskan kuenya juga menyita waktu pria itu setelah mengobrol tentang banyak hal, ia juga pamit karena harus mengecek florist miliknya padahal wanita itu tengah begitu nyaman dengan pembicaraan mereka, tapi sepertinya tenggelam lebih dalam dengan pria seperti Dave terlalu berbahaya. Rania menggelengkan kepala ketika tengah berada di balik kemudi. Ia tidak boleh mudah jatuh cinta. Lagi. Ibukota macet, selalu. Bahkan di jam santai seperti sekarang ada saja di jalur satu dan lain yang sangat sulit untuk di lewati, ia melirik jam di pergelangan tangannya mengetuk-ngetuk jarinya di kemudi kemudian menopang kepalanya dengan tangan kanan yang bersandar pada pintu mobilnya, ia bosan hampir 15 menit tertahan di tempat tersebut. Belum lagi suara klakson yang saling sahut membuat kepalanya pening. Ponselnya berbunyi pendek sebuah pesan masuk dari Dave yang membuatnya tanpa sadar tersenyum. Oh astaga bukankah Rania sudah berjanji untuk tidak mudah jatuh cinta lagi? wanita itu menempelkan ponselnya di dagu seolah benda itu menopangnya lalu menimbang dengan serius tentang jawaban yang harus di berikan dari ajakan Dave untuk makan siang besok lusa. "Ohh come on Rania, dia bukan ngajak dating dan ini soal kerjaan. Fokus! Fokus!" Ia memarahi dirinya sendiri karena memikirkan hal yang berbeda dari yang seharusnya. Kemudian memberi jawaban dengan buru-buru seolah tengah menghindar untuk terlibat lebih jauh. "Dingin banget." Ucap Dave ketika membaca balasan pesan Rania yang hanya berisi satu kata singkat 'Ya'. Pria itu menarik nafas mungkin ia terlalu berlebihan mengahadapi wanita itu, Dave yang berjanji untuk menahan dirinya pada akhirnya bersikap impulsif dan mengharapkan balasan yang sama dari Rania. Florist milik Rania cukup luas bangunan dua lantai yang terletak di jalan utama itu sepenuhnya milik Rania dengan desain interior yang mewah bernuansa white dan gold, terdapat banyak keranjang juga vas berukuran kecil hingga besar yang diisi dengan rangkaian dry flower miliknya mulai dari Asparagus, Cotton flower, Rose, Silver dollar, Statice, Rodanthe natural pink, Baby's breath, hingga Lavender. Rania juga memiliki mesin khusus untuk mengawetkan bunganya. "Dis, gimana orderan hari ini udah ke handle semua kan?" Tanya Rania pada Operational Managernya, Disty. "Udah mbak, Bulan depan kita juga udah ada beberapa yang booking dari WO buat acara wedding ceremony. Laporannya udah saya simpan di meja bisa mbak cek." Jelas wanita berjilbab tersebut. "Aduhh ... Orang-orang kenapa udah pada mau nikah sih Dis," pekik Rania, ia benar-benar mencairkan suasana membuat beberapa karyawannya tertawa. Beberapa orang mungkin menganggap lelucon soal pernikahan itu menyebalkan tapi Rania selalu menganggapnya angin lalu saja. Rania memang tidak suka membuat jarak dengan para pegawainya ia ingin semua orang bekerja dengan hati yang senang sehingga bisa lebih kreatif dan mengeluarkan banyak ide positif setidaknya begitu pemikirannya. Bukan malah membuat semua orang menjadi takut setiap kali ia datang atau menjadi tidak bertanggung jawab karena sebuah kesalahan. Sifat Rania yang menyenangkan membuat karyawannya hampir tidak pernah berubah rata-rata sudah ikut dengannya sejak tahun kedua ia membangun usaha tersebut. Wanita itu pergi ke ruangannya di lantai dua, tidak besar namun nyaman, ruangan dengan dinding kaca di ujung itu harus melewati meja bagian staff di depannya terlebih dahulu Rania sengaja membuat posisinya seperti itu agar ia bisa menyapa semua orang sebelum masuk ke sana. Ia mengecek laporan di mejanya sebuah map berwarna biru tua dan maroon sudah siap untuk ia periksa. Wanita itu mengikat rambutnya seakan bersiap melakukan sesuatu yang melelahkan. "Maroon dulu." Ucapnya sambil menarik map yang di maksud untuk lebih mendekat, yang paling rumit sebab itu adalah laporan keuangannya bulan lalu penuh dengan angka dan membuat kepalanya pusing sebab ia harus memastikan tidak ada yang janggal di sana. "Butuh kopi kayaknya." Wanita itu mengangkat kepalanya dari map. "Rumi, pesenin kopi aku yang biasa ya!" Rania sedikit berteriak memanggil seseorang yang berbeda ruangan dengannya, wanita bernama Rumi itu tersenyum mengacungkan jempolnya tanda mengerti. Rania kembali pada angka-angka yang memuakkan itu nominal terakhirnya 9 digit dan artinya ia cukup sukses di bidang ini seandainya ia tidak memikirkan bagaimana florist ini berkepanjangan niscaya ia tidak sudi melakukan pengecekan semacam ini setiap bulan. "Americano mbak." Rumi meletakan paper cup berisi kopi panas yang disukainya dari cafe di seberang florist, wanita itu mengangkat kepalanya tersenyum pada staff tersebut sebelum wanita itu pergi meninggalkan ruangan Rania. Ia menarik cup kopinya meniup uap yang keluar dari lubang kecil di satu sisi dan merasakan aroma kopi itu membuat moodnya lebih baik kemudian ketika cairan pekat itu masuk ke dalam mulutnya Rania tersenyum, americano nya tidak berubah. Wanita itu cukup rewel dengan sesuatu yang masuk ke dalam mulutnya bukan ukuran seberapa mahal namun seberapa hebat makanan itu dapat ia nikmati. Sementara Dave entah kenapa tidak bisa konsentrasi dengan semua pekerjaannya jawaban singkat dari Rania begitu mengganggunya. Oh ayolah dia bukan lagi remaja dan seharusnya dia tidak sedang dalam hubungan dimana dia harus peduli dengan cuek atau tidaknya Rania padanya. Bahkan setiap kali ponselnya bergetar itu membuat perhatiannya teralihkan sepenuhnya. "Pak Davin, apa bapak bisa cek dulu laporan produksinya?" tanya Kania yang berdiri di depannya sejak tadi namun Dave malah sibuk melirik ponselnya setiap kali benda itu bergetar kemudian memasang wajah kecewa yang entah karena apa. Kania tidak punya cukup waktu untuk bertanya kali ini pekerjaannya menumpuk dan atasannya membuang waktu seperti ini. "Ah ... Sorry." Kemudian ia memeriksa map berisi 5 lembar kertas di dalamnya dan membubuhkan tanda tangan di akhir menyerahkannya pada Kania agar ia bisa lekas pergi. "Kania ...." Panggil Dave ketika wanita itu sudah berbalik. "Jangan sekarang Dave, kerjaan gue banyak!" Kania mengibaskan tangannya tanpa menoleh ke belakang ia sudah hafal apa yang akan di katakan atasannya tersebut. "Dia tahu banget." Gumam Dave. "Ahh padahal lagi butuh saran." Dave mengacak rambut belakangnya dengan kesal. Dave mengecek pesan terakhirnya dengan Rania yang hanya berisi satu balasan dari wanita itu menekan bagian profil dan menampilkan foto Rania tengah tertawa memeluk flowers bucket ukuran besar, Dave tersenyum hanya dengan melihat tawa wanita itu. Ia berdehem menengok kiri kanan takut seseorang memergoki tingkah anehnya yang membuat ia sendiri heran. "Astaga gue ngapain!" pria itu melempar ponselnya di meja menggosok wajahnya dengan kasar berharap ia bangun dari khayalan tersebut. Telepon di mejanya berdering Dave menekan tombol di sudut dan membiarkan seseorang di sana berbicara dalam mode loadspeaker, "Pak Dave, ada Pak Heri beliau ingin membahas mengenai cake kemarin." Ucap seorang wanita di seberang telepon. Kania. "Cake ... Cake ...." Gumam Dave mengingat-ingat maksud dari sekretarisnya tersebut. "Cake Rania inget?" Sela Kania tidak sabar ia memutar bola matanya karena kesal dengan tingkah atasannya tersebut. Dave tersenyum sumringah, entah kenapa ia merasa jadi memiliki banyak alasan untuk bertemu Rania juga berbicara lewat telepon dengan wanita itu meski dengan alasan pekerjaan. Begini saja sudah cukup baginya menjadi bagian dari permulaan jika ini takdir ia akan membiarkan Tuhan mengatur semua untuknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD