Suara nada sambung ponsel yang dipegang Kim masih terdengar saat dia tengah menghubungi nomor milik seseorang. Perasaannya sekarang sudah campur aduk sebenarnya, ada kekhawatiran yang bercampur dengan ketakutan. Bukan tentang Rin, melainkan tanggapan neneknya ketika mendengar bahwa cucunya akan melepas masa dudanya dengan seorang wanita.
Sejak beberapa hari lalu, Kim sudah melakukan Shalat istikharah seperti yang diajarkan oleh ustaz kepercayaannya. Beliau berkata, meminta petunjuk dari maha pemberi keputusan sebenar-benarnya adalah pilihan terbaik. Setelah melakukan Shalat sunah itu, memang perasaan Kim menjadi sedikit terarah.
Di antara dua pilihan menikahi Sheilla atau menjauhinya, dia sekarang telah memiliki jawaban itu. Ternyata Kim tidak pernah bisa membiarkan Sheilla sendiri dengan masalahnya, tidak bisa juga dia melihat gadis itu menjauh darinya.
Itu baru disadari Kim setelah dia mendengar pernyataan dari Sheilla beberapa hari lalu, ketika gadis itu ingin sekali pulang dan melanjutkan hidup dengan bantuan dari Gandi. Kim tidak rela walau alasan Sheilla masuk akal bagi kebaikan mereka. Kim selalu ingin melihat gadis itu setiap hari, setiap waktu bahkan setiap detik jika bisa. Namun, dia tidak berani mengungkapkan semuanya dan memilih cara lain untuk membuat keinginannya terwujud.
Kim akhirnya menemukan cara untuk membuat Sheilla terus bersamanya, yaitu dengan menikahinya dengan alasan-alasan yang dibuat-buat.
Kim tahu kelemahan Sheilla, dengan begitu keadaan ini sangat menguntungkan baginya. Terdengar jahat? Mungkin iya, tetapi dia sendiri tetap melakukannya dan memastikan Sheilla terus berada di sampingnya,
Akhirnya panggilan dari Kim pun diangkat, suara seorang wanita lanjut usia terdengar parau di telinganya.
“Ya, siapa ini?” tanya Hyun Ae—nenek dari Kim, ibu dari seorang anak yang bernama Kim Ye Joon, ayah dari Kim.
“Ini aku, Nenek.”
“Hyun Soo. Apa ini kau?”
“Ya.” Kim menjawab singkat, dia sedikit mengeratkan pegangan pada ponselnya begitu mendengar suara sang nenek yang sudah cukup lama tidak dihubunginya ini.
“Kau ini ... kau menggunakan nomor baru lagi, apa terjadi sesuatu? Apa ayahmu menghubungimu?” tanya Hyun Ae kepada Kim dengan nada cemas. Sebab Kim menelepon dengan nomor baru.
“Tidak, nomor lamaku masih ada. Hanya meminjam nomor milik Woo Jin,” jawab Kim memberi sebuah alasan. Padahal sebenarnya dia sengaja menonaktifkan nomor lamanya untuk menghindari adanya telepon dari orang lain yang tidak ingin dia terima. “Apa Nenek baik-baik saja? Bagaimana kabar Nenek sekarang?”
Kim bertanya, jujur saja dia selalu mencemaskan neneknya itu setiap waktu. Di usianya yang sudah senja, tidak ada orang lain di sampingnya kecuali para pelayan di rumah. Anak menantunya begitu sibuk, hingga hanya bisa mengunjungi sebulan sekali.
“Masih dengan masalah yang sama.”
Kim terdiam.
“Kau selalu membuat nenek khawatir, setiap hari memikirkan bagaimana kehidupanmu di luar sana. Apalagi saat mendengar kau membuat keputusan itu. Apa sekarang kau sudah bahagia dengan agama pilihanmu?” tanya Hyun Ae kepada Kim.
“Aku ... aku selalu mengkhawatirkan beberapa hal dalam hidupku, di antaranya adalah hilangnya kepercayaan Nenek padaku. Tapi sekarang aku harus menjawab kalau aku sudah benar-benar memiliki keyakinan, agamaku saat ini adalah pilihan yang sangat tepat dan aku merasa nyaman karena-Nya.”
Tidak ada suara sedikit pun dari keduanya dalam beberapa saat, sementara detik panggilan masih berjalan. Seperti yang dikatakan Kim barusan, dia begitu mengkhawatirkan seluruh kepedulian dari neneknya menghilang setelah mengetahui setiap kabar terbaru yang dibawanya. Namun, kehidupan Kim sekarang dipenuhi sebuah pilihan dan dia harus menegaskan sesuatu yang sudah menjadi keyakinannya.
“Begitu rupanya ....” Hyun Ae terdiam sebentar. “Apa yang bisa nenek perbuat jika itu sudah menjadi keyakinanmu? Bahkan ketika kau pergi bertahun-tahun lalu, tidak ada yang bisa nenek lakukan selain mengharapkan kebaikan untukmu.”
“Nek ....” Kim mulai mendengar sebuah nada kekecewaan di sana.
“Nenek tahu, itu sudah berlalu.” Hyun Ae kembali terdiam memendam seluruh kalimat dalam hatinya yang perih mengingat keadaan mereka sekarang. “Lalu bagaimana kehidupanmu sekarang? Apa semuanya berjalan dengan baik?”
“Itu—“ Kim ragu-ragu untuk memberikan kejujurannya. “Ya, semuanya berjalan dengan baik. Woo Jin juga semakin tumbuh besar dan sehat, kami menjalani hidup normal di sini.”
“Begitu? Syukurlah, nenek sangat penasaran bagaimana dia sekarang. Dia pasti mirip sekali denganmu.”
“Ya, dia mirip sekali denganku dalam beberapa hal.” Kim sedikit tersenyum getir, akhirnya dia tidak berani mengatakan sebuah kejujuran tentang pernikahannya dengan Sheilla. Sudah cukup masalah yang ditimbulkannya selama ini, dia tidak ingin menambah beban lagi dalam waktu dekat.
“Sepertinya ada yang datang,” ujar Hyun Ae.
“Siapa?”
“Entahlah, mungkin itu ayah dan ibumu. Mereka kemarin mengatakan akan datang ke rumah.”
Kim hanya terdiam mendengar kabar itu. Sebenarnya dia ingin sekali mendengar suara ayah dan ibunya, sebab sudah terlalu lama mereka tidak bertegur sapa. Namun, keadaannya sekarang tidak memungkinkan, nyatanya ada pembatas tidak kasat mata yang membuat jarak mereka semakin jauh.
“Hyun Soo. Apa pun keadaan kita sekarang, kau harus tetap mengingat siapa orang tuamu. Suatu hari nanti pasti akan datang di mana kita akan duduk bersama sebagai keluarga utuh.”
“Ya ... aku tahu.”
Panggilan pun berakhir. Kim yang duduk di tepian tempat tidur hanya bisa tertunduk merenungi apa yang terjadi dalam kehidupannya beberapa tahun terakhir. Semuanya masih terasa berat sampai sejauh ini, tetapi dia harus tetap bertahan ketika logikanya berjalan. Di mana dia ingat ada seorang anak yang masih sangat membutuhkan keberadaannya.
***
Hari-hari pun berlalu sangat cepat bagi Kim dan Sheilla yang akan menghadapi hari terpenting dalam sejarah kehidupan mereka berdua. Segala persiapan menjelang pernikahan sudah matang, tinggal datang ke Desa Sindang untuk memastikan lokasi tempat pernikahan siap digunakan.
Mereka berdua datang ke sana sekaligus untuk menebar undangan ke seluruh penduduk desa, Kim menginginkan semua orang di Desa Sindang tahu bahwa Sheilla masih bisa menikah dan menemukan jodohnya. Selain itu, kedatangan mereka ke sana juga sekaligus mengunjungi makam Anita dan Nenek Murti.
“Tuan.” Sheilla memanggil Kim dengan nada pelan saat lelaki itu masih berjongkok di samping pusara istrinya setelah membacakan surat Yasin dan memanjatkan doa. “Sebentar lagi udara semakin panas, apa nggak sebaiknya kita buru-buru ke desa?”
Kim pun menoleh sebentar. Dia tidak menjawab apa-apa dan masih tetap berjongkok di tempatnya. Satu tangannya menyentuh batu nisan yang bertuliskan nama Anita, seakan tengah meminta izin atas apa yang akan dilakukannya. Setelah dirasa cukup, dia baru beranjak dari sana dan melihat ke arah Sheilla.
“Apa kau tidak sabar ingin bertemu sahabatmu itu?” tanya Kim.
“Bukan!” Sheilla menjawab cepat. “Cuma nggak tahan panas saja, nanti kulit Ella hitam,” ujarnya lagi mencari-cari alasan.
Namun, Kim hanya melempar tatapan dinginnya kepada Sheilla hingga gadis itu tahu akan kebohongannya sendiri.
“Iya, iya. Kulit Ella sudah hitam dari dulu,” ujar Sheilla yang kemudian mengalihkan pandangannya dari Kim. “Ya, sudah. Ayo berangkat, lebih cepat lebih baik.”
Gadis itu pun berjalan lebih dulu, meninggalkan Kim yang masih menatapi punggungnya dalam beberapa saat. Padahal tanpa berkata pun, Kim tahu Sheilla begitu ingin menemui Gandi.
Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan ke Desa Sindang, tujuan pertama mereka adalah rumah mertua Kim. Bu Sarinah dan Pak Parman sudah dikabari sebelumnya bahwa menantunya akan menikah lagi setelah tujuh tahun menjadi seorang duda. Kedua orang tua itu setuju atas keputusan Kim, walau mereka tahu ada kekhawatiran karena yang dinikahinya adalah Sheilla.
“Tuan, Ella bisa nggak bicara sama Gandinya cuma berdua?” tanya Sheilla setelah mereka sampai.
“Apa? Memangnya kenapa kalau saya ikut?”
“Ada pembicaraan penting yang mau Ella sampaikan ke Gandi. Itu saja,” ujar Sheilla ragu-ragu.
“Terserah, tapi tunggu sampai saya selesai menitipkan undangan ini ke ibu.”
Sheilla hanya mengangguk pelan, mereka pun akhirnya turun dari mobil dan berbicara kepada Bu Sarinah tentang tujuan mereka datang, yaitu ingin meminta sedikit bantuan agar bisa membagikan undangan mereka kepada warga desa.
***
“Ella!”
Sheilla menoleh cepat ketika mendengar namanya dipanggil oleh sebuah suara khas dari Gandi. Lelaki yang baru saja sampai itu, turun dari motornya dan melangkah cepat ke tempat Sheilla yang duduk di kursi depan rumah gubuknya.
Ya, Sheilla sengaja memilih tempat ini untuk berbicara. Sebab tempat ini jauh dari keramaian dan dia bisa dengan bebas berbicara bersama Gandi.
Sheilla pun beranjak dari kursi untuk menyambut kedatangan pemuda itu. Seperti biasa, Gandi selalu mengantarkan senyum manisnya bila mereka bertemu. Namun, Sheilla merasa senyum itu mungkin saja menghilang dari wajah tampannya.
“Akhirnya kamu pulang juga, aku sudah lama tungguin kamu datang, La.” Gandi berkata sambil tersenyum lebar seakan begitu senang melihat Sheilla kembali ke rumahnya.
“Gandi kayaknya senang Ella pulang.”
“Jelas aku senang! Dengan begini, kita bisa sama-sama lagi. Nggak ada satu orang pun yang bisa membuat kamu celaka,” ujar Gandi.
Sheilla hanya tersenyum tipis. “Duduk dulu, kita bisa bicara sebentar. Kamu mau minum?” ajak Sheilla sekaligus mengambil sebuah botol minuman dingin dan diberikannya kepada Gandi. Pemuda itu pun menerimanya dan langsung menuruti ajakan Sheilla barusan.
“Jadi gimana? Apa kamu sudah ada rencana buat ke depannya, La? Kamu mau kan, ikut kerja di tempat temanku?” tanya Gandi tanpa basa-basi lagi.
“Gandi ....” Sheilla semakin ragu untuk mengatakan kejujurannya kepada Gandi karena pemuda itu terus tersenyum dan ingin menularkan semangatnya.
“Kenapa wajah kamu begitu? Apa ada yang jahatin kamu lagi? Bilang siapa orangnya! Biar aku yang tangani langsung!”
“Enggak ... bukan begitu. Kamu dengarkan aku dulu,” kata Sheilla langsung menahan Gandi yang ingin beranjak dari kursinya. “Ada hal penting yang mau aku sampaikan ke kamu, ini tentang masa depanku.
“Ya sudah. Aku dengarkan, bicaralah.” Gandi pun mulai bersikap tenang.
Sementara Sheilla di sampingnya seakan diserang kekhawatiran tentang reaksi apa yang akan diberikan oleh Gandi. Sheilla cemas pemuda itu akan marah dan kecewa, walau dia tahu hal itu paling berpotensi terjadi di waktu sekarang.
Sheilla sungguh tidak ada pilihan, ini semua sudah telanjur basah dan dia tidak bisa mundur lagi. Sheilla pun membuka sebuah tas yang dibawanya lalu mengambil sebuah barang di sana. Itu adalah sebuah kartu undangan pernikahannya dengan Kim yang akan dilaksanakan 5 hari lagi.
“Gandi, sebelumnya Ella minta maaf karena terlambat ngasih tahu kamu soal ini. Tapi kamu harus tahu, nggak ada maksud Ella buat mengecewakan kamu atas keputusan yang sudah Ella ambil sekarang.”
“La ... kamu itu bicara apa, sih? Aku sama sekali ngak ngerti. Coba langsung ke intinya saja, kamu mau bilang apa?” tanya Gandi kepada Sheilla saat gadis itu tertunduk seraya memegang erat sebuah kartu undangan berwarna kuning emas di tangannya.
“Ella mau menikah sama Tuan Kim, dan Ella harap kamu bisa datang ke pernikahan kami 5 hari lagi,” ujar Sheilla. Akhirnya dia memperlihatkan kartu undangan yang bertuliskan namanya dan Kim kepada Gandi.
Pemuda itu spontan beranjak dari kursinya dengan kedua mata basah memandangi kartu undangannya.
“Apa maksud kamu, La? Kamu bilang nggak mencintai lelaki itu, kan? Kenapa masih ada pernikahan begini di antara kalian?”
Akhirnya Sheilla berhasil membuat senyum Gandi menghilang seketika, itu rasanya seperti menorehkan luka pada hatinya sendiri.
“Iya, Ella tahu pernah mengatakan itu. Tapi keadaannya sekarang nggak bisa Ella kendalikan, Gan. Ada satu hal yang membuat Ella berat membatalkan rencana pernikahan ini dari kemarin-kemarin. Kamu harus mengerti—“
“Apa yang harus aku mengerti dari semua ini, La?”
“Gandi ....”
“Kamu memaksaku mengerti keadaan kamu sekarang, tapi apa kamu memikirkan gimana perasaanku dan bagaimana cara mengerti perasaanku?” tanya Gandi. Air matanya mengalir setetes demi setetes saat berbicara mengungkapkan kekecewaannya kepada Sheilla. Namun, dia buru-buru menyekanya dan melihat kembali ke arah gadis itu.
Sheilla sendiri tidak pernah mengira hal ini terjadi kepada Gandi. Pemuda itu menangis?
“Aku berusaha mengerti perasaan kamu, Gan.”
“Nggak ada yang kamu mengerti dari perasaanku, La. Sedikit pun nggak ada,” ujar Gandi bersuara pelan. “Kalau kamu memang mengerti, undangan ini nggak pernah ada dan aku nggak akan pernah sesakit ini.”
“Gandi jangan bilang begitu, Ella sedih kalau kamu marah sama Ella.” Sheilla memegang lengan Gandi, dia benar-benar takut pemuda itu marah dan malah menjauhinya karena masalah ini. Kedua matanya sudah basah dan banyak meneteskan air karena kecemasannya sendiri. Nyatanya dia juga terkejut akan sesakit ini melihat raut wajah ceria Gandi menghilang dari pandangannya.
“Aku nggak pernah bisa marah sama kamu, La. Bahkan ketika sekarang kamu menghancurkan cinta yang ada dalam hatiku, itu nggak akan pernah bisa membuatku marah sama kamu.”
“Apa?” Kedua mata Sheilla terbulat sempurna ketika mendengar sebuah kalimat asing yang melintas di telinganya. Sementara Gandi masih menatapnya dengan kedua mata memerah dan basah.
“Aku cinta sama kamu, La.”