Kelakuan Kim

1465 Words
Sheilla dan Kim pun mulai mengurus surat-surat guna pernikahan mereka nantinya. Kim sudah menentukan tanggal, apa yang bisa Sheilla lakukan jika sudah begini? Mengingat penawaran Kim kemarin-kemarin sebenarnya memang sangat menguntungkan baginya, tetapi yang menjadi alasan kuat Sheilla menerima pernikahan ini adalah Woo Jin. Usai dari kantor urusan agama, mereka pun berangkat menuju salah satu tempat penyedia jasa Wedding Organizer yang biasa dipakai oleh para pasangan pengantin. Pilihan Kim sekarang benar-benar tidak bisa dianggap main-main lagi, dia memilih WO yang terbaik dan cukup mahal bagi Sheilla. “Tuan ... apa ini nggak terlalu berlebihan? Padahal kalau yang biasa saja juga nggak apa-apa, Ella juga nggak akan protes,” ujar Sheilla ketika mereka baru selesai memilih jasa yang akan mereka gunakan. Dia masih merasa keberatan, sebab nominal angka uang yang dikeluarkan Kim juga sangat banyak. “Kamu mengatakannya lagi ....” Kim yang berdiri di samping Sheilla sampai terhenti, dia cukup bosan mendengar Sheilla mengingatkannya lagi dan lagi tentang pilihannya sekarang. “Apa kau yang membayarnya?” Sheilla menggelengkan kepala pelan. “Jadi berhentilah protes dan jadi calon istri yang baik.” “Tapi itu uang 50 juta! Itu banyak banget buat Ella, di desa Ella paling mahal sewa begituan Cuma 20 juta, tuh. Itu kemahalan apalagi orang yang Tuan nikahi juga bukan siapa-siapa. Ella khawatir sama pandangan orang-orang nantinya, kalau mereka nganggap Ella pakai pelet gimana?” protes Sheilla kepada Kim. “Dan kau masih mempercaya hal itu?” “Ella percaya, karena Tuan nggak pernah ada di posisi Ella yang miskin dan nggak cantik.” Sheilla melempar tatapan tajam ke arah Kim yang terus mempertahankan keinginannya. Kim terdiam sebentar, kemudian menghela napas perlahan. “Jangan isi pikiranmu dengan hal-hal yang tidak penting. Rugi kalau kau beranggapan seperti itu kepada sesuatu yang bisa saja tidak akan terjadi. Lagi pula, selama ini apa mereka yang menanggung seluruh biaya dalam hidupmu? Jika tidak, bersikaplah biasa-biasa saja. Bersihkan pikiranmu yang tadi itu kalau kau mau hidup dengan tenang.” “Tapi, Tuan—“ “Apa masih mau protes lagi? Besok kita masih harus ke kantor polisi. Jadilah saksi yang tegas dan jangan tunjukkan kelemahanmu pada mereka, apa kau mengerti itu?” Sheilla terdiam, hanya bibirnya yang sedikit mengerucut karena Kim terus saja mengaturnya ini dan itu. Namun, Sheilla juga tidak mungkin lupa, beberapa waktu lalu dia mendapat surat pemanggilan dari kepolisian untuk menjadi saksi dalam tindakan penganiayaan yang dilakukan Rin padanya. Ah, gadis itu. Sheilla sangat ragu jika dia bisa bersikap seakan tidak ada apa-apa. Bahkan sepertinya dia tidak ada kekuatan apa pun untuk menghadapi Rin nanti. “Sekarang coba pakai itu, apa kebayanya cocok untukmu?” Kim menunjuk ke salah satu kebaya putih yang sangat anggun, membuat Sheilla sedikit ragu untuk menuruti perintahnya. “Tuan ....” Sheilla menatap Kim sekali lagi, berharap agar lelaki itu mau menurunkan sedikit saja keinginannya sekarang. “Pakai.” Mendengar perintah Kim yang sesingkat itu, Sheilla lagi-lagi tidak bisa membantah. Dia pun mengiyakan dan mengganti pakaiannya dengan kebaya pilihan Kim. Bersama seorang wanita yang membantunya, Sheilla akhirnya mengenakan kebaya putih tersebut tanpa ada protes lagi. Kim pun menunggu Sheilla sampai selesai berganti pakaian seraya memeriksa ponselnya. Rupanya Kim mendapat pesan dari salah seorang teman yang menyuruhnya membuka sebuah berita online. “Cepatlah buka berita ini, apa itu serius?” Pesan dari Hee Joo terbaca oleh Kim, dia adalah seorang wanita pemilik sebuah konter tidak jauh dari toko Kim. Pesan darinya itu disertai sebuah link yang bisa langsung dibuka. Tanpa berpikir panjang, Kim akhirnya membuka link tersebut dan membaca berita penting apa yang dikirimkan oleh temannya itu. Di sana, Kim bisa melihat berita tentang perbuatan Rin sudah tersebar luas sampai masuk ke berita online semacam ini. Gadis itu dikabarkan sudah berada di kantor polisi dan berstatus sebagai tersangka. Kim tidak terlalu terkejut sebenarnya, sebab dia tahu bahwa Rin adalah anak seorang pejabat yang cukup terkenal di kota. Sekarang gadis itu sudah tersandung kasus yang mencemarkan nama baik ayahnya, lambat laun berita ini akan muncul juga sesuai perkiraan Kim. “Ya, itu benar.” Kim membalas pesan dari Hee Joo. “Dia sungguh keterlaluan. Untung saja kau tidak menikah dengan gadis itu, dia seperti penyakit.” Kim tersenyum kecil. Belum sempat dia membalas pesan tersebut, Sheilla sudah muncul dari ruang ganti dengan sebuah kebaya putih yang membalut tubuhnya. Gadis itu tertunduk tidak berani membalas Kim yang menatapnya tanpa cela. Kim begitu takjub, Sheilla tampak anggun bersama kebayanya. Rambut hitam yang masih terurai dengan polesan make up tipis, begitu menyatu dengan kebaya yang dikenakannya. “Kenapa Tuan melihat Ella begitu? Ada yang salah, ya?” tanya Sheilla yang langsung menyadarkan Kim. “Tidak.” “Mbak kelihatan cantik mengenakan kebaya ini,” ujar seorang wanita yang ada di sebelah Sheilla. “Sungguh?” “Tentu saja. Calon suami Mbak juga sepertinya menyukai ini, lihatlah Masnya sampai lupa berkedip.” Wanita itu terkekeh kecil setelah mengatakan sebuah kejujuran dan berhasil membuat Kim salah tingkah. Ketika pandangan kedua manusia itu saling bertemu, Kim memilih menghindar lebih dulu. Namun, hal itu justru mematahkan hati Sheilla dan membuatnya berpikir bawah Kim tidak menyukai ini sama sekali. *** Keesokan harinya, Kim dan Sheilla mendatangi sebuah kantor polisi untuk memenuhi panggilan. Sheilla pun dihunjam banyak pertanyaan oleh tim penyidik tentang kejadian sebenarnya. Mau tidak mau, Sheilla harus berkata jujur. Walau hatinya terasa berat, walau ketakutannya masih menempel lekat. Sheilla sekarang hanya bisa berharap jika keadaan ini tidak akan menjadi sebuah masalah besar baginya. Setelah beberapa jam berlalu, Sheilla baru keluar bersama seorang pengacara yang sengaja dibawa oleh Kim. Wajah gadis itu terlihat pucat sebab ini baru pertama kali dia menginjakkan kaki di sana dan menjadi saksi dalam sebuah kasus. Terlebih kasus yang dihadapinya sekarang sudah menjadi konsumsi masyarakat banyak. Sekarang saja, ada beberapa orang dari pihak media datang untuk mewawancarai hasil yang dibawa Sheilla. Namun, Kim tidak mengizinkan mereka mewawancarai Sheilla dan langsung mengajak gadis itu masuk mobil usai urusannya selesai. Kim yang setia menemaninya pun mengambilkan sebotol air minum dingin untuk Sheilla. “Minumlah, apa kau baik-baik saja?” tanya Kim seraya menyodorkan air minumnya. “Ella masih takut, sekarang saja tangan Ella masih gemetaran. Apa tindakan Ella sekrang sudah benar, Tuan?” Sheilla menerima minuman dari Kim, tetapi sulit untuk mengendalikan tubuhnya sendiri. Sebab ketegangannya sudah menyita banyak tenaga dan pikiran. Sheilla dihantui rasa takut dan cemas jika Rin nyatanya masih bisa bebas dalam waktu dekat. “Jangan ragu.” Kim berkata singkat. “Tapi Tuan, yang Ella hadapi sekarang adalah Nona Rin. Tuan tahu sendiri gimana bencinya dia sama Ella. Kalau dia ternyata bisa bebas dalam waktu dekat, Ella takut dia akan mengulanginya lagi.” Kim menghela napas tipis. “Itulah sebabnya kenapa kau mudah ditindas orang lain.” “Apa?” “Sudah saya katakan, singkirkan pemikiran yang tidak penting itu dalam kepalamu.” “Tuan ... Ella masih takut juga, gimana?” Sheilla melihat ke arah Kim dengan raut wajah paling menyedihkan, ketakutannya benar-benar nyata. Walau Kim menganggap masalah ini akan cepat selesai, bagi Sheilla ini seperti akan memancing masalah baru. Kim pun menoleh sejenak ke arah Sheilla, sebelum kembali fokus menyetir mobil. “Kau seperti anak kucing.” “Tuan, Ella serius!” ujar Sheilla dengan nada sedikit lebih tinggi, dia kesal karena Kim menganggap kekhawatirannya ini biasa-biasa saja. “Begitu terus reaksinya dari kemarin.” Sheilla menyandarkan punggung di kursi dengan bibirnya yang mengerucut. Sementara Kim di sebelahnya hanya tersenyum tipis tanpa diketahui oleh gadis itu. “Baiklah, apa kau mau saya kasih cara supaya bisa menghadapi Rin?” tanya Kim tiba-tiba dan memuat Sheilla menoleh secepat mungkin. “Memang ada?” “Ada.” “Mau!” Sheilla langsung menyambut penuh semangat. Dia berharap besar kalau Kim akan memberikan jalan keluar sungguhan untuk menghadapi Rin satu hari nanti. “Baiklah.” Kim hanya menjawab singkat saja. Kemudian menambah kecepatan mobil agar mereka cepat sampai ke tempat yang ingin didatanginya. Sesampainya di tempat tujuan, Sheilla mengernyit karena mereka malah berhenti di sebuah rumah makan. Padahal sebelumnya dia berpikir akan langsung dibawa pulang oleh lelaki itu. “Kenapa Ella dibawa ke sini? Tuan mau makan di sini?” tanya Sheilla heran. Kim tidak menjawab, dia malah melangkah lebih dulu masuk ke rumah makan tersebut dan memesan beberapa menu makanan. Di antara olahan daging sapi, ayam, kentang dan sayuran. Sheilla sampai melongo melihat banyaknya makanan di meja mereka. “Apa Tuan mau memakan semua ini?” “Tidak.” “Terus kenapa Tuan memesan banyak makanan kalau nggak mau dimakan? Kan sayang.” “Kau yang akan memakan semuanya, isilah energimu dengan semua ini agar kau memiliki tenaga saat menghadapi Rin.” “Apa?” Sheilla sempat mematung mencerna ucapan Kim barusan, dia pun baru tersadar saat mengetahui maksud Kim mengajaknya ke sini. Lelaki itu tidak berniat memberikan sebuah cara untuk menghadapi Rin, melainkan menyuruhnya berpikir sendiri dengan cara seperti ini. “Tuaaaaaannnn!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD