“Appa, aku mau langsung ke kamar, yah. Cape banget soalnya,” ujar Woo Jin bernada pelan. Dia kelihatan sudah kelelahan sekali setelah hampir seharian bersenang-senang di Kota yang baru pertama dikunjunginya. Bukan hanya kolam renang, dia, Kim dan Sheilla mengunjungi beberapa tempat lainnya.
Anak itu kelihatan senang sekali, sekarang kesenangan itu terjeda dan butuh istirahat cukup banyak karena tenaganya sudah terkuras banyak. Dia yang masih berdiri di depan kamarnya pun melihat ke arah Kim sebentar, kemudian memberi seulas senyum termanisnya.
“Kenapa kamu tersenyum begitu? Sekarang istirahatlah, kau sudah cukup banyak bermain hari ini.” Kim mengusap rambut Woo Jin.
“Enggak, aku cuma mau bilang sesuatu ke Appa.”
“Bilang apa?”
“Aku sayang Appa.”
Kim tersenyum mendengar kalimat langka itu dari mulut putranya. “Ada angin apa kamu bicara begini, umh? Apa ada maunya lagi?”
Woo Jin mengangguk pelan.
“Mau apa lagi?”
“Cuma mau Appa menikah sama mama secepatnya. Itu saja,” ujar Woo Jin.
Senyum Kim menipis perlahan, apa memang sebegitu besarnya harapan Woo Jin dalam hal ini? Kim mulai dihinggapi rasa sakit yang tidak bisa diartikan apa penyebabnya, padahal seharusnya sekarang dia bahagia. Woo Jin sekarang tidak akan lagi banyak mengeluh tentang kesedihannya yang tidak pernah mendapat sentuhan kasih sayang seorang ibu kepada Sheilla. Kim juga akan lebih sering melihat senyum semringah terpancar dari bibir putranya setiap waktu.
Namun, kenapa rasanya seperih ini?
Akhirnya Kim hanya terdiam tidak menjawab ucapan Woo Jin kali ini. Mungkin dia memang bisa mengabulkan seluruh keinginan putranya dari segi materi, tetapi untuk memiliki komitmen dengan seorang pasangan demi mempertahankan kebahagiaan putranya ... Kim masih meragukan apa di sudah memilih jalan yang benar.
***
Sementara itu, Sheilla masih berada di tempat tinggalnya untuk sedikit melepas penat sebelum kembali ke rumah Kim. Ada banyak pekerjaan menantinya, tapi dia memilih mengistirahatkan diri sejenak dari rasa lelah yang menempel di tubuhnya sekarang.
Dia pun mengambil ponsel dalam tasnya, kemudian melihat sebuah pesan yang dikirim oleh Gandi lewat Wechat. Di sana, Gandi mengirimkan sebuah foto kenangan mereka semasa masih bisa bertatap wajah dengan mudah. Senyum pemuda yang sering mengenakan setelan celana jeans dan jaket itu begitu manis, membuat Sheilla ikut tersenyum saat memandangnya.
Sekarang mereka sangat jauh, terpisah oleh jarak dan waktu. Sheilla begitu merindukannya. Tunggu ... merindukannya?
Sheilla segera bangkit dari posisinya yang semula berbaring, kemudian memegangi dadanya. Debar jantungnya sekarang lagi-lagi tidak biasa.
“Kenapa ini? Dadda Ella rasanya sedikit sakit,” gumam Sheilla. Dia masih memegangi dadanya yang terasa tidak seperti biasa saat melihat wajah Gandi, padahal hanya foto. Namun, kenapa debar jantungnya begini?
Sheilla merasa ada yang salah pada dirinya.
Gadis itu pun beranjak dari tempat tidur, mencoba menyingkirkan perasaannya sendiri. Dia pernah merasakan ini, perasaan yang sama ketika dia menjalin tali kasih dengan calon-cqlon suaminya terdahulu.
“Ella nggak boleh merasakan ini ke Gandi, nggak boleh.”
Sheilla terus membatasi perasaannya terhadap Gandi, apa pun itu. Dia tidak ingin perasaannya sekarang menjadi boomerang untuknya sendiri.
Sesampainya di rumah Kim, keadaan rumah begitu hening. Tidak terdengar aktivitas manusia di dalamnya, langkah Sheilla pun membawa ke kamar Woo Jin. Dia lihat anak itu sedang tertidur sangat lelap di kasurnya.
Sheilla hanya tersenyum manis, tidak berani mengganggu tidur Woo Jin. Anak itu pasti sangat kelelahan, pikirnya.
Sheilla pun berniat pergi ke kamar mandi, tempat di mana baju-baju bekas berenang mereka harus dicuci. Namun, langkahnya terhenti di satu tempat yang cukup strategis, di mana dia melihat pintu kamar Kim yang terbuka dan menunjukkan sang pemiliknya di sana.
Sheilla cukup terkejut, sebab Kim kelihatan sedang melakukan ibadah Shalat Asar. Azan memang baru beberapa menit lalu berkumandang, tapi lelaki itu?
“Tuan Shalat? Apa itu artinya dia sudah menjadi seorang mualaf sungguhan?” tanya Sheilla dalam hati. Dia lihat lelaki yang selalu mengenakan kemeja warna-warna pastel itu begitu khusyuk, membuat senyum Sheilla muncul tanpa terasa.
Pembawaan Kim jika dilihat dalam keadaan begini sangat berbeda, menularkan ketenangan bagi siapa pun yang berada di sekitarnya. Namun, beberapa detik kemudian Sheilla sadar bahwa seorang lelaki yang berada di atas sajadah itu adalah calon suaminya.
Sebentar lagi status mereka akan berganti, bukan lagi pembantu dan majikan. Apa ini mimpi? Sheilla merasa kehidupannya sekarang tidak ubah seperti di negeri dongeng, cinta upik abu dengan seorang pangeran tampan. Sayang sekali pada kenyataannya tidak berlaku bagi Sheilla, tidak ada cinta pada dirinya dan Kim sekali pun.
Sheilla melihat Kim bergerak dari sajadahnya, lalu melangkah tegas mendekat. Namun, Sheilla masih berpikir itu masih ada dalam bayangannya karena begitu terkesima dengan kharisma lelaki itu yang cukup kuat.
“Sedang apa kau di depan kamar saya?”
Krikkk
Krikkk
Krikkk
Otomatis kesadaran Sheilla seakan menamparnya keras, ternyata itu bukan sekedar khayalannya. Melainkan kenyataan yang membuatnya malu bukan main. Kim sekarang benar-benar berdiri di hadapannya dengan raut wajah datarnya yang khas.
“Eu ... itu. Ella lagi bersihkan tembok, iya. Tadi Ella lihat banyak debunya,” jawab Sheilla mencari alasan, tapi sayang sekali dia tidak membawa satu pun alat kebersihan di tangannya. Hingga Kim melihatnya tanpa suara seakan tahu kebohongan itu.
“Iya, iya. Ella nggak sengaja lihat Tuan Shalat, terus malah nggak kerasa melamun di sini.”’ Akhirnya Sheilla berkata jujur walau itu sangat memalukan.
“Apa itu?”
“Apa?” Sheilla mengernyit.
“Apa yang kau lamunkan sambil memandangi saya?”
Sheilla menelan ludah, berat sekali rasanya untuk menjawab jujur kali ini. Hingga dia pun memilih menggelengkan kepala pelan dan tertunduk lesu.
“Ikutlah, ada yang ingin saya bicarakan denganmu.” Kim melangkah lebih dulu setelah berbicara.
Sheilla pun tidak ada pilihan lain kecuali mengikuti langkah tuan sekaligus calon suaminya itu. Mereka tiba di ruang tengah, di mana Kim biasa duduk dan menyandarkan punggungnya di sofa. Sheilla yang mengikuti jejak Kim turut duduk dengan kecanggungan.
“Tuan mau bicara apa?” tanya Sheilla.
“Mulai malam ini, kemasi seluruh barang-barangmu dan pindahkan ke rumah ini. Besok siang, kita akan pergi ke tempat WO untuk memastikan apa saja yang akan kita pakai di hari H nantinya.”
Sheilla mendadak terbatuk-batuk tanpa sebab, itu diakibatkan karena dia terkejut bukan main dengan ajakan mendadak Kim sekarang.
“Apa seserius itu?” tanya Sheilla tidak percaya.
“Apa kau pikir saya min-main?”
“Bukan ... maksud Ella, apa Tuan serius mau menggunakan jasa WO untuk pernikahan kita? Kalau Ella mah, nggak apa-apa mau nikah langsung ke KUA tanpa acara juga yang
Penting sah. Ella nggak mau minta apa-apa.”
“Tapi saya menginginkan pernikahan itu menjadi pernikahan yang paling besar yang pernah ada di desamu.”
Sheilla menelan ludah, apa Kim seserius itu? Sheilla benar-benar tidak bisa membaca isi pikiran lelaki itu sama sekali.
“Kenapa Tuan melakukan itu? Bukannya kita menikah juga nggak menggunakan perasaan? Seharusnya Tuan nggak perlu repot-repot mengeluarkan banyak uang buat keperluan yang nggak penting.”
“Itu adalah hak saya,” jawab Kim sangat padat dan membuat Sheilla semakin bertanya-tanya tentang keputusannya.
“Tuan—“
“Yang menjadi fokusmu ke depannya adalah kebahagiaan Woo Jin. Saya tidak mau kau mengecewakannya sedikit pun, apalagi sampai membuatnya terluka.”
“Tuan tahu sayang Ella buat Woo Jin bukan main-main, tanpa diminta pun Ella akan menjaga kebahagiaannya. Tapi masalahnya, bagaimana nanti kehidupan kita? Apa Ella harus tidur bareng—“
“Tentu saja kita akan tinggal di kamar yang sama.”
Kim menyela ucapan Sheilla dan berhasil membuat debar jantung gadis itu berdegup cepat. Sheilla melihat keseluruhan tubuh Kim dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tinggi badan yang ideal dengan kulit bersih, tangan-tangan besar nan kokoh hingga bibirnya yang ....
Sheilla mendadak menggelengkan kepala. Lagi-lagi dia ingat bibirnya pernah bersentuhan dengan lelaki itu.
“Apa yang kau pikirkan sekarang?”
“E—nggak, enggak ada.”
“Baguslah. Kita akan membahas masalah lainnya setelah memastikan WO mana yang akan kita pakai. Jika sempat, kita akan pergi juga mempersiapkan berkas-berkas di kantor urusan agama untuk pernikahannya.”
“Memangnya Tuan sudah punya tanggal?” tanya Sheilla.
“Ya, kita menikah dua minggu ke depan.”
“Hah?!” kedua mata Sheilla terbulat sempurna, keputusan Kim terlalu cepat baginya yang belum mempersiapkan apa pun sama sekali.