Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, akhirnya mereka sampai juga di lokasi pariwisata terkenal Kota Cirebon. Bahkan sebelum memarkirkan mobil, Woo Jin sudah sangat bersemangat melihat keramaian di tempat yang begitu besar. Hari ini, antusias orang-orang pun sama seperti mereka, menikmati hari libur di kolam renang dengan suguhan pemandangan indahnya.
Rencana Woo Jin dan Sheilla sedikit berbelok karena ternyata pantai tempat yang mereka tuju sedang ditutup sementara. Namun, Woo Jin tetap senang, dia ternyata menyukai semua objek wisata yang berhubungan dengan air. Begitu membeli tiket masuk dan melihat lokasinya, anak itu terus berjingkrak senang tidak sabar memasuki tempatnya.
“Appa ... Ma, ayo masuk! Ayo, masuk!” rengeknya seraya menarik-narik kecil tangan Sheilla dan Kim. Dia tidak melihat dua orang dewasa itu diikat oleh kecanggungan dengan panggilan baru untuk Sheilla.
“Sabar, jangan lari-lari begitu. Khawatir lantainya licin dan nanti kamu jatuh,” ujar Kim.
“Iya, aku akan hati-hati. Tapi jalannya yang cepat, Appa. Aku nggak sabar buat berenang.”
Woo Jin tetap menarik tangan Sheilla dan Kim, mengajak mereka masuk lebih cepat dengan penuh semangat. Ternyata orang-orang semakin ramai di dalam, ada banyak orang tua membawa anak-anak dan saudara mereka untuk datang. Hampir semua kolam terisi penuh kecuali kolam dengan kedalaman bagi orang dewasa.
Ketika Woo Jin begitu menunjukkan semangatnya untuk menceburkan diri ke air, di sana Sheilla bisa melihat raut wajah Kim yang seakan gelisah. Lelaki itu enggan menengok ke air, apalagi ingin berenang di sana.
“Kak ... eh, Ma. Temani aku ganti baju, dong,” ajak Woo Jin kepada Sheilla.
“Memangnya Appa-mu nggak ikut ganti baju, umh? Ajak juga Appa, dong!”
Woo Jin melirik ke arah Kim sebentar. “Ah, Appa mana mau berenang sama aku. Dari dulu aku selalu berenang sendiri, nggak asyik.”
“Kenapa begitu?” tanya Sheilla yang langsung melihat ke arah Kim juga. “Ah, ya. Appa mu nggak bisa—“
“Jangan banyak komentar, cepatlah ganti baju sana. Biarkan appa duduk dan melihat kamu saja.” Kim menyela ucapan Sheilla, sebab selama ini dia terlalu malu mengakui bahwa dirinya tidak bisa berenang kepada Woo Jin. Ada trauma yang terjadi hingga menyebabkan dia sulit beradaptasi dengan air dalam.
“Iya, iya, baiklah. Tapi aku mau sewa pelampung, yah?”
“Terserah kamu.”
“Asyik! Terima kasih banyak, Appa!”
Woo Jin semakin senang, dia pun menarik tangan Sheilla ke tempat khusus berganti pakaian. Meninggalkan Kim yang langsung berjalan ke tempat beristirahat pun membawa tas berisi makanan buatan Sheilla.
Di antara keramaian ini, Kim menyaksikan banyak kebahagiaan dari wajah orang-orang sekitarnya. Namun, kenapa itu tidak berlaku baginya sekarang? Jawabannya adalah karena sampai detik ini, dia masih mencari sumber kebahagiaannya sendiri selain dari Woo Jin. Sangat sedikit yang disukainya, serta tidak banyak ketertarikannya dalam hal apa pun.
Setelah beberapa saat duduk di sana, Kim mendengar sebuah nada dering ponsel, tapi bukan berasal dari ponsel miliknya. Setelah dilihat lagi, ternyata itu berasal dari ponsel milik Sheilla yang ada di dalam tas makanan mereka.
“Dasar ceroboh,” gumam Kim. Dia pun melihat siapa yang memanggil Sheilla, tapi sesaat kemudian dia menyesal sudah melihatnya. Nyatanya panggilan itu berasal dari Gandi—orang yang tidak mengenal menyerah mendekati Sheilla. Kim pun memastikan Sheilla masih belum sampai ke tempatnya, hingga dia bisa mengangkat panggilan dari Gandi diam-diam.
“Ya?”
“Siapa kamu? Ella mana?” Gandi langsung bertanya dengan nada sinis karena bukan suara Sheilla yang didengarnya.
“Ini saya. Apa kau mencari Sheilla? Dia tidak ada, sedang pergi berganti pakaian.”
“Ganti pakaian?! Memangnya kalian sedang apa? Ada di mana?!” tanya Gandi bernada tinggi.
“Itu tidak ada urusannya denganmu, dia adalah calon istri saya. Kami berhak untuk tidak menjawab pertanyaanmu.”
“Calon istri—“ Ucapan Gandi terhenti sejenak. “Baru calon istri, kan? Itu bukan berarti Anda berhak melakukan apa pun dengan Ella. Sekarang cepat berikan Hp nya ke Ella,” ujarnya memaksa.
“Ah, itu ... artinya saya boleh melihatnya tanpa pakaian? Apa kau tidak ingat yang saya katakan tadi?” tanya Kim yang jelas membuat Gandi terkena serangan mental. “Untuk hari ini, berhentilah mengganggunya. Kami akan bersenang-senang bersama.”
“Apa? Apa Anda sudah gila—“
Panggilan terputus sepihak oleh Kim, dia pun lantas menghilangkan jejak panggilannya dari ponsel Sheilla sebelum gadis itu menyadarinya. Walau Gandi hanya sebatas sahabat bagi Sheilla, Kim nyatanya selalu gatal ingin menjauhkan mereka. Mungkin terdengar egois, tapi dia benar-benar tidak nyaman dengan kedekatan mereka yang terus mengganggu pikirannya.
Tidak lama kemudian, Woo Jin dan Sheilla datang setelah berganti pakaian. Namun, seketika pandangan Kim terpaku melihat penampilan gadis yang menuntun tangan putranya itu. Sheilla terlihat cukup seksi dengan setelan hotpants merah dan kaus putih membalut tubuh rampingnya. Warna kulit sawo matang gadis itu terlihat eksotis, pahha hingga kaki jenjangnya terekspos dan membuat mata para lelaki di sekitarnya turut melihat keindahan itu.
Kim menelan ludah berat, kemudian menyadarkan diri sendiri dengan mengusap wajah kasar, dia memutus pandangan dari tubuh Sheilla sebelum mereka sampai ke tempatnya.
“Appa, pelampungnya mana?” tanya Woo Jin.
“Apa?”
“Pelampungnya. Appa belum sewa?”
Seketika Kim baru ingat bahwa putranya menginginkan sebuah pelampung. “Belum.”
“Ih ... Appaaa. Ya sudah, biar aku sendiri yang sewa pelampungnya.” Woo Jin mengulurkan tangan meminta uang dari Kim.
“Memang kamu bisa sendiri? Biar mama saja yang sewa pelampungnya, ya. Kamu tunggu di sini,” ujar Sheilla.
“Aku bisa sendiri, Ma.” Woo Jin pun langsung pergi setelah mendapat uang dari Kim.
Sementara itu, Kim kembali dibuat tegang oleh Sheilla yang berdiri di hadapannya sekarang. Siapa lelaki yang tidak akan merasakan ini ketika melihat gadis berpenampilan seperti itu di dekatnya? Kim merasa masih normal, tapi juga ini tidak sehat bagi mereka.
“Kenapa kau memakai itu?” tanya Kim.
“Memakai apa?” Sheilla sedikit mengernyit.
Kim lalu menunjuk ke arah celana yang dikenakan Sheilla sekarang. “Itu ... kenapa kau memakainya? Celananya terlalu pendek, apa kau tidak ada celana lain yang bisa dipakai?!”
Sheilla melihat celananya sendiri. “Nggak ada.”
“Ganti.”
“Sudah Ella bilang nggak ada, itu berarti Ella nggak bawa celana lain selain ini. Masa iya berenang pakai rok?”
“Ganti!”
“Nggak mau!”
Kim menghela napas kasar, dia tidak suka Sheilla memamerkan bagian dari tubuhnya yang seharusnya ditutupi dari orang lain. Dia pun melihat sekeliling, lalu dia menemukan sebuah toko yang ternyata menjual pakaian renang darurat Itu mendadak memunculkan ide di kepalanya.
Kim pun beranjak dari duduknya dan meraih lengan Sheilla. “Ikutlah ....”
“Tu—tuan! Tuan mau ajak Ella ke mana?” tanya Sheilla, dia sedikit berjalan cepat mengikuti langkah lebar Kim.
Sesampainya mereka di tempat tujuan, Kim melihat beberapa pakaian renang orang dewasa bagi perempuan dan laki-laki. Dia pun mengambil salah satunya secara acak dan diberikan kepada Sheilla.
“Pakai itu saja.”
“Kolor?!” Sheilla menghela napas kasar sambil melipat kedua lengan di perut, melihat sebuah bokser ukuran jumbo yang dipilih oleh Kim. “Ella nggak mau pakai.”
“Pakai itu, atau kau tidak berenang sama sekali.”
“Tuan!” Sheilla cemberut sambil mengentakkan kaki ke lantai berkali-kali, dia geram sendiri jadinya. “Ella nggak mau, ini kebesaran. Nanti Ella malah kelihatan kayak badut kolor ijo!”
“Jadi kau mau berenang atau mau ikut ajang memamerkan badan?!”
“Dua-duanya! Memangnya kenapa?”
Kim benar-benar dibuat kesal oleh tingkah Sheilla yang suit sekali diatur. Dia pun membayar bokser pilihannya dan langsung memutar tubuh Sheilla. Mengajaknya ke ruang ganti.
“Aaaaah, nggak mau pakai itu. Nggak mauuu ...” Sheilla merengek-rengek seperti anak kecil kepada Kim. Namun, lelaki itu tidak mendengarkannya. “Tuan suka begitu, ih!”
“Jangan banyak protes, cepat ganti sana.” Kim sedikit mendorong tubuh Sheilla agar mau masuk ke ruang gantinya. Gadis itu masih cemberut, menatapnya tajam tapi tetap masuk ruang gantinya juga.
Tidak butuh waktu lama, Sheilla kembali muncul dengan celana bokser besar sebatas lutut yang membuat dia kelihatan lucu. Apalagi ditambah bibir tipisnya yang terus mengerucut seraya menatap kesal kepada Kim walau kenyataannya lelaki itu tidak peduli.
“Tuan kejam!” Sheilla mendengkus, geram lalu melangkah menjauhi Kim secepatnya.
***
Satu jam berlalu, Sheilla baru beranjak dari kolam setelah puas bermain bersama Woo Jin. Dia cukup lelah, panas dan sedikit haus. Untuk itu dia pergi ke tempat persediaan makanan yang dibawanya.
Sesampainya di sana, gadis berambut hitam panjang tersebut memasang raut wajah ketus saat bertatap wajah dengan majikan yang sekaligus calon suaminya. Sebab dia masih kesal dengan kelakuan Kim hari ini.
Kim yang sedang bermain ponsel pun menoleh saat menyadari kehadiran Sheilla di tempatnya.
“Mau komentar apa lagi?” tanya Sheilla langsung bernada sinis.
“Tidak ... lanjutkan saja.” Kim kembali fokus dengan ponselnya. Dia cukup puas karena sekarang.
Sheilla misuh-misuh sendiri jadinya. Dia mengambil sebotol air minum di tas sambil menggerutu dalam hati. Kenapa harus ada manusia sejenis Kim Hyun Soo di dunia ini? Orang yang sangat menyebalkan baginya.
“Kalau kau mau marah tinggal biang saja,” ujar Kim. Bahkan dia tidak melihat wajah Sheilla saat berbicara.
“Percuma bicara sama bongkahan es balok.”
Kim baru menoleh dengan tatapan tajamnya ke arah Sheilla, membuat gadis itu sedikit tersedak ketika menelan minumannya. Namun, keadaan mereka yang kurang menyenangkan itu tidak berlangsung lama.
Sheilla mendapat panggilan dari Gandi, dan ternyata pemuda itu sudah mencoba meneleponnya hampir sepuluh kali dalam waktu satu jam.
“Hallo, iya Gan?”
“Akhirnya kamu angkat telpon aku juga. Kamu ke mana saja sih, La? Habis ngapain?”
Pertanyaan Gandi samar-sama terdengar oleh Kim karena Sheilla mengencangkan volumenya walau tidak di Loudspeaker. Namun, Kim berpura-pura tidak peduli.
“Itu ... Ella sekarang lagi di Cirebon, ada di kola renang. Makanya nggak tahu kamu telpon. Gandi nggak kerja?”
“Di kolam renang sama siapa? Majikan kamu itu? Awas baju kamu jangan yang
Pendek-pendek, mata lelaki nggak ada yang tahu. Majikan kamu emang kelihatannya saja kalem, tapi dia tetap lelaki yang punya kemauan.”
Kim sedikit berdeham, kesal juga mendengar ucapan pemuda itu untuknya.
“Iya, iya, aku tahu.”
“Terus gimana? Apa kamu sudah bilang sama anaknya soal niat kamu kemarin, La?”
Pertanyaan Gandi lantas membuat raut wajah Sheilla murung. Gadis itu belum berani menjawab pertanyaan dari sahabatnya dan malah tertunduk lesu. Menyadari kemurungan Sheilla, ada rasa bersalah pada diri Kim.
“Nanti Ella kabari kamu kalau pulang ke Sindang, ya. Ella akan bicara langsung sama kamu,” jawab Sheilla bernada pelan.
“Kamu mau pulang?! Kapan? Aku yang jemput, ya? Biar nanti kita bisa mampir dulu ke kedai bakso langganan kita dulu, aku traktir!”
Sheilla hanya memberi seulas senyum ketika mendengar tawaran dari Gandi, pemuda itu masih sama bersemangatnya seperti dulu.
“Enggak perlu, nanti Ella pulang sendiri. Sekarang Ella belum minta izin sama Tuan kapan bisa pulang. Makasih buat tawarannya, Gan.”
“Begitu?” tanya Gandi sedikit memastikan. “Yang penting kamu bisa pulang, La. Biar kalau ada apa-apa seenggaknya jarak kita dekat, aku selalu khawatir sama keadaan kamu di luar sana.”
“Iya, Ella tahu.” Sheilla menutup panggilan sepihak, dia yang masih tertunduk lesu itu pun mengempas tubuhnya ke kursi dengan meletakkan kepalanya di atas meja. “Ahhhh, Ella harus bilang apa ke Gandi?”
Kim memberi seulas senyum miring melihat kegelisahan Sheilla di dekatnya.
“Sudah bagus kau mengatakan itu, saya akan mengizinkanmu pulang dan menemuinya.”
Sheilla mengangkat wajah dan melihat Kim yang baru saja berbicara.
“Tuan beneran kasih izin Ella pulang?” tanya Sheilla.
“Tentu saja, pulanglah dan antarkan sekalian surat undangan pernikahan kita untuknya.”