“Ella nggak mau basa-basi lagi, coba sekarang Tuan jawab jujur kenapa Tuan bicara begitu di depan Gandi? Ella nggak pernah tuh, bilang setuju mau menikah sama Tuan. Kenapa Tuan menyebar fitnah dan jebak Ella kayak gini?!” tanya Shella bertubi-tubi kepada Kim. Dia tidak sabar lagi menunggu terlalu lama sebab Kim juga seperti tidak serius dengan ucapannya sendiri.
“Apa sekarang kau tidak senang karena dia adalah sahabatmu? Atau kau tidak senang karena memiliki perasaan padanya?” tanya Kim balik dengan nada datarnya. Kemudian duduk bersandar di sofa dan menyilangkan kedua lengannya di perut, sementara Sheilla sendiri masih berdiri angkuh di hadapannya bersama rasa benci dan penasaran yang cukup besar.
“Perasaan?” Sheila menghela napas kasar. “Mana mungkin Ella punya perasaan sama Gandi, yang jadi masalah Ella sekarang adalah kebohongan Tuan ke Gandi. Ella nggak suka Tuan bohong begitu, apalagi sekarang Woo Jin sampai dengar dan salah paham. Mau gimana nasib Ella ke depannya?”
Sheilla menjawab pertanyaan Kim dengan sebuah pernyataan yang memang tidak bisa diterima oleh akal sehatnya. Masalah terbesar bagi mereka sekarang adalah perasaan Woo Jin yang berada di posisi rawan.
Namun, Kim tidak bereaksi banyak atas protes yang dilayangkan Sheilla.
“Nasibmu akan berubah kalau kau mau mengubahnya sendiri, Sheilla.”
“Berubah dengan cara apa? Dengan cara menikah sama Tuan? Sekarang Ella bilang, Ella belum mau menikah sama siapa pun. Ella sudah lelah sama hal-hal semacam ini, Tuan tahu sendiri ada banyak resiko yang akan dialami kalau menikahi Ella. Apa nanti Tuan mau menuntut tanggung jawab kalau terjadi apa-apa sama Tuan?” ujar Sheilla. Lelaki itu tampak diam dan hanya menatap Sheilla hingga duduknya terasa tidak nyaman. “Ella minta tolong hentikan ini, tolong biarkan Ella hidup tenang dan jangan sangkut pautkan Ella ke dalam masalah Tuan lagi.”
Seketika hening. Mereka menahan kalimat dalam hati sementara sebelum melepaskannya dan bisa saja menjadi sebuah perdebatan tanpa akhir. Keheningan mereka mulai terusik saat Kim bergerak dan membenarkan posisi duduknya.
“Sebenarnya saya sudah memikirkan masalah ini.”
“Apa?” Sheilla mengernyit. “Memikirkan apa?”
“Memikirkan tentang pernikahan kita.”
Sheilla menelan ludah berat. Kim sangat serius saat mengatakannya.
“Apa kau tidak mau mengubah nasibmu? Saya tahu ketakutanmu menghadapi sebuah pernikahan, itu karena kutukanmu, bukan?” tanya Kim.
Sheilla terdiam. Sebab memang itu yang dirasakannya sampai sekarang. Dia belum bisa menerima lelaki mana pun karena ketakutannya sendiri atas kejadian yang sudah terjadi kepada para calon suaminya dulu.
“Terus apa maksudnya tanya Ella mau mengubah nasib atau enggak?”
“Saya akan menikahimu.”
Kedua mata Sheilla terbulat sempurna, tangannya bahkan sampai sedikit gemetar dibarengi debar jantung yang sudah tidak karuan. Melihat raut wajah Kim di hadapannya, lelaki itu masih dibalut sisi misterius yang membuat Sheilla dilema sendiri dengan sikapnya, apalagi keputusannya sekarang.
“A—apa Tuan serius?”
“Apa saya pernah bergurau?” tanya Kim balik hingga Sheilla menggelengkan kepalanya pelan. “Saya akan menikahimu dan membantah semua keyakinanmu tentang kutukan itu. Kalau kau berhasil menikah, lalu tidak terjadi apa-apa, itu artinya tidak ada kutukan bagimu.”
“Tapi gimana kalau misalnya ada musibah yang menimpa Tuan nanti? Tolong Tuan mengerti untuk sekarang, yang Ella takutkan adalah hal terburuk dari itu. Harus berapa kali Ella jelaskan ketakutan Ella ke Tuan.”
“Dan sebagai orang yang memiliki agama kau harusnya juga mengerti. Jangan memiliki ketakutan berlebih kecuali kepada Tuhanmu,” sela Kim yang membantah keyakinan Sheilla. “Saya menikahimu bukan tanpa alasan, alasan saya salah satunya adalah ingin membuat Woo Jin merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sejak bayi. Asal kau tahu, ibunya meninggal sehari setelah melahirkannya.”
Sheilla terdiam.
“Alasan saya yang lainnya adalah, tidak akan ada orang yang bisa menyelamatkanmu dari Rin kecuali saya. Kalau kau berada di sekitar saya, keselamatanmu akan terjamin. Jika kau menerimanya ... ini tidak akan berlangsung lama. Hanya sampai situasinya membaik dan saya bisa memastikan semua itu.”
“Tapi ....”
“Jika pernikahan kita berakhir satu hari nanti, kamu akan bisa menikah dengan lelaki yang kamu cintai karena mereka pun akan meyakini kutukan itu tidak ada.”
“Kenapa Tuan bisa seyakin itu? Apa nanti Tuan nggak akan menyesal menikahi Ella? Ella ini orang miskin, nggak ada keluarga, Cuma pembantu di rumah Tuan, apa yang bisa dibanggakan? Nanti Tuan malu kalau dengar cibiran orang tentang pernikahan kita.”
“Apa kau bisa melihat saya akan memedulikan ucapan orang lain?”
Sheilla kembali dibuat terdiam oleh ucapan Kim, yang dia tahu hingga detik ini tentang lelaki itu adalah tidak memedulikan perasaan orang, hal tersebut paling menonjol di antara kepribadian Kim yang lain.
“Kalau kau bersedia, saya akan mengurus persiapan pernikahan kita secepatnya.”
“Se—secepatnya?”
“Ya ... ini tidak bisa ditunda lagi karena akan menimbulkan fitnah. Beberapa jam dari sekarang, kau akan tahu beritanya cepat menyebar. Woo Jin saat ini pasti sedang menceritakan apa yang didengarnya ke semua orang.”
Sheilla sangat terkejut. Secepat itu? Namun, dia tidak heran karena anak-anak mana pun akan berkata jujur dari apa yang dilihat dan didengarnya.
Sheilla pun terdiam, belum mau menjawab tawaran Kim sekarang. Dia berpikir keras, apa dampak akibat dari keputusan yang akan diambilnya. Dan semua ini sudah tentu akan mengubah sebagian besar kehidupannya.
Kim adalah pribadi yang baik walau sisi keburukannya di mata Sheilla jauh lebih banyak, tetapi dari kebaikan sedikit itu sudah cukup meyakinkan Sheilla kalau Kim tidak akan memiliki niat lain yang akan merugikannya.
Apa Kim adalah lelaki yang cocok?
“Tapi pernikahan ini hanya sebatas untuk kebaikan bersama, sangat rentan dan bisa rapuh kapan saja. Kenapa Ella harus merasa cocok atau enggak karena hal ini?” Sheilla membatin. Dia melihat ke arah Kim sebentar untuk memastikan keputusannya sendiri, wajah tegas lelaki itu ternyata masih mengarah padanya.
“Kenapa Tuan lihat Ella kayak gitu?” tanya Sheilla.
“Berpikirmu terlalu lama, badan saya sudah sakit dan ingin cepat tidur.”
Sheilla berdeham kecil. Ah, ya. Dia ingat kalau Kim baru saja meminum obat-obatan selepas makan tadi.
“Itu ... itu—“ Sheilla masih ragu-ragu untuk mengatakan jawabannya, dia pikir ini adalah satu hal yang sangat sensitif untuk dijawab tanpa pemikiran matang.
Namun, tidak berapa lama kemudian, Kim dan Sheilla mendengar sebuah suara gedoran pintu depan oleh seseorang. Sheilla menoleh ke arah pintu, lalu kembali melihat ke arah Kim. Lelaki itu hanya memberi isyarat bahwa dia harus membuka pintunya lebih dulu sekarang.
Sheilla pun beranjak dari sofa dan menghampiri pintu depan, dia penasaran siapa yang menggedor cukup keras hanya untuk bertamu. Dia pikir Kim tidak memiliki hutang hingga mengirim penagih hutang ke rumah ini.
“Ellaaaaa!”
Sheilla terkejut ternyata Rima yang datang ke rumah.
“Yah, kenapa, Rim?” tanya Sheilla karena Rima terlihat sangat senang sekali seperti habis menang lotre.
“Apa benar kamu akan menikah sama Pak Bos?!”
Sheilla langsung menoleh ke sana-kemari, khawatir ada orang lain lagi di tempat mereka.
“Dari mana kamu dengar itu?”
“Dari dedek gemes!” jawab Rima. Kemudian memeluk tubuh Sheilla sangat erat. “Ah, aku senang sekali buat kamu, La. Selamat, ya!”
“I—iya, tapi itu masih belum—“ Sheilla hampir kesulitan menjawab karena Rima memeluk tubuhnya sangat erat sambil berputar-putar.
“Ada apa? Kenapa kalian ribut sekali di rumah saya?”
Tiba-tiba suara Kim datang ke sana, keseruan yang diantarkan Rima mendadak terhenti. Gadis itu melepaskan pelukan pada Sheilla sebab kedatangan Kim membawa aura dingin yang sulit dilawan.
“Maaf, Pak Bos.”
“Kenapa kau datang ke sini? Apa di toko ada masalah?” tanya Kim.
Rima menggelengkan kepala pelan. “Bukan itu! Tapi saya ke sini karena Den Woo Jin menyuruh saya memanggil Pak Bos dan Ella, katanya dia mau traktir kami makanan karena dia akan punya mama baru.”
Sheilla menutupi wajah dengan telapak tangan, dia bahkan belum memberikan jawabannya, tapi ucapan Kim barusan sudah terwujud secepat ini. Kalau seperti ini kejadiannya, mana bisa dia mengelak lagi? Berita dari mulut ke mulut sama saja seperti angin, cepat menyebar ke mana-mana.
***
Keesokan harinya.
Sheilla sudah berada di rumah Kim sejak Azan Subuh berkumandang di masjid terdekat. Selesai Shalat, dia segera mengerjakan pekerjaannya pagi ini. Namun, tidak seperti biasanya, sebelum subuh tadi dia sudah pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan guna perbekalan saat pergi pagi nanti.
Dia cukup sibuk mempersiapkan semua perlengkapan yang perlu dibawanya, apalagi soal makanan dan obat-obatan. Menyelesaikan pekerjaan rumah lebih cepat menjadi pilihan terbaiknya agar tidak menumpuk saat pulang nanti. Usai pekerjaannya hampir selesai, dia pun melangkah menuju kamar Woo Jin.
Anak itu masih tampak tertidur pulas di kasurnya ketika Sheilla datang.
“Lihatlah, dia bahkan semanis ini saat tidur,” gumam Sheilla yang tersenyum manis melihat kekaleman Woo Jin ketika tertidur. “Woo Jin, bangun. Apa kau ingat hari ini hari apa?”
“Engh? Hari ulangan Matematika, ya.”
Sheilla terkekeh kecil. “Ulangan? Yakin?”
Woo Jin hanya mengangguk kecil sambil memeluk bantal guling, kedua matanya bahkan belum terbuka saat menjawab pertanyaan Sheilla sejak tadi.
“Apa kamu nggak mau ikut ke pantai? Kalau enggak, kakak pergi sendiri, nih,” ujar Sheilla dengan suara seperti berbisik di hadapan wajah Woo Jin.
Anak itu spontan membuka mata lebar-lebar, lalu menatap ke arah Sheilla dengan cepat bangkit dari tidurnya.
“Ikuuuut!”
“Mandi dulu sana, nanti kamu siap-siap ya. Kakak persiapkan baju kamu dulu.” Sheilla mengacak rambut Woo Jin dan disambut senyum semringah anak itu.
Woo Jin pun langsung turun dari tempat tidur dan hendak melangkah ke kamar mandi yang berada di luar kamarnya. Namun, sebelum itu langkahnya terhenti dan dia kembali menoleh ke arah Sheilla yang masih duduk di tepian tempat tidur.
“Kenapa?” tanya Sheilla karena Woo Jin malah mematung di ambang pintu.
“Terima kasih.”
“Terima kasih buat apa?”
“Terima kasih karena Kakak sudah mau jadi mamaku.”
Ucapan anak itu berhasil membuat hati Sheilla tersentuh, ada rasa bahagia terselip di antara seribu kegelisahannya semalaman ini ketika mendengar ucapan itu terlontar dari mulut Woo Jin. Walau dia tidak pernah menginginkan pernikahannya terjadi atas dasar sebuah paksaan, tapi sisi lainnya dia bisa mempertahankan kebahagiaan Woo Jin.
“Apa kau senang kalau kakak jadi mamamu?” tanya Sheilla.
“Aku nggak pernah sesenang ini sebelumnya, jadi ... apa boleh aku panggil Kakak, Mama?”
Sheilla pun beranjak dari tempat tidur, lalu melangkah menghampiri Woo Jin. Kedua mata anak itu nyatanya sudah basah, sama seperti dirinya sekarang. Namun, mereka berdua tahu air mata itu tidak selalu menjadi simbol sebuah kesedihan.
“Ya, tentu saja.” Sheilla menjawab singkat. Senyum Woo Jin pun mengembang sempurna di hadapannya.
“Mama ...,” lirih anak itu sambil memeluk tubuh Sheilla dengan cepat.
Sheilla pun tidak tinggal diam, telapak tangan lembutnya mengusap rambut hitam anak itu dengan kehangatan. Tidak ada satu kalimat pun yang keluar lagi dari mulut Woo Jin, tetapi tindakan ini sudah cukup mewakilkan segalanya.
DI saat bersamaan, Sheilla melihat keberadaan Kim yang ternyata ada di luar kamar putranya. Lelaki itu terdiam, entah apa lagi yang ada di pikirannya sekarang.