“Gandi? Gandi kenapa? Gandi marah ya, sama Ella?” tanya Sheilla kepada pemuda yang hanya duduk termenung di atas motornya. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Gandi saat Woo Jin menunjukkan kesenangannya mendengar Sheilla dan Kim akan menikah. Sampai Sheilla membujuk anak itu masuk lebih dulu ke dalam rumah, dia baru bisa berbicara empat mata dengan sahabatnya.
Ada rasa bersalah dalam hati Sheilla kepada Gandi. Sebab pemuda itu sudah berkali-kali datang ke tempatnya, menempuh perjalanan jauh demi memperjuangkan kebahagiaannya, tapi sekarang dia harus mendapat kekecewaan karena Sheilla sudah terikat dengan sebuah keadaan dan sulit untuk melepaskannya.
“Gandi bicara sama Ella, jangan diam begini. Ella sedih kalau kamu marah sama Ella,” ujar Seilla lagi seraya menggerakkan sedikit lengan Gandi.
Pemuda jangkung berjaket denim itu pun menoleh, kedua matanya sedikit memerah dan itu membuat berbagai macam pemikiran pada diri Sheilla sekarang.
“Kamu kenapa? Saking kecewanya sama Ella ya, sampai kamu nggak mau bicara lagi?”
“Bukan ... aku cuma butuh sedikit waktu buat mengerti keadaan ini, La. Kenapa kamu sampai nggak bisa terlepas dari orang itu yang udah jebak kamu,” ujar Gandi pada akhirnya.
Sheilla kini terdiam dan tertunduk tidak bisa menjawab ucapan Gandi.
“Apa tujuannya menikahi kamu kalau nggak ada cinta sama sekali? Kamu pasti tahu, dari kemarin-kemarin aku sampai jauh datang ke sini buat kamu, itu karena aku khawatir sama keadaan kamu. Kalau bukan aku yang peduli, mau siapa lagi? Tuanmu itu cuma mau memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari kamu, La.” Gandi berkata lagi panjang kali lebar mengutarakan apa yang ada dalam pemikirannya.
Sementara Sheilla mulai ikut berpikir. Ya ... kenapa Kim melakukannya sampai sejauh ini? Sedang baru beberapa jam lalu dia berkata kalau mengizinkan Sheilla pergi dari rumah.
“Aku peduli sama kamu lebih dari siapa pun, apa kamu percaya itu?” tanya Gandi. Dia meraih tangan Sheilla dan menggenggamnya hangat. Menyalurkan seluruh perhatian yang bisa Sheilla rasakan kapan pun.
Sheilla mengangguk pelan. “Iya, Ella tahu.”
“Sekarang aku tanya sekali lagi. Apa kamu beneran mau menikah sama lelaki itu?”
“Ella yakin kamu sudah tahu jawabannya, Gan. Tapi masalahnya gimana caranya Ella bilang itu ke Woo Jin? Kamu nggak liat, tadi dia senang banget dengar kabar itu,” jawab Sheilla.
“Jadi maksudnya kamu akan tetap menikah karena kasihan sama anaknya, begitu?”
Sheilla terdiam lagi. Sungguh, hingga sekarang mereka berbicara pun dia tidak fokus sama sekali. Pikirannya terus berputar pada cara mengatakan sebuah kejujuran kepada Woo Jin. Sheilla tidak bisa menerima kalau pernikahannya terjalin tanpa cinta. Apalagi kalau kutukan itu mulai berlaku, apa yang akan terjadi pada pernikahannya nanti? Bagaimana nasib Woo Jin jika terjadi satu hal buruk menimpa ayahnya?
Sheilla benar-benar tidak bisa berpikir dengan baik sekarang.
Beberapa saat kemudian, pandangan Sheilla berpusat pada tangannya yang digenggam oleh Gandi. Pemuda itu menariknya sedikit hingga dia melangkah lebih dekat kepadanya, sebuah keccupan di kening oleh Gandi membuat tubuh Sheilla terpatri tanpa ada pergerakan sedikit pun. Dia terlalu terkejut dan gugup karena Gandi tidak pernah melakukan ini sebelumnya.
Sampai Gandi memberi jarak pada wajah mereka, telapak tangannya masih mengusap lembut rambut hitam Sheilla.
“Sekarang kamu masuklah, jelaskan sama anak itu kebenarannya kalau kamu belum ingin menikah. Aku yakin dia akan bisa mengerti, La,” ujar Gandi. Namun, Sheilla masih terpaku menatap ke arahnya. “Kamu harus ingat ini dalam hati dan pikiran ... aku sayang sama kamu, Sheilla Khairina. Sangat menyayangi kamu.”
Sebuah kendaraan dengan suara knalpot kencang lewat menyamarkan ucapan Gandi berikutnya.
“A—apa?” Sheilla melihat Gandi hanya tersenyum tipis seraya memakai helmnya usai berkata demikian. “Gandi bilang apa tadi? Ella nggak dengar. Apa bisa diulangi lagi?”
Gandi tidak menjawab Sheilla dengan kepastian.
“Aku pulang dulu, ya. Nanti kabari aku kalau kamu sudah bicara sama anak itu.”
“Tapi, Gan ... Gandi!”
Sheilla melangkah kecil mengikuti laju motor Gandi yang semakin jauh darinya, hingga dia tidak bisa menghentikan laju itu, Sheilla memegang dadanya sendiri. Ada debar jantung tidak biasa ketika teringat akan tindakan Gandi tadi.
“Dia bilang apa, ya? Apa itu penting?” Sheilla mengingat-ingat setiap gerak bibir Gandi saat berbicara, tetapi dia tetap tidak bisa mengartikannya. “Tapi tadi dia ccium aku, apa artinya itu?”
Sheilla kembali melihat keramaian jalan di hadapannya, tidak ada lagi sosok Gandi di sana. Sekarang pemuda itu meninggalkan sebuah teka-teki yang sulit untuk diartikan Sheilla sendiri.
***
Sheilla kembali masuk rumah Kim karena hari ini pekerjaannya memang belum selesai, ditambah dia juga akan bertanya lagi kepada lelaki itu perihal ucapannya yang tidak pernah keluar dari mulut Sheilla sedikit pun.
Sesampainya di dalam, dia lihat anak dan ayah tersebut sedang berada di ruang makan. Woo Jin lah yang pertama kali menyadari kehadiran Sheilla di sana, hingga anak itu bergegas turun dari kursi dan menghampiri Sheilla dengan senyum lebar.
“Apa sekarang kita sudah bisa makan bareng?” tanya Woo Jin.
Sheilla belum menjawab, lalu melihat ke arah Kim yang memalingkan pandangan darinya.
“Ayo, makan bareng sama aku. Tadi Appa pesan makanan di luar, itu masih banyak dan rasanya enak banget.” Woo Jin meraih tangan Sheilla dan mengajaknya ke meja makan mereka.
Hidangan yang belum sempat dimasak Sheilla ternyata sudah berganti dengan ayam crispy pesanan dari luar rumah.
“Kakak, ayo ....”
“Enggak—“ Sheilla menolak ajakan Woo Jin dengan nada pelan. Anak yang sedikit menengadah menatapinya itu sedikit mengernyit. “Kakak nggak lapar, kamu makan berdua sama appa kamu saja, ya. Kakak masih ada pekerjaan lain.”
Namun, Woo Jin langsung menunjukkan raut wajah sedihnya.
“Aku baru sembuh, masa harus sakit lagi gara-gara nggak makan,” ujar Woo Jin.
“Kenapa begitu?”
“Aku nggak mau makan kalau Kakak nggak ikut makan di sini sama aku.”
“Woo Jin—“
“Aku balik ke kamar, nih!”
“Eh, iya jangan balik ke kamar!” Sheilla menahan Woo Jin yang ingin pergi dengan menarik lengan kecilnya. “Ya, sudah. Kita makan sekarang. Jangan mogok makan begitu, kakak nggak mau lihat kamu sakit lagi.”
Sheilla mengusap lembut rambut hitam Woo Jin dan mengajaknya duduk di kursinya semula. Sheilla pun terpaksa duduk mengikuti kemauan Woo Jin karena kekhawatirannya kepada anak itu. Padahal, dia sudah sangat malas berhadapan langsung dengan Kim yang bahkan sepertinya tidak merasa bersalah sama sekali.
“Kak, besok aku libur sekolah. Kita pergi jalan-jalan ke pantai, ya? Kakak sudah janji mau ngajak aku pergi ke pantai kalau aku sembuh. Ingat nggak?” tanya Woo Jin seraya melanjutkan makan siangnya.
“Ke pantai?” Sheilla seakan diingatkan kembali dengan janjinya tempo hari, dia ingat kalau akan mengajak Woo Jin ke kota Cirebon untuk menikmati salah satu tempat pariwisatanya.
“Kita pergi besok, ya? Please ... rasanya lama banget nungguin aku sembuh dulu baru bisa pergi. Sekarang sudah sembuh, aku mau pergi besok.”
“Ah ... itu, apa kamu sudah bilang ke Appa? Besok kita pergi kalau dikasih izin pergi berdua.”
Woo Jin mengernyit. “Kenapa nggak pergi bertiga saja? Appa, aku sama Kakak ... eh, Mama.” Dia berkata dengan senyum paling lebar dan lebih manis dari biasanya. Apalagi ketika mengganti sebutan untuk Sheilla, tidak ada beban sedikit pun dari nadanya.
“Woo Jin, jaga ucapanmu,” tegur Kim.
“Kak Ella calon mamaku, kan? Jadi boleh dong kalau aku panggil mama?”
“Woo Jin, sebenarnya—“
“Selesaikan makanmu. Kamu ingin pergi jalan-jalan besok? Kita akan pergi,” sela Kim ketika Shella akan berbicara.
“Sungguh?” Woo Jin menatap Kim dengan mata berbinar-binar. “Makasih banyak, Appa. Aku sayang Appa!”
Anak itu sangat bahagia, membuat Sheilla kembali mengurungkan niat untuk berbicara saat ini. Sepertinya Kim juga tidak akan setuju karena itu akan mengganggu kualitas makan Woo Jin. Dia baru saja sembuh dari sakit, tidak mungkin mengatakan sesuatu hal yang bisa menurunkan nafsu makannya lagi.
Setelah makan siang mereka selesai, barulah Sheilla menemukan waktu berdua saja dengan Kim. Woo Jin sudah meminta izin untuk pergi ke rumah temannya hingga beberapa jam ke depan.
Sheilla pun segera menyelesaikan pekerjaan mencuci piringnya dan menghampiri Kim sebelum lelaki itu pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
“Tuan, tunggu!” panggil Sheilla. Lelaki itu pun menoleh dengan raut wajah datarnya ke arah Sheilla. “Kita harus bicara sebentar. Ada banyak pertanyaan dari Ella buat Tuan, kalau enggak Ella akan berdiri di sini sampai Tuan mau bicara.”
“Apa itu sebuah ancaman?”
Sheilla terdiam, tapi balas menatap Kim tajam untuk penekanan bahwa itulah yang akan dilakukannya jika Kim tidak mau berbicara. Sepertinya cara itu berhasil, Kim mengurungkan niat ke kamar dan melangkah pergi ke ruang tengah mengajak Sheilla.
Di sana, Sheilla sama sekali tidak ada ketakutan lagi dalam dirinya menghadapi Kim sebab ini menyangkut masa depannya.
“Ella nggak mau basa-basi lagi, coba sekarang Tuan jawab jujur kenapa Tuan bicara begitu di depan Gandi? Ella nggak pernah tuh, bilang setuju mau menikah sama Tuan. Kenapa Tuan menyebar fitnah dan jebak Ella kayak gini?!”