Jebakan Keadaan

1568 Words
“Udah selesai diobati, apa sekarang masih sakit?” tanya Sheilla usai dia sudah mengobati luka yang dialami Kim. Lelaki itu sendiri yang langsung menyeretnya masuk kembali ke rumah dan menyuruh mengobati luka-lukanya. Sheilla jelas tidak bisa menolak, jika saja dia tidak terjatuh lebih dulu, Kim tidak akan terluka karena melindunginya. Ternyata ada lebih dari satu luka yang dialami Kim, itu disebabkan oleh lelaki itu yang paling banyak mengalami benturan. Untung saja kejadian itu tidak menyebabkan luka serius, jika tidak ... Sheilla tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. “Apa menurutmu luka ini akan langsung sembuh seperti sihir?” Sheilla menggelengkan kepala, dia tertunduk dan menangis lagi walau tidak sekencang beberapa saat lalu. Hanya rasa bersalah dalam dirinya yang masih melekat dan sulit dihilangkan sebelum luka milik Kim sembuh. “Kau menangis lagi ... apa kau mau bersaing dengan Woo Jin? Tidak ada wanita dewasa yang cengeng sepertimu di dunia ini.” “Tapi Tuan jadi luka begini gara-gara Ella. Gimana Ella bisa nggak nangis? Ella sedih tahu, khawatir kalau ada apa-apa sama Tuan,” ujar Sheilla balik dan masih menangis. “Jadi begitu cara berbicara dengan orang yang sudah menyelamatkanmu?” tanya Kim, dia menarik lengan dari Sheilla sekaligus membenarkan posisi duduknya dan bersandar di sofa. Dia menghela napas pelan, melihat kedua mata Sheilla yang mulai sembap akibat terlalu banyak menangis. Padahal Kim sudah berkali-kali menjelaskan kalau luka ini tidak ada apa-apanya. Sheilla terdiam, memikirkan hal apa yang salah dari ucapannya barusan. Dia pun cepat sadar karena Kim terus marah jika dia banyak mengeluh dan menangis setiap kali mendapat masalah. “Iya, makasih banyak karena Tuan sudah menyelamatkan Ella,” ujar Sheilla pelan pada akhirnya seraya menyeka habis air matanya yang masih tersisa. “Hemh.” Sheilla kemudian melihat lagi ke arah Kim. Lelaki itu memang tidak banyak meringis saat lukanya diobati, tapi itu tetap sedikit mengganggunya sampai sekarang. “Jadi ... apa ada yang bisa Ella lakukan buat Tuan? Ella khawatir kalau Tuan masih sakit, apa Tuan mau teh jahe? Ella buat!” ujar Sheilla sekaligus bertanya. “Tidak perlu.” “Terus maunya apa?” Kim terdiam. Sepertinya tidak ada lagi hal yang membuatnya tertarik hari ini bahkan pergi ke toko sekalipun. “Tuan—“ “Pergilah, belikan saya obat penurun panas dan antibiotik di apotek. Sekalian belikan es krim untuk Woo Jin, sebentar lagi dia datang.” Kim menyerahkan selembar uang kertas pecahan seratus ribu kepada Sheilla. “Baik! Ella akan datang secepatnya, ya.” Sheilla segera beranjak dari sofa dan berjalan cepat keluar rumah. Dia ingin menebus pertolongan Kim padanya dengan cara apa pun jika itu masih bisa dilakukannya. *** Setelah kepergian Sheilla ke luar rumah, Kim berjalan kembali ke arah dapur. Dia menghela napas berat saat melihat bahan masakan Sheilla masih belum selesai dikerjakan sementara Woo Jin akan pulang sebentar lagi. Akhirnya, Kim merogoh ponsel dan memesan makanan di luar untuk siang ini. Sesudah itu, dia malah terpaku di tempatnya berdiri sekarang. Tubuhnya terasa pegal-pegal dan nyeri di beberapa bagian, itu karena dia memilih menumbalkan tubuhnya sendiri daripada harus melihat Sheilla terluka. “Kenapa aku melakukan itu?” Kim membatin, mempertanyakan pada dirinya sendiri kenapa dia sampai berani merelakan tubuhnya yang menerima semua ini. Kemudian dia berpikir kalau ini hanya spontanitas belaka, siapa pun pasti akan melakukan itu jika dalam keadaan yang sama. Kim berusaha menyingkirkan pemikiran lain yang bisa saja menjerumuskannya ke satu hal yang tidak pasti. “Appa! Appaaaaa ....” Terdengar teriakan Woo Jin dari kejauhan, sepertinya anak itu sudah pulang dari sekolahnya. Dia terlihat berlari kecil menghampiri Kim yang berada di dapur. “Sudah appa katakan jangan berteriak begitu kalau pulang sekolah, rumah ini bukan hutan kau tahu?” kata Kim ketika Woo Jin sampai di hadapannya. “Iya, maaf, habisnya hari ini aku seneng banget, Pa!” Woo Jin melebarkan senyumnya sampai tampak jejeran giginya yang putih. “Memangnya kenapa?” “Satu hari besok aku libur, ternyata tanggal merah, ya. Aku mau tagih janji ke Kak Ella buat jalan-jalan ke pantai.” “Jalan-jalan ke pantai?” Woo Jin mengangguk pelan. “Iya, Kak Ella sendiri yang janji sama aku. Sekarang Kak Ella mana?” “Dia tidak ada, sedang pergi ke apotek. Lebih baik kau ganti pakaian dulu, jangan lupa gantung tas dan pakaianmu di tempatnya semula.” Woo Jin sedikit cemberut, sejurus kemudian pandangannya berpindah ke arah meja dapur yang masih penuh bahan makanan mentah. “Appa belum masak? Terus nanti aku makan apa? Laper ....” “Appa sudah pesankan makanan di luar.” “Beli apa?” “Ayam crispy, sekarang kau pergilah. Ganti bajumu,” ujar Kim seraya membalikkan tubuh Woo Jin agar langsung pergi ke kamarnya. Anak itu kelihatan senang sekali dan tidak membantah lagi. Membuat Kim tersenyum manis ketika melihat kebahagiaan yang sesederhana itu. Sekitar 15 menit kemudian, Sheilla belum juga kembali dari apotek. Padahal lokasinya tidak begitu jauh dari rumah. Kedatangan Sheilla yang ditunggu malah didahului pesanan makanan Kim dari luar. Apa Sheilla terkena masalah? Kim jadi khawatir kalau-kalau Sheilla bertemu satu masalah lain yang berhubungan dengan Rin. Dia pun memaksakan diri melangkah pergi ke luar rumah, padahal punggung dan lengannya mulai terasa lebih nyeri dari sebelumnya. Kim penasaran apa yang terjadi, karena rasa penasaran itu dia sampai melupakan kalau Sheilla memiliki ponsel dan bisa dihubungi kapan saja. Sesampainya di lantai bawah yang menyatu dengan toko elektroniknya, Kim sama sekali tidak melihat keberadaan Sheilla di sana. Itu artinya gadis tersebut masih belum sampai juga, Kim pun melangkah lebih jauh ke depan toko. Namun, dia malah disambut oleh pemandangan menyebalkan baginya selama berhari-hari ini. Sheilla tampak berdiri tidak jauh di depan tokonya, ditemani oleh seseorang yang cukup setia datang untuk menemuinya itu. Siapa lagi orangnya kalau bukan Gandi. Mereka berdua kelihatan mengobrol, entah membicarakan apa. Padahal matahari terik sudah tinggi dan cukup panasnya cukup menyengat. Kim pun spontan menghampiri mereka berdua di sana, tanpa sebuah alasan yang jelas pada dirinya sendiri. “Sheilla ...!” panggil Kim hingga Sheilla dan Gandi menoleh bersamaan. Dia pun meneruskan langkahnya menghampiri mereka lebih dekat, lalu melihat raut wajah gandi yang ketus menanggapi kehadirannya. “Tuan?” Sheilla mengernyit sebentar, lalu baru menyadari ada sebuah plastik berisi obat-obatan dan es krim yang sudah mencari dibawanya. “Astagfirullah! Ella lupa kalau habis beli obat sama es krim ... yah, ini sudah sedikit meleleh.” Sheilla memeriksa barang belanjaannya sendiri. “Itu karena kau tidak mementingkan tanggung jawabmu.” Kim berkata seraya mengambil plastik yang dibawa Sheilla. Gais itu memasang raut wajah menyesal, mungkin menyadari bahwa majikannya sudah dibuat menunggu lama. “Maafin Ella, ya. Ella nggak bermaksud membuat Tuan menunggu lama, tapi Ella benar—“ “Jangan minta maaf begitu, itu bukan sepenuhnya salah kamu. Sekarang kamu cepat bereskan barang-barangmu, kita langsung pulang ke desa,” sela Gandi. Dia menggenggam tangan Sheilla dan menariknya sedikit sampai gadis itu menjauh dari dekat Kim. “Gandi, Ella belum mengambil—“ “Dia tidak bisa pergi begitu saja dari tempat saya. Masih ada hutang pekerjaan yang harus dia lakukan di sini, jika tidak ingin kena denda karena dia sudah merugikan saya,” ujar Kim tidak ingin kalah. “Denda 15 juta itu? Aku yang akan melunasinya. Dia nggak harus memaksakan diri kerja di tempat ini lagi.” Tangan Kim mengepal di bawah, dia cukup terkejut karena pemuda itu sampai mau menjamin kebebasan Sheilla darinya. Kim tidak terlalu heran karena dari segi penampilan, sudah cukup menggambarkan kalau Gandi berasal dari keluarga berada. “Gandi jangan begitu, Ella nggak mau kamu yang bayar. Nanti gimana Ella bisa bayar hutang uang sebanyak itu ke kamu?” tegur Sheilla sambil melepaskan genggaman tangan Gandi. “Nggak perlu kamu bayar!” “Tapi Ella nggak mau!” Gandi menghela napas kasar. “Iya, iya, kamu nggak mau. Kalau gitu makanya kamu turuti aku, kerja di konveksi milik Pak Burhan. Nanti kamu boleh nyicil kalau memang mau dianggap hutang. Sekarang aku cuma mau kamu kerja tanpa ada ancaman apa pun lagi dari orang lain, La. Aku nggak mau kejadian kemarin terulang ke kamu,” ujarnya meyakinkan Sheilla. “Tapi masalahnya—“ “Masalahnya karena dia sudah menyetujui akan menikah dengan saya. Itu adalah alasan lain kenapa Sheilla harus berada di tempat saya,” sela Kim lagi atas obrolan antara Gandi dan Sheilla. Keduanya menoleh tajam dengan ekspresi wajah masing-masing. Terutama Sheilla yang pastinya keberatan karena tidak pernah menyetujui hal ini. “Apa? Kamu mau menikah?” tanya Gandi kepada Sheilla. Dari tatapannya, ada sebuah kekecewaan yang tidak bisa terungkap oleh apa pun jika ujaran Kim menjadi kenyataan. Sheilla jelas menggelengkan kepala dengan cepat. “Enggak, Ella nggak pernah bilang begitu sama Tuan. Kamu percaya sama Ella kan, Gan?” “Tapi kenapa tuanmu bilang begitu sekarang, La?” Gandi bertanya lagi seolah ingin memastikan langsung jawabannya dari Sheilla. Kedua mata gadis itu seketika memerah ingin menangis, tapi air matanya tertahan oleh kedatangan seseorang yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. “Kakak mau menikah sama Appa? Beneran?” Suara seorang anak datang dan melontarkan sebuah pertanyaan langsung kepada orang dewasa di depannya. “Woo Jin?” “Kakak beneran mau menikah sama Appa?” Anak itu bertanya sekali lagi, tapi belum ada yang menjawab sampai beberapa detik. Atas keterdiaman itu, Woo Jin beranggapan bahwa jawabannya adalah iya. Dia tersenyum lebar sambil meraih tangan Sheilla, membuat pegangan Gandi terlepas dan dia bisa dengan bebas mengajak Sheilla berputar-putar menunjukkan kesenangannya. “Asyik! Aku punya ibu baru! Kak Ella mau jadi ibuku!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD