Sheilla oh Sheilla

1338 Words
Keesokan harinya, Sheilla datang ke rumah Kim dengan wajah kusut. Bagaimana tidak? Dia hampir tidak bisa tidur semalaman suntuk karena ucapan Kim kemarin. Terpikirkan bagaimana hari-harinya nanti, apa masih akan sama seperti sekarang? Alasan lelaki itu masih terus menjadi sebuah pertanyaan besar pada diri Sheilla. Apa Kim hanya menggertak? Atau memang spontan mengatakan itu karena terimpit situasi? Yang jelas keduanya sama-sama merugikan posisi Sheilla sekarang. Masalahnya adalah orang yang berhadapan dengan mereka adalah Rin—seorang gadis dari orang terpandang di kota. Apa pun bisa terjadi, termasuk kemalangan nasib Sheilla ke depannya. Kalimat pernikahan itu sudah telanjur terlontar, Sheilla merasa dia akan dihadapkan sebuah masalah besar kembali. “Ah, ngantuk sekali. Tapi aku nggak bisa tidur,” keluh Sheilla seraya memotong sayuran bahan makan siang Kim dan Woo Jin hari ini. Kantung matanya sedikit menebal dan sedikit gelap, rasa kantuk menyerang tapi dia tidak kunjung terlelap meski sudah mencoba tidur sejak tadi. Pikirannya kacau, Sheilla dihantui kecemasan dan rasa takut kalau gadis bernama Rin akan melakukan hal buruk lebih dari kemarin. Kasus yang kemarin saja belum sepenuhnya selesai, apa lagi yang akan terjadi nanti? “Dasar orang itu ... kenapa dia asal bicara begitu di depan Nona Rin? Aish, menyebalkan sekali!” Sheilla kembali menggerutu sampai-sampai ujung jari telunjuknya tidak sengaja teriris pisau hingga mengeluarkan darah. “Astagfirullah, ada lagi. Kenapa sih, hidup aku sial banget?!” gerutu Sheilla, dia segera ingin mengisap darah di jari telunjuknya itu, tetapi tangannya keburu ditahan oleh seseorang. Sheilla pun sempat dibuat terpaku karena orang itu adalah Kim. “Jangan melakukan itu.” Kim berkata datar kemudian langsung membawa Sheilla ke arah wastafel dan mencuci tangan Sheilla di bawah air mengalir. Debar jantung Sheilla bergemuruh cepat, dia bahkan terlalu gugup sampai lupa jika tadi dia mengomel-ngomel sendiri gara-gara lelaki ini. Melihat perhatian Kim padanya sekarang, dia malah terpaku hingga tidak sadar sudah menatapi lelaki itu tanpa cela. Postur tubuh tinggi dengan warna kulit putih, wajah tegasnya disempurnakan dengan hidung mancung dan bentuk rahang seksi bagi lelaki maskulin sepertinya. Semua tipe idaman dari artis Korea ada semuanya pada diri Kim. Sampai beberapa detik kemudian, mata setajam elang milik Kim melihat ke arahnya. Sheilla masih saja terpaku, dia baru sadar setelah tangannya dilepas cukup kasar oleh lelaki itu. “Obati tanganmu sendiri!” “I—iya, Tuan.” Kedua tangan Sheilla saling menggenggam satu sama lain, menahan sakit di sana, terutama untuk menahan kegugupan yang terus menderanya. Dia lihat lelaki itu melangkah ke arah kulkas dan mengambil air minum. “Apa kau masih mau berdiri di sana?” tanya Kim. “Apa?” “Obati lukamu, kotak P3K ada di dalam laci dekat lemari tv,” ujar Kim lagi mengingatkan. “I—iya. Ella ambil dulu.” Sheilla pun berjalan cepat mengambil kotak P3K yang dimaksud oleh Kim seraya mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Kenapa dia malah bersikap seperti itu di hadapan Kim tadi? “Itu memalukan sekali! Bagaimana kalau Tuan sampai salah paham dan menganggap Ella baper?” Sheilla membatin. Namun, hal itu sudah telanjur terjadi dan membuatnya semakin mati gerak di hadapan Kim nantinya. Usai membalut lukanya dengan kain kasa, dia pun kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai. Ternyata Kim juga masih di sana. Lelaki itu tampak mengambil alih pekerjaan Sheilla yang tadi sedang mengiris sayuran. “Biar Ella saja yang masak, Tuan bisa istirahat dan tunggu masakannya selesai,” ujar Sheilla. Namun, lelaki itu sepertinya tidak ingin mendengarkan. Kim tetap melanjutkan pekerjaannya dan mengabaikan ucapan Sheilla barusan. Sheilla menelan ludah berat, pembawaan Kim saat memasak sangat berbeda dengan kepribadiannya yang sangat dingin. Jika sudah berhadapan dengan bahan makanan, lelaki itu sangat tenang dan menyelesaikan pekerjaannya tanpa menyisakan kotoran sedikit pun di atas meja. Cita rasa masakannya pun tidak kalah enak dari para ibu yang biasa memasak di dapur, semua hal itu membuat Sheilla menaruh kekaguman tersendiri. “Apa kau berniat pergi dari rumah ini?” “Apa?” Sheilla mengernyit mendapat pertanyaan mendadak itu dari Kim. “Nggak tahu juga. Nanti Ella disuruh bayar 15 juta lagi kalau maksa pergi,” sambungnya seraya membantu Kim memasak yang lain. “Kalau saya membebaskanmu dari uang denda itu, apa kau akan pergi?” Pergerakan tangan Sheilla terhenti. Pertanyaan kedua ini sedikit lebih sensitif karena ada satu hal lain yang membuatnya berat untuk menjawab langsung. Apa lagi alasan yang tepat untuk itu selain Woo Jin? Sepertinya tidak ada. Bahkan ketika Sheilla mendapat perlakuan dingin dari Kim, tidak akan pernah menyurutkan kasih sayangnya untuk bocah kecil itu. “Kalau kau mau pergi ... pergilah setelah kasus kemarin sudah ada hasilnya.” “Tuan mecat Ella?” tanya Sheilla. Kim terdiam, bahkan menatap wajahnya pun tidak. “Kalau itu nggak akan jadi masalah buat ke depannya, Ella akan pergi. Nanti Ella bisa menerima tawaran dari Gandi buat cari pekerjaan lain di desa,” jawab Sheilla terpaksa dengan nada berat. Prak! Kim sedikit mengeluarkan tenaga saat menaruh pisaunya di atas meja, seketika tatapannya mengarah ke arah Sheilla yang mendadak merinding menyadari itu. “Apa kau tidak bisa berhenti bergantung padanya? Kenapa kau terus saja melibatkan orang itu di seluruh kehidupanmu?” Sheilla sedikit cemberut. “Memangnya kenapa? Gandi itu sahabatnya Ella yang paling Ella percaya di dunia ini, apa yang salah? Lagi pula, itu juga bukan urusan Tuan, Ella mau bergantung sama siapa. Yang pasti Ella nggak mau ucapan Tuan kemarin jadi boomerang buat kita, Ella khususnya karena nggak bisa berbuat apa-apa kalau Nona Rin datang lagi satu hari nanti.” Tidak ada satu kalimat pun yang keluar dari mulut Kim dalam beberapa saat, dia hanya terdiam dan menatap Sheilla tanpa cela, membuat gadis itu dimasuki berbagai macam pikiran atas sikap Kim sekarang. “Jadi ucapan Tuan kemarin nggak serius, kan? Kalau iya, biarkan Ella pergi dan menjalani hidup Ella yang dulu di desa.” Sheilla kembali berkata karena Kim terus diam di hadapannya. “Lupakan saja yang saya katakan tadi.” Sheilla mengernyit. Sesudah mengatakan kalimat singkat itu, Kim berlalu begitu saja dari dapur meninggalkan Sheilla. “Tuan! Tuan kenapa pergi?! Terus ucapan kemarin gimana? Tuan belum jawab pertanyaan Ella!” Sheilla berjalan cepat menyusul langkah lebar Kim yang hendak pergi ke luar rumah. Dia penasaran karena belum juga mendapat jawaban yang jelas tentang ucapan Kim kemarin. Lelaki itu menggantung jawabannya lagi dan lagi, membuat Sheilla geram sendiri. “Tuan! Tu ... ah!” Namun, saat dia menuruni anak tangga, kakinya terpeleset hingga keseimbangan tubuhnya mulai goyah. Di bawahnya, Kim menoleh spontan menangkap tubuh Sheilla yang mendadak terjatuh sampai mereka terguling di sisa anak tangga berikutnya. Mereka pun baru terhenti di lantai terakhir dengan posisi Kim di bawah dan Sheilla di atas tubuhnya. Tangan lelaki itu bahkan masih berada di kepala Sheilla sejak mereka terguling, hingga melindunginya dari benturan. Napas Sheilla menjadi satu-satunya yang tidak teratur karena saking takutnya, ditambah menyadari posisinya sekarang, dia semakin diserang sesak. Kedua mata tajam Kim masih terbuka melihat ke arah Sheilla yang terkesima di atas tubuhnya, tanpa suara. Hanya debar jantung tidak biasa yang bisa mereka rasa bersama dalam kedekatan itu. “Apa kau tidak berniat pergi?” “Hah?” “Menyingkirlah ....” Sheilla baru tersadar jika dirinya masih berada di atas tubuh Kim alih-alih segera beranjak ketika tatapan mereka saling bertemu. Menyadari tuannya marah, dia pun segera menyingkirkan tubuhnya sendiri. Lelaki itu tampak sedikit meringis sambil memegangi sikutnya ketika beranjak. “A—apa Tuan baik-baik saja?” tanya Sheilla. Namun, dia melihat ada luka gores besar di bagian sikut lelaki itu dan sudah cukup membuatnya merasa sangat bersalah. “Apa saya terlihat baik-baik saja?!” Sheilla menggelengkan kepala pelan. Air matanya mendadak terjun bebas karena dia merasa sangat bersalah kepada Kim. “Maafin Ella ... maaf, semua gara-gara Ella, ya. Ella salah.” Dalam sekejap, wajah Sheilla sudah banjir air mata. Sementara Kim di depannya sedikit mengernyit karena tangis Sheilla mengencang dan bisa saja memancing kedatangan orang-orang ke rumah. “Kenapa kau menangis? Berhentilah,” ujar Kim. Sheilla tertunduk dan masih betah menangis. “Sheilla ... astagfirullah.” Kim mengusap wajah kasar dan menatap ke arah Sheilla dengan menahan perasaan amarahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD