“A—apa?” Sheilla terkejut bukan main, wajah datar Kim sama sekali tidak berubah sedikit pun ketika kalimat itu meluncur dari mulutnya. Apa dia serius? Baru saja Sheilla ingin mempertanyakan ucapan tersebut, tangan Rin sudah terangkat berniat menjambak rambutnya.
“Dasar perebut kekasih orang! Aku sangat membencimu! Kurang ajjar!” ujar Rin Sewot.
“Ah, sakit!” Sheilla merintih, rambutnya tertarik keras oleh cengkeraman Rin walau itu tidak berlangsung lama. Kim dengan sigap melepaskan cengkeraman itu dan menyingkirkan tubuh Rin di dekat mereka.
“Jaga kelakuanmu!” Kim marah dan bersuara keras, dia menatap Rin lebih tajam dari biasanya menandakan bahwa dia sangat membenci kelakuan mantan kekasihnya sekarang. Sesaat kemudian, dia melihat ke arah Sheilla. Gadis itu menangis, membuat Kim spontan merapikan rambut panjangnya yang kusut.
Sheilla mulai mengangkat wajah perlahan menatapi perhatian Kim padanya, dia masih tidak percaya sama sekali. Apa ini mimpi? Namun, sentuhan lembut tangan Kim di rambutnya begitu nyata.
“Ayo, pergi ....”
Kim menggenggam tangan Sheilla lalu mengajak gadis itu keluar dari butik. Sheilla sendiri hanya bisa menurut saja seperti anak kecil, dia masih tidak mengerti kenapa Kim melakukan hal sejauh ini.
“Mas! Aku tidak bisa menerima ini! Tidak akan pernah bisa, kau harus tahu itu!” teriak Rin ketika Kim dan Sheilla sudah memasuki mobil.
Kim pun melajukan mobilnya tanpa memedulikan teriakan itu. Sementara Sheilla di sebelahnya dibuat tidak bisa berkutik. Gadis itu mati kata dan gerakan, air matanya seketika mengering tergantikan oleh kecanggungan luar biasa.
“Astagfirullah.”
Lelaki jangkung itu pun menghela napas dalam-dalam, Sheilla masih bisa mendengar samar-samar Kim mengucap istigfar di sampingnya, kemudian menoleh dengan tatapan datarnya yang khas.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Kim.
“Hah?”
“Saya tanya, apa kau baik-baik saja?”
Sheilla memutus pandangan dari Kim, dia tidak tahan bertatap wajah dengan lelaki itu lebih lama sebab debar jantungnya selalu saja tidak normal saat Kim menatapnya seperti ini.
“Ella nggak baik-baik saja.” Sheilla menjawab singkat. “Kenapa Tuan malah berbicara begitu di depan Nona Rin tadi?! Apa Tuan lagi kerasukan? Bagaimana nasib Ella nanti kalau misalnya Nona Rin semakin benci sama Ella?!”
Sheilla langsung mempertanyakan ucapan majikannya di butik tadi. Dia penasaran hal apa yang mendorong lelaki itu sampai harus nekat mengaku-ngaku bahwa mereka akan menikah di depan semua orang, terutama Rin—gadis yang 100 persen membenci Sheilla habis-habisan.
Di sampingnya, Kim hanya terdiam.
“Kenapa Tuan malah diam? Pernikahan itu bukan sebuah mainan, Ella nggak mau Tuan menyesal karena sudah berbicara begitu di depan semua orang,” ujar Sheilla. Dia berharap Kim memberikan sebuah penjelasan sejelas-jelasnya sekarang. Namun, yang dia harapkan justru memberikan jawaban menggantung.
“Beri saya waktu untuk menjelaskannya.”
“Sampai kapan?” tanya Sheilla.
Kim hanya menoleh sebentar, sesudah itu kembali fokus menyetir tanpa memberikan kepastian kepada Sheilla. Membuat Sheilla berpikir jika ucapannya tadi hanya spontan belaka karena keadaan.
***
Kim menyimpan kunci mobil di atas meja, lalu mengempas tubuh jangkungnya ke atas tempat tidur. Kali ini pikirannya sungguh tidak pernah sejalan dengan ucapan, gerak tubuh dan hati. Sudah sejak lama, bahkan sampai bertahun-tahun dia berusaha meyakini bahwa akan mampu membesarkan Woo Jin tanpa uluran tangan seorang istri di sampingnya. Faktanya, Kim begitu tidak tega ketika melihat Woo Jin sangat membutuhkan sosok ibu untuk mengurangi kegelisahan yang terkadang tidak bisa terlihat oleh seorang ayah.
Setelah menyadari itu, Kim berusaha mencari sosok ibu pengganti untuk Woo Jin. Lalu bertemulah dirinya dengan Rin, harapan lelaki itu tidak tinggi. Sesungguhnya dia hanya ingin Rin dan Woo Jin bisa menerima satu sama lain, dan membuat kekhawatiran Kim berkurang tentang anak itu. Faktanya ... Woo Jin tidak bisa menerima Rin sama sekali, perasaannya begitu sensitif dan mudah marah. Berbeda saat bersama dengan Sheilla.
Selama kedekatan antara putranya dan Sheilla terjalin, Kim selalu meyakinkan diri bahwa setiap tindakannya terhadap gadis itu hanya karena Woo Jin semata. Namun, faktanya dia melangkah lagi dan lagi, kemudian mencari cara agar Sheilla tidak menjauh darinya tanpa berpikir panjang.
Semua itu benar-benar di luar dugaan Kim.
Kim pun bangkit dari tempat tidur, kemudian mengambil foto Anita yang terpajang apik di atas meja. Senyum menenangkan wanita itu kembali mengingatkan Kim akan cintanya yang masih terkunci rapat-rapat hingga sekarang.
“Apa sekarang kau akan marah, Anita? Apa yang harus kulakukan? Aku bahkan tidak memikirkan sampai sejauh itu, tapi aku malah mengatakannya di depan semua orang,” ujar Kim seraya mengusap bagian wajah dari foto istrinya dengan ibu jari. “Tapi kau harus percaya, apa pun yang kulakukan ke depannya ... aku masih mencintaimu. Cinta itu tidak akan pernah hilang untukmu.”
Kim membatin.
Tidak lama kemudian, ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk dari kode nomor luar negeri tertera jelas dengan sebuah nama Kim Seo Joon di sana. Saat melihat nama itu, hati Kim sangat berat mengangkat panggilannya.
Kim Seo Joon adalah seorang pemuda berusia 22 tahun, satu-satunya adik lelaki yang dimiliki Kim dan masih tinggal bersama kedua orang tuanya di Kora Selatan. Bila adiknya itu sudah menelepon, itu artinya ada sesuatu hal terjadi, dan itu berhubungan dengannya.
“Hyung!”
“Ya, ada apa?” tanya Kim bernada datar.
“Kenapa Kakak seperti malas menerima panggilan dariku? Ucapan itu menyebalkan sekali, asal kau tahu.”
“Hmh ... katakan saja apa maumu.”
“Aku dengar Kakak sudah resmi berpindah agama, apa benar berita itu?” tanya Seo Joon.
Kim sedikit terkejut mendapat pertanyaan itu, sebab dia sudah sangat berusaha untuk menutupi fakta ini dari keluarganya di Korea. Namun, meskipun begitu jauh hari sebelumnya dia sudah bisa menebak bahwa berita ini akan sampai juga ke telinga mereka cepat atau lambat.
“Dari mana kau dengar itu?” tanya Kim yang tetap bersikap seperti biasa.
“Apa Kakak tidak ingat? Mata-mata nenek tersebar di mana-mana, nenek bisa tahu semua tentang Kakak dan apa yang Kakak lakukan di sana.”
“Oh, lalu?”
“Tapi Kakak tenang saja, untuk sekarang baru nenek dan aku yang tahu. Ibu dan ayah juga belum mendapat kabar ini, aku menelepon juga cuma mau memastikan kabar itu benar atau tidak, tapi ternyata ... nenek kelihatan kecewa, tapi sepertinya bukan masalah besar. Hanya saja—“ Seo Joon memotong kalimatnya sendiri.
“Apa sekarang kau membenciku juga?” tanya Kim, dia mana mungkin bisa lupa. Ketika keputusan untuk meninggalkan semua miliknya di Korea, hampir seluruh keluarga membenci keputusan itu, tidak terkecuali kedua orang tuanya.
Dua orang tersisa dari mereka hanya adik laki-lakinya dan sang nenek yang sekarang sudah berusia 80 tahun. Sampai sekarang, mereka terus melindungi segala informasi tentang Kim di Indonesia.
“Tidak!” sambut Seo Joon cepat. “Walau bagaimana pun kau tetap kakakku, mana mungkin aku bisa membencimu. Sekarang Kakak berada jauh di negeri orang, kapan kita bisa bertemu lagi? Aku merindukan keponakanku.”
Kim tersenyum tipis, ternyata masih ada yang mengingat Woo Jin di antara keluarganya.
“Kau yang punya banyak uang, datanglah ke sini sesukamu. Kami berdua akan selalu menerimamu di sini,” ujar Kim.
“Baiklah, baiklah. Tapi sayang sekali aku tidak bisa menemui kalian dalam waktu dekat. Beberapa waktu dekat ini aku akan mengikuti wajib militer, jika itu sudah selesai ... orang pertama yang akan kutemui harus Kakak.”
“Kau itu ....” Kim menahan kalimatnya sebentar. “Jaga kesehatanmu selagi menjalaninya, aku akan selalu mendukungmu. Sampaikan maafku kepada nenek, dan bilang kalau aku sangat menyayanginya.”
Hanya itu yang bisa Kim katakan kepada adik semata wayangnya, tidak ada kata lain. Walau di keluarganya berasal dari kalangan berada di negara ginseng tersebut, tidak menjadi alasan bagi Kim untuk bisa bahagia. Justru dari kekayaan berlimpah itu hatinya kosong, setiap hari dilewatinya tanpa ada siapa pun di rumah. Semua orang sibuk, bertemu dengan ayah ibunya pun hanya 6 bulan sekali dalam setahun. Kim sangat membenci semuanya.
Maka dari itu ketika dia menikahi Anita, dia tidak terlalu memedulikan tentang restu atau persetujuan kedua orang tuanya. Sebab tidak ada juga yang memedulikan semua itu.
Usai panggilannya berama sang adik berakhir. Kim mengambil beberapa berkas pribadinya dalam sebuah lemari, berkas tersebut berisikan tentang dirinya yang sudah resmi tercatat sebagai pemeluk Agama Islam oleh negara. Surat resmi ini baru saja dikeluarkan beberapa hari lalu, sekaligus mengingatkan Kim bahwa sekarang dia telah memiliki tanggung jawab penuh atas agama pilihannya. Dia tidak akan menyesali ini.
Sungguh ... ini bukan sebuah keputusan mudah. Jika kedua orang tuanya sampai tahu, entah apa yang akan terjadi. Untuk itu dia berharap Seo Joon dan neneknya tidak menyebar informasi ini kepada siapa pun di sana.
Sampai detik ini, dia masih belajar memperdalam agamanya. Namun, tentu dalam praktik semua itu tidaklah mudah. Terkadang dia lupa akan menjaga batasan, termasuk saat dia secara spontan menyentuh rambut dan tangan Sheilla di butik tadi.
“Sepertinya aku harus mengambil keputusan secepatnya.” Kim bergumam, dia merasa tidak seharusnya dia begini.
Dia harus segera memberi kepastian kepada Sheilla tentang ucapannya. Hanya ada dua pilihan untuk menjaga agar dirinya dan Sheilla terhindar dari fitnah. Yaitu ... menikahi Sheilla, atau melepaskannya.
Dua pilihan itu adalah jalan yang terlintas di pikiran Kim sekarang.