Sheilla kembali datang ke rumah Kim keesokan harinya. Seperti biasa, pagi-pagi buta dia datang dan melakukan pekerjaannya di sana. Sampai ketika waktu sarapan tiba, Sheilla melihat Woo Jin baru keluar dari kamar dengan wajah murung, lesu dan tidak b*******h sama sekali.
Sheilla penasaran apa yang terjadi, hingga dia menghampiri Woo Jin sebelum sampai di ruang makan.
“Kenapa mukanya ditekuk begitu? Apa leher kamu sakit?” tanya Sheilla.
Sedetik kemudian, Woo Jin baru mengangkat wajah melihat ke arah Sheilla. Namun, dia belum memberi respons apa pun kecuali kernyit di keningnya.
“Kenapa?”
“Kakak?” tanya Woo Jin.
“Ya? Kakak tanya kenapa mukamu di tekuk begitu tadi? Tidurnya salah bantal apa gimana, humh?”
Alih-alih menjawab pertanyaan Sheilla, Woo Jin malah tersenyum begitu lebar dengan pandangan berpusat penuh kepada gadis itu. Tidak ada kalimat sedikit pun keluar dari mulutnya, kecuali sebuah isyarat bahwa ada sebuah kebahagiaan pada senyum itu.
Sheilla pun mengibaskan tangan di hadapan wajah Woo Jin, anak itu baru tersadar dan bicara.
“Ya, kenapa?”
“Ya, ampun, kecil-kecil sudah banyak melamun. Ngelamunin apa, sih sampai kakak ngomong nggak di dengar?” tanya Sheilla ke sekian kalinya.
“Enggak ada.”
“Bohong, terus kenapa kamu senyum-senyum sendiri begitu?” Sheilla mendekatkan wajah ke hadapan Woo Jin. “Apa kamu lagi senang? Senang kenapa? Cerita, dong,” ujarnya sekaligus menggoda.
“Enggak lagi senang, biasa saja.” Woo Jin melanjutkan langkah ke ruang makan. “Kenapa Kakak masih ada di sini? Katanya mau pulang ke desa. Nggak jadi?”
Sheilla yang menyediakan seporsi nasi goreng sosis untuk Woo Jin pun sedikit cemberut. Dia sebal sekali kalau mengingat alasannya masih bertahan di rumah ini.
“Nggak jadi.”
“Kenapa emang?” tanya Woo Jin.
“Appa kamu nggak kasih izin,” jawab Sheilla padat.
Senyum lebar Woo Jin tertahan, tapi kepuasan dari wajah tampannya sangat nyata. Sheilla tahu itu. Dia juga tidak sepenuhnya kesal bekerja di sini karena ada seorang anak yang memang benar-benar membutuhkan perhatian seorang wanita dewasa. Sheilla merasa senyum Woo Jin sangat berharga bila dia teringat anak-anak yang tidak memiliki ibu, mereka akan memiliki luka tersendiri yang bisa menenggelamkan senyum itu kapan saja.
“Sekarang makanlah, biar nanti di sekolah nggak lapar pas belajar.”
“Iya.” Woo Jin pun menyantap makanannya cukup lahap, sepertinya pagi ini menjadi awal harinya yang menyenangkan bersama Sheilla lagi.
Tidak berapa lama kemudian, Sheilla lihat Kim baru menyusul ke ruang makan. Dia pun segera ingin meninggalkan ruangan itu karena masih kesal dengan kelakuan lelaki itu kemarin. Tekanan Kim padanya sangat menyebalkan dan seakan memanfaatkan kelemahan Sheilla yang nyata, itu adalah uang.
“Tunggu sebentar,” ujar Kim kepada Sheilla seraya duduk di kursinya. “Jangan pergi ke mana-mana, ada yang mau saya bicarakan denganmu setelah sarapan ini.”
Sheilla sedikit mengernyit. “Bicara soal apa?”
“Tunggulah sampai saya selesai makan.”
Sheilla mencebik. “Memang susah bicara sama makhluk penghuni kutub utara,” gumamnya sangat pelan mengutuk sikap Kim yang benar-benar selalu datar dan dingin. Namun, sepertinya Kim mendengar ucapan Sheilla dengan pendengaran tajamnya, hingga lelaki itu melempar aura dingin kepada Sheilla melalui tatapan datarnya.
Sheilla pun mengambil langkah seribu, daripada dia harus berurusan dengan makhluk penghuni kutub utara yang satu itu.
***
Sheilla pun menghampiri Kim yang memintanya datang ke ruang tamu. Sesampainya di sana. Belum apa-apa Sheilla sudah disambut tatapan datar lelaki yang khas dari Kim. Seandainya saja dia bisa menolak, dia tidak ingin bertemu lelaki itu sering-sering.
“Duduklah, apa kau mau tetap berdiri di sana?” tanya Kim ketika Sheilla masih berdiri di samping sofa.
Sheilla pun duduk di sofa meskipun ragu, dia tidak nyaman sama sekali padahal sofa ini cukup empuk dan nyaman ditempati. Namun, yang membuat Sheilla tidak nyaman adalah perasaannya sendiri. Dia sekarang khawatir Kim akan berbicara hal yang tidak ingin didengarnya.
“Jadi Tuan mau bicara apa sama Ella?” tanya Sheilla lebih dulu.
“Tentang kejadian kemarin ... apa kau benar tidak tahu siapa pelakunya?”
“Ella nggak tahu. Kan sudah Ella bilang kemarin, memangnya Tuan lupa?”
Kim terdiam, dan keterdiaman itu membuat pikiran Sheilla berkelana ke mana-mana. Apa yang ada di pikiran lelaki itu?
“Ella beneran nggak tahu. Harus berapa kali Ella bilang itu sama Tuan?” ujar Sheilla lagi.
“Tapi bukti yang ditemukan polisi membuat saya meragukan semua ucapanmu itu,” kata Kim seraya menyandarkan punggung di sofa. Dia tidak peduli seberapa tegangnya wajah Sheilla sekarang, sebab bukti yang didapatkannya kemarin pasti sesuai fakta.
“Maksud Tuan apa?”
“Pelakunya adalah seorang lelaki bernama Surya, dia adalah salah satu warga di desa tetangga. Dia datang ke tempatmu malam itu tidak hanya seorang diri ... kau pasti tahu siapa orang itu karena menurutnya kau sempat berselisih dengannya.”
Sheilla menelan ludah berat, rasanya dia benar-benar ingin pergi dan menghindari Kim sekarang. Satu hal yang disembunyikannya sangat rapat dari kejadian malam itu perlahan sudah mulai terkuak, Sheilla cukup tahu kalau Kim tidak bodoh untuk mengetahui semua faktanya.
“Saya hanya ingin sebuah kejujuran darimu, Sheilla. Selebihnya kau akan menjadi saksi di kantor polisi untuk menjerat pelakunya dengan proses hukum yang berlaku.”
Kim melanjutkan ucapannya sambil menunggu Sheilla berbicara, tapi gadis itu masih menahan seluruh ingatannya di hadapan Kim. Sheilla takut jika dia mengungkap kebenaran ini, akan ada masalah yang menimpa mereka di kemudian hari.
“Apa nggak bisa kalau Ella menceritakannya di kantor polisi saja? Ella rasa Tuan juga sudah menemukan pelakunya, jadi nanti Ella bicaranya di depan polisi.”
“Kenapa, Sheilla? Apa kau ingin melindungi pelaku sebenarnya?” tanya Kim lebih menekankan lagi.
Sheila terdiam. Dia meremas sudut roknya dengan debar jantung yang bekerja lebih cepat, sepertinya memang benar kalau Kim sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Bukan, tapi Ella cuma nggak mau Tuan dapat masalah. Ella takut kalau Tuan terlibat masalah, nanti Woo Jin gimana? Makanya Ella diam dan nggak mau cerita apa-apa pas Tuan tanya kemarin,” jawab Sheilla pelan seraya tertunduk.
“Jadi apa kau masih mau menutupinya ke saya, Sheilla?”
Sheilla menggelengkan kepala pelan.
“Siapa orang yang bersama Surya malam itu?” tanya Kim lagi seraya menatap Sheilla tanpa cela. Gadis itu hanya tertunduk diam sesaat sebelum akhirnya sebuah nama terucap dari bibir tipisnya.
“Nona Rin.”
Seketika hening.
Kedua tangan Sheilla gemetar, apalagi ketika Kim dengan cepat beranjak dari sofa dengan aura gelapnya. Lelaki itu tampaknya marah sekali, dan itu benar-benar membuat Sheilla takut. Sheilla pun ikut beranjak dari sofa dan berjalan cepat menghampiri Kim.
“Tuan ... Tuan mau apa? Tolong jangan diperpanjang lagi, Ella nggak mau ada masalah lain. Tuan, Ella mohon,” ujar Sheilla. Dia menghalangi Kim yang ingin pergi dari rumah dengan amarah yang seperti ini.
“Jangan pernah memohon pada saya,” ujar Kim bernada datar. “Jangan pernah juga melindungi saya dari apa pun karena saya tidak membutuhkan itu darimu. Sekarang menyingkirlah, persiapkan saja dirimu untuk menghadiri sidang nanti.”
Kim melanjutkan langkah melewati Sheilla begitu saja, entah dia akan pergi ke mana, yang pasti itu membuat Sheilla khawatir hingga tidak ragu untuk mengikuti ke mana lelaki itu pergi. Langkah Sheilla pun terhenti karena Kim memasuki mobil, dengan tergesa-gesa Sheilla pun mencari sebuah kendaraan yang bisa ditumpanginya untuk menyusul Kim di depan sana.
Sheilla memberhentikan ojek yang kebetulan melintas, lalu segera mengarahkannya mengikuti laju mobil Kim. Pikiran Sheilla kacau, memang seharusnya dia tidak bercerita apa pun.
***
Malam itu ketika Sheilla baru pulang dari rumah Kim. Dia sangat risau dengan ucapan Woo Jin yang memintanya menjadi ibu pengganti baginya. Sheilla belum siap, terlebih ayah anak itu juga tidak mungkin mau mengabulkan permintaan itu.
Sheilla yang berniat pulang, mendadak menerima sebuah hantaman keras di tengkuknya oleh seseorang menggunakan benda tumpul. Namun, pukulan itu tidak membuat Sheilla kehilangan kesadaran penuh, tubuhnya hanya terjatuh ke tanah dengan pandangan berkunang-kunang ke arah seseorang yang berdiri angkuh di dekatnya.
“Sakit sekali, siapa kamu?” tanya Sheilla pelan seraya memegangi belakang kepalanya yang terasa sakit.
“Apa saya perlu membuatnya diam, Nona?”
Suara seorang lelaki terdengar bertanya, Sheilla baru sadar bahwa ternyata di sana masih ada seorang lainnya yang berdiri. Itu adalah seorang perempuan. Sheilla mencoba menengadah untuk melihat siapa perempuan itu, tapi dia keburu merasakan kesakitan lai karena rambut panjangnya dicengkeram kuat dari belakang.
“Ah, Sakit!” rintih Sheilla, dia mulai menangis. Ketakutan mula menjalar ke seluruh syarafnya mengingat dia hanya seorang diri di sana. “Lepas, ini sakit sekali.”
Sheilla menangis, tapi tidak ada yang memedulikan tangisannya. Rambutnya tetap ditarik hingga beberapa helanya terasa tercabut paksa, seorang perempuan pun berdiri tepat di hadapannya.
“Tolong lepas, Ella salah apa sama Nona?” tanya Sheilla ketika dia lihat samar wajah perempuan yang dikenalnya itu dari minimnya penerangan di sekitar.
“Masih bertanya apa salahmu? Biar kuberitahu,” ujar Rin seraya berjongkok di hadapan Sheilla, telapak tangannya langsung melayang ke pipi gadis itu seakan melampiaskan kekesalannya yang ditahan sejak lama.
“Ah!” Sheilla merintih menahan sakit di pipinya.
“Salahmu adalah menampakkan wajah ini di hadapan kekasihku,” ujar Rin datar, tapi penuh dengan penekanan. “Apa kau ingin cari mati denganku?”
Sheilla menggelengkan kepala, dia tertunduk dan tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi menentang Rin dengan orang yang dibawanya.
“Kalau begitu enyahlah dari hadapan kekasihku, atau kau akan merasakan sendiri akibatnya.”
“Tapi Ella nggak ada hubungan apa-apa sama Tuan, sungguh. Ella cuma seorang pembantu, nggak lebih dari itu,” ujar Sheilla dengan suara gemetar. Dia ketakutan, tapi juga ingin meyakinkan Rin kalau dia tidak ada hubungan khusus sama sekali dengan Kim.
“Apa kau pikir aku akan mempercayai itu? Selama kau masih ada di sekitarnya, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Sekarang kau akan merasakan akibat dari ulahmu yang membuatku kehilangan Kim. Kau juga harus ingat, aku bisa melakukan lebih dari ini kalau kau berani mengaku kepada orang lain,” ujar Rin. Dia pun beranjak dan memerintahkan lelaki yang bersamanya itu untuk membawa Sheilla.
“Enggak, Ella enggak akan bilang. Tapi tolong lepaskan Ella!” Tubuh Sheilla diseret paksa oleh tangan kasar lelaki itu hingga sampai ke depan pintu kamar mandi kecil dan pengap.
“Masukkan dia ke sana,” perintah Rin.
Sheilla pun didorong hingga ke dalam kamar mandi, kemudian pintunya tertutup rapat dari luar, dia tidak bisa membuka itu.
“Nona? Nona tolong keluarkan Ella dari sini! Nona, Nona!” Sheilla berteriak dan menggedor-gedor pintu, tapi tidak ada suara lagi di luar sana. Dia seorang diri di tempat sempit, sesak dadanya akibat udara yang masuk dari luar cukup sedikit.
Sheilla menangis selama berjam-jam, walau dia tidak tahu berapa jam dilewatinya. Cahaya yang datang dari atap hanya mengisyaratkan pergantian waktu, tanpa ada orang datang melintas ke tempat sunyi ini.
***
Sheilla turun dari ojeknya ketika melihat mobil Kim berhenti di depan sebuah butik, kemudian melangkah masuk dengan tergesa-gesa karena dia juga melihat asa Rin dalam sana dari balik kaca besar. Apa pun alasan yang membawa Kim ke sini, Sheilla merasa itu menjadi tanggung jawabnya.
“Tuan!” panggil Sheilla sehingga kedua orang itu menoleh bersamaan. Dia pun melangkah cepat ke arah Kim karena raut wajah lelaki itu masih tetap sama. Kim kelihatan masih terbawa arus emosinya. “Tuan sedang apa di sini? Ayo, pulang saja, Ella nggak mau memperpanjang masalah ini lagi.”
“Ah, lihatlah orang yang telah merusak hubungan kita, Mas. Sepertinya dia tidak pernah lelah untuk mengejarmu,” ujar Rin ketika melihat kedatangan Sheilla.
“Jaga ucapanmu,” ujar Kim bernada datar. “Karena dia ada di sini, sekarang minta maaflah. Atau kau lebih menginginkan kuseret paksa ke sel penjara?”
“Mas!” Suara Rin menggema, untung saja hanya ada beberapa orang dalam butik ini. Kalau tidak, nama baiknya akan mudah tercemar dengan adanya pertengkaran mereka. “Apa yang sudah dia adukan kepadamu? Dia pasti banyak bicara dan memfitnahku untuk menarik kepercayaanmu, kan?”
Sheilla menggelengkan kepala cepat. “Ella enggak—“
“Kau masih saja seperti ini. Tapi kali ini perbuatanmu sudah tidak bisa kumaafkan lagi, dan kupastikan pertemuan kita sekarang akan menjadi yang terakhir kalinya sebelum kau didakwa atas kesalahanmu!” sela Kim.
“Aku tidak pernah mencemaskan semua itu. Yang kupedulikan hanya kamu, seharusnya kamu lebih tahu itu, Mas. Kenapa kau selalu saja membelanya? Apa yang bisa dia berikan padamu, padahal kamu tahu hanya aku yang bisa memberikan segalanya.” Rin tidak menunjukkan rasa takut sama sekali, sebab dia tahu Kim tidak sejahat itu untuk menjebloskannya ke dalam penjara. Namun, jika memang Kim benar melakukannya, Rin masih memiliki banyak cara untuk bisa mengelak.
“Ada satu hal yang tidak pernah bisa kau berikan padaku, Rin, dan itu adalah hal terpenting dari segalanya.”
“Apa?”
“Ketulusanmu,” jawab Kim. “Kau memang memiliki segalanya, tapi kau lupa bagaimana caranya mengingat bahwa di sekitarmu adalah orang-orang yang masih memiliki hati. Jika memang kau ingin mempertahankannya, itu adalah hakmu. Tapi jangan pernah lagi kau menyentuh Sheilla seujung kuku pun, karena aku tidak akan membiarkannya.”
Sheilla melihat Kim saat membelanya, apa itu sungguh-sungguh? Atau Kim hanya bersikap wajar saat membela pegawainya. Sheilla tidak tahu, tapi dia merasa terlindungi oleh sikap Kim sekarang.
“Tapi dia itu bukan siapa-siapa bagimu, kenapa kau harus memperlakukannya seperti ini, Mas?!”
“Sheilla bukan orang lain, dia adalah calon ibu dari putraku.”
“A—apa?” Sheilla terkejut bukan main, wajah datar Kim sama sekali tidak berubah sedikit pun ketika kalimat itu meluncur dari mulutnya.