Tekanan Kim

1808 Words
Satu hari berikutnya, keadaan Sheilla sudah mulai membaik begitu juga keadaan Woo Jin. Bahkan saat mendengar Sheilla sakit, anak itu terus datang ke tempat Sheilla tinggal walau gadis itu berniat pergi meninggalkannya dalam waktu dekat. Sheilla masih mencari waktu yang tepat agar dia bisa tetap menjaga perasaan bocah kecil itu. Sampai satu hari ketika Woo Jin baru kembali dari sekolah, dia lantas datang ke tempat tinggal Sheilla dengan membawa sandwich isi sayuran dan daging sapi giling. Anak tersebut memaksa sang ayah membuatkannya khusus untuk Sheilla. “Kakak! Aku datang!” Suara Woo Jin lantang terdengar dari arah luar pintu, Sheilla yang masih berbaring di tempat tidurnya pun mencoba bangkit untuk membukakan pintu. Saat daun pintunya terbuka, senyum semringah Woo Jin paling pertama muncul di hadapan Sheilla. “Aku bawa makan siang, ayo makan bareng, Kak,” ajak Woo Jin sambil menarik tangan Sheilla ke dalam kamar. Anak itu tidak sungkan lagi duduk di atas karpet tipis dan membuka kotak makannya dengan cepat. Sheilla bisa melihat sendiri makanan yang dibawanya, itu terlihat padat dan sepertinya memiliki rasa yang lezat. “Itu apa?” tanya Sheilla. “Ini sandwich, dulu appa sering kasih bekal ini buatku ke sekolah. Rasanya enak banget tahu,” jawab Woo Jin. Dia pun mengeluarkan salah satunya untuk Sheilla. “Ayo, dimakan, Kak. Sandwich buatan appa paling enak di seluruh dunia, aku nggak pernah bosan makan ini. Aku jamin Kakak juga akan menyukainya.” Sheilla tersenyum tipis. Dia menerima pemberian dari Woo Jin, tapi cukup ragu untuk memakannya. Pikiran Sheilla masih terganggu dengan raut wajah ceria Woo Jin di hadapannya. Apa dia bisa tega menghancurkan itu? Namun, jika terlalu lama dia di sini, anak itu akan semakin berharap lebih. Sheilla tidak mau itu. Sheilla memang menginginkan Woo Jin menemukan ibu sambung yang baik, tapi bukan dirinya. Shella merasa tidak pantas sama sekali, apalagi dia juga belum berniat menikah dengan siapa pun. Cintanya masih terkunci rapat, trauma dari kegagalan di pernikahan Sheilla sebelumnya membuat dia banyak berpikir ketika menghadapi itu kembali. Lagi pula, menikah dengan Kim sama dengan ingin meraih bulan di langit, suatu hal yang tidak akan pernah mungkin bisa terjadi. Lelaki dingin itu ... walau Sheilla tidak pernah melihat senyumnya, tapi dia yakin Kim akan memilihkan yang terbaik bagi putra semata wayangnya ini. “Kenapa malah melamun, Kak? Ayo, dimakan. Sebentar lagi aku mau pulang, belum ngerjain PR soalnya. Habis ngerjain PR aku mau main ke tempatnya Azka.” Woo Jin kembali mengingatkan sebab Sheilla masih saja terdiam. “Itu ... sebenarnya ada yang ingin kakak sampaikan ke kamu, Woo Jin.” Sheilla berkata ragu-ragu. “Mau bilang apa? Aku dengerin, kok.” “Kakak sudah nggak bisa kerja di tempat appa-mu lagi. Besok pagi kakak akan pulang ke Desa Sindang,” ujar Sheilla. Woo Jin yang semula begitu lahap memakan sandwich-nya, mendadak menghentikan makan siangnya itu untuk melihat keseriusan Sheilla di sana. Seketika raut wajah murung itu membuat hati Sheilla perih sendiri. Apa dia sudah salah mengambil keputusan ini? Pemikiran itu melintas, tapi Sheilla masih yakin Woo Jin akan baik-baik saja ke depannya. Kesedihan anak itu hanya sesaat, dan bisa melupakan kebersamaan mereka sekarang. “Apa? Kenapa?” “Kakak ....” Sheilla bingung sendiri karena belum mempersiapkan alasan yang tepat, hingga dia berpikir keras saat Woo Jin tidak berhenti menatapnya. “Kakak ditawari pekerjaan lain, kakak sudah menerima itu karena kalau di desa, kakak bisa lebih dekat berziarah ke makam orang tua kakak.” Setelah mengatakan itu, tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Woo Jin. Anak itu sedikit bergerak hanya untuk memasukkan makanannya kembali ke kotak makan. “Kenapa dimasukkan lagi? Katanya ini enak, ayo makan dulu. Supaya kamu ada tenaga waktu main nanti,” ujar Sheilla yang malah merasa bersalah sendiri. “Sudah kenyang,” jawab Woo Jin seraya memberi seulas senyum tipisnya kepada Sheilla. “Oh, ya. Punya Kakak juga jangan lupa dimakan, kalau Kakak suka nanti aku minta appa buatin lagi. Sekarang aku mau langsung pulang, ya. PR ku banyak banget, kalau enggak selesai, appa bisa marah.” Anak itu beranjak dari atas karpet, diikuti Sheilla yang mulai tidak tenang karena raut wajah Woo Jin. “Sudah mau pulang?” Woo Jin mengangguk pelan. “Woo Jin dengar kakak.” Sheilla memegang kedua bahu Woo Jin dan menatapnya dalam-dalam. “Walau kita sudah nggak bisa ketemu lagi, kamu harus tahu kalau kakak sangat menyayangi kamu. Pokoknya kamu boleh telepon kakak kapan pun itu, kakak akan selalu ada buat kamu,” ujar Sheilla sangat berhati-hati. Walau rasanya seberat ini, tetapi dia harus tetap mengambil tindakan. Dia menyayangi Woo Jin tanpa syarat dan cela, dia yakin anak itu juga merasakannya. “Ya, aku tahu.” Woo Jin menjawab singkat seraya menurunkan tangan Sheilla dari bahunya. “Aku pulang dulu.” Sheilla berjalan mengantar kepergian Woo Jin dari tempat tinggalnya. Anak itu tidak menoleh lagi setelah mengambil langkah. “Bersenang-senanglah dengan temanmu itu, tapi jangan lupa kerjakan PRnya dulu, ya! Kakak sayang kamu!” seru Sheilla cukup keras, tetapi tidak ada tanggapan apa pun. Melihat punggung anak itu semakin menjauh, Sheilla seperti dihadapkan dengan sikap Kim. “Semoga saja dia nggak marah. Woo Jin ... maafin kakak, ya.” Sheilla bergumam sendiri. Walau dia sudah memutuskan semuanya, dia masih berharap hubungan baiknya dengan Woo Jin tidak akan pernah hilang. *** Kim yang sedang berada di toko elektronik miliknya melihat Woo Jin melintas di depan jalan. Raut wajah putra semata wayangnya itu sangat murung, hingga Kim memutuskan menyusul Woo Jin sampai ke rumah. Kim penasaran apa penyebabnya, karena sebelum pergi anaknya tidak seperti itu. Woo Jin pun menaruh kotak makannya di atas meja, lalu melangkah berniat masuk kamar. Kim segera mempercepat langkah menyusul putranya sebelum menutup pintu. “Woo Jin!” panggil Kim. Bocah lelaki itu menoleh. “Ya.” “Kau ....” Kim melihat keseluruhan dari putranya dari ujung rambut hingga kaki, terutama wajah sendu Woo Jin yang membuatnya sedikit terganggu. “Ada apa? Apa semuanya baik-baik saja?” tanyanya kemudian. “Ya, semuanya baik.” “Tapi wajahmu murung sekali, coba cerita ke appa. Biar appa dengarkan apa penyebabnya, uh.” Kim tetap tidak percaya walau Woo Jin sudah memberikan jawabannya. Dia lebih tahu anak itu dari siapa pun. “Aku nggak murung. Cuma lagi pusing karena ada PR banyak banget. Sekarang aku mau kerjakan itu sebelum pergi main ke rumah Azka.” “Benarkah? Apa Sheilla tidak mengatakan apa pun tadi?” tanya Kim lagi, dan seketika anak itu terdiam. Kedua matanya sedikit basah, tapi air mata itu tertahan kuat. “Apa ... Sheilla mengatakan sesuatu padamu?” Kim bertanya sekali lagi, anak itu menggelengkan kepala pelan. “Enggak ada. Aku ke kamar dulu, ya.” Woo Jin menguarkan senyum tipis sebelum menutup pintu kamar pribadinya. Kim ingin menahan putranya, tapi gagal. Pintu itu benar-benar tertutup rapat dan tidak ada suara lagi dari dalam. Sepertinya Sheilla sudah mengatakan niatnya kepada Woo Jin, Kim berpikir demikian setelah melihat sikap putranya sekarang. Kim pun melangkah keluar rumah dan menuju langsung ke tempat tinggal Sheilla. Di sana, gadis itu tampak sedang menurunkan pakaian keringnya. Ketika menyadari kedatangan Kim, Sheilla sedikit membuang wajah. Tidak berani bertatap mata dengan orang yang tengah diselimuti kekesalan. “Tunggu ....” Kim menahan langkah Sheilla dengan menggenggam lengannya. Sheilla pun terpaksa menoleh. “Apa kau sudah mengatakannya pada putraku?” tanyanya tanpa basa basi. “Iya, Ella sudah bilang. Besok Ella mau pulang.” “Kenapa kau melakukan itu? Apa kau sadar dengan apa yang telah kau lakukan sekarang?” Sheilla baru melepaskan pegangan Kim padanya sedikit kasar. “Ella sadar, tapi Ella bisa apa? Ella nggak mungkin terus-menerus tinggal di sini dan seakan memberi harapan padanya kalau kita akan menikah. Itu bukan masalah kecil, Ella nggak mau jadi orang jahat.” “Tapi sekarang kau sudah melukai hatinya.” “Terus Ella harus apa?!” tanya Sheilla dengan nada sedikit tinggi seraya melempar tatapan penuh kepada Kim. “Setidaknya kasih saya waktu untuk membantu menjelaskannya, tapi sekarang kau membuatnya bersedih. Apa kau tahu perbuatanmu ini bukan hanya melukai Woo Jin?” Sheilla sedikit mengernyit. Kim kemudian mengambil beberapa langkah ke depan sampai Sheilla terimpit antara dinding dan tubuh jangkungnya. Napas gadis itu mulai tidak beraturan dengan jarak mereka yang sangat dekat, tapi Kim sengaja memberi sedikit jarak agar Sheilla hanya bisa merasa tekanan dari tatapan tajamnya. “Kau ... juga telah merugikan saya.” “A—apa?” “Sejak dia bayi merah hingga detik ini, saya memperjuangkan kebahagiaannya dalam hal sekecil apa pun. Dia hampir tidak pernah bersedih apa lagi menangis, tapi dengan seenaknya kau memusnahkan senyumnya begitu saja. Apa kau pikir saya bisa menerima semua itu?” Sheilla terdiam dan hanya bisa menelan ludah berat. “Jika saya bilang tidak, itu artinya tidak. Kau masih terikat pekerjaan dengan saya karena kau sudah mendapat bayaran di muka, kalau kau pergi tanpa menyelesaikan sisa hari kerjamu. Kau harus mengembalikan uang saya 5 kali lipat. Apa kau mengerti itu?” “Ya, ampun!” Kedua mata Sheilla terbulat sempurna seraya menutup mulutnya dengan telapak tangan. “5 kali lipat? Apa itu 15 juta?” Sepertinya ucapan Kim berhasil mempengaruhinya agar tidak pergi. Hingga dia hanya memberi senyum miring atas pertanyaan dari Sheilla barusan. Gadis itu pun mendorong d**a Kim agar menjauh. “Tuan suka begitu, ih. Ella mana punya uang sebanyak itu?!” ujar Sheilla sewot. “Jadi apa kau tetap memilih berhenti bekerja besok? Atau meneruskan sisanya sampai aku menemukan siapa orang yang telah menjebakmu di kamar mandi itu?” tanya Kim sekali lagi. Sheilla cemberut seraya mengentakkan kaki ke tanah. Dia kelihatan kesal sekali, tapi itu adalah kesenangan bagi Kim. Akhirnya ada juga cara menahan kepergiannya, padahal Sheila sudah berencana matang ingin pulang kampung. “Jadilah asisten rumah tangga sekaligus babbysitter yang baik. Dengan begitu kau akan aman.” Kim berbicara untuk terakhir kalinya kepada Sheilla, sesudah itu mengambil langkah pergi dari sana dengan kepuasan tersendiri. Setidaknya Sheilla tidak jadi pergi, masa bodoh dengan hari-hari berikutnya. Kim tetap akan mencari cara lain untuk menahannya. Tidak berapa lama kemudian, sebuah panggilan masuk di ponsel milik Kim. Panggilan tersebut berasal dari salah satu polisi yang dimintai bantuan oleh Kim beberapa hari lalu untuk menyelidiki kasus yang dialami Sheilla. Sebab Kim hanya memasang cctv di area toko dan tidak menjangkau ke tempat tinggal Sheilla, dia sampai harus melibatkan polisi dalam hal ini. Polisi pun datang dan mencari barang bukti yang bisa saja ditemukan, sekaranglah waktunya bagi mereka mengabari hasil yang mereka dapat kepada Kim. “Selamat siang, Tuan. Apa Tuan ada waktu? Jika ada, Tuan silakan datang ke kantor hari ini sebagai saksi karena kami sudah menemukan siapa pemilik sidik jari yang tertinggal di lokasi kemarin,” ujar polisi tersebut. “Ya, baiklah. Saya akan ke sana sekarang.” Panggilan pun terputus, hingga Kim mulai bertanya-tanya siapa pemilik sidik jari yang ditemukan oleh polisi. Kalau dia mengenal orang itu, sudah tentu tidak ada maaf lagi baginya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD