Pulang?

1566 Words
Sheilla dibawa ke klinik oleh Kim untuk memeriksakan kondisinya yang sudah lemah sekali. gadis itu mendapat perawatan di sana dan masih belum siuman ketika satu jam Kim serta Gandi menunggu. Ya, tidak ada salah seorang pun dari mereka yang mau mengalah pergi, terutama Gandi yang jelas merasa mengenal Sheilla dengan baik. Pemuda jangkung itu masih tampak cemas, dia duduk di kursi samping tempat tidur Sheilla sambil menggenggam tangannya seakan tidak akan pernah lepas sedikit pun. Sementara yang dilakukan Kim hanya bolak-balik antara menunggu di depan klinik, atau kembali sebentar untuk melihat apakah Sheilla sudah siuman. Kim tidak ingin terus melihat kecemasan Gandi, hal itu membuatnya cukup sebal dan enggan mendekat. Sampai beberapa waktu berikutnya, Kim kembali ke ruang Sheilla dirawat dengan membawa bubur, buah-buahan, dan minuman yang sengaja dibelinya dari luar. Sebab menurut dokter, gadis itu dipastikan tidak makan selama dua hari dan bisa saja merenggut nyawanya jika tidak segera ditangani. Apalagi Sheilla juga terjebak dalam ruang sempit dengan sedikit ventilasi udara, entah bagaimana ketakutan gadis itu selama dua hari kemarin. Kim cukup menyesal karena tidak menyusul Sheilla saat pergi dari rumahnya malam itu. “Apa dia belum siuman juga?” tanya Kim kepada Gandi yang masih setia menunggunya. “Apa Anda masih pantas menanyakan itu? Seharusnya Anda bisa tahu apa yang terjadi pada Ella, hal ini nggak mungkin akan terjadi!” ujar Gandi bernada marah dengan sorot mata tajamnya ke arah Kim. “Apa kau berpikir saya menginginkan ini? Tapi walau bagaimana pun, Sheilla adalah tanggung jawab saya karena dia masih bekerja untuk saya. Jadi kau tidak perlu khawatir untuk kesehatannya.” “Mulai sekarang dia sudah bukan lagi pembantu di rumah Anda, dia akan kubawa pulang ke desa dan membebaskannya dari orang jahat yang tega menyebabkannya ini,” ujar Gandi. Kim terdiam, bukan tidak ingin menjawab ucapan sinis Gandi padanya. Melainkan karena dia mulai kesal karena pemuda itu sudah berani mengatur tentang kehidupan Sheilla. Kim tidak menyukai itu sama sekali, dia juga tidak akan mengizinkan Sheilla pergi begitu saja dari rumahnya. Kim akan mencari cara agar keinginannya bisa terwujud. Beberapa saat kemudian, Sheilla mulai menggerakkan jemarinya. Kedua matanya pun perlahan terbuka untuk terbiasa dengan cahaya-cahaya di sekitar. Kim pun mendekat karena pandangan gadis itu sempat mengarah padanya. Namun, yang terjadi malah di luar dugaan. “She—“ Pergerakan Kim terhenti. “Gandi!” Sheilla langsung memaksakan tubuhnya untuk bangkit dan memeluk tubuh Gandi yang berdiri tepat di sebelah Kim. Dia menangis sesenggukan sambil mengeratkan pelukannya kepada pemuda itu. Kim yang mengira Sheilla akan pergi ke arahnya menurunkan tangannya kembali, kemudian mengepalkan tangan itu di bawah. Hatinya sakit, membuat dadanya cukup sesak untuk bernapas sekalipun. Apa ini yang dinamakan cemburu? Namun, Kim berusaha menolak arti itu dalam perasaannya. Kim hanya menganggap perasaan kesalnya sekarang adalah hal wajar karena rasa takut jika Sheilla akan menuruti Gandi pulang ke desa Sindang. “Tenanglah, aku sudah ada di sini, La.” Gandi mengusap lembut puncak rambut Sheilla, membiarkan gadis itu selesai mengatur ketakutan dalam dirinya beberapa saat. “Ella takut banget, apa ini beneran kamu? Atau Ella cuma mimpi?” tanya Sheilla seraya sedikit menengadah ke arah Gandi. Air mata Sheilla masih banjir, wajah cantiknya yang sekarang pucat pasi membuat Gandi tidak berhenti memberikan ketenangan dengan penuh kesabaran. “Ini beneran aku, La,” ujar Gandi memastikan kepada Sheilla. Dia pun kemudian melepas pelukan gadis itu dan duduk di kursinya kembali. Sementara Kim di dekat mereka semakin digulung amarah terpendam, apalagi dia melihat dengan mata dan kepalanya langsung kalau Gandi sama sekali belum mau melepas pegangan tangan Sheilla. “Apa yang kamu rasakan sekarang? Kenapa ini bisa terjadi?” tanya Gandi. Tangis Sheilla perlahan memang sudah menyusut, tapi dia tertunduk saat mendapat pertanyaan itu dari sahabatnya. Kim merasa Sheilla belum mau menceritakan kejadian sebenarnya. “Ini bukan waktunya menanyakan itu,” sela Kim. Kemudian menyimpan makanan yang dibawanya ke samping Sheilla. “Makan dulu, kau pasti lapar sekali.” Wajah Sheilla kembali terangkat, dengan cepat dia menyambar pemberian dari Kim dan melihat isinya. Beberapa detik kemudian air matanya mengalir lagi sambil menata ke arah Kim berdiri. “Terima kasih. Ella boleh makan ini sekarang? Perut Ella sakit banget nggak nemu makanan dari kemarin.” “Nggak usah makan itu! Aku sudah beli makanan lain, khusus buat kamu.” Gandi menyingkirkan pemberian dari Kim, lalu mengambil bungkusan plastik berisi soto bening yang dibelinya sendiri saat Kim juga tengah membeli makanan. “Makanan itu tidak cocok untuknya, bubur lebih mudah dicerna oleh orang sakit,” ujar Kim tidak ingin kalah dan kembali menyerahkan buburnya ke tangan Sheilla. “Kata siapa? Setiap kali Ella sakit, aku berikan ini dan dia masih bisa sembuh, tuh! Ella nggak terlalu suka bubur asal Anda tahu itu,” uar Gandi seraya memindahkan kembali makanan Kim ke atas tempat tidur. Sedangkan Sheilla kebingungan sendiri jadinya, dia yang memegang soto pemberian Gandi pun sempat melirik bubur dari majikannya itu. Beberapa saat kemudian, dia memilih memegang keduanya daripada dua lelaki tersebut berdebat hanya karena makanan. “Ella makan dua-duanya, kebetulan Ella lagi lapar banget,” ujar Sheilla seraya tersenyum garing. “La ...” “Gandi ... apa Ella bisa minta tolong?” tanya Sheilla pelan. “Tolong apa?” “Kasih Ella waktu sebentar buat makan ini, Ella nggak nyaman ditemani begini. Gandi tunggu di luar dulu, ya,” ujar Sheilla kepada Gandi. Kemudian langsung melihat ke arah Kim. “Tuan kalau mau pulang juga nggak apa-apa, Woo Jin pasti sendirian di rumah. Kasihan dia.” “Saya sudah mengabarinya kalau akan pulang sebentar lagi,” ujar Kim. Kemudian menjeda perkataannya sebentar demi memastikan gadis berambut hitam lurus itu. “Sebaliknya, saya akan tinggal di sini lebih lama sampai saya tahu kejadian sebenarnya darimu, Sheilla.” Sheilla terdiam dan tertunduk kembali. “Sekarang makanlah itu, saya akan menunggumu di luar,” ujar Kim lagi. Dia pun meninggalkan Sheilla di sana lebih dulu dari Gandi sekaligus berjanji pada diri sendiri bahwa akan menemukan kejujuran dari gadis itu tentang semuanya suka atau tidak. *** Sekitar dua jam kemudian setelah Sheilla dipastikan selesai makan dan cukup beristirahat, Kim kembali mendatangi tempat gadis itu. Ada beberapa hal yang mengganjal dalam dirinya, salah satunya adalah mengenai penyebab Sheilla terjebak di kamar mandi. Sesampainya di tempat Sheilla, Kim sudah menyetok banyak kesabaran ketika harus dihadapkan dengan perlakuan Gandi kepada sahabatnya itu. “Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa lebih baik?” tanya Kim mengartikan sebuah perhatian kecil. Sheilla mengangguk pelan, dia yang sekarang sudah bisa duduk di sudut tempat tidurnya pun sedikit memberi senyum tipis. “Sekarang ... apa kamu sudah bisa menceritakan semuanya? Kenapa kau bisa sampai terjebak di kamar mandi itu? Apa ada orang yang mendatangimu?” Kim memberondong Sheilla dengan berbagai pertanyaan, tapi bibir tipis gadis itu tampak sedikit ragu untuk mengatakannya. “Ella nggak tahu siapa orangnya, malam itu cukup gelap. Tapi Ella mendadak kena pukul di kepala belakang yang bikin Ella pusing, habis itu nggak ingat apa-apa lagi.” Sheilla menjawab seraya sedikit meremas pelipisnya, mengingat-ingat kejadian setelah dia baru pulang dari rumah Kim malam itu. Sayangnya dia tidak ingat sama sekali, tenaganya bahkan terkuras banyak karena sebelum terkunci Sheilla belum makan sejak siang. Penderitaannya cukup sempurna. “Apa kau benar-benar tidak mendengar atau melihat apa pun lagi? Siapa tahu ada tanda yang menunjukkan dia laki-laki atau perempuan,” ujar Kim memastikan kembali. Namun, Sheilla menggelengkan kepala. “Ella nggak liat apa-apa lagi,” jawab Sheilla. Kemudian melihat ke arah Kim dengan kedua mata yang membasah. “Dan sekarang Ella tahu, kalau Ella memang nggak bisa tinggal lebih lama di tempat Tuan. Ella mau pulang saja dan kembali ke kehidupan sebelumnya, nggak apa-apa, itu lebih baik dari pada di sini.” Akhirnya kalimat mengerikan itu muncul juga dari mulut Sheilla. Kim tidak bisa tinggal diam, dia yang masih berdiri tidak jauh di tempat gadis itu pun kembali ingin meyakinkannya. “Saya belum menemukan siapa pelakunya, tapi kau malah ingin pergi? Apa kau mau nama saya dipandang buruk oleh orang lain?” “Maksud Tuan apa? Ella nggak ngerti.” “Tinggallah bersama saya sampai saya tahu siapa orangnya. Jika kau pergi dan sementara saya belum menyelesaikan masalah ini, masyarakat pasti akan menilai buruk dan beranggapan kalau saya tidak bertanggung jawab padamu. Apa kau menginginkan itu?” Sheilla terdiam, tapi kali ini giliran Gandi yang mengambil tindakan. “Jangan, La. Keselamatanmu masih belum terjamin kalau kamu masih tinggal di sini, siapa tahu orang itu masih berniat jahat. Apa yang akan terjadi nanti? Tapi kalau kamu pulang sama aku, aku janji akan carikan tempat aman buat kamu. Aku juga bisa langsung carikan kamu pekerjaan, itu adalah solusi terbaiknya,” ujar Gandi. “Saya yang menjamin keselamatannya, bila perlu dia bisa tinggal di rumah saya supaya bisa saya lihat siapa saja orang yang datang ke rumah selama pencarian pelakunya.” Kim tidak ingin kalah, kalau Gandi bisa berkata apa pun, dia harus lebih dari itu. “Lagipula, apa kau tidak merasa sayang? Kalau kau pergi, Woo Jin pasti akan mencarimu terus-menerus. Dia sangat menyayangi dan tidak menganggapmu orang lain. Jadi tolong pikirkan masalah ini baik-baik, saya juga tidak akan lepas tanggung jawab dengan kejadian yang menimpamu ini.” Kim berbicara panjang kali lebar, baru kali ini dia begitu. Padahal biasanya dia sangat malas berkata dan hanya berkata seperlunya. Namun, sekarang situasinya berbeda. Kim merasa keberatan jika Sheilla harus pulang ke desa. “Ella tetap akan pulang, Tuan.” “Sheilla—“ “Nanti Ella sendiri yang bilang sama Woo Jin.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD