09

1802 Words
Justine tahu semua tentang Reymond, begitu pun tentang balas dendam dan rencananya menghancurkan Chandra Lesmana. Bahkan dia mengetahui lebih banyak dari pada yang diketahui Reymond. Dan untuk kali ini, ia benar-benar tidak suka dengan sikap Reymond yang semaunya sendiri dan menjajah Arlyn. Bagaimana pun, tidak adil jika wanita itu menjadi obyek pelampiasan balas dendam Reymond. Justine sudah bertemu Arlyn, di pesta pernikahan Reymond dengannya tiga hari yang lalu. Tampak jelas, Arlyn wanita baik yang tidak aneh-aneh. Ia merasa kasihan jika wanita itu harus menikah dengan kepala batu seperti Reymond. Dan benar saja, sikap Reymond yang kepala batu itu benar-benar mencelakainya. Kali ini Justine menyempatkan diri duduk di sofa yang ada di depan kamar Reymond. Setelah ketiga pelayan keluar dari kamar sang pemilik rumah ia memanggil salah satu dari ketiganya. “Apa Kakak Iparku sudah sadar?” tanya Justine. “Nona, Arlyn belum sadar Tuan,” jawabnya singkat. “Apa yang sedang dilakukan Reymond?” tanya Justine penasaran. “Tuan Reymond sedang menjaga Nona Arlyn, Tuan, sepertinya ia juga sedang menunggu Dokter Edo,” jelas pelayan itu. “Siapa Dokter Edo?” selidik Justine. “Dokter Edo itu sahabat sekaligus Dokter Pribadi, Tuan Reymond,” sahutnya. “Baiklah,” jawab Justine. Pelayan itu turun ke lantai satu, sedangkan Justine ia menunggu kedatangan Dokter Edo agar bisa ikut masuk ke kamar Reymond. Melihat wajah Reymond yang khawatir adalah kebahagiaan tersendiri. Lima menit kemudian, terdengar telapak kaki menaiki tangga. Dokter Edo, tiba di lantai dua dengan nafas cepat seolah di kejar waktu. “Anda Dokter Edo?” tanya Justine pada pria berjubah putih khas dokter itu. “Iya,” jawab pria itu di sela nafasnya. “Perkenalkan saya Justine, sepupu Reymond dari Amerika, mari saya antar,” tawar Justine. Ia berjalan lebih dahulu dan membuka pintu kamar Reymond. “Silakan Dokter Edo,” Justine mempersilakan masuk. Dokter Edo berjalan terlebih dahulu, Justine mengekor di belakangnya. “Apa yang terjadi dengan Nona Arlyn?” tanya Dokter Edo pada Reymond, melirik pria itu menyelidik. Reymond menelan ludah. Enggan mengakui sikap kejam yang di lakukannya. Namun, berbohong dengan Dokter Edo itu tidak mungkin. Pria itu tidak mungkin ia pilih menjadi dokter pribadinya jika tidak kompeten. “Jangan diam saja, Kau atau aku yang jawab?” ucap Justine tegas. Reymond berdehem, pria itu melipat kedua tangannya di depan d**a. “Arlyn aku biarkan di kamar mandi selama satu jam,” jawab Reymond mengaku. “Kau mengunci Kakak Ipar di kamar mandi kan! Jujur!” paksa Justine tersenyum menang. “Apa itu benar Tuan Reymond, Anda mengunci Nona Arlyn di kamar mandi?” tanya Dokter Edo memastikan. Reymond, tidak menjawab. Ia mengalihkan perhatiannya ke arah lain. “Kemungkinan, Kakak Ipar pingsan karena kedinginan Dokter, tadi hujan turun dengan deras dan mereka berdua berdebat hebat, mungkin karena pria keras kepala itu amat marah, ia mengunci Kakak Ipar di kamar mandi dan masih mengenakan baju yang basah!” jelas Justine. Sementara itu Dokter Edo, memeriksa detak jantung dan tekanan darah, Nona muda yang masih belum sadar juga. “Apa Nona Arlyn mempunyai riwayat alergi dingin atau semacamnya, seperti kondisi tubuhnya akan melemah saat kedinginan begitu?” tanya Dokter Edo pada Reymond. “Aku kurang tahu,” jawab Reymond lebih khawatir dari sebelumnya karena Dokter pribadinya itu masih mengernyitkan dahi seolah ada sesuatu yang mengganggunya. “Aku akan memberikan Obat untuk istrimu, Tuan Reymond , tapi aku akan berpesan untuk lebih berhati-hati. Mengunci Nona Arlyn di kamar mandi itu sangat tidak manusiawi dan Anda, hampir saja mencelakainya!” jelas Dokter Edo menakut-nakuti Reymond. Menurutnya, tindakan Reymond sangat keterlaluan. Ia paham betul sifat keras kepala Reymond dan gengsinya yang terlalu tinggi, dan melihat Reymond khawatir seperti ini ada bahagia tersendiri di hatinya. Tidak ada salahnya juga mengerjai pria keras kepala itu. Lagi pula ia juga merasa heran mengapa wanita seperti Arlyn Gracella mau menikahi pria seperti itu. “Apa Arlyn bisa segera sadar?” tanya Reymond. “Sebentar lagi dia akan sadar!” jawab Dokter Edo. “Apa Anda menyesal dan merasa bersalah Tuan,?” Dokter Edo balik bertanya. Reymond mengangguk pelan. Sedangkan Justine tersenyum puas melihat Reymond mati kutu seperti itu. “Kalau Anda merasa bersalah, mulai sekarang Anda harus berjanji untuk selalu memastikan Nona Arlyn dalam keadaan hangat, jangan sampai ia kedinginan, terkena hujan apalagi sengaja hujan-hujan nan. Dan yang terpenting sediakan baju hangat untuknya di malam hari, pastikan AC tidak terlalu dingin!” tegas Dokter Edo. Kali ini Reymond mengangguk lebih pelan dari sebelumnya. Membuat Justine yang melihatnya semakin gemas saja. “Kau dengar kata Dokter Edo! Pria lain, mereka paling suka menghangatkan istrinya, tapi lihat apa yang Kau lakukan, Kau malah lebih suka membuat istrimu kedinginan! Kalau Kau tidak bisa menghangatkan Kakak Ipar biar aku yang melaksanakan tugas itu setiap malam!” ucap Justine nyaring. Reymond menelan ludah. Sepupunya itu memang bermulut besar. Dokter Edo yang tidak enak hati merasakan perang dingin di antar dua orang pria dewasa itu, mengemasi peralatannya. “Tuan Reymond, saya pulang dulu,” pamit Dokter Edo. “Iya, Dok,” jawab Reymond. Dokter Edo keluar dari ruang kamar Reymond, tetapi Justine tidak ikut keluar, masih duduk di sofa dengan nyaman. “Keluar dari kamar ini!” suruh Reymond pada Justine. Justine mengangguk dan berdiri. Namun, ia tak berjalan keluar kamar. Pria itu berjalan membuka set lemari, mencari sesuatu. “Apa yang Kau lakukan!” bentak Reymond. Justine mengambil benda yang dicarinya, selimut bulu berwarna putih yang berada di rak paling bawah. “Selimuti Kakak Ipar! Atau aku akan tetap di sini sepanjang malam!” ucap Justine memberikan kain tebal itu pada Reymond. Sengaja membuat sepupunya itu merasa kesal. Dengan berat hati, Reymond menurut membawa selimut dan membentangkannya di atas tubuh Arlyn. “Ke Lu Ar!” tegas Reymond pada Justine. “Sabar Bro! Kalau Kau tidak bisa menghangatkan Kakak Ipar! Segera panggil aku di kamarku ya! Aku akan menggantikan tugasmu itu keahlianku! Mengerti!” ucap Justine begitu santai. Reymond membuang nafas kesal bersiap memukul Justine. Namun, sepupunya itu segera kabur sebelum Reymond mendaratkan tonjokkan maut tepat di bibirnya, yang sedari tidak mengontrol ucapannya. Kini Reymond hanya berdua dengan Arlyn di kamarnya. Ia duduk, lalu membenahi selimut bulu itu agar menyelimuti seluruh badan istrinya. Arlyn pun membuka mata. “Akhirnya Kamu sadar juga,” ucap Reymond merasa lega. Arlyn masih diam, mengingat kembali kejadian saat di kamar mandi. Reymond bergerak cepat, menghubungi telefon yang ada di dapur. “Hallo,” sahut salah satu pelayannya. “Segera buatkan bubur, istriku ingin makan bubur!” suruh Reymond. “Baik, Tuan!” telefon dimatikan. Arlyn masih mengerjap-ngerjapkan matanya, mengumpulkan nyawanya. “Arlyn, maafkan aku, aku tadi sangat marah, dan aku tidak menyangka kamu akan pingsan seperti ini, aku benar-benar menyesal dan minta maaf,” kata Reymond menyesal. “Apa yang terjadi?” tanya Arlyn dengan suara pelan dan lemah. “Tadi Kamu pingsan di kamar mandi,” jelas Reymond. “Aku benar-benar menyesal!” kata Reymond dari hatinya yang terdalam. Terdengar ketukan pintu kamar. “Masuk,” suruh Reymond. “Iya,” sahut Desi membuka pintu dengan membawa nampan berisi satu mangkuk berisi bubur ayam hangat. Desi menaruh nampan itu di atas nakas, sesuai arahan isyarat mata dari Reymond. Kemudian, ia undur diri. Keluar dari kamar majikannya. Arlyn berusaha untuk bangkit, bau aroma bubur ayam menggelitik hidungnya dan cacing-cacing di perutnya juga sudah mulai konser. “Tidur saja, aku akan menyuapimu!” ucap Reymond pelan. Arlyn kembali merebahkan tubuhnya. “Ak,” ucap Reymond agar Arlyn membuka mulutnya. Arlyn menurut ia membuka mulut dan menerima suapan dari Reymond. Tak pernah di sangkanya Reymond akan bersikap semanis ini, menyuapinya. Kalau begini, bisa-bisa Arlyn pura-pura sakit setiap hari. Sedikit demi sedikit dan penuh kesabaran Reymond memastikan Arlyn memakan bubur itu sampai habis. Dan saat bibir Arlyn kotor karena kuah makanan, Reymond mengusap pelan dengan punggung tangannya. Arlyn hanya bisa menatap, menerima perlakuan Reymond menyembunyikan hatinya yang kegirangan karena perlakuan manis dari suaminya. Arlyn menyantap habis bubur di mangkuknya. Dia mengusap tenggorokannya. “Sebentar, aku akan ambilkan minum untukmu!” ucap Reymond. Arlyn mengangguk. Reymond keluar dari kamarnya. Turun ke lantai dasar untuk mengambil air putih di dapur. Tanpa disangka ada Justine yang masih sibuk dengan laptopnya di ruang tengah. Reymond mengacuhkan dan terus lurus ke dapur, mengambil air untuk Arlyn. Namun, saat ia kembali dari dapur, Justine kembali iseng menjailinya. “Apa Kau ke sini ingin memintaku untuk mengajarimu menghangatkan Kakak Ipar?” celetuk Justine jail. Reymond hanya membalasnya dengan tatapan dingin. Percayalah, Justine tidak takut hanya dengan sebuah tatapan, yang ada ia semakin tertarik untuk memancing emosi manusia kepala batu itu. Reymond melanjutkan langkahnya, setapak demi setapak menuju lantai dua. Justine mengikutinya dari belakang. Reymond berusaha tidak menganggap kehadirannya, tidak penting dan membuang-buang waktu, berurusan dengan manusia seenaknya sendiri seperti Justine. “Tunggu!” cegah Justine menghentikan langkah Reymond. Pria itu berhenti, melihat ke arah Justine yang sepertinya ingin mengucapkan sesuatu. “Kalau Kau sudah tidak membutuhkan Kakak Ipar lagi, Kau bisa memberikannya padaku! Apa Kau tidak lihat, bibirnya itu sungguh manis saat tertidur!” bisik Justine di telinga Reymond dengan suara nyaring penuh canda. Di luar dugaan. Reymond membuang nampannya dan menarik kerah baju Justine dengan kedua tangannya. “Jaga bicaramu, jangan urusi kehidupanku mengerti, atau aku tidak segan-segan padamu!” ancam Reymond. Ia mendorong tubuh Justine kasar. Justine mundur, masih tidak takut. Ia tertawa, menertawakan sikap Reymond yang selalu emosional seperti itu. Reymond masuk ke dalam kamar tanpa air putih yang sudah ia janjikan pada Arlyn. Gelasnya sudah pecah karena ia buang begitu saja, begitu pun airnya yang membasahi lantai di depan pintu kamarnya. Arlyn mengamati Reymond. Pria itu tak membawa minum sama sekali. “Mana minumnya,” pinta Arlyn. Reymond tidak menjawab, kata-kata Justine tentang bibir Arlyn yang manis begitu mengganggunya. Dari mana dia tahu bibir Arlyn sangat manis padahal ini kali kedua Justine bertemu dengan istrinya. “Apa Kamu lupa mengambil minum untukku?” protes Arlyn. Reymond tak menyahut masih mengamati bibir Arlyn dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. “Sayang?” panggil Arlyn. Reymond tidak menyahut. Ia berniat membuktikan ucapan Justine. Pria itu meraih wajah Arlyn dan mendaratkan ciuman di sana. Lama dan dalam. Arlyn yang tidak bisa membaca pergerakan Reymond, hanya diam dan menerima. Terkejut tidak menyangka suaminya itu akan menciumnya. Ia pun hanyut dalam ciuman basahnya. Bersambung. ==❤== Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. dreams dejavu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD