Reymond dan Arlyn tidur dengan posisi terlentang, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Saling diam tak bersuara, hanya suara nafas dan detikan jarum jam yang terdengar di ruang kamar itu.
Arlyn ingin menjelaskan semuanya pada Reymond, tentang pertemuannya dengan Nicholas yang tak ada maksud pengkhianatan atau apa pun. Namun, ia juga masih mencari alasan yang tepat agar Reymond tidak curiga.
Reymond, mengecap bibirnya pelan. Dia sibuk dengan prasangkanya. Dari mana Justine tahu kalau bibir Arlyn itu sangat manis, dan kenyataannya itu benar. Bekas ciumannya berasa manis. Reymond ingin mengulanginya lagi. Namun, dia bukan pria yang akan mengutarakan rasa ketertarikannya dengan mudah. Bahkan dia masih belum menyadari perasaan yang tumbuh di hatinya untuk Arlyn.
“Apa Kau sudah tidur?” tanya Reymond.
“Belum,” jawab Arlyn sembari menatap langit-langit kamarnya.
Reymond diam, dia mengikuti arah pandangan Arlyn.
“Ada yang ingin aku katakan,” desah Arlyn. Kemudian ia mengganti posisinya, miring ke arah Reymond.
“Katakan!” balas Reymond, menahan diri untuk tetap lurus berusaha tidak melihat ke wajah Arlyn.
“Aku tidak tahu ini penting atau tidak untukmu, hanya saja aku dan Nicholas tidak ada hubungan apa pun, kalau pun tadi siang aku menemuinya itu karena ada urusan lain, bukan soal perasaan. Aku tidak tahu jika Nicholas tiba-tiba akan memelukku,” jelas Arlyn, manik matanya terpaku melihat ketampanan Reymond, meski lampu sedikit redup, suaminya itu tetap memesona.
Reymond bungkam, menunggu Arlyn menjelaskannya lebih detail lagi.
“Aku, tidak tahu sejak kapan rasa itu tumbuh, yang jelas aku sangat mencintaimu. Tidak peduli, apapun tujuanmu mencintaiku, aku hanya ingin kita bisa bersama seperti ini setiap malam, bisa kan?” Arlyn memastikan.
“Emm,” gumam Reymond pelan.
“Apa kamu membenciku?” tanya Arlyn. Reymond tak pernah menyatakan cintanya ia hanya mengajaknya menikah. Itu baru di sadarinya kemarin ketika suaminya itu tak menjawab pertanyaan darinya.
Reymond menghembuskan nafas panjang. Kesal tak tahu harus jawab apa. Ia pun bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Pada hati dan perasaannya.
“Sudah diam, mari kita beristirahat, besok kau harus sudah sembuh dan tidak boleh ke mana-mana dulu!” suruh Reymond, pusing juga membiarkan Arlyn yang terus saja berbicara.
“Iya, aku akan di rumah,” jawab Arlyn.
“Sebentar,” celetuk Reymond merasa mengingat sesuatu yang hampir saja ia luapkan.
“Aku benar-benar minta maaf, untuk kejadian tadi sore, aku tidak tahu kalau itu akan membahayakanmu!” ucap Reymond menyesal. Hari ini ia benar-benar lupa akan misi balas dendamnya.
“Aku tidak bisa memaafkanmu, kecuali dengan syarat!” jawab Arlyn.
“Tepati janjimu!” tegas Arlyn.
“Janji apa?” tanya Reymond.
“Peluk aku!” jelas Arlyn.
Reymond menurut, ia melingkarkan tangannya merengkuh Arlyn dalam pelukannya. Tak berapa lama, Arlyn mulai terlelap dan tidur, menyapa alam mimpinya. Berbeda dengan Reymond yang masih terjaga dengan bermacam pikiran yang berpadu dalam pikirannya. Membuat pria itu tidak nyaman, tak enak tidur.
Jam menunjukkan pukul satu dini hari. Reymond beranjak dari tidurnya. Ia keluar dari kamar, meninggalkan Arlyn yang sudah terlelap. Pria itu berjalan pelan menuju ruang kerjanya yang berada di sebelah kamar tidurnya.
Pintu terbuka. Reymond menghidupkan lampu, melangkah pelan menuju meja kerjanya. Ia duduk dan membuka laci mejanya. Ada satu album foto yang ia simpan di sana. Foto-foto dari 18 tahun yang lalu ketika kedua orang tuanya masih hidup. Daniel Ricardo dan Marissa, itulah nama kedua orang tuanya.
Kenangan buruk itu muncul kembali. Apa lagi setelah melihat beberapa data di laptopnya, mengenai pemberitaan 18 tahun silam.
Auntie Jenny selalu bercerita, agar dirinya bisa membalas dendam. Ya! Chandra Lesmana sungguh kejam, pria itu berani melakukan pengkhianatan di perusahaan kedua orang tuanya. Menggelapkan dana hingga membuat perusahaan textile kedua orang tuanya merugi. Namun, bukannya di hukum pria itu kini hidup dalam gelimang harta dan serba kecukupan. Berbeda dengan nasib kedua orang tuanya yang meninggal dunia dengan tragis.
Sungguh tidak adil! Reymond hanya bisa mengutuki dirinya sendiri dan berusaha sekuat tenaga agar bisa segera menghancurkannya.
Reymond meraih ponselnya. Ia melakukan panggilan pada Auntie Jenny yang berada di Amerika. Perbedaan waktu hampir sebelas jam, di sana masih jam dua lebih sedikit begitulah perkiraannya.
Panggilan melalui aplikasi berwarna hijau tersambung.
“Hallo,” sapa Auntie Jenny.
“Hallo, bagaimana kabarnya, Auntie?” tanya Reymond.
“Baik, bukankah ini masih dini hari di Jakarta? Apa yang membuatmu menelefon sepagi ini?” Auntie Jenny keheranan.
“Ini, apa Auntie punya bukti mengenai penggelapan dana yang di lakukan Chandra Lesmana 18 tahun silam?” selidik Reymond.
“Dulu kami memiliki bukti, tapi bukti itu tidak cukup untuk memasukkan Chandra Lesmana ke penjara,” jawab Auntie Jenny yakin.
“Emm,” gumam Reymond masih berpikir.
“Apa Kamu menemukan bukti baru?” wanita itu balik bertanya.
“Tidak,”
“Baiklah, Reymond kamu hanya harus fokus untuk menghancurkan Chandra Lesmana, Ok, Kedua orang tuamu pasti akan ikut bahagia jika melihat pria yang dulu mengkhianatinya hancur dan tak memiliki apapun!” jelas Auntie Jenny.
“Iya, Auntie, aku paham,”
“Ok, istirahatlah, be carefull,”
“Ok, thanks Auntie,”
Klik! Panggilan berakhir.
Reymond duduk, jemari tangannya memegangi kepala. Mulai merasa terbebani. Sejak kecil Auntie Jenny selalu memintanya agar fokus balas dendam, tanpa peduli jika kejadian mengerikan itu masih selalu menghantui Reymond.
Pria itu menutup laptopnya. Rasa kantuk sudah menghampiri. Reymond meraup wajahnya kasar. Beranjak dari duduknya dan segera berjalan kembali ke kamar.
Ia masuk ke ruangan, pintu masih terbuka dan Arlyn masih dalam keadaan tidur dengan posisi yang sama dari sebelumnya. Reymond membuang muka, bagaimana pun ia berusaha memisahkan rencana balas dendamnya dan kehidupan pernikahannya dengan Arlyn, semua tetap sama. Reymond menelan ludah, kebenciannya terhadap Chandra Lesmana secara tidak sadar terus mengalir dan menjadikan Arlyn sebagai pelampiasannya.
Reymond merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sempat menyesal karena tadi sudah minta maaf dengan Arlyn, seharusnya Arlyn lah yang meminta maaf. Bukan dirinya. Pernikahan balas dendam ini tidak akan terjadi jika Chandra Lesmana tidak melakukan kecurangan 18 tahun yang lalu.
Perlahan Reymond terlelap, sejenak melupakan rencana balas dendamnya.
**
Pagi hari Reymond bangun lebih dulu. Berangkat kerja lebih pagi, sebelum Arlyn bangun. Dia menghindari mood buruk ketika harus berbicara dengan Arlyn yang selalu bertanya banyak hal. Rencananya hari ini ia akan menemui mertuanya, untuk merundingkan sesuatu.
Pukul delapan tepat, Reymond dan sekretarisnya, Faris, sudah tiba di King’s Hotel untuk bertemu dengan Chandra Lesmana.
Resepsionis yang mengetahui jika Reymond adalah menantu dari Sang pemilik hotel, ia segera mengantarkan pria tampan itu ke ruangan Presiden Direktur, yang berada di lantai delapan hotel itu.
“Mari ikuti saya,” kata si resepsionis itu berjalan ke arah lift.
Setelah menunggu sesaat, pintu lift terbuka. Mereka masuk ke dalam, dan lift mulai berjalan naik. Kemudian, Reymond dan Faris mengikuti si resepsionis yang mengantar mereka ke ruangan Chandra Lesmana.
Pintu terbuka.
Reymond masuk terlebih dahulu.
“Selamat Pagi, Pa,” sapanya ketika melihat pria paruh baya itu sedang duduk di kursinya tanpa melakukan sesuatu.
“Pagi juga, anakku,” balas Reymond membentangkan tangan membuka pelukan.
Reymond berjalan menghampiri pria itu, dan memeluknya. Percayalah itu hanya sandiwara karena sebenarnya ia sangat membenci Chandra Lesmana.
“Bagaimana kabarmu, Arlyn tidak ikut?” tanya pria itu.
“Tidak Pa, Arlyn aku suruh di rumah, aku tidak ingin dia kelelahan,” jawab Reymond.
“Aku, mengerti, ayo silakan duduk!” tawar Chandra Lesmana.
Reymond duduk di sofa di ikuti Faris yang selalu setia di sampingnya. Seorang pelayan masuk dan memberikan minum untuk tamu Sang Presdir.
“Apa yang membuatmu datang sepagi ini, anakku?” tanya Chandra Lesmana.
“Begini Pa, saya berencana untuk mendirikan Hotel yang letaknya berseberangan dengan hotel milik King’s Hotel! Apa Papa mengizinkan?” tanya Reymond. Percayalah, Reymond tidak akan menggunakan rencana kotor yang curang untuk menghancurkan Chandra Lesmana, otaknya cukup cerdas untuk membuat balas dendamnya bersih dari kecurangan yang bisa membuatnya masuk ke jeruji besi.
Chandra Lesmana menelan ludah. Permintaan Reymond terlalu berat. Jika ia mengizinkan maka hotel yang Reymond dirikan pasti akan menjadi saingannya. Namun, jika ia tidak mengizinkan itu akan membuat hubungannya dengan menantunya tidak baik.
“Apa Kamu yakin akan mendirikan hotel, di seberang jalan ini?” Chandra Lesmana memastikan. Pasalnya bangunan di depan hotelnya adalah sebuah restoran yang akan tutup dalam waktu dekat ini.
“Ia, Pa, aku sangat yakin, aku sudah membelinya,” tunjuk Reymond pada bangunan Restoran.
Meski berat dan membuat tenggorokannya tercekat, Chandra Lesmana mengangguk pelan. Bagaimana pun ia sudah menganggap Reymond sebagai anaknya sendiri, tidak mungkin seorang Papa akan menghalangi anaknya yang akan mengambangkan sayap.
“Baik, Papa akan mendukungmu, putraku, Papa juga akan memberikan saran dan tips di setiap tahap dalam pengembangan hotel yang akan kamu dirikan,” ucap pria paruh baya itu senatural mungkin. Meski ia sadar betul kedua kakak Arlyn, yaitu Andre dan Arnold pasti akan menyerangnya karena sudah menyetujui Rencana Reymond.
“Sungguh?” tanya Reymond tak percaya. Chandra Lesmana tak sekejam dan tak seburuk yang di ceritakan Tante Jenny.
“Iya,” sahutnya di sertai senyum tulus.
Reymond menyeringai puas. Jalannya menuju balas dendam semakin di mudahkan bahkan Chandra Lesmana seolah menggali kuburan untuk dirinya sendiri. Pria paruh baya itu tidak tahu, jika lawan bicara yabg sedang duduk di hadapannya sudah memiliki rencana hebat untuk menghancurkan Chandra Lesmana dan King’s Hotel dalam kurun waktu satu tahun.
“Aku sangat berterima kasih sekali Pa, Arlyn pasti akan senang mendengarnya,” ucap Reymond menebarkan senyum.
“Iya, Nak, papa percaya Kamu pasti akan selalu membahagiakannya,” balas Chandra Lesmana.
“Jadi kapan Kamu akan mulai pembangunan Hotel? Apa Kamu sudah mencari perusahaan konstruksi untuk pengerjaan dan pembangunannya?” selidik Chandra Lesmana, mengetes seberapa cekatan menantunya itu.
“Sudah siap semuanya, rencananya awal bulan ini aku saya akan memulai pembangunannya, dan untuk arsitekturnya sudah aku serahkan pada perusahaan konstruksi milik rekanku, Pa,” jelas Reymond sesumbar.
“Gesit juga Kamu,” puji pria paruh baya itu.
“Oh iya, Pa, rencananya setelah peletakan batu pertama pembangunan hotel, aku dan Arlyn akan berbukan madu ke Hawaii, apa Papa mengizinkan?” kata Reymond. Dia memang sangat pintar mengambil hati mertuanya.
“Tentu, Papa akan mengizinkan, asal Kamu selalu menjaga Arlyn, dialah harta paling berharga yang aku miliki!” jawab Chandra Lesmana, sejak Arlyn pindah ke rumah Reymond dia merasa kesepian. Namun, dia mencoba kuat dan mengalihkannya dengan sibuk mengurusi hotel.
“Terima kasih sekali, Pa, aku akan menjaga Arlyn,” kata Reymond yakin.
“Aku percaya padamu, sejenak kamu mengingatkanku pada sahabatku,” celetuk Chandra Lesmana semangat Reymond mengingatkan pada seseorang.
“Siapa itu Pa?” tanya Reymond berpura-pura tertarik dengan apa yang dikatakan mertuanya.
“Tidak, tidak penting,” sahutnya menggelengkan kepala.
“Baiklah, Pa aku pamit sekarang masih banyak pekerjaan yang menantiku,” pamit Reymond.
“Iya, hati-hati sukses terus ya!” Chandra Lesmana mengucapkan harapan untuk menantunya itu. Ia tidak curiga sama sekali jika ini adalah tanda keberhasilan usaha kedua Reymond untuk menghancurkannya.
**
Setelah mandi pagi dan menghabiskan waktu untuk berdandan di depan cermin. Arlyn berniat membuka flashdish yang di berikan Nicholas. Untung saja hari ini Reymond berangkat bekerja ia jadi bebas melakukan apapun.
Arlyn menghidupkan laptop yang sudah lama sekali tidak dibuka. Bahkan dia lupa kapan terakhir kalu menggunakannya. Untungnya, benda itu masuk ke dalam koper dan ia bawa ke rumah Reymond.
Laptopnya sudah menyala. Masih ada potret dirinya dan Nicholas di wallpaper utama. Arlyn tak menghiraukannya. Dia sudah tidak sabar untuk membuka folder di dalam flashdish yang di berikan Nicholas.
Data dalam flashdish sudah tersambung. Ada satu folder di dalamnya. Namun, ketika Arlyn ingin membuka folder itu, tidak bisa. Ada kata Sandi yang harus ia pecahkan.
“Sialan! Dasar Nicholas!” gumam Arlyn kesal. Ia masih harus berhubungan dengan pria itu lagi jika ingin mengetahui apa yang sedang ia cari.
Arlyn mengambil ponselnya di atas nakas. Membuka kembali nomor Nicholas yang sudah sempat masuk ke daftar hitam. Mencoba menghubungi nomor itu lewat sambungan telefon.
Panggilan terhubung.
“Hallo,” sapa Nicholas.
“Hallo, apa sandi foldernya!” bentak Arlyn marah.
“Aku akan memberikannya, asal kamu mau menemuiku satu kali lagi, ada satu hal yang ingin aku beri tahu padamu, Arlyn!” jawab Nicholas. Akhirnya panggilan telefon yang sudah dinantikan terjadi juga.
“Bisa tidak kau memberikannya tanpa syarat?” sahut Arlyn pasrah.
“Tidak, tidak bisa!” tolak Nicholas tegas.
“Okay, aku akan menemuimu dan mendengar penjelasanmu, jangan di apartemenmu lagi!” pinta Arlyn.
“Baik, aku akan menghubungimu lagi!”
Klik! Arlyn mematikan panggilan telefon. Kali ini dia benar-benar harus bersabar. Nicholas melatih kesabarannya. Ya, memang harus sabar demi mengungkap kebenaran mengenai suaminya.
Tangannya melempar benda pipih dengan kesal. Nafasnya memburu karena marah.
To Be Continue
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~•~~~
Jangan Lupa tap love.
Berikan komentar biar author makin semangat ngetiknya..
==❤==
Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
dreams dejavu