Part 11
Cuaca di luar begitu cerah. Taman bunga mawar yang berada di samping kamar juga sangat indah, Arlyn memutuskan untuk menikmati harum bunga itu. Ia mengambil syal, melingkarkannya di leher. Warna gelap selalu cocok untuk warna kulitnya yang putih.
Kemudian, ia turun ke lantai dasar. Saat di ujung tangga pandangannya terpaku pada sosok pria yang berada di ruang makan. Pria itu, bukan Reymond tentunya.
Justine yang mendengar suara langkah kaki, menoleh ke sumber suara. “Kakak Ipar, Kau sudah bangun?” sapanya. Ini adalah kali pertama mereka mengobrol dekat. Saat hari pernikahan, mereka hanya bertemu sekilas saja. Tanpa ada percakapan.
“Hey, Justine kau sudah tiba?” balas Arlyn menghampiri pria berambut cepak itu. Tidak setinggi Reymond, tetapi mereka memiliki sedikit kemiripan di wajahnya.
Berbeda dengan Reymond yang warna rambutnya dibiarkan hitam natural, Justine sangat suka mewarnai rambutnya. Warna abu muda, menjadi pilihannya saat ini.
“Aku sudah bermalam di sini, tampaknya kau sudah sembuh Kakak Ipar?” tanya Justine. Ia berjalan menghampiri Arlyn.
“Jadi kau mengetahui aku sakit?” Arlyn balik bertanya. Justine terlihat lebih bersahabat dibandingkan Reymond.
“Iya, aku bahkan menyaksikan Reymond khawatir dengan keadaanmu, kemarin!” jelas pria itu. Alisnya terangkat penuh makna.
“Apa dia benar-benar khawatir?” tanya Arlyn lagi.
“Iya, aku juga mengerjainya, Reymond sangat lucu, mudah dihasut,” tawa Justine nyaring.
Arlyn ikut tertawa.
“Sebenarnya semalam aku hanya berpura-pura,” ucap Arlyn nakal.
“Wow, kau sungguh cerdas Kakak Ipar, sepertinya kita punya kesamaan, maukah kamu menemaniku jalan-jalan siang ini?” tawar Justine.
“Kenapa, tidak! Akan aku tunjukan tempat makan yang enak untukmu!” balas Arlyn merasa memiliki teman baru.
“Ayo, aku akan menyopir untukmu!” ucap Justine bersemangat.
“Sebentar, apa kau melihat dua pengawal, di rumah ini?” selidik Arlyn, dia harus waspada agar Reymond tidak memarahinya.
“Tidak ada, mereka berdua tadi pagi berangkat ke kantor Reymond,” jawab Justine.
“Baiklah,”
Arlyn mengganti alas kaki, mengenakan . Kemudian, ia berjalan bersama Justine menuju salah satu mobil mewah yang terparkir di garasi.
Mobil lamborghini warna merah, menjadi pilihan Justine. Pria itu duduk di belakang kemudi sedangkan Arlyn duduk di sampingnya.
Sampailah mereka di salah satu restoran, steak yang terkenal di daerah itu.
Pesanan mereka sudah tiba.
“Apa Kakak Ipar menyukai Reymond?” tanya Justine. Pernikahan Reymond dan Arlyn, membuatnya tak habis pikir. Bagaimana bisa Reymond memanfaat gadis seperti Arlyn untuk membalas dendam.
Arlyn menunduk, berpikir sejenak. “Aku sangat mencintai Reymond, tapi aku masih mencari tahu tentang sesuatu hal,” jawabnya melihat ke arah satu porsi steak yang ada di hadapannya.
“Emm,” gumam Justine. Sedih sekali melihat, Arlyn. Selain dimanfaatkan untuk balas dendam, dia memiliki perasaan yang tulus pada Reymond.
Arlyn tersenyum ke arah Justine.
“Sekali lagi, aku ucapkan selamat ya Kak, untuk pernikahanmu dengan Reymond, semoga Kau bahagia,” ucap Justine tulus.
“Iya, akan aku pastikan Reymond benar-benar mencintaiku, tidak hanya pura-pura seperti lima bulan yang sudah berlalu ini,” kata Arlyn menyemangati dirinya sendiri.
“Semangat, Kak!” sahut Justine dengan nada suara lebih keras dari sebelumnya.
“Iya, aku yakin bisa meluluhkan hatinya yang sekeras batu, itu!” Arlyn lebih bersemangat.
Justine terdiam, hatinya sedih karena tahu tentang semuanya.
“Apa saat di Amerika, suamiku memiliki pacar?” tanya Arlyn penasaran.
“Dia tidak memiliki pacar, tapi ada satu wanita yang di sukainya,” jawab Justine jujur.
“Seperti apa wanita itu?” Arlyn penasaran.
“Dia wanita yang sangat pandai, dia seorang pianis, mungkin saat ini wanita itu sedang tour keliling dunia, untuk konsernya,” sahut Justine. Dirinya dan Reymond sama-sama di tolak oleh wanita itu saat di bangku kuliah.
Arlyn menghembuskan nafas panjang, menahan rasa kagumnya. Dadanya terasa berat, tapi ia segera menepis perasaan itu kuat-kuat, itu hanya masa lalu bagi Reymond. ‘Akulah masa kini dan masa depan bagi Reymond,’ batin Arlyn sembari menelan ludah.
“Kakak Ipar?” panggil Justine.
“Iya,” sahut Arlyn menghentikan lamunannya.
“Kalau Reymond, berani kasar padamu, bilang padaku, aku akan membalasnya!” kata Justine sesumbar.
Arlyn mengangguk, tersenyum lebar.
Dari kejauhan, dua orang berbaju hitam mengambil foto Arlyn yang sedang mengobrol dan tersenyum pada Justine. Kemudian, mengirimnya ke nomor Reymond.
Lima detik setelah pesan gambar terkirim, dering ponselnya berbunyi ada panggilan dari Tuan Reymond.
“Hallo,” sapa pria yang sedang duduk di dalam mobil itu.
“Dimana kalian!?” tanya Reymond setengah berteriak.
“Kami, sedang memata-matai Nona Arlyn, Tuan,” sahutnya.
“Sejak kapan mereka berdua jadi seakrab itu?” tanya Reymond kedua kalinya.
“Kami tidak tahu, Tuan, yang jelas kami hanya mengikuti ke mana Nona Arlyn pergi,” jawabnya.
“Terus ikuti mereka!” titah Reymond lalu mematikan telefon begitu saja.
Sejenak kemudian, di dalam restoran. Ponsel Arlyn berbunyi. Reymond bergantian menelefonnya.
Arlyn mengisyaratkan pada Justine untuk mengangkat telefon.
“Hallo,” sapa Arlyn.
“Kau masih di rumahkan?” tanya Reymond.
“Iya,” jawab Arlyn berbohong.
“Satu jam lagi aku akan pulang, siapkan makan siang untukku!” titah Reymond tak masuk akal karena jam makan siang masih lama.
“Iya, Sayang, aku akan segera masak,” jawab Arlyn sigap.
Klik! Reymond mengakhiri panggilan telefon dengan hati meradang, tidak percaya Justine dan Arlyn akan begitu cepat akrab.
Arlyn menaruh ponsel di tasnya. “Kita harus segera pulang!” ucapnya sembari berdiri.
“Tunggu!” cegah Justine.
“Kita harus segera pulang, Reymond memintaku untuk membuatkan makan siang!” Arlyn mulai gegabah.
“Tenanglah, Kakak Ipar Kau tidak perlu takut! Ada aku, Reymond selalu takut padaku!” Justine menenangkan Arlyn.
“Tapi kita harus pulang Justine, dalam waktu satu jam Reymond akan tiba di rumah!” Arlyn masih resah.
“Setidaknya, beri aku waktu untuk menghabiskan makananku,” alasan Justine.
“Baiklah,” Arlyn mengalah. Memberi kesempatan pada Justine untuk menghabiskan makanannya.
Justine sengaja memperlambat mengunyah makanan. Kini dia mulai bersemangat lagi. Berbagai rencana menjaili Reymond muncul di otaknya, menggagu si sepupu adalah hobinya sejak kecil.
Arlyn menunggu dengan gelisah. Beberapa kali ia mengarah pandangan ke pergelangan tangan, melihat arlojinya. Hampir lima belas menit, Justine belum juga selesai.
“Ayo kita pulang, sekarang!” pinta Arlyn dengan wajah memelas.
“Ok, kita pulang,” sahut Justine. Membayar makanannya dan bergegas menuju tempat parkir. Harus segera pulang sebelum Reymond tiba di rumah.
**
Reymond pulang awal bahkan sebelum makan siang. Ia tiba di rumah terlebih dahulu, sedangkan Arlyn dan Justine masih dalam perjalanan.
Seorang pelayan membuka pintu untuknya. Tatapannya dingin dan marah. Nafasnya cepat tak beraturan. Dan ikatan dasinya sudah merenggang.
Ia duduk di ruang tamu, berpose seperti biasanya.
Tak berapa lama suara mobil terdengar memasuki gerbang utama. Kemudian, ada suara langkah kaki menuju pintu depan.
Desi membuka pintu untuk Arlyn, ada Justine yang berdiri tepat di belakang Arlyn.
Wanita itu berjalan menghampiri Reymond, tidak berani membalas tatapan dari Sang Suami.
“Sayang, Kamu sudah tiba di rumah?” tanya Arlyn dengan suara pelan.
“Masuk ke kamar sekarang juga!” perintah Reymond, kecewa Arlyn sudah berani melanggar peraturan darinya.
“Aku akan menyiapkan makanan untukmu,” kata Arlyn melihat ke arah Justine mencari perlindungan.
“Tidak perlu!”
Kali ini Arlyn menurut, ia segera berjalan menaiki tangga menuju lantai dua.
“Jangan marah pada Kakak Ipar, aku yang mengajaknya keluar,” bela Justine.
“Diam ini bukan urusanmu!” jawab Reymond. Dia segera menyusul Arlyn ke kamarnya. Ide jailnya mulai liar, ingin mengerjai Arlyn.
Pintu kamar terbuka. Terlihat Arlyn yang sedang berdiri ketakutan.
“Sayang, aku mohon kamu jangan marah!” Arlyn terus menunduk karena takut.
“Aku tidak marah, asal...,” Reymond menghentikan ucapannya sengaja ingin membuat Arlyn bertanya-tanya.
“Apa?” tanya Arlyn penuh harap.
“Bereskan lemari bajuku!” titah Reymond.
“Iya, Sayang,”
Arlyn mengikuti langkah Reymond menuju ruangan yang berada di sebelah kamar mandi. Di balik rak koleksi sepatu, ternyata ada pintu rahasia yang memperlihatkan baju-baju Reymond.
Ruangannya luas, berbagai jenis baju pria tergantung di sana, meski ada warna merah dan cerah, warna hitam dan abu tua palung mendominasi.
“Kamu lihat itu Arlyn, ada jas, sweter, tuxedo, kemeja, kaos, celana pendek dan celana panjang,” kata Reymond menunjukkan satu persatu.
“Iya,” sahut Arlyn.
“Susun ulang sesuai warnanya, taruhlah semua baju warna hitam di rak paling ujung!” perintah Reymond.
“Iya,” Arlyn membuang nafas kesal. Kalau kemarin ia mengerjai Reymond dengan pura-pura pingsan, kali ini suaminya itu yang berbalik menjailinya.
“Kalau sudah selesai segera beritahu, aku akan makan siang dan beristirahat,” ucap Reymond tersenyum puas.
Arlyn mulai menyusun baju Reymond sesuai warna, ruangan 3 x 10 meter yang penuh baju itu mulai berganti suasana. Arlyn dengan penuh semangat dan senang hati melakukan perintah dari suaminya.
Tiga jam sudah berlalu, Arlyn sudah selesai menata baju sesuai keinginan Reymond. Ia merenggangkan badannya dan berjalan keluar.
“Sayang, aku sudah selesai menatanya, aku mau ambil minum dulu, ya?” kata Arlyn pada Reymond yang sedang sibuk dengan laptopnya.
Reymond mengangguk tanpa menoleh.
Arlyn kembali dari dapur dengan satu piring buah dan air putih membawanya untuk Reymond.
“Sayang, ini di makan,” tawar Arlyn meletakkan piring itu di samping Reymond.
“Kau sudah selesai menyusun lemari bajuku?” tanya pria itu.
“Sudah,” jawab Arlyn antusias.
“Ok, aku akan melihatnya,” balas Reymond tak kalah antusias. Ia berjalan menuju lemari bajunya. Sedangkan Arlyn dengan percaya diri mengikuti Reymond, di belakangnya.
Reymond, menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia melipat kedua tangannya di depan d**a. Mengangguk puas, menyeringai penuh makna.
“Rapi juga,” ucapnya memuji. Membuat Arlyn bernafas lega. “Tapi sebaiknya kamu kembalikan seperti semula, aku benar-benar sakit mata melihatnya!” alasan Reymond tak masuk akal.
“Apa?” protes Arlyn.
“Susunlah seperti semula!” Reymond mengulangi perkataannya dan bergegas keluar ruangan.
Arlyn gemas, rasanya ingin sekali mendaratkan tonjokan di wajah Reymond, benar-benar menyebalkan.
Meskipun kesal Arlyn, menata susunan baju seperti semula. Marah dan kesal berpadu, membuatnya terus mengumpati suaminya.
Tiga jam sudah berlalu, Arlyn yang lapar keluar dari ruangan yang memuakan itu. Ia hanya melirik kesal ke arah Reymond yang sedang bersantai memandangi layar ponsel di atas tempat tidur.
Sesampainya di dapur ia mengambil salad buah dan kembali naik ke kamarnya mengacuhkan Justine yang ingin mengajaknya bicara.
Arlyn duduk di sofa, memakan salad buah. Ia perlu merefresh otak karena rasa kesalnya pada Reymond. Akhirnya Arlyn memutuskan membaca buku bergenre humor yang ada di dalam tasnya.
Sembari duduk dan membaca, Arlyn juga menikmati salad buah. Dia juga tertawa karena cerita komedi yang dibacanya.
Sementara itu Reymond mulai terganggu, setelah dikerjainya berulang kali Arlyn masih tertawa cekikikan, tanpa beban.
“Apa yang sedang kau baca!” tanya Reymond.
“Cerita komedi,” sahut Arlyn.
“Cepat kemari!” perintah Reymond.
Kali ini Arlyn menurut, meski hatinya dongkol. Ia merebahkan tubuhnya di samping Sang suami, dengan posisi miring membelakanginya.
“Apa Kamu akan terus membelakangiku, Arlyn!” kata Reymond kesal. Arlyn bahkan sudah lupa dengan peraturannya.
Arlyn tak bergeming.
“Kamu berdosa, jika tidur dengan posisi seperti itu!” bujuk Reymond.
Arlyn masih diam, dongkol.
“Hari ini Kamu sudah berani melanggar tiga peraturan sekaligus, Arlyn!” Reymond menegaskan.
“Satu Kamu keluar rumah tanpa seizinku, dua Kamu bahkan masih memakai baju yang sama dengan yang kamu pakai tadi siang dan yang ke tiga ...,” Reymond berhenti sejenak, merangkai kalimat yang tepat.
Sejenak kemudian Arlyn bangkit, duduk di atas paha suaminya. Menatap tajam ke manik mata Reymond. Mereka saling bertatap hingga ada aliran-aliran yang sensitif di antara keduanya.
“Sayang, apa Kamu ingin melakukannya sekarang? Malam pertama kita?” bisik Arlyn di telinga Reymond.
Reymond membalas pandangannya dengan tatapan tak biasa, b*******h dan antusias.
“TAPI BOHONG!” ucap Arlyn dengan jelas. “Aku mau tidur, capek sekali!” tambahnya segera merebahkan tubuhnya dan bersembunyi di balik selimut. Membiarkan suami yang telah mengerjainya seharian. Ia perlu istirahat yang cukup untuk mempertahankan kewarasannya.
Perlahan Reymond kembali ke posisinya, semula. Tentu saja dengan rasa kesal. Ia berusaha menahan dan tidak terpancing.
Bersambung.
~~~•~~~•~~~•~~~•~~~•~~~
Tinggalkan komentar ya,,
Biar semangat ngetiknya...
==❤==
Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
dreams dejavu