Ketika hari masih petang, Shana sudah terjaga dari tidurnya. Itu terjadi bukan tanpa alasan. Shana tadi sedikit merasa terganggu oleh suara-suara orang beraktivitas dari dalam tendanya.
Namun meski sudah bangun sejak tadi, Shana masih bertahan di posisinya yakni rebahan menghadap ke salah satu sisi tenda. Shana sengaja tidak banyak melakukan pergerakan agar tak ada yang menyadari bahwa ia sudah terjaga.
Shana tahu bahwa orang yang sedang beraktivitas di dalam tenda itu adalah Indi. Karena jelas, Agatha masih terlelap di balik punggung Shana—bahkan kaki Agatha menindih kaki Shana dengan tanpa gadis itu sadari.
Shana hanya membatin dan bertanya-tanya dalam hati kenapa Indi sudah bangun jam segini. Tampaknya gadis itu juga sedang memasak sesuatu karena beberapa kali terdengar suara sendok beradu dengan piring. Dan satu lagi, Shana bisa mendengar suara sesenggukan dari dalam tendanya—yang kemungkinan besar itu juga berasal dari Indi.
Shana bertahan di posisinya hingga ia merasa Indi keluar dari tenda. Kesempatan itu Shana gunakan untuk mengubah posisi tidurannya menjadi setengah duduk dengan siku menyangga tubuh.
Gadis itu memanjangkan lehernya dan mulai celingukan melihat-lihat. Merasa Indi tak ada di sekitar tenda dan tak akan kembali ke tenda dalam waktu dekat, Shana pun beranjak dari tempatnya. Ia berjalan melihat-lihat bagian dalam tenda di mana ia menduga Indi beraktivitas di sana.
Ah, Shana juga baru menyadari bahwa lampu tenda sudah menyala. Itu artinya listrik sudah tidak padam. Pantas saja sejak tadi Shana merasa ada hal yang mengganggu pikirannya.
“Mungkin ini alasan kenapa Indi masak mi pagi-pagi? Karena listrik udah nyala, nggak kaya semalam yang gelap-gelapan,” gumam Shana sambil memunguti beberapa sampah kemasan mi instan yang berserakan di lantai lalu memasukkannya ke dalam keranjang sampah.
Setelahnya Shana berjalan ke arah teras tenda. Gadis itu menyibak sedikit penutup tenda untuk melihat keadaan di luar sana. Tentu saja, yang Shana dapati hanyalah suara debur ombak di kejauhan dan suara-suara binatang malam.
“Sha!” Suara Agatha memanggil Shana terdengar menggelegar di pagi buta itu.
Shana sontak membalikkan badan dan tergesa menghampiri Agatha. Setelah jaraknya cukup dekat dengan Agatha, Shana bertanya, “Apaan manggil-manggil?”
“Lo kok udah bangun?” Agatha tampak menyipitkan mata, masih belum terbiasa dengan lampu tenda yang menyala terang.
“Iya, kebangun tadi,” jawab Shana tanpa menjelaskan alasannya.
Agatha ber-oh-ria dan tidak kepo seperti biasanya. Gadis itu justru meminta Shana untuk mematikan lampu di tenda mereka kalau memang lampu itu sudah tidak digunakan. Kata Agatha, ia akan kembali melanjutkan tidurnya dan lampu tenda membuat matanya silau.
Shana segera mematikan lampu tenda seperti permintaan Agatha. Setelah Agatha kembali ke alam mimpi, Shana berjingkat-jingkat keluar dari tenda. Sedikit nekat, ia pergi meninggalkan tendanya dan tanpa memberi tahu siapa-siapa termasuk Agatha.
Shana mengenakan sepatunya karena di luar terasa amat dingin. Ia juga merapatkan jaket hingga menggunakan tudung kepalanya untuk mencegah angin langsung berembus mengenai tubuhnya.
Sempat bingung sejenak harus pergi ke mana, Shana akhirnya memutuskan berjalan-jalan tanpa tujuan saja. Sebenarnya ia ingin mencari tahu di mana keberadaan Indi setelah pergi dari tenda tadi. Namun tentu saja Shana sudah kehilangan jejak. Secara, ada jarak waktu lama antara kepergian Indi dengan Shana yang meninggalkan tenda.
“Ngomong-ngomong, kenapa tadi Indi sesenggukan? Nggak mungkin kan kalau dia nangis karena ngiris bawang? Dia kan cuma masak mi instan.” Shana menggumam sepanjang jalan. Sesekali gadis itu tampak menelengkan kepala dan mengerutkan dahinya.
Tak terasa, Shana sudah berjalan lumayan jauh. Tendanya sudah tidak terlihat ditelan gelap karena matahari belum menampakkan diri.
Shana mempertimbangkan untuk kembali saja ke tendanya karena sejauh ini ia hanya lontang-lantung. Namun kakinya tidak cukup sejalan dengan otaknya. Bukannya kembali, Shana justru melanjutkan langkah. Dan itu juga masih dengan tanpa tujuan, tentu saja.
Shana berjalan hanya mengikuti jalan setapak yang ada dan mengelilingi area resort. Ia tampak berjalan santai saja namun diam-diam memasang mata dan telinga. Sampai akhirnya, ia tiba di jalanan setapak di samping ruang kesehatan.
Tidak berharap akan menemukan apa-apa di sana, namun Shana sedikit melangkah merapat ke ruang kesehatan. Samar-samar ia bisa mendengar obrolan dari dalam sana. Tapi Shana tak yakin apakah obrolan itu penting untuk dicuri dengar atau tidak. Makanya Shana memilih melewatkannya. Lagian suara obrolan itu tak cukup jelas untuk bisa Shana tangkap maksudnya.
Gadis itu melanjutkan langkah. Namun baru akan menuju ke bagian depan ruang kesehatan, Shana terpaksa berhenti dan putar arah untuk bersembunyi.
Shana sedikit terkejut melihat Indi keluar dari ruang kesehatan bersama Cairo dan Karenina. Lalu Shana juga melihat ketiga orang itu tampak bicara sebentar di luar sana. Ada Susan juga sebenarnya yang Shana lihat, namun gadis itu kembali masuk ke dalam ruang kesehatan dan tak ikut bicara.
Shana memasang telinganya baik-baik. Ia berusaha mendengarkan dengan saksama tentang apa yang dibicarakan oleh ketiga orang itu.
“Gue beneran nggak tau apa-apa. Kenapa nama gue dibawa-bawa?” Karenina bertanya sambil mengguncangkan lengan Cairo.
Cairo membalas, “Itu yang mereka bilang. Lo perantara informasi.”
“Mereka siapa? Gue nggak kenal orang yang lo maksud.” Suara Karenina tampak gemetar. “Please, jangan bawa-bawa gue. Gue aja baru tahu ini karena lo yang bilang, Ro. Gue syok banget waktu lo ngasih tau gue soal ini kemarin malem.”
Indi menyela dan tampak meminta perhatian Cairo, “Udah, Kak. Sekarang mendingan lo menyerahkan diri aja. Bilang apa yang sebenarnya terjadi. Biar lo nggak lebih dianggap salah sama panitia.”
“Tapi bukannya sama aja? Mereka akan tetap anggap gue salah.” Cairo bicara dengan nada frustrasi. “Gue nggak mau dipenjara. Tapi mereka udah kabur. Gue bisa apa sekarang? Cuma gue satu-satunya yang bisa disalahkan atas kecelakaan-kecelakaan ini.”
“Kabur?” Shana mendadak muncul di hadapan ketiga orang itu. Ia sudah tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Shana sudah terlanjur geregetan ingin mengajukan pertanyaan sampai-sampai ia lupa bahwa dirinya mungkin akan berada dalam bahaya.
Kemunculan Shana di sana tentu di luar perkiraan Indi, Cairo, dan Karenina. Siapa yang menyangka jika ada orang kurang kerjaan yang keluar pagi buta begini dengan tujuan menguping pembicaraan orang? Ketiga orang itu terkejut setengah mati melihat Shana ada di sana dan mendengar pembicaraan mereka.
“Siapa yang kabur?” cecar Shana tak merasa gentar sedikit pun. Malahan gadis itu semakin berani mendekati ketiga orang yang tampak membatu di tempat.
Pertanyaan Shana itu sepertinya bukan pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Yang ada, ketiga orang di sana tampak gelagapan dan kebingungan. Mereka saling menatap satu sama lain dan tampak berniat kabur secepatnya dari hadapan Shana. Tak ada yang ingin berurusan dengannya.
Akhirnya setelah beberapa waktu berlalu, Indi buka suara. Gadis itu justru berujar, “Sha, lo nggak tahu masalahnya. Gue harap lo nggak ikut campur urusan kami.”
“Lo yakin gue nggak tahu, In?” Shana bertanya. Berdasarkan info yang diperoleh dari Arthur, Shana pun mulai menebak-nebak, “Ini soal peserta makrab yang terluka, kan? Salah satu dari kalian adalah pelakunya atau terlibat di dalamnya?”
Indi tampak tak bisa berkata-kata. Gadis itu menoleh ke sana-kemari memastikan tak ada orang yang menguping lagi. Selanjutnya, ia pun bertanya, “Lo tau dari siapa, Sha?”
“Jadi tebakan gue benar?” Shana tampak menarik senyum kecil di sudut bibirnya.
“Nggak sepenuhnya benar,” sela Cairo dengan nada agak kesal. “Lo jangan asal bicara ya. Kalau ada orang lain yang dengar, kami bisa kena masalah.”
Shana menaikkan sebelah alisnya. Gadis itu menyilangkan tangan di depan d**a dan bicara dengan penuh percaya diri. “Gue emang berniat menceritakan ini ke orang-orang. Tentang gue yang tahu kalau kalian atau salah satu di antara kalian adalah orang di balik kecelakaan-kecelakaan yang menimpa para peserta makrab.”
“Sha, jangan gegabah,” pinta Indi yang lebih terdengar seperti permohonan. “Gue akan cerita apa yang sebenarnya terjadi. Ah, lebih tepatnya kakak gue yang akan cerita. Ya, kan?”
Indi menyenggol-nyenggol lengan Cairo dan memberi kode agar pemuda itu mengiakan saja ucapan adiknya itu. Dan dengan tampak enggan, Cairo menganggukkan kepala sambil menggumam, “Iya.”
Shana pura-pura menimbang-nimbang tawaran yang Indi ajukan. Meski sebenarnya gadis itu sudah tahu akan menjawab apa.
“Oke, Sha?” Indi kembali bertanya karena Shana tak kunjung memberikan tanggapan.
Shana perlahan menganggukkan kepala. “Oke, kalau gitu, lo atau abang lo ini bisa ceritain apa yang sebenarnya terjadi. Nggak cuma cerita ke gue, tapi juga ke teman-teman gue. Mereka perlu tahu juga soal ini.”
Cairo tampak memalingkan wajah sembari mengumpat kecil.
“Kenapa, lo keberatan?” Shana menatap tajam ke arah Cairo. Meski pemuda itu lebih tua dari Shana, tapi Shana merasa tidak perlu terlalu menghormatinya. Gadis itu terlanjur kesal karena bisa-bisanya Cairo—yang notabenenya adalah ketua panitia acara makrab—justru menjadi salah satu yang bersekongkol untuk melukai dan menyakiti para peserta.
Cairo mendengkus. Selanjutnya ia tampak menggelengkan kepala. “Gue nggak keberatan buat cerita. Tapi sejujurnya ini percuma.”
“Karena pelakunya udah kabur?” balas Shana. Ia lantas mengingat-ingat kembali apakah ia juga tahu soal ini atau minimal pernah mendengar selentingan informasi. Namun Shana belum pernah mendengarnya sama sekali. Hanya saja, pikiran Shana melayang ke perahu nelayan yang bersandar semalam di pulau tempat mereka berkegiatan dan mengangkut beberapa orang dari pulau ini. Shana diam-diam langsung lemas karena pikirannya sudah menerka hal terburuk yang mungkin terjadi. “Jadi siapa yang lo maksud kabur? Ganendra orangnya?”
“Ganendra?” Cairo tampak mengernyit heran. “Bukan dia.”
Mendengar itu, Shana dapat bernapas lega sejenak. Setidaknya, Ganendra bukan musuh di balik selimut. Sering dikhianati membuat Shana merasa was-was. Apalagi dia sudah banyak berharap pada Ganendra dan pesan yang Shana titipkan pada pemuda itu benar-benar sangat penting.
“Gue nggak yakin lo kenal orangnya,” kata Cairo, “karena gue juga baru kenal mereka beberapa waktu belakangan ini.”
“Iya siapa dulu? Lo yakin banget kalau gue nggak kenal? Jangan meragukan kemampuan gue buat mengumpulkan informasi. Mungkin gue justru udah pernah berurusan sama dia.” Shana tak mau kalah, meski sebagian ucapannya cukup berlebihan.
Cairo mengeraskan rahangnya. Pemuda itu memejamkan mata sejenak dan mengembuskan napas kasar.
Shana menunggu dengan sedikit tidak sabar. Gadis itu merasa bahwa Cairo berusaha menutup-nutupi hal ini darinya. Pemuda itu terus berkelit dan membuat Shana gemas sendiri.
“Nanti gue kasih tahu setelah gue cerita apa yang sebenarnya terjadi di sini,” pungkas Cairo yang membuat Shana ingin melayangkan tinju ke arah pemuda itu.
Namun tentu saja, Shana menahan diri untuk tidak menyerang Cairo secara fisik. Lagian Shana tidak jago-jago amat berkelahi. Apa yang bisa ia andalkan untuk memenangkan perkelahian dengan Cairo semisal Cairo juga meladeni serangan Shana.
“Ikut gue kalau gitu,” ujar Shana.
“Ke mana, Sha?” Setelah sekian lama terdiam, Indi kembali buka suara.
Shana menunjuk ke arah tenda peserta. “Ketemu teman-teman gue dan kita akan mendengarkan kesaksian Cairo.”
“Gue nggak ikutan, ya?” cicit Karenina. “Gue bener-bener nggak tahu apa-apa. Cuma nama gue aja yang dibawa-bawa. Tapi gue bersumpah kalau gue bahkan nggak tahu kalau kecelakaan ini disengaja dan ada orang di baliknya.”
Cairo menggelengkan kepala. “Gue nggak yakin ucapan lo bisa dipertanggung jawabkan. Lo tetap ikut, setidaknya sampai lo terbukti nggak terlibat atau bukan lo yang mereka maksud.”