R 4.0

1818 Words
Diantar Hea, Arthur bertemu dan berbicara dengan kapten dari perahu nelayan yang bersandar di dermaga di pantai itu. Rupanya setelah mengobrol panjang lebar, Arthur mendapati fakta bahwa para nelayan itu tidak berniat datang ke sana. Hanya saja gelombang laut yang cukup tinggi membuat mereka mengambil rute berlayar yang agak berbeda—Arthur tidak terlalu paham soal ini. “Saya mungkin nggak akan kembali ke sini lagi,” kata kapten perahu nelayan itu, “karena ini bukan rute dan jalur kami untuk menangkap ikan. Kalian yang masih tinggal di sini akan bagaimana? Sudah ada komunikasi dengan pemilik perahu yang akan menjemput kalian?” “Itu dia yang jadi masalahnya, Pak.” Hea angkat bicara. “Di sini tidak ada sinyal. Kami tidak bisa menghubungi orang di luar pulau ini,” tambah Arthur. Kapten perahu nelayan itu tampak mengangguk-angguk. “Coba nanti saya bantu sampaikan ke orang-orang di pantai seberang. Atau salah satu di antara kalian yang akan ikut dengan perahu kami bisa langsung berkoordinasi dengan pemilik perahu yang kalian sewa. Kapan rencananya kalian kembali?” “Minggu sore,” jawab Hea. Gadis itu menambahkan, “Namun lebih cepat lebih baik. Mengingat acara sudah berantakan, harapan kami hanya bisa pulang dengan selamat.” “Masih ada dua hari dan dua malam tersisa,” kata kapten perahu itu, “semoga secepatnya kalian dapat keluar dari pulau ini, seperti yang kalian inginkan.” Hea mengangguk-angguk saja. Sementara Arthur memperhatikan dengan serius ucapan kapten perahu nelayan itu. Hingga tak lama kemudian, Ganendra datang menghampiri mereka. Pemuda itu langsung diberi arahan dan penjelasan oleh Hea terkait perubahan rencana mereka. Termasuk soal Ganendra yang akan pergi terlebih dahulu bersama dengan peserta makrab yang sakit. “Lo sanggup kan balik duluan sambil ngedampingi peserta yang sakit?” Hea memastikan kembali setelah ia menceritakan kondisi saat itu. Ganendra menganggukkan kepala dengan ragu. “Bisa diusahakan sih. Tapi ini gue beneran sendirian, Ya?” “Iya, gimana lagi? Kita punya beberapa peserta yang kondisi sakitnya parah dan butuh segera dirujuk ke rumah sakit. Kalau misal kebanyakan orang sehat yang ikut balik sekarang, terus yang sakit gimana? Tadi kata bapak kapten perahu ini, kemungkinan hanya ada lima orang yang bisa diangkut sama perahu mereka. Karena mereka juga udah ada beberapa orang, takut perahunya kelebihan muatan.” Hea menjelaskan agar Ganendra menyanggupi permintaannya. “Oke deh,” ujar Ganendra. Arthur menyela, “Kalau gitu, gue ke ruang kesehatan dulu buat bantu mindahin peserta yang sakit ke sini. Kalian lanjut koordinasi aja. Nanti kalau gue ada tambahan, gue akan bilang sebelum Ganendra berangkat.” “Sip, Ar. Gue di sini dulu aja buat nge-handle peserta dan bawa mereka balik ke aula. Sama lanjut ngejelas-jelasin ini ke Ganendra,” balas Hea. Ia pun mengarahkan agar Arthur mengumpulkan panitia lain atau peserta yang bersedia membantu membawa orang-orang yang sakit ke dermaga. Sebelum Arthur pergi, ia sempat mendengar bahwa kapten perahu nelayan itu meminta agar mereka gerak cepat untuk memindahkan peserta ke perahu karena perahu akan kembali berlayar sebelum cuaca memburuk. Alhasil Arthur berlari dengan kecepatan penuh menuju ke ruang kesehatan. Setibanya Arthur di ruang kesehatan, Agatha langsung menghampirinya. Gadis itu memberikan laporan bahkan sebelum Arthur bertanya. “Gini ya, Ar. Gue udah pilih siapa aja yang bakal ikut perahu malam ini.” “Oke, yang mana aja?” tanya Arthur sambil mengedarkan pandangan. Sambil menunjuk-nunjuk, Agatha menjelaskan kepada Arthur. “Dia yang kena ledakan kompor terus jadi luka bakar, terus dia yang kemarin jatuh dari atas batu karang. Masih bisa nambah lagi nggak, Ar?” Arthur menganggukkan kepala dan berkata, “Masih.” “Kalau gitu, ini Seva deh. Gue curiga dia sebenarnya patah tulang,” ujar Agatha kemudian. “Yang dua lainnya gimana?” Arthur menunjuk ke arah Widya yang tempo hari mengalami alergi parah lantaran salah makan dan seorang gadis lainnya bernama Manda yang diduga melakukan percobaan bunuh diri. Agatha menyipitkan matanya sembari menggumam panjang. Setelah beberapa saat berpikir dan menimbang-nimbang, Agatha berujar, “Widya sejauh ini udah aman. Dia bawa dan sedia obat buat alerginya. Gue juga udah bicara sama dia dan kalau alergi dia tetiba kambuh, gue bisa kasih pertolongan. Buat Manda, coba aja lo tawarin. Dia nggak bisa diajak komunikasi. Jadi males gue berurusan sama dia.” Arthur menaikkan sebelah alisnya. Arthur pun berjalan mendekati Manda dan mencoba berbicara dengannya. Seperti kata Agatha, Manda tidak banyak memberikan respon. Gadis itu cenderung enggan diganggu dan membuat orang lain makin tak paham dengan kondisinya. “Ar,” panggil Shana. Gadis itu berjalan mendekati Arthur. Kemudian Shana tampak membisikkan sesuatu ke telinga pemuda itu. Setelah dibisiki Shana—yang entah apa itu—maka Arthur pun memutuskan, “Oke, kalau bisa, Manda ikut balik hari ini.” “Lo yakin?” Agatha ikutan bicara. “Dia udah nggak kenapa-kenapa kok.” Shana berdecak dan menggelengkan kepala ke arah Agatha. “Mungkin secara fisik dia kelihatan baik-baik aja. Meski gue nggak yakin dia beneran baik-baik aja karena lehernya pasti sakit karena tercekik. Yang gue khawatirkan, mental dia yang kena.” “Stres gitu?” celetuk Verrel. Shana mengedikkan bahu. “Takutnya. Tapi gue juga nggak gitu paham. Makanya mendingan dia cepetan dibawa ke rumah sakit. Biar tahu deh gimana kondisinya yang sebenarnya. Karena kalau yang lain kan sakitnya jelas kelihatan, kalau yang ini kan enggak.” “Oke, Sha. Gue jadi sepemikiran sama lo,” gumam Agatha, setuju juga dengan pertimbangan yang Shana berikan. “Kita harus cepat pindahin mereka ke dermaga,” ujar Arthur menyela obrolan antara Shana, Agatha, dan Verrel. Namun sesaat kemudian, Arthur menyadari sesuatu dan langsung bertanya, “Karenina sama Susan ke mana?” Shana segera angkat bicara, “Lagi panggil panitia lain buat pindahin yang sakit-sakit ini.” “Gue juga deh,” kata Verrel tiba-tiba. “Gue panggil orang-orang buat bantu-bantu juga ya.” Agatha mengibaskan tangannya. “Terserah, tapi buruan balik ke sini.” Verrel mengacungkan jempolnya. Tak berlama-lama, ia segera melaksanakan niatannya. *** Satu jam kemudian, perahu sudah siap untuk kembali berlayar. Beberapa peserta makrab yang sakit sudah berada di perahu itu. Sementara Ganendra yang akan mendampingi mereka masih bicara dengan Arthur dan Shana. “Mana HP lo?” pinta Arthur. Pemuda itu menyodorkan tangannya ke hadapan Ganendra. “Buat apa?” Ganendra tampak mengernyit dalam dan memandang Arthur dengan ngeri. Shana yang mengambil alih untuk memberikan penjelasan. “Ada seseorang yang harus lo hubungi setelah lo keluar dari pulau ini.” “Siapa?” Kali ini Ganendra tampak tertarik. “Pak Gerald, bokapnya Shana. Gue yakin beliau bisa bantu lo buat ngurus semua ini. Lo ceritain aja apa yang terjadi di sini selama beberapa hari ini.” Arthur kembali angkat bicara. Ganendra mengangguk-angguk, tampak mengerti. “Oke-oke, ya udah, bagi ke gue kontaknya Pak Gerald.” Arthur menerima ponsel Ganendra dan segera menyimpan nomor Pak Gerald di sana. Ia kembali memastikan bahwa Ganendra akan menghubungi nomor itu. Sebelum Ganendra naik ke perahu nelayan itu, Shana menambahkan, “Bilang juga ke Pak Gerald untuk mengusahakan menyediakan transportasi biar kami yang masih ada di sini bisa balik lebih awal.” “Siap-siap, Sha.” Ganendra memasukkan ponselnya ke dalam ransel. Ia pun memanggul ranselnya sambil berjalan ke arah perahu. Setengah berteriak, Ganendra berpamitan, “Gue cabut dulu ya, guys. Doain gue selamat sampai tujuan biar gue bisa bantu kalian keluar dari sini.” Orang-orang yang terdiri dari panitia-panitia dan segelintir peserta yang mengantarkan kepergian perahu itu pun kompak mengiakan sekaligus mengamini ucapan Ganendra tadi. Mereka masih berdiri di sana hingga perahu mulai berlayar. Selang beberapa waktu, ketika perahu sudah menjauh dan yang terlihat hanyalah pendar lampunya saja, orang-orang di sekitar dermaga pun membubarkan diri. Beberapa panitia berjalan bergerombol di depan. Sementara Arthur dan ketiga kawannya berjalan di belakang para panitia. Saat akan pisah jalan, Hea sempat berujar, “Mungkin habis ini peserta jadi makin seenaknya sendiri dan nggak respek sama panitia karena tadi panitia termasuk gue udah larang-larang mereka buat merusuh dengan ikut perahu itu dan justru minta mereka balik ke tenda atau ke aula.” “Nggak apa-apa, yang tadi itu sejauh ini masih jadi keputusan terbaik,” balas Verrel. Dan malam itu sampai di sana. Mereka membubarkan diri, kembali ke aktivitas masing-masing. *** Kembali ke tenda bukan berarti Shana dapat langsung beristirahat. Nyatanya, ia justru melamun. Gadis itu memikirkan bagaimana langkah selanjutnya agar ia dan teman-temannya bisa menyusul keluar dari pulau itu dengan keadaan sehat walafiat. “Lo udah titip pesan ke Ganendra buat ngehubungi bokap lo, kan?” tanya Agatha yang rebahan di sebelah Shana. Shana mengedipkan mata. Gadis itu menjawab lesu, “Udah. Tapi kok perasaan gue gelisah dan nggak enak gini ya, Tha? Gue takutnya pesan yang gue titipin ke Ganendra nggak sampai ke bokap gue.” “Kurang istirahat lo, Sha,” tebak Agatha. Gadis itu pun menyuruh sobatnya untuk istirahat saja alih-alih mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu juga terjadi. “Udah, nggak usah banyak mikir. Nanti malah jadi sugesti. Gimana kalau beneran kejadian?” “Amit-amit,” gumam Shana sambil menggelengkan kepala keras-keras. Ia pun menarik selimut hingga menutupi wajahnya dan berujar, “Emang mending tidur aja biar nggak mikir yang aneh-aneh.” “Betul!” seru Agatha. Gadis itu pun kembali rebahan di samping Shana. “Tapi Indi ke mana ya, Sha? Gue nggak lihat dia dari tadi.” Shana yang semula sudah memejamkan mata kini matanya kembali terbelalak. “Aduh, iya, gue juga nggak lihat dia.” “Gimana, dong? Kira-kira dia baik-baik aja nggak? Perlu kita cari?” Agatha bertanya-tanya. Shana menyibak selimutnya. Ia pun mengubah posisi tidurnya menjadi duduk bersila. “Cari di mana tapi?” “Mending jangan deh,” balas Agatha membuat Shana menaikkan sebelah alisnya. “Dia kan adiknya Cairo. Jangan-jangan dia bersekongkol lagi sama Cairo dan orang-orang jahat lainnya.” Shana meringis. Ia agak tidak yakin bahwa Indi tahu menahu soal ini. Toh, meskipun Cairo terlibat, belum tentu juga dia membawa serta adiknya di dalam rencana. “Tapi meski begitu, bukan berarti kita harus cuek aja, kan? Kalau dia kenapa-kenapa gimana? Setidaknya kalau kita tahu dia lagi ngapain dan di mana sekarang, kita bisa lebih tenang.” Shana berujar kemudian. Agatha mengembuskan napas panjang dan memutuskan, “Oke, kita cari dia.” Baru saja kedua gadis itu hendak berdiri, pintu tenda terbuka. Indi berdiri di sana dan tampak baik-baik saja. Tapi tanpa banyak bicara, Indi langsung naik ke kasurnya dan merebahkan diri dengan posisi memunggungi Agatha dan Shana. Agatha menyalakan senter dari ponselnya dan mengarahkannya bolak-balik antara Indi dan Shana. “Dia kenapa?” tanya Agatha pada Shana dengan gerakan bibir dan nyaris tanpa suara. Shana menggelengkan kepala. “Mana gue tahu,” balasnya yang berusaha tak sampai terdengar oleh Indi. Dengan isyarat tangan, ia meminta agar Agatha tidak mengganggu Indi dulu dan mematikan saja senter dari ponselnya itu. “Kita juga tidur aja,” katanya yang lagi-lagi hanya berupa gerakan bibir dan suara semakin desisan. Agatha mengiakan. Mengurungkan niatnya untuk bangkit berdiri, Agatha kembali rebahan di atas kasurnya dan menarik selimut, siap melanjutkan tidurnya yang sempat hampir batal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD