Setelah makan malam, Shana dan Agatha memutuskan kembali ke tenda. namun bukannya pergi ke tenda mereka sendiri, keduanya justru mengekori Arthur. Alasan yang Agatha buat adalah Arthur belum menceritakan apa-apa soal kejadian yang sempat Shana singgung sebelumnya.
“Nggak mau tau, pokoknya lo kudu cerita. Baru setelah itu gue sama Shana balik ke tenda,” ujar Agatha dengan keras kepala.
Namun kali ini, Shana setuju dengan Agatha. “Lo memang berhutang penjelasan ke gue dan ke dua orang ini,” katanya sambil menunjuk ke arah Agatha dan Verrel.
“Oke, gue cerita kalau nanti di tenda nggak ada orang lain selain kita,” putus Arthur telak.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di tenda. Di sana memang sudah sepi. Sepertinya baik Rick maupun Ganendra tidak langsung kembali ke tenda setelah makan malam. Ganendra pasti masih berkutat dengan urusan panitia. Sementara Rick tidak diketahui keberadaannya.
Otomatis Arthur ditagih atas janjinya. Hingga pemuda itu mengambil posisi duduk bersandar pada sisi tenda glampingnya dan mulai bercerita, “Oke-oke, gue cerita. Dengerin baik-baik ya.”
“Ya tentu dong, Ar,” balas Verrel, “buruan cerita. Jangan kebanyakan prolog.”
“Waktu gue nemenin Shana ke kamar mandi, gue iseng jalan-jalan ke area di sekitar kamar mandi. Bukan tanpa alasan karena gue sebelumnya lihat ada cahaya dari ruang penyimpanan mesin air. Gue ke sana dan niatnya cuma mau ngecek aja. Tapi ternyata gue dengar pembicaraan orang-orang yang ada di dalam ruangan dan gue memutuskan untuk nggak langsung masuk. Gue berusaha nguping pembicaraan mereka, tapi gue nggak tahu siapa-siapa aja yang terlibat dalam pembicaraan itu.” Arthur berkata panjang lebar. Namun tentu saja, ceritanya belum selesai sampai di sana. Itu hanya permulaan.
“Terus-terus?” pancing Shana.
Arthur menarik napas dalam dan kembali membeberkan apa yang ia ketahui. “Gue nggak bisa lihat orang-orangnya. Tapi ada satu suara yang cukup familier bagi gue.”
Ketiga temannya kompak membelalakkan mata, makin kepo saja mereka dengan siapa yang Arthur maksud ini.
“Siapa?” cecar Verrel.
“Cairo,” jawab Arthur, “gue yakin dia salah satu dari orang-orang itu.”
“Gila!” pekik Agatha. “Eh, tapi tunggu dulu. Emang mereka ngomongin soal apa?”
Arthur berdeham. Ia melirihkan suaranya dan mencondongkan tubuh mendekat ke arah teman-temannya. “Gue sempat dengar kalau Cairo bakal dapat uang sepuluh juta kalau rencana mereka berhasil. Tapi dari yang gue dengar, Cairo kayanya memutuskan buat berhenti dari rencana-rencana yang gue belum tahu pasti maksudnya rencana apaan.”
“Waduh, parah sih ini.” Verrel tampak geleng-geleng kepala. “Kayanya gue tahu rencana apa yang orang-orang itu maksud. Kalian ingat kan ucapan Hea tadi kalau Cairo sering gonta-ganti aturan. Guys, sadar nggak kalian, itu dalam rangka memperlancar urusannya dan urusan orang-orang itu.”
“Bener juga kata lo, Rel,” komentar Agatha. “Ada lagi Ar yang lo dengar?”
Arthur menganggukkan kepala. “Cairo sempat tanya siapa yang nyuruh mereka. Pertanyaan itu dijawab salah seorang yang sayangnya nggak berhasil gue kenalin.”
“Apa katanya?” kejar Shana.
“Yang berhasil gue dengar cuma sepatah-sepatah kata aja. Salah satunya adalah penjara, Karenina, dan janji bahwa Cairo nggak akan terseret-seret dalam hal ini,” jelas Arthur.
“What?” pekik Agatha. Gadis itu menggeser tubuhnya hingga berada dekat dengan Arthur. “Lo barusan bilang apa? Karenina? Cewek yang jaga ruang kesehatan?”
Mendengar cecaran pertanyaan dari Agatha, Arthur hanya bisa menggelengkan kepala. “Gue nggak yakin soal itu. Tapi sejauh ini, gue taunya juga Karenina yang itu.”
“Tapi apa hubungannya sama penjara? Karenina mantan kriminal kah?” tebak Verrel.
Shana menelengkan kepala sambil menggumam panjang, memikirkan apakah tebakan Verrel ada benarnya. Tapi beberapa saat kemudian, dia berujar sangsi, “Masa sih dia orang yang kaya gitu?”
“Kalau dilihat dari sikapnya tadi sore, ada kemungkinan sih, Sha,” balas Agatha.
“Tapi justru sikapnya yang tadi sore ini menunjukkan kalau dia orangnya gampang cemas. Kelihatan banget dari gurat-gurat di wajahnya. Dia nggak bakalan bisa menyembunyikan hal ini dengan baik. Kalau dia terlibat, kayanya udah dari awal masalah ini kebongkar.” Shana mengutarakan pendapatnya yang cukup bertentangan dengan pendapat Agatha tadi.
“Masa sih kaya gitu?” Agatha mengernyitkan dahi dan mulai bertanya-tanya. “Lo seyakin itu Sha kalau Karenina nggak mungkin seorang kriminal?”
Shana meringis. Sesaat kemudian, ia menggelengkan kepala pelan sambil terkekeh kecil. “Enggak yakin juga sih. Itu kan pendapat pribadi gue. Nggak ngerti deh bener gitu atau enggak.”
“Kirain,” kata Agatha sambil sedikit mencebikkan bibirnya.
Setelah itu, mereka kembali terdiam untuk beberapa saat lamanya. Arthur bahkan sempat bangkit berdiri untuk menyeduh kopi dan mengambil camilan untuk teman-temannya.
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Mendadak suasana di luar tenda terdengar ramai. Banyak orang yang berbicara dan terdengar pula langkah kaki di luar sana.
“Rame amat,” celetuk Verrel, “kaya pasar.”
Agatha lantas memukuli lengan Verrel beberapa kali. Ia melontarkan pernyataan nyeleneh, “Anjir, pasar setan jangan-jangan.”
“Tha,” gerutu Shana. Gadis itu langsung merapat ke arah Agatha. Tak pelak lagi, bulu kuduknya langsung meremang hanya karena candaan yang Agatha lontarkan. Ia memperingati sahabatnya itu, “Jangan ngawur kalau ngomong!”
Agatha justru terbahak-bahak sepersekian detik setelah melihat Shana mendadak pucat menanggapi ucapannya tadi. Puas tertawa, ia pun berseloroh, “Canda elah, Sha. Lo kenapa sih jiper gini kalau soal hantu? Heran deh, kayanya nggak ada juga ceritanya lo trauma sama hantu, kan?”
Shana dengan nada sewot membalas, “Memang enggak. Tapi gue takut, Tha. Kalau udah takut, gue nggak harus punya alasan, kan?”
“Eh-eh, pintu tendanya gerak-gerak,” pekik Agatha dengan ekspresi yang ia buat sehoror mungkin, seolah tidak kapok dengan balasan sewot yang ia terima dari Shana. “Kayanya setan-setan mau nawarin dagangan ke kita nggak sih?”
Shana makin kesal saja. Bagaimana tidak, Agatha justru makin mengisenginya. Benar-benar sahabat yang berengsek. “Anjing lo, Tha!” maki Shana dengan suaranya yang gemetar. Ia kini menarik Arthur untuk menjadi tamengnya, menghalangi pandangan Shana untuk langsung bisa melihat pintu tenda.
Memang benar adanya bahwa pintu tenda di mana mereka berada saat ini bergerak-gerak, seperti ada yang mencoba membuka dari luar. Tapi tentu saja, kemungkinan besar perkataan Agatha soal setan-setan itu hanyalah bualan belaka.
“Siapa?” tanya Arthur yang ia tujukan pada sosok yang berada di luar tenda.
“Gue Hea,” balas sosok di luar tenda itu. Dari suaranya, itu memang terdengar seperti suara Hea.
Verrel pun segera bangkit dari duduknya dan membantu membukakan pintu. Setelah melihat Hea, pemuda itu bertanya, “Ada apa, Ya?”
“Ada perahu nelayan bersandar di dermaga,” kata Hea dengan napas terengah-engah. “Baiknya gimana? Gue butuh pertimbangan kalian. Semua orang berusaha ikut perahu itu keluar dari pulau ini.”
Mendengar itu, Arthur langsung meluncur mendekati Hea dan Verrel yang sedang bicara di depan pintu. “Sekarang perahunya masih bersandar di sini?”
Hea menganggukkan kepala dengan wajahnya yang tampak cemas. “Masih, Ar. Tapi situasi di pantai udah nggak kondusif.”
Arthur memberi isyarat agar mereka langsung bergerak saja dan membicarakian hal ini sambil jalan nanti. Jadilah Shana dan Agatha juga menyudul keluar tenda. Keempat sekawan itu ditambah Hea buru-buru meluncur ke tempat di mana perahu nelayan yang Hea sebut tadi itu bersandar.
“Gue mau nitipin anak buat keluar dari pulau ini,” ujar Hea. “Tapi siapa-siapanya, gue masih ragu. Karena semua orang berusaha ikut, nelayan yang punya perahu itu malah kesal.”
“Gimana kalau kita minta nelayan itu buat bawa peserta yang terluka dan sekarang ada di ruang kesehatan? Secara mereka yang butuh pertolongan dan nggak bisa dibiarkan berlama-lama dalam kondisi kaya gini. Kita prioritaskan yang kondisinya mendesak terlebih dahulu,” saran Arthur.
“Gue juga mikir gitu,” setuju Verrel. “Tapi orang-orang yang sakit ini nggak mungkin dibiarin pergi sendiri cuma sama nelayan yang punya perahu aja, kan? Gimana nanti setelah mereka sampai di seberang? Harus ada yang menindak lanjuti buat ngurusin rumah sakit dan lain sebagainya.”
Hea tampak mengerti. Dengan walkie talkie-nya, Hea meminta Ganendra datang. Setelah itu, ia kembali bicara dengan Arthur dan yang lainnya, “Gue nggak mungkin keluar dari pulau ini sekarang dan ninggalin kalian semua. Tapi satu-satunya panitia yang bisa gue percaya dan kelihatan becus kerjanya cuma Ganendra.”
“Kalau dia bersedia, minta dia temenin orang-orang yang sakit aja,” simpul Verrel.
“Terus ini mau ikut ke dermaga semua?” tanya Hea sembari menghentikan langkahnya. Ia pun mengusulkan, “Gimana kalau gue dan Arthur ke dermaga buat ketemu dan bicara sama nelayan ini. Sementara sisanya pergi ke ruang kesehatan aja buat nyiap-nyiapin pemindahan peserta yang sakit ini.”
“Gue setuju sih,” ujar Agatha. Ia pun menggandeng Verrel untuk putar arah.
“Gue ikut lo, Tha?” tanya Shana meragu. Ia ingin nempel pada Arthur. Tapi Hea sama sekali tidak menyenggolnya dan Arthur juga tidak mengajaknya.
Barulah setelah Shana bertanya begitu kepada Agatha, Arthur buka suara, “Lo sama Agatha aja, Sha. Kayanya kondisi di pantai udah nggak kondusif. Gue takutnya lo keinjak-injak kalau masa jadi ricuh dan rebutan buat cabut dari sini.”
Shana menganggukkan kepala lemah. Dengan berat hati, ia pun membiarkan Arthur dan Hea berlalu ke arah pantai. Sementara Shana mengekori Agatha dan Verrel menuju ke ruang kesehatan.