Melihat Arthur akan menerobos hujan lagi, Verrel merasa tak tega. Sambil menunggu Arthur selesai berdebat kecil dengan Shana, Verrel mencarikan barang apapun itu yang bisa digunakan untuk menghalau air hujan langsung mengenai tubuh sobatnya yang sudah basah kuyup.
Pemuda itu sibuk mengais-ngais barang-barang yang cukup tidak tertata di ruang kesehatan. Ya maklumlah, ruang kesehatan hanya tempat sementara. Alhasil tak semua barang sempat tertata.
"Ini ada jas hujan kaya gini," seru Verrel, "mau lo pakai, Ar?"
Arthur mengalihkan perhatian dari yang semula berdebat dengan Shana, kini menghadap ke Verrel. "Apa itu?" tanyanya. Berhubung ruangan itu semakin gelap, Arthur jadi harus menyipitkan mata untuk melihat benda yang sedang Verrel tunjukkan padanya dari kejauhan itu.
"Jas hujan dari plastik warna-warni gini. Tipis sih, plastik bening gitu. Tapi lumayan nih, ada beberapa biji." Bak salesman yang sedang mempromosikan produk, Verrel bicara dengan semangat menggebu.
Arthur menganggukkan kepala dan menyodorkan tangannya. "Lempar sini," katanya.
Dalam hitungan detik, Verrel sudah melemparkan jas hujan itu ke arah Arthur. Sementara Arthur, meski dalam kondisi ruangan yang gelap, ia sukses menangkap jas hujan itu.
"Gue ikut aja ya, Ar," mohon Shana yang tampak belum menyerah. Gadis itu meyakinkan, "Kan kita bisa barengan terus. Gue bisa ke tenda lo dulu buat nemenin lo ganti baju. Habis itu, lo ke tenda gue buat nemenin gue ganti baju. Atau sebaliknya juga bisa."
"Lo yakin biarin Arthur nemenin lo ganti baju?" tanya Agatha sembari meringis ngeri.
Shana mendelik. "Arthur nunggu di depan tenda lah, di teras. Gila apa kalau gue biarin Arthur ada di dalam tenda sementara gue ganti baju. Meski gue yakin Arthur nggak berani macam-macam, yah!"
"Tas warna hitam, kan? Gue bawain ke sini," ujar Arthur sambil menepuk bahu Shana.
Atas ujaran Arthur itu, Shana menoleh dan mengangguk refleks. Saat ia akan membuka mulut, Arthur sudah lebih dulu cabut dari sana.
"Sinting dia," maki Shana sambil menjejakkan kakinya ke lantai.
Namun Shana tak sempat berlama-lama merutuki Arthur karena Verrel dan Agatha segera menginterogasinya.
"Lo kenapa balik-balik udah basah kuyup gini?" tanya Verrel. Pemuda itu berdiri di hadapan Shana sambil menyilangkan tangan di depan dan menatap Shana dengan pandangan menilai.
"Gue cuma ngikut Arthur aja. Dia yang tahu sesuatu," ujar Shana. Namun gadis itu semakin menurunkan volume suaranya saat lanjut bicara. "Kayanya Arthur tahu sesuatu. Tapi dia masih belum ngasih tau gue apa-apa. Mungkin nunggu waktu yang pas."
"Duh, gue jadi penasaran," gumam Agatha dengan suara agak keras.
Shana langsung mendelik. Ia memberi isyarat agar Agatha tidak bicara dengan suara lantang.
"Udah deh, jangan bahas-bahas ini dulu di sini. Kita nggak tahu kan kalau ada yang nguping dan punya maksud nggak baik," kata Shana sambil melangkah mundur. "Lagian, gue juga nggak tau jelasnya gimana."
***
Arthur berjingkat-jingkat menapaki teras tendanya. Pemuda itu melepas jas hujan dan kaus yang ia kenakan. Dengan bertelanjang d**a, Arthur duduk sejenak di bangku lipat untuk aktivitas outdoor yang memang disimpan di teras tendanya.
Pemuda itu enggan langsung masuk ke dalam tenda karena khawatir akan membuat seluruh lantai tenda licin oleh air yang berjatuhan dari tubuhnya. Sambil duduk-duduk begitu, Arthur memejamkan mata untuk mengingat kembali apa yang sempat ia dengar tadi.
“Salah satu dari orang-orang itu adalah Cairo,” gumam Arthur sambil mengusap-usap dagunya. Ia kemudian melanjutkan, “Tapi bukan dia pelaku sebenarnya. Dia sedang membantu sekelompok orang yang masih belum gue tahu siapa.”
Arthur lantas membuka matanya dengan waspada lantaran mendengar kain bagian pintu tenda tersibak dengan kencang. Saat mendapati siapa yang berdiri di hadapannya, Arthur lantas mengembuskan napas lega.
“Lo ngapain sendirian di sini?” tanya Rick sambil meletakkan payung di teras tenda.
“Lo sendiri ngapain ke sini?” Arthur balas bertanya.
Rick memasang ringisan di wajahnya. Ia pun berlalu masuk ke dalam tenda.
Arthur memperhatikan perginya Rick ke dalam tenda. Ia lantas melihat Rick sedang menuang bubuk kopi saset ke dalam gelas dan menyeduhnya dengan air hangat di dispenser.
“Lo mau, Ar?” tawar Rick sambil mengangkat gelas kopinya.
Arthur menggelengkan kepala. “Nanti gue bikin sendiri aja,” katanya.
Rick mengangguk mengerti dan kembali menghampiri Arthur yang masih duduk di teras tenda. Pemuda itu menarik salah satu kursi dan mendudukinya.
Namun bersamaan dengan itu, Arthur justru bangkit berdiri. “Gue masuk dulu, mau ganti baju.”
Rick menggumam mengiyakan dan sudah sibuk dengan aktivitas menyesap kopi sembari menatapi hujan deras di luar tendanya—karena memang Rick tidak menutup kembali pintu tenda setelah membukanya tadi.
Di dalam tenda, Arthur mengganti bajunya. Pemuda itu lantas mencari jaket dan jas hujan yang ia bawa. Tak berlama-lama di sana, Arthur pamit kepada Rick untuk kembali meninggalkan tenda. “Gue cabut dulu.”
“Mau ke mana lo?” tanya Rick sambil ikutan berdiri dari duduknya.
“Balik ke ruang kesehatan. Tapi mampir bentar ke tenda Shana buat ambilin tasnya,” jelas Arthur.
Rick mengangguk-angguk mengerti. Kemudian ia kembali duduk ke tempatnya. Sebelum Arthur beranjak dari sana, Rick berpesan, “Nanti kalau lo lihat Cairo, bilang kalau gue di sini ya. Dari tadi gue cariin, dia nggak ada di mana-mana.”
Arthur mengiakan. Ia pun segera mengenakan jas hujannya dan kembali berlarian di jalanan setapak menuju ke tenda Shana. Untung lah, hujan sudah tidak sederas tadi. Angin juga tidak berhembus dengan kencang seperti beberapa waktu sebelumnya. Hanya saja, hari yang semakin petang dan listrik belum juga menyala membuat Arthur kesulitan melihat jalan.
Setelah beberapa saat berjalan, tiba juga Arthur di tenda Shana. Ia melepas jas hujannya dan meletakkannya begitu saja di lantai teras tenda. Pemuda itu merogoh ponselnya. Untung saja, ponselnya masih dalam kondisi cukup kering dan bisa digunakan—meski celana yang Arthur kenakan sebelum berganti tadi sudah basah kuyup .
Arthur berjalan masuk ke dalam tenda itu dengan bantuan cahaya dari senter ponselnya. Ia mencari-cari yang mana sekiranya tas yang Shana maksud. Sedikit sungkan memang ketika ia harus mencari-cari di dalam tenda anak perempuan. Namun mau bagaimana lagi, keadaan sedang darurat begini.
Arthur melihat sebuah tas hitam yang memang cukup familier di matanya. Ia pun menghampiri tas itu, membuka sekilas tanpa maksud apa-apa dan mendapati bahwa di dalam sana ada handuk serta baju Shana. Memang Shana mengatakan bahwa ia menyiapkan baju ganti dan peralatan mandi di dalam tas itu untuk ia gunakan mandi sore tadi.
Merasa sudah mendapatkan apa yang ia cari, Arthur putar badan dan kembali keluar dari bagian dalam tenda. Di teras, Arthur kembali mengenakan jas hujannya dan mengamankan barang bawaannya di dalam jas hujan. Saat semua beres, Arthur pun kembali ke ruang kesehatan.
Pemuda itu tidak sempat menoleh ke sana kemari karena tengah buru-buru. Ia hanya fokus memperhatikan jalan setapak yang akan ia lewati. Namun samar-samar Arthur bisa mendengar suara-suara orang dari beberapa tenda yang ada di sana. Arthur beranggapan bahwa beberapa peserta memilih kembali ke tenda, sama seperti yang dilakukan Rick.
Ngomong-ngomong soal Rick, Arthur jadi ingat pesan pemuda itu. Rick mencari Cairo. Itu artinya Cairo tidak berada di aula atau di tempat Rick berada. Kemungkinan besar, Cairo benar-benar berada di ruang penyimpanan mesin air bersama orang-orang yang mencurigakan itu.
Arthur mengembuskan napas dan berusaha mengusir pikiran itu sejenak. Sesaat kemudian ia sudah tiba di ruang kesehatan. “Sorry lama,” katanya pada Shana sembari menyodorkan tas hitam milik Shana.
“Oke,” kata Shana. Lantas gadis itu bertanya, “Tapi lo nggak kenapa-kenapa, kan? Di sana aman, Ar?”
Arthur mengangguk. “Aman,” katanya, “tadi gue ketemu Rick. Dia udah balik ke tenda. Dan kayanya, beberapa peserta juga udah balik ke tenda.”
Agatha berdeham-deham dan menyela, “Ar, lo kayanya berhutang penjelasan ke Shana, gue, dan Verrel. Iya nggak sih?”
Arthur menaikkan sebelah alisnya. Ia bertanya-tanya apa yang Agatha bicarakan.
“Halah, jangan pura-pura nggak tau,” timpal Verrel yang datang mengekori Agatha.
“Kalian ini,” sela Shana, “kan udah gue bilang, Arthur mungkin bakalan jelasin soal ini, tapi nanti dan mungkin nggak di sini. Ya, kan, Ar?”
Arthur mengangguk-anggukkan kepala saja. Ia pun menyuruh Shana untuk berganti baju terlebih dahulu dan tidak usah ikut-ikutan berbicara.
Sepeninggal Shana, Agatha kembali bertanya, “Ini masalah penting ya, Ar? Soal apa?”
Arthur mengusap tengkuknya. “Lumayan, kalau yang gue dengar itu benar,” jawab Arthur yang membuat Agatha serta Verrel semakin heboh. Entah untuk alasan apa, keduanya tampak girang. Arthur bertanya sarkas, “Sehat kalian?”
“Sehat dong,” balas Agatha lantas terkikik geli.
“Ntar cerita ya, Bos,” ujar Verrel.
Arthur memutar bola mata dan berjalan mencari-cari gantungan untuk menjemur jas hujannya. Setelah itu, ia mengambil duduk di salah satu matras dan ada Verrel yang rebahan di sampingnya.
***
Selesai mengganti baju, Shana bergabung kembali dengan teman-temannya. Mereka lantas hanya duduk-duduk saja, bersantai di sana sembari menunggu Karenina dan Susan kembali.
“Kita di sini sampai makan malam sekalian aja, ya? Mager gue balik ke tenda. Masih mati lampu juga, kan?” tanya Agatha kepada teman-temannya. Meski demikian, pandangan gadis itu justru fokus kepada ponsel yang ada di pangkuannya.
“Boleh, dari pada kita bolak-balik,” timpal Shana. Gadis itu masih berkutat mengeringkan rambutnya yang sudah setengah kering itu. Andaikan ada listrik dan ada hairdryer, Shana tidak perlu mengeringkan rambutnya dengan cara manual sampai tangannya pegal-pegal.
Namun selang lima menit kemudian, Karenina sudah kembali ke ruang kesehatan. Gadis itu datang sendirian, tanpa Susan yang tadi pergi bersamanya. Karenina tampak sedikit tergesa. Ia bicara dengan cepat dan gelagapan. “Makasih kalian udah bantu-bantu. Sekarang kalian bebas mau balik ke tenda atau ke aula kaya peserta lainnya. Gue bisa jaga di sini sendiri.”
Shana refleks menoleh ke arah Arthur. Gadis itu penasaran dengan tanggapan Arthur atas ucapan Karenina yang menurut Shana sedikit janggal dan cukup tidak sopan karena lebih seperti mengusir Shana dan teman-temannya dari tempat itu.
Namun yang Shana dapati hanya wajah Arthur yang super lempeng. Pemuda itu tidak menunjukkan ekspresi apa-apa atau minimal menatap balik ke arah Shana untuk bicara lewat mata.
“Owh, gitu ya,” celetuk Verrel. Pemuda itu garuk-garuk kepala sebentar sebelum akhirnya dengan canggung melanjutkan ucapannya, “Oke, kalau gitu gue dan yang lain cabut dulu. Yuk, guys!” Verrel langsung balik badan, berjalan keluar dari ruangan itu.
Sementara Agatha juga tampak bangkit dari duduknya dan meraih tangan Shana. “Yuk,” ajaknya.
Shana mengedipkan mata dan mengangguki ajakan Agatha itu. Ia mengekori Agatha dan Verrel yang berjalan di depannya. Kalau Arthur, pemuda itu berjalan di belakang Shana.
Sampai di bagian luar ruang kesehatan, Agatha baru membuka mulutnya kembali. Ternyata gadis itu juga punya unek-unek yang ingin ia sampaikan. “Kita diusir atau gimana ceritanya?”
“Kayanya gitu sih,” ujar Shana. “Tapi kenapa tiba-tiba? Kita bikin ulah?”
“Enggak juga, mungkin kita menganggu dia,” kata Arthur.
Tak menyangka bahwa Arthur akan angkat bicara, semua orang langsung menatap ke arahnya.
Arthur sadar bahwa ia sedang menjadi pusat perhatian ketiga temannya. Dengan enteng, Arthur melanjutkan ucapannya, “Mungkin aja kaya gitu. Tapi mungkin juga dia nggak mau merepotkan kita lebih lama lagi.”
“Anggap aja di antara dua kemungkinan itu,” celetuk Verrel. “By the way, kita ke aula atau balik ke tenda?”
“Aula aja gimana?” usul Agatha. Namun konsentrasinya sedikit teralihkan oleh Karenina yang menutup pintu di belakang mereka. Gadis itu langsung memberi isyarat kepada ketiga temannya untuk melihat tingkah Karenina itu. “Kaya ada yang nggak beres. Apaan sih pakai tutup pintu segala. Padahal kita masih di sini dan belum pergi.”
“Kalau gitu, kesimpulannya kita diusir,” kekeh Verrel. “Udah deh, nggak perlu dipikirin. Lagi korslet mungkin otaknya. Sama kaya listrik di sini yang belum kunjung menyala.”
Mendengar usaha Verrel untuk melucu itu, Shana dan Arthur kompak tertawa kecil. Sementara Agatha mendengkus dan mengatai Verrel konyol.
“Yuk, pindah aula sekarang,” ujar Verrel sembari mendorong bahu Arthur untuk berjalan di depan. Sementara tangan satunya lagi menggandeng lengan Agatha. Ia juga mengajak Shana dengan memanggilnya, “Sha, ayo. Jalan di depan buruan.”