R 3.6

2006 Words
Sepeninggal Hea, Ganendra pun turut undur diri dari sana. Kembali tersisa Arthur, Shana, Verrel, dan Agatha di salah satu sisi aula. “Kalian lagi, kalian lagi,” gumam Verrel sambil memutar bola matanya, pura-pura bosan dengan keberadaan teman-temannya. Arthur langsung memicingkan mata dan menatap Verrel dengan sadis. Sementara Shana mendesis lirih. Kalau Agatha, gadis itu sudah tidak mood bertingkah dan memilih diam saja. “Mau apa kita sekarang?” tanya Verrel kemudian. “Cari cara buat keluar dari pulau ini,” ucap Shana. Sejenak, ia menjeda ucapannya. Barulah setelah beberapa detik terdiam, ia kembali berkata, “Dan menyingkirkan orang-orang yang bikin ulah.” “Agatha dong, Sha?” sambar Verrel dengan entengnya. Agatha langsung memelototi Verrel. “Lah, kok gue?” Verrel mengedikkan bahunya. “Kan lo yang dari tadi memancing keributan.” “Kaya lo enggak aja,” balas Agatha. Berhubung Verrel tidak kembali membalas ucapan Agatha, akhirnya keadaan di sana pun hening sejenak. Mereka tampak sama-sama menundukkan kepala, seolah lantai aula yang mereka pijak benar-benar menarik untuk diamati. Padahal mereka hanya sama-sama tidak tahu saja harus melakukan apa atau bersikap bagaimana. Hingga beberapa saat lamanya berlalu, Shana membuka suara. Gadis itu mencolek lengan Agatha dan bertanya, “Lo nggak berniat minta maaf ke Hea?” “Harus ya gue minta maaf ke dia?” Agatha balas bertanya. "Toh, dia juga yang mancing-mancing emosi gue." Arthur hanya bisa menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan sedikit kasar. Meski kelihatan cukup kesal atas balasan yang Agatha lontarkan itu, namun Arthur tak bicara apa-apa. Demikian halnya dengan Shana. Gadis itu tampak tidak membenarkan atau menyalahkan jawaban Agatha. Ia hanya menanggapi, "Terserah lo, Tha." "Sesuaiin aja sama umur lo," tambah Verrel, "pantes nggak bersikap memprovokasi kaya tadi." Agatha menarik turun kedua sudut bibirnya. Ia kembali menundukkan kepala, tidak berani menatap teman-temannya. Tak lama setelah obrolan berakhir dan keadaan kembali hening, sayup-sayup mereka mendengar ada orang yang berteriak-teriak memanggil mereka untuk makan siang. "Makannya nggak di aula?" Verrel terdengar bertanya-tanya. "Kayanya enggak," timpal Arthur atas pertanyaan Verrel. Ia pun memberi isyarat agar teman-temannya menuju ke sumber suara. Mengingat mereka semua memang sudah merasa lapar, mereka harus cepat-cepat makan. Keempat sekawan itu bergerak ke tempat lapang yang berada di dekat tenda peserta. Setibanya di sana, mereka mendapati ada pemandangan baru yang membuat mereka terheran-heran. Kali ini, cara makan mereka sepertinya akan sedikit berbeda dengan biasanya. Tidak ada nasi kotak di sana. Yang ada hanyalah hamparan daun pisang di atas tikar. Beberapa panitia membawa panci dan wajan berukuran besar dan peserta yang sudah berkumpul di sana tampak bergotong-royong mengulurkan tangan untuk membantu panitia membawa dan menata makanan-makanan itu di atas daun pisang. "Wah, apalagi ini," kata Agatha. Belum sempat mendapat tanggapan, Agatha sudah diseret oleh Shana untuk menghampiri seseorang. Sambil jalan Shana berujar, "Ikut bantuin nuang minuman ini, Tha." "Ngapain sih, Sha? Kita diam aja juga pasti ini bakalan kelar. Udah banyak yang bantuin." Agatha berbisik-bisik. Shana berdecak dan ia kemudian sibuk membantu menuang es teh ke dalam gelas-gelas. Setelah gelas-gelas itu terisi, ia mengopernya ke Agatha agar bisa didistribusikan kepada peserta yang sudah duduk-duduk di atas tikar sambil menata makanan. "Terlalu rajin lo, Sha," komentar Agatha. Meski demikian, ia juga masih bertahan di dekat Shana dan membantu sobatnya. Menuang minum ke dalam gelas-gelas itu tidak membutuhkan waktu lama. Maka setelah itu semua beres, Shana dan Agatha mengambil tempat untuk duduk di antara Verrel dan Arthur. Memang kedua pemuda itu sudah duduk di sana lebih dulu. "Di sini panas banget," keluh Agatha. "Bentar lagi udah sore," balas Verrel, "udah mulai turun mataharinya." "Tapi yang namanya di pantai itu tetap aja panas kalau siang. Pasirnya aja panas." Agatha kembali ngotot. Verrel kembali menimpali, "Tapi kan lo nggak duduk di pasir. Lo duduk di atas tikar." Shana menyodorkan dua potong semangka ke arah Verrel dan Agatha sembari berujar, "Nih makan, jangan ribut terus kalian." "Iya, yang hubungannya paling harmonis, lo sama Arthur," ledek Verrel. Shana memberikan cengiran kuda. Melihat Verrel dan Agatha yang tak lagi saling bersilat lidah, ia pun turut mengambil semangka untuk dirinya sendiri dan mulai mengunyahnya. "Seger ya," gumam Shana setelah mencicipi semangka itu. Ia menggumam sembari menoleh ke arah Arthur. Arthur tampak sudah menghabiskan sepotong semangka hingga tandas—tapi tetap menyisakan kulitnya. Pemuda itu lantas membalas gumaman Shana dengan anggukan tanda setuju. Tapi pandangannya tak tertuju pada Shana. "Lo lagi sibuk lihat apa?" Shana jadi ikut celingak-celinguk mengikuti arah pandangan Arthur. Arthur mengerjap singkat dan menggelengkan kepala. "Bukan apa-apa," katanya. Shana mencebikkan bibirnya. Gadis itu tampak tidak puas dengan jawaban Arthur. Rupanya Arthur cukup peka dengan itu. Tak ingin membuat Shana memasang wajah cemberut, ia pun kembali berkata, "Gue tadi lagi merhatiin ruang kesehatan." "Memangnya di sana ada apa, Ar?" Shana menaikkan sebelah alisnya. "Enggak ada apa-apa, Sha. Cuma gue lagi mikirin nasib orang-orang di dalamnya," jawab Arthur. Shana ber-oh singkat. Ia tidak bisa banyak berkomentar dan hanya memasang wajah prihatin. Namun pembicaraan di antara Shana dan Arthur tak berlanjut. Itu karena sesi makan sudah dimulai dan perhatian mereka pun teralihkan. *** Saat petang tiba, mendadak suasana huru-hara kembali melanda. Hujan badai kembali menerjang pantai. Dan yang lebih buruk, aliran listrik mendadak padam. Beberapa peserta mengungsikan diri ke aula karena merasa tak aman jika tetap tinggal di tenda. Mereka lantas berdiam di sana sembari mendengarkan instruksi dari panitia. Sementara itu, Arthur dan ketiga kawannya terjebak di ruang kesehatan. Tadi sehabis makan siang dan berbenah, Karenina memanggil Agatha untuk datang ke ruang kesehatan. Bukannya terjadi apa-apa, hanya saja Karenina meminta Agatha mengecek keadaan para peserta makrab yang dirawat di sana dan memastikan bahwa kondisi mereka stabil atau kalau bisa membaik. Dan tentu saja, Agatha enggan pergi ke ruang kesehatan bila sendirian saja. Apalagi ia masih kesal dengan Hea yang dalam hal ini adalah bagian dari panitia. Jadi bisa dipastikan, sebagai imbasnya, Agatha juga enggan berurusan dengan panitia-panitia lainnya. Namun karena Agatha masih punya rasa kemanusiaan, gadis itu akhirnya setuju memenuhi permintaan Karenina. Karena enggan pergi sendiri, ia jadi menyeret-nyeret ketiga temannya untuk turut serta pergi dengannya. Setibanya Agatha dan rekan-rekannya di ruang kesehatan, Agatha nyatanya tak hanya mengecek keadaan. Gadis itu justru berkecimpung dengan kegiatan seperti mengganti perban atau membantu peserta yang sakit untuk makan dan minum obat. "Udah berapa lama kita di sini?" tanya Shana sambil menengadahkan tangannya ke luar, menampung air hujan yang turun dengan derasnya. "Udah bosen lo?" celetuk Verrel yang duduk-duduk di matras yang ada di ruang kesehatan dan letaknya tak jauh dari Shana. "Gue pengen pipis," kata Shana, lantas detik selanjutnya gadis itu bergidik. "Udah nggak tahan." "Tadi sebelum hujan gue tawarin lo buat ke kamar mandi, lo nya ogah ikut," balas Verrel lagi. Shana memutar bola matanya sembari menggusah napas dengan gelisah. Ya memang, tadi sebelum hujan deras ini turun, Verrel sempat ke kamar mandi untuk menemani Agatha. Dan Verrel pun sudah mengajak Shana. Namun tadi Shana benar-benar belum memiliki keinginan untuk pergi ke kamar mandi. Dia baru mendapat panggilan alam itu beberapa menit lalu. "Ah, sial," rutuk Shana sambil menjejakkan kaki ke lantai. Arthur yang mendengar Shana merutuk itu pun menoleh. Pemuda itu berhenti menghitung dan menata tabung oksigen portabel dari dalam kardus. "Kenapa, Sha?" tanya Arthur kemudian. "Temenin gue ke kamar mandi yuk, Ar," pinta Shana. Wajah gadis itu sudah pucat dan dipenuhi bulir-bulir keringat. Ia sudah tidak sanggup kalau harus menahan rasa ingin buang air lebih lama lagi. Arthur bangkit dari posisi duduk bersilanya. Pemuda itu lantas berjalan menghampiri Shana dan melongokkan kepala ke luar ruang kesehatan. "Hujannya deras dan angin masih kencang. Kalau kita keluar sekarang, kita bakal basah kuyup meski udah pakai payung atau jas hujan." Mendengar itu, Shana rasanya hampir menangis. Masa Arthur enggan menemaninya? Lalu bagaimana nasib Shana? Bagaimana kalau dia benar-benar tidak kuat menahan dan akhirnya membuat malu di sana? "Ada payung atau jas hujan?" tanya Arthur dengan mengeraskan suara hingga didengar oleh Karenina dan Susan selaku panitia yang bertanggung jawab atas ruang kesehatan. Susan menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Cari aja di plastik hitam di dekat kursi plastik itu. Kayanya kemarin ada yang nyimpan payung di sana." Shana tanpa banyak bicara langsung mencari payung atau jas hujan di tempat yang Susan maksud. Dan rupanya, di sana hanya ada satu payung tersisa. Ukurannya memang cukup besar, namun tidak lantas cukup memadai jika digunakan untuk dua orang. Namun ketika Shana sedang sibuk memikirkan bagaimana cara agar ia dan Arthur bisa pergi ke kamar mandi dengan selamat, Arthur justru sudah bertindak. Pemuda itu melepas jaketnya dan meminta Shana untuk memakainya. "Lo berani nerjang hujan?" tanya Arthur. "Kalau berani, kita keluar sekarang. Lo pakai jaket gue. Gue yang pegangin payungnya." Shana meringis kecut. Ia jadi tak enak hati karena membuat Arthur lagi-lagi berkorban untuknya. "Udah, ayo," ujar Arthur lagi karena Shana malah bengong. Shana menganggukkan kepala dan bergegas mengenakan jaket pinjaman dari Arthur. Setelah itu, keduanya tampak berlarian di bawah hujan, mengandalkan satu payung untuk berlindung. "Hati-hati, jalannya pasti licin," teriak Agatha dari ambang pintu ruang kesehatan. Setelah Shana dan Arthur menjauh, gadis itu pun kembali masuk ke dalam tenda. Agatha melanjutkan kegiatannya di sana. Ia baru selesai membantu Seva melepas bidai di kakinya yang cedera. Gadis itu pun memastikan lagi pada Seva soal keputusannya itu, "Lo yakin mau lepas bidai? Gue nggak tau apakah kaki lo cuma cedera biasa atau patah tulang." "Iya, Tha, lepas aja. Gue susah gerak kalau pakai bidai ini. Apalagi kalau mau turun ranjang, ribet banget." Seva menanggapi sambil berusaha mengubah posisinya menjadi duduk bersandar di tumpukan bantal yang ada di belakang punggungnya. Agatha manggut-manggut dan membalas, "Kan memang itu tujuan bidai, meminimalisir pergerakan. Biar kalau ternyata tulang lo patah, nggak makin parah." Seva hanya memberikan ringisan dan tetap tidak berubah pikiran. Itu membuat Agatha mengalihkan perhatiannya pada hal lain yang ada di sana sambil sesekali memperhatikan ke luar ruang kesehatan. *** Meski dengan susah payah, akhirnya Shana dan Arthur berhasil menginjakkan kaki di halaman di depan kamar mandi. Jangan ditanya bagaimana kondisi mereka setelah menerjang hujan deras disertai angin kencang. Mereka benar-benar basah kuyup karena payung yang mereka gunakan hampir tidak berfungsi untuk menghalau air yang datang dari segala arah karena menyesuaikan arah angin. “Gue tunggu di sini ya,” kata Arthur saat ia menginjakkan kaki di tangga menuju ke kamar mandi putri. Shana langsung menganggukkan kepala. Ia berlari-lari kecil menuju ke salah satu bilik kamar mandi. Tak membuang banyak waktu, gadis itu sudah menghilang di balik pintu bilik kamar mandi. Arthur menunggui Shana dengan sabar meski pemuda itu juga diam-diam menggigil kedinginan. Dan untuk mengalihkan perhatian dari rasa dingin yang menyerang tubuhnya, Arthur pun mengedarkan pandangan untuk memandangi sekitar. Tentu saja, hujan deras membuat jarak pandang Arthur terbatas. Namun pemuda itu masih dapat samar-samar melihat ke arah ruang penyimpanan mesin air. Arthur mengernyit dalam karena merasa bahwa ia baru saja melihat cahaya merah kekuning-kuningan dari dalam ruangan itu. Arthur tentu keheranan. Apa yang barusan ia lihat? Dari mana asal cahaya itu? Mengingat listrik sedang padam, cahaya itu sepertinya berasal dari senter atau obor dan bukannya lampu di ruang penyimpanan mesin air. Apakah itu berarti ada orang di dalam sana? Di situasi seperti ini, itu cukup mengherankan. Bukan kah mayoritas peserta ada di aula? Bahkan panitia juga berdiam di sana. Lalu siapa orang yang ada di ruang penyimpanan mesin air itu? Sorot waspada tampak di mata Arthur. Ia menoleh ke bilik kamar mandi tempat Shana berada. Shana sepertinya belum akan keluar dari sana dalam waktu dekat. Alhasil dengan nekat, Arthur berlari ke arah ruang penyimpanan mesin air. Pemuda itu lantas merapat ke sana namun tidak membuat keributan hingga kedatangannya bisa menyita perhatian. Arthur melongokkan kepala ke dalam ruangan itu tetapi yang bisa ia lihat hanyalah bayangan-bayangan berwujud orang yang tampak menggerombol dan sedang mengobrol. Sulit bagi Arthur menangkap pembicaraan di antara orang-orang itu. Namun beberapa kalimat berhasil Arthur dengar. Tak jelas memang, makanya pemuda itu masih harus meraba-raba. Sayangnya, apa yang Arthur lakukan itu berhasil disadari oleh orang-orang yang ada di dalam ruang penyimpanan mesin air. Hal ini terjadi lantaran payung yang Arthur bawa terbang begitu saja masuk ke dalam ruang itu setelah tertiup angin dan Arthur tidak memegangnya dengan erat. “s**t!” rutuk Arthur karena posisinya yang tak lagi aman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD