R 3.5

1981 Words
Agatha yang masih diam di tempatnya hanya geleng-geleng kepala, takjub melihat Verrel dan Arthur yang memiliki jiwa sosial yang tinggi—dalam artian yang membuat Agatha kesal. Sementara jika kembali ke Arthur dan Verrel, keduanya masih mencari-cari tangga di aula. Mereka bertanya kepada orang yang mereka jumpai—termasuk panitia—dan meminta mereka untuk membantu menemukan tangga. “Ada sih di samping dekat kamar mandi. Tapi tangga dari bambu dan kayu itu,” jawab Cairo sembari menunjuk ke arah kamar mandi di dekat aula. Ia kemudian bertanya dengan polosnya, “Emang kenapa kalian butuh tangga?” “Buat ngeluarin Hea dari sumur,” jawab Verrel. Ia balas bertanya, “Lo nggak tahu?” “Hea?” Mata Cairo tampak terbelalak. Tak menanggapi keterkejutan Cairo, Arthur dan Verrel justru melipir pergi. Mereka tidak punya waktu untuk kebanyakan berbasa-basi. “Tunggu-tunggu,” teriak Cairo sambil mencegat Arthur dan Verrel. Setelah berhasil mencegat salah satu dari mereka yakni si Verrel, Cairo pun kembali bertanya, “Hea masuk sumur? Sumur di mana? Emang ada sumur di sekitar sini?” Verrel memutar bola mata. Ia pun mengoreksi ucapannya tadi, “Bukan sumur, sih.” “Terus?” cecar Cairo membuat Verrel tak bisa membantu Arthur yang tengah kesusahan menggotong-gotong tangga. “Lubang sedalam kurang lebih dua meteran,” terang Verrel. Pemuda itu lantas langsung berlarian menyusul Arthur tanpa memberi kesempatan untuk Cairo mengganggunya lagi. Verrel meraih salah satu sisi tangga dan mengangkatnya untuk membantu meringankan beban Arthur. Yang tak disangka, Cairo juga menghampiri Arthur dan Verrel lalu membantu untuk menggotong tangga. Di satu sisi, itu memang meringankan beban yang Arthur dan Verrel pikul. Namun karena Cairo kurang kompak dengan Arthur dan Verrel, pemuda itu cenderung membuat langkah mereka jadi lambat. Apalagi Cairo masih berusaha mengorek informasi, membuat pemuda itu jadi tidak fokus melangkah karena terlalu banyak bicara. Akhirnya setelah beberapa saat berjalan, mereka tiba juga di tempat Hea jatuh tadi. Tangga langsung diturunkan ke dalam lubang di mana Hea berada. Sementara beberapa orang di sana menjaga agar tangga stabil ketika Hea harus menapakinya. Saat sudah siap, Hea pun menaiki tangga perlahan. Tangga sempat bergerak karena pasir di sekitar lubang itu juga bergerak. Namun Hea tampak tak gentar dan tetap berusaha keluar. Helaan napas dalam-dalam Hea lakukan ketika ia sudah kembali menginjakkan kaki di atas permukaan yang semestinya, bukan di dalam lubang seperti tadi. Gadis itu sempat limbung sambil memegangi kepalanya. Karena barangkali, ia baru saja terjebak di tempat sempit selama beberapa waktu dan kekurangan oksigen atau meski kelihatan tenang namun sebenarnya ia tetap panik dan takut juga. Cairo tampak maju dan berniat membantu memapah Hea. Namun bantuan Cairo itu ditepis begitu saja oleh Hea. Hea mengucapkan terima kasih kepada Arthur, Verrel, dan orang-orang yang membantunya tadi. Kemudian ia langsung berjalan ke arah aula dengan langkah lebar-lebar, seperti orang yang berniat kabur dari sana. Cairo rupanya merasa cukup tengsin karena Hea menepis tangannya begitu saja. Ia pun berusaha mengekori gadis itu dan mengajaknya bicara. Sementara di sisi lain, satu per satu orang di TKP jatuhnya Hea mulai berjalan pergi. Masing-masing dari mereka kembali ke tempat mereka berkegiatan tadi. *** Yang masih bergeming di sana adalah Arthur, Verrel, Shana, dan tentu saja Agatha. Meski demikian, suasana di antara mereka terasa canggung dan tegang. Ini mengingat tadi mereka sedang terlibat dalam pertengkaran. Tapi Arthur kali ini mengalah. Meski dengan nada suara yang terdengar aneh dan kaku, pemuda itu mencoba berbasa-basi, "Tadi kenapa kalian bisa tahu kalau Hea jatuh ke sini?" Agatha mendengkus. Dengan nada sedikit marah-marah, Agatha berujar, "Tau lah, gue sama Shana lihat waktu dia kejeblos masuk ke lubang ini." Shana berdeham dan ia pun memperjelas penjelasan dari Agatha. Ia kan memang tidak marah kepada siapa pun, jadi ia masih bisa diajak ngobrol tanpa harus saling ngotot. "Tadi kami jalan di setapak bawah. Terus dengar deh suara berisik dari sini. Ada suara sesuatu jatuh. Makanya kami ke sini dan tahu kalau ternyata ada orang masuk ke dalam lubang ini." "Dan sialnya, yang jatuh itu Hea. Kalau tahu itu dia, kayanya mending nggak gue samperin deh." Jiwa psikopat Agatha mulai menampakkan diri. Shana mendesis dan berujar, "Kalau tau yang jatuh Hea, terus lo mau biarin dia di sini gitu? Nggak ada orang yang tahu selain kita. Jahat lo, Tha!" Agatha menyikut rusuk Shana. Ia pun membela diri, "Tapi kan akhirnya nggak jadi. Gue tetap teriak dan bantuan berdatangan kaya tadi." Shana meringis sambil geleng-geleng kepala, pasrah saja punya sahabat yang modelnya seperti Agatha. Tak seperti biasanya, Verrel hanya diam sambil mengeraskan rahangnya. Setelah perbincangan di antara teman-temannya selesai, Verrel pun mengajak Arthur untuk pergi dari sana. Iya, hanya Arthur saja dan tujuan mereka adalah aula. Agatha yang merasa kesal maksimal pada kelakuan Verrel pun kembali mencak-mencak. Ia menuduh Verrel yang tidak-tidak. "Lo ke sana mau memastikan Hea baik-baik aja, kan? Kalau dia enggak baik-baik aja, lo bakal berbaik hati melakukan segala hal yang dia minta! Bagus, ya, semua aja memikirkan Hea dan Hea. Udah tergila-gila lo sama si Hea-Hea itu?" "Apaan sih? Nggak usah ngaco." Verrel menoleh ke arah Agatha dan jadi ikutan sewot. Arthur pun mendorong bahu Verrel agar mereka jadi pergi ke aula. Sementara Shana meng-handle Agatha dan meminta gadis itu berhenti marah-marah tidak jelas. Shana menanyai Agatha, "Lo mau ke aula juga atau ke mana?" Agatha memasang wajah cemberut. Dengan berat hati, ia menjawab, "Ya udah ke aula." Shana mengiakan. Namun gadis itu meminta agar Agatha tidak berulah dengan cara marah-marah lagi. Akhirnya setelah Agatha berjanji untuk bersikap lebih tenang, Shana dan Agatha pun melangkah barang beberapa meter di belakang Arthur dan Verrel untuk menyusul kedua pemuda itu. Saat tiba di aula, barulah kedua kubu itu bersatu. Karena aneh saja jika mereka terlihat pecah. Padahal di situasi seperti ini, kekompakan adalah salah satu yang perlu diperhatikan. Di aula itu, mereka dihampiri Ganendra. Pemuda itu langsung bertanya-tanya perihal Hea yang datang-datang sudah dalam suasana hati yang tidak baik. Setelah mendapat penjelasan singkat dari Arthur, Ganendra pun tampak paham. Namun keadaan aula yang semula tenang itu, kini terdengar gaduh karena perseteruan yang terjadi di antara para panitia. Ganendra menjelaskan bahwa Hea emosi dan marah-marah kepada panitia yang ada di sana, terutama Cairo. "Gue udah bilang padahal buat nggak teriak-teriak," ujar Ganendra sembari menggaruk kepalanya dan memberikan cengiran kuda. "Malu kalau pertengkaran ini didengar peserta." "Ribut soal apa?" sahut Agatha. Mendadak, mata gadis itu tampak berbinar. Tentu saja perkara seperti ini memang menarik baginya. Ganendra menggumam lirih. Tapi ia lantas menggelengkan kepala. "Hmm, apa ya? Tanya Hea aja kalau penasaran. Karena gue rasa, gue nggak berhak beber-beberin masalah ini." Verrel menjentikkan jarinya. "Betul banget, Ndra. Udah, jangan digubris itu pertanyaan nggak bermutu dari Agatha." Agatha mendengkus keras. Tangannya terkepal, siap melayangkan tinjuan ke wajah Verrel yang membuatnya muak. Namun Arthur maju selangkah untuk menghalangi Agatha dan Verrel serta secara tidak langsung mematikan percikan api permusuhan yang mulai muncul lagi di antara keduanya. Ia pun pura-pura mengobrol dengan Ganendra, meski obrolan mereka tidak penting-penting amat. Tak lama kemudian, Hea keluar dari ruang panitia dan berjalan menuju ke luar. Gadis itu sedikit terkejut melihat ada sejumlah orang di aula. Apalagi mereka adalah peserta. "Kalian sejak kapan di sini?" tanya Hea sambil berjalan menghampiri Arthur, Verrel, Shana, Agatha, dan Ganendra. Bukannya menjawab pertanyaan Hea, Ganendra justru berkata, "Lo tadi ngomongnya keras banget, Ya. Mereka dengar lho kamu ngomel-ngomel di dalam." Hea terdiam. Raut wajahnya berubah menjadi kusut. Lantas beberapa detik kemudian, ia berdecak dan berujar, "Ya udah lah, mau gimana, Ndra. Gue emosi dan udah jengkel banget. Kalian pura-pura nggak pernah dengar aja soal keributan tadi." Ganendra tak bisa membalas ucapan Hea. Ia hanya menarik napas dalam dan mengangguk perlahan. Sebelum Hea melanjutkan langkah, Agatha berdeham dan buka suara. Gadis itu teringat ucapan Indi dan merasa perlu untuk membicarakan itu. "Gue dengar-dengar, Hea ada rencana nyuruh si Cairo sama Rick buat renang ke pulau seberang." Tak disangka-sangka, Verrel menimpali ucapan Agatha, "Wah, seriusan? Gue sama Arthur baru ngomongin soal renang-renang ini tadi. Kebetulan banget, Ya. Jadi rencana itu udah pernah dibahas?” Agatha langsung dibuat melongo. Verrel ini apa-apaan, sih? “Hmm,” gumam Hea singkat sebagai balasan ucapan Verrel. “Tapi itu cuma obrolan sambil lalu, kok. Gue nggak mungkin beneran nyuruh Cairo sama Rick keluar dari pulau ini dengan cara berenang.” “Iya, lah, sinting kalau Cairo sama Rick beneran berenang ke pulau seberang.” Agatha menyerobot begitu saja. Sepertinya karena nada nyolot yang Agatha gunakan, Hea tak lagi mampu menahan diri untuk diperlakukan begitu. Hea pun merangsek mendekati Agatha dan menarik kaus yang Agatha kenakan. Gadis itu menatap tajam ke arah Agatha, seolah ia memperlihatkan bahwa Agatha sudah berbuat kesalahan ketika mengusiknya. Melihat keadaan di antara Agatha dan Hea semakin memanas, teman-teman mereka yang ada di sana pun langsung bergerak melerai dan memisahkan keduanya. Ganendra menarik mundur Hea. Shana dan Verrel menahan agar Agatha tetap di tempatnya. Dan Arthur, pemuda itu menengahi keduanya. "Lo bisa nggak sih berhenti meremehkan gue?" salak Hea sambil menunjuk-nunjuk ke wajah Agatha. Agatha malah tertawa mengejek, sengaja membuat Hea semakin merasa diremehkan. “Kan, memang kerjaan lo nggak becus sebagai panitia yang ngurusin makrab ini,” kata Agatha kemudian. Hea ternganga. Gadis itu tidak percaya bahwa ia akan mendengar penilaian seperti itu. Jadi Hea juga tak ingin diam saja. Ia pun kembali berusaha menjangkau Agatha. Namun karena banyak orang yang menahannya melakukan kekerasan secara fisik, ia pun hanya mampu membalas ejekan Agatha itu dengan kata-kata. “Lo bilang gue nggak becus? Gimana sama panitia yang lain? Emangnya mereka becus ngurus ini?” Agatha masih tak mau diam. Sampai-sampai Verrel yang berusaha membungkam mulutnya justru terkena gigitan Agatha. “Tha,” kesal Shana melihat Verrel meringis kesakitan. Namun Agatha tak menggubris kekesalan Shana. Justru itu menjadi kesempatan ketika Verrel melepaskan tangan dari mulutnya, Agatha jadi bisa bicara dengan leluasa. “Tapi lo mengakui kan kalau lo nggak becus? Lo pikir, lo lebih baik dari panitia lain?” “Lo pikir gue mau ada di posisi ini?” Hea membalas kata-kata Agatha sambil berusaha meraih rambut Agatha untuk ia jambak. Agatha memicingkan matanya. Jujur saja, ia tidak paham kenapa Hea malah membalikkan kata-katanya. Bukankah menjadi panitia acara makrab ini adalah pilihan Hea sendiri? Tidak pernah Agatha dengar bahwa ada unsur paksaan dalam perekrutan panitia. Tapi belum sempat Agatha kembali buka suara, Arthur lebih dulu menyela. Ia bertanya pada Hea perihal yang sama dengan yang ingin Agatha tanyakan. “Ada unsur paksaan dalam perekrutan panitia?” Hea menoleh ke arah Arthur. Lantas gadis itu menggelengkan kepala. “Bukan itu maksud gue,” ralatnya. “Terus?” tanggap Arthur. “Soal jadi panitia, gue secara sukarela mengajukan diri dan diterima sama yang lain. Tapi gue nggak nyangka kalau gue bakal di posisi sulit kaya gini. Diremehin peserta, disepelein panitia. Yang gue lakukan kelihatan serba salah. Padahal kalau kalian tahu, orang yang suka mengganti-ganti aturan, bikin rusuh keadaan, itu si Cairo,” jawab Hea. Arthur menoleh ke arah Ganendra untuk mendapatkan klarifikasi kebenaran ucapan Hea. “Ya, gitu deh,” balas Ganendra sambil meringis. “Emang Cairo ngapain aja?” Kali ini, Shana yang angkat bicara. Hea lantas terpancing untuk membeberkan masalah internal panitia. “Cairo sering banget mengubah aturan, mengubah rencana, dan bikin segala sesuatunya berjalan atas mau dia. Mending kalau itu dikomunikasikan ke teman-teman yang lain, lah ini enggak. Panitia nggak semua tahu apa yang dia lakukan. Makanya, sering terjadi miskom di antara panitia. Bahkan gue pun nggak tahu setiap hal yang terjadi di sini. Ya mungkin itu bisa dianggap sedikit wajar kalau nggak semua hal harus gue tahu. Tapi kalau akhirnya jadi kaya gini, gue ikut repot juga, kan?” Mendengar ucapan panjang lebar yang Hea lontarkan itu, semua orang di sana terdiam. Termasuk Agatha, gadis itu memilih untuk tak membalas lantaran bingung harus bicara apa dan berdiri dengan tenang di balik punggung Shana. “Udah lah ya, gue males lanjut ribut-ribut,” kata Hea. Ia pun bersiap pergi dari sana. “Gue mau nyiapin makan siang. Kalian lanjutin aja aktivitas kalian sebelumnya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD