R 3.4

1936 Words
Ketika hari beranjak siang dan halaman di depan aula resort sudah panas, para peserta pun mulai menyingkir dari sana. Beberapa memilih berteduh di aula, sisanya kembali ke tenda. Salah satu kelompok peserta makrab yang berteduh di aula itu adalah Arthur dan kawan-kawannya, minus Indi dan Rick karena mereka diajak Cairo pergi ke suatu tempat. Arthur, Shana, Verrel, dan Agatha duduk sembari ongkang-ongkang kaki. Mereka saling diam karena panas matahari di luar sana membuat mereka merasa gerah dan tidak nyaman. Hingga menit demi menit berlalu, akhirnya ada di antara mereka yang buka suara. Orang itu adalah Agatha. Tak hanya bersuara lewat mulut, gadis itu juga menyuarakan apa yang ia rasakan melalui bunyi perut. "Kapan ya makan siangnya siap? Gue udah lapar," keluhnya. "Sebentar lagi," balas Verrel sok tahu. Agatha hanya melirik sekilas. Bibirnya semakin manyun dan cemberut. Gadis itu tak membalas apa-apa karena merasa Verrel hanya menyemangatinya dengan harapan semi palsu. Arthur tampak bicara berbisik-bisik dengan Shana. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi wajah keduanya tampak serius. "Oh, jadi sekarang ngobrolnya cuma berdua aja?" sindir Agatha. "Gue nggak diajak?" Verrel menggenggam telapak tangan Agatha, memberi isyarat agar Agatha tak terlalu banyak bicara. Bagaimana jika pembahasan Arthur dan Shana memang topik pribadi? Masa iya itu harus digembar-gemborkan hingga semua orang di sana tahu? "Apa, sih?" Agatha justru balas mendesis ke arah Verrel. Gadis itu sudah memasang wajah siap marah. Arthur membuang napas dengan agak keras. Ia pun angkat bicara, "Gue sama Shana nggak lagi ngomongin apa-apa." "Tuh," kata Verrel. Entah kenapa, pemuda itu merasa menang. "Lo aja yang kepo." Agatha memelototi Verrel. Gadis itu pun mendengkus kasar lalu melengos. Alih-alih memperpanjang urusan dengan Verrel, ia mengajak Shana serta Arthur bicara. Topik yang Agatha angkat ini tak jauh-jauh soal kutukan alam yang seharian ini ia bahas tiada henti. Sepertinya gadis itu belum merasa puas karena pemikirannya itu belum dipercayai orang. Makanya, ia masih dengan getol menyampaikan apa yang ia pikirkan. Namun setelah Agatha selesai bicara, yang menyahut justru Verrel. Pemuda itu memancing emosi Agatha lagi, "Tha, lo tuh halu. Kejadian kaya gini nggak mungkin karena alam. Masa iya alam bisa bikin orang kena alergi, gantung diri, hilang waktu pergi sendiri, jatuh dari tebing, kena ledakan kompor waktu party, dan terakhir kalau masuk hitungan, ya kejadian barusan waktu si Rebecca ketiban kardus isi cangkang kerang dari atas lemari. Nggak masuk akal." Shana dan Arthur yang meski diam saja namun tetap mendengarkan perbincangan mereka pun memasang tampang heran. Shana berceletuk, "Bagus juga pemilihan diksi lo, Rel. Bisa bersajak gitu." Verrel menepuk bahunya dengan bangga. Sementara Agatha yang melihat itu justru semakin kesal saja. Dengan keras, Agatha melayangkan tinjunya ke d**a Verrel dan membuat pemuda itu mengaduh kesakitan. Nyatanya perdebatan itu terus berlanjut. Hingga Shana dan Arthur sesekali harus bergantian melerai agar tidak ada KDRT di sana. Sampai akhirnya, Verrel melompat dari tempat ia duduk dan menapakkan kaki di tanah. "Ini tuh ulah manusia, Tha! Nggak mungkin kebetulan, ulah setan, atau semacamnya." Verrel tetap bersikeras. Agatha menyilangkan tangannya, bersikap menutup diri. "Kita ada di alam, gue yakin ini cuma kebetulan. Kebetulan kecelakaan ini terjadi karena alam mengutuk kita. Entah karena di antara panitia dan peserta ada yang bikin salah atau memang kita semua lagi sial aja. Udah lah, percaya sama gue, kita nggak akan kaya begini kalau alam semesta merestui kegiatan makrab kita," gumam Agatha dengan yakin di tengah perdebatan sengit antara dirinya dengan Verrel. Gadis itu menolak kalah dari Verrel. Meski semakin lama, argumennya semakin terdengar aneh. Shana menggusah napas dengan keras. Ia sudah lelah untuk memisahkan kedua orang yang terus beradu mulut itu. "Gue nggak bisa komentar apa-apa. Kalian mau ribut sampai kapan? Gue capek harus menengahi kaya gini," ujar Shana sembari mengangkat tangannya tanda menyerah dan tak akan lagi ikut-ikutan ke dalam perdebatan antara Agatha dan Verrel. "Oke, gue anggap Shana netral," kata Verrel tiba-tiba. Karena ucapan Verrel itu, Shana sukses dibuat terheran-heran dan mempertanyakan kenapa ia jadi dibawa-bawa. Verrel kembali angkat bicara, "Sekarang tinggal lo, Tha!" "Apa?" Agatha menantang Verrel dengan tangannya yang kini berkacak pinggang dan dagunya terangkat dengan tak gentar. "Pikirin lagi, semua kesialan yang menimpa itu timing-nya terlalu pas untuk jadi sekadar kebetulan. Lo kira ini sinetron azab, hah? Kalau emang peserta celaka karena ada yang buat salah terus dikutuk sama penunggu pulau ini, ya kecelakaannya nggak dalam waktu berdekatan juga kali, Tha. Kalau ini sih, kayanya udah direncanakan, dijadwal dengan matang sampai bisa berurutan gitu." Verrel tetap berkeras. Arthur berdeham dua kali dengan suara yang dikeraskan. Sengaja memang, ia ingin meminta teman-temannya diam sejenak. Saat teman-temannya, sudah tidak ribut seperti tadi, ia mulai angkat bicara, "Gue setuju sama Verrel. Jelas ada yang nggak beres di sini!" "Sebelah mana yang nggak beres?" Agatha menyipitkan matanya. Ia mencium bau-bau bahwa Arthur memihak Verrel. Ini tidak asyik! Shana kan tadi tidak membelanya. Itu berarti Agatha harus melawan dua orang sekaligus. Arthur meneguk salivanya. Dibentak sedikit oleh Agatha membuatnya merasakan ada di posisi Verrel yang selalu serba salah. Meski demikian, ia tetap memutuskan untuk ada di pihak Verrel dengan menukas, "Semuanya nggak beres. Ini ulah manusia!" "Kalau gitu, salahin Verrel karena udah menjebak kita ke dalam kegilaan ini!" bentak Agatha. Emosi gadis itu sudah tampak di ubun-ubun. Ia berbalik pergi sembari menghentak-hentakkan kaki. Shana yang melihat sahabatnya pergi jadi berusaha menyusul. Bayangan soal Seva yang pergi sendiri dan berakhir celaka menghantui Shana. Shana tidak ingin melakukan kesalahan yang sama. Ia tidak ingin membiarkan Agatha pergi-pergi sendiri di tengah kondisi yang membingungkan dan mengkhawatirkan ini. "Agatha!" pekik Shana saat jaraknya dan Agatha terlampau jauh. *** Sepeninggal Agatha dan Shana, Verrel menarik Arthur untuk kembali ke tenda mereka. Sepertinya mereka terlalu gaduh di aula. Hingga tanpa mereka sadari, beberapa orang di sana mulai curi-curi dengar. Setelah beberapa saat berjalan, mereka sampai juga di tujuan. Mereka masuk ke dalam tenda dan melanjutkan pembicaraan mereka yang belum selesai di sana. Karena tidak ingin ada orang yang tidak berkepentingan menguping pembicaraan mereka, mereka jadi berbicara sembari berbisik-bisik. "Kita harus segera menemukan akses keluar dari pulau ini," cetus Verrel. Arthur manggut-manggut, "Sure, itu juga yang gue mau." Hidung Verrel tampak kembang-kempis dengan rahang yang mengeras. Ia pun kembali berujar dengan emosi meluap-luap, "Kita nggak bisa nunggu sampai seminggu lagi. Gue nggak peduli kalau di sini nggak ada sinyal, nggak ada listrik, dan nggak ada alat komunikasi yang mendukung." Arthur gatal untuk tidak mengoreksi. Ia pun menginterupsi, "Kita nggak nunggu seminggu lagi. Kalau sesuai rencana, dua hari lagi kita balik. Dan yah, di sini emang nggak ada sinyal. Tapi bersyukurnya, listrik masih masuk ke sini. Itu tetap perlu diingat." Verrel memutar bola matanya mendengar koreksi dari Arthur itu. "Whatever lah," katanya, "gue juga nggak peduli sama fakta bahwa sampai seminggu yang akan datang, nggak ada kapal yang akan berlayar. Pokoknya kita harus mencari jalan." Arthur hanya bisa menggusah napas melihat Verrel yang berkata-kata dengan amarah yang sudah berkobar-kobar. Perasaan, ia barusan sudah mengoreksi ucapan Verrel. Namun pemuda itu tetap saja bicara semaunya. Tidak mendengar balasan apa-apa dari Arthur, Verrel pun lanjut mengoceh, "Mungkin kita bisa kirim sinyal SOS atau kalau perlu ada dari kita peserta makrab yang berenang ke pulau seberang. Gue rasa, usaha kita kemarin itu memang kurang totalitas." Arthur setuju dengan ucapan Verrel yang terakhir itu. Namun Arthur berusaha tidak semakin menyulut api yang sudah berkobar di diri Verrel. la meredakan kemarahan Verrel dengan mengatakan bahwa dirinya punya rencana. "Kita nggak bisa gegabah, Rel. Gue amati, saat kita mencari jalan keluar dari pulau ini, maka secara kebetulan ada saja peserta makrab yang tertimpa bahaya. Intinya, kecelakaan ini masih akan terus menimpa, entah sampai kapan dan giliran siapa. Ingat, kita masuk ke sini bareng-bareng. Jadi kita juga harus keluar bareng-bareng. Jangan karena kita gegabah ingin pergi dari tempat ini, kita mengorbankan nyawa teman kita. Jangan dengan perencanaan yang kurang matang buat cari bantuan, kita justru mengorbankan mereka-mereka yang jadi volunteer atau siapa pun itu." Verrel menggumam mengiakan. Ia pun berulang kali menarik napas dan mengembuskannya dengan berat. Verrel tak lagi bicara. Namun sepertinya kini suasana hatinya sedikit memburuk. "Anjir, gue emosi banget gara-gara debat sama Agatha tadi." "Sabar, Rel, kita harus pakai kepala dingin buat menghadapi situasi kaya gini. Gue juga lagi berusaha buat dinginin kepala. Biar bisa mikir jernih lagi," ucap Arthur dengan gaya tenangnya. Lalu secara mengejutkan, suara teriakan terdengar sesaat setelah Arthur berhenti bicara. Arthur sampai terlonjak kaget dan mundur sedikit ke belakang sebagai gerakan refleksnya. Sikap dingin dan datar Arthur yang biasanya itu mendadak sirna dan serta merta berganti sikap teramat waspada. Dan soal teriakan barusan, Arthur dan Verrel sama-sama familier dengan suara itu. Bagaimana tidak, sudah makanan mereka sehari-hari mendengar teriakan semacam itu dilontarkan oleh seseorang. "Shana, Agatha," ujar Arthur sembari keluar dari tenda. Refleksnya cukup cepat juga. Sehingga ia beranjak terlebih dahulu, baru kemudian diikuti Verrel. Mereka berlari ke sumber suara bersama dengan peserta makrab lainnya. *** Di tengah situasi tidak menentu seperti ini, teriakan tadi cukup menghebohkan seisi resort. Berbondong-bondong, mereka menuju ke sumber suara. Dan sampai di sana, mereka mendapati pemandangan yang cukup membuat orang memasang senyum meringis. Arthur dan Verrel yang tiba di sana lebih awal di banding yang lainnya pun kehabisan kata-kata. "Kok bisa?" tanya Verrel dengan alisnya yang terangkat tinggi. Pemuda itu heran sekali. Agatha mendengkus lalu melengos. Ia enggan menanggapi Verrel. Namun ia juga ingin angkat bicara. Akhirnya dengan nada ketus, Agatha berujar, "Tau tuh, tanya aja ke Hea. Gimana dia bisa terperosok ke lubang pasir kaya gini." "Jangan cuma ngobrol di atas sana. Bantu gue dong," pinta Hea berteriak-teriak dari dalam sebuah lubang—diduga sumur sedalam dua setengah meter yang sudah tidak ada airnya. Ia menjelaskan kondisinya, "Kalau kalian nggak cepet-cepet keluarin gue dari sini, gue bisa ketimbun pasir yang ada di sekitaran lubang." Verrel geleng-geleng kepala. Ia tidak habis pikir dengan kejadian yang super di luar kemampuannya untuk memperkirakan hal seperti ini akan terjadi. Arthur menepuk bahu Verrel agar pemuda itu turut maju dan menolong Hea keluar dari lubang pasir itu. Tak hanya Arthur dan Verrel sebenarnya yang maju, karena beberapa pemuda yang ada di sana juga langsung gerak cepat mengulurkan tangan memberikan bantuan pada Hea. Shana dan Agatha mengambil langkah mundur dengan tujuan memberi tempat bagi orang-orang yang datang untuk menolong Hea. Setelah cukup berjarak, Agatha langsung memulai sesi membicarakan orang dengan nada mendumal. "Lihat, kalau cewek cantik aja yang maju nolongin banyak banget. Padahal cuma masalah remeh kaya gitu. Kecemplung ke lubang doang. Suruh siapa jalan nggak lihat-lihat," celetuk Agatha. Shana mengernyit dalam. Ia pun menyikut rusuk sahabatnya itu. "Julid banget sih, Tha," balas Shana. Agatha mencebikkan bibirnya sembari mengedikkan bahu. Ia pun tidak memperpanjang lagi ocehannya itu. Kini ia berpangku tangan sembari memperhatikan proses evakuasi Hea dari dalam lubang pasir. Sayangnya, mengeluarkan Hea dari lubang itu bukan lah perkara mudah. Pasir di sekitar lubang yang diduga bekas penampungan air, sumur dangkal, atau semacamnya itu justru masuk ke dalam lubang ketika terinjak. Itu membuat orang-orang merasa khawatir jika mereka memaksa menarik Hea keluar, yang ada justru pasir itu longsor ke dalam lubang dan membuat Hea tertimbun di dalamnya. “Woi, lah, kita nggak bisa kaya gini,” seru salah satu pemuda yang berada di sana untuk membantu Hea. Arthur tampak mengerutkan keningnya. Setelah menggumam tak jelas, akhirnya ia bicara dalam rangka memberi usulan, “Ada tangga? Biar Hea naik pakai tangga dan kita menjauh dari sekitaran lubang ini.” Verrel pun garuk-garuk kepala sembari berusaha memikirkan di mana sekiranya mereka bisa menemukan tangga. “Cari di aula, Ar. Di sana kan segala macam perkakas ada,” usulnya kemudian. Arthur mengangguk sebagai balasannya. Ia pun segera meluncur ke aula tanpa banyak bicara. Sementara Verrel, pemuda itu dengan sigap menyusul langkah Arthur. Hingga keduanya berlarian seperti tengah mengikuti lomba lari cepat dan berlomba-lomba menuju aula.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD