Kegiatan membuat kerajinan dari cangkang kerang itu dimulai sejak pukul sepuluh pagi. Panitia menggelar kegiatan di pelataran yang ada di depan aula. Sengaja tak di dalam ruangan memang, biar lebih seru dan menyenangkan kata panitia.
Para peserta dibebaskan membuat apa saja. Yang penting, mereka bisa memanfaatkan dengan baik cangkang-cangkang kerang itu untuk dibuat menjadi karya. Lagi-lagi kata panitia, lumayan kan, itu bisa dijadikan buah tangan saat nanti pulang. Mengingat tempat liburan mereka bukan lah tempat umum yang banyak dikunjungi orang, tak ada yang menjual suvenir. Makanya pengunjungnya diminta membuat cendera mata sendiri. Kreatif sekali memang!
Empat sekawan ditambah Indi dan Rick duduk melingkar. Mereka mulai berkreasi dengan menyusun, menempel, menggabung-gabungkan cangkang kerang itu menjadi satu kesatuan yang utuh.
“Lo bikin apa?” Agatha tampak melebarkan matanya saat melihat apa yang Rick buat. Sama sekali tidak estetik di matanya.
“Lo nggak ngerti ya kalau di dalam seni itu ada yang namanya seni abstrak. Nah, ini salah satunya.” Rick tampak membela diri.
Indi yang duduk di antara Agatha dan Rick pun turun angkat bicara, “Ngawur banget lo, Rick. Abstrak sih nggak apa-apa, cuma ya seharusnya punya makna. Abstrak itu tetap ada seninya, bukan sembarangan dan ngaco kaya gini. Ini sih bukan abstrak, tapi asal!”
“Namanya abstrak itu nggak harus bermakna.” Rick tetap tak mau kalah. Pantang baginya mengakui bahwa karyanya dari cangkang kerang yang satu ini memang benar-benar asal dan tak ada tujuannya mau dijadikan apa.
Sementara ketiga orang lainnya di dalam lingkaran itu masih sibuk dengan karya mereka. Mulut mereka menutup. Dahi mereka berkerut rapat. Mata menatap tajam ke arah kerajinan yang sedang mereka buat.
“Gila, gila, kalian bertiga kaya profesional aja. Serius banget ngerjainnya,” puji Agatha sambil heboh bertepuk tangan.
Shana mengangkat kepalanya sekilas kemudian menunduk kembali. “Seru juga ternyata,” ucap Shana dalam rangka mengakui bahwa kegiatan membuat kerajinan tangan itu cukup menyenangkan baginya.
Setelahnya, tak ada lagi yang bicara. Mereka fokus saja ke pekerjaan masing-masing.
Sampai akhirnya, ada dua orang panitia yang datang menghampiri kelompok mereka. Panitia tersebut adalah Rebecca dan Ganendra. Keduanya tampak menawarkan bantuan jikalau mereka membutuhkan bahan berupa cangkang kerang tambahan.
“Masih banyak persediaannya?” tanya Verrel. Pemuda itu sepertinya punya proyek besar. Makanya, ia membutuhkan banyak cangkang kerang. “Gue butuh tambahan cangkang kerang sama lem.”
Rebecca dan Ganendra kompak mengangguk. Mereka lantas mencatat permintaan dari mereka-mereka ini.
“Tunggu ya, habis ini gue ambilin,” kata Rebecca.
Semua orang di kelompok itu tampak manggut-manggut dan mengucapkan terima kasih di awal.
“Ayo, Ndra,” ajak Rebecca. Sepertinya mereka akan mengambil persediaan di dalam aula.
Shana masih menunggu hingga sambungan cangkang kerang yang baru saja ia beri lem menjadi rekat dengan kuat. Sambil menunggu itu, Shana memperhatikan Rebecca dan Ganendra yang belum pergi jauh. Bahkan Shana masih bisa mendengar percakapan keduanya.
“Lo masuk duluan, ya? Gue mau nganter ini ke Hea,” ujar Ganendra sembari mengangkat walkie talkie dan menggoyang-goyangkannya.
Rebecca tampak cemberut. “Gue angkat-angkat kardus sendirian, nih? Berat, Ndra.”
Ganendra kembali berkata, “Turun-turunin aja dulu. Jangan lo pindah ke mana-mana. Nanti bawanya barengan sama gue.”
“Cepet nyusul ya, Ndra,” pinta Rebecca yang langsung diacungi jempol oleh Ganendra. Gadis itu pun berjalan memasuki aula resort dan menghilang di balik ruang panitia.
Sementara Ganendra, Shana bisa melihat pemuda itu berjalan ke samping aula dan menghilang di sana. Mungkin ia pergi untuk menemui Hea yang entah berada di mana.
“Ngeliatin apa sih?” Rick tampak kepo dengan gelagat Shana yang memanjangkan leher sembari menoleh ke sana kemari.
Shana meringis sambil menggaruk tengkuknya. “Oh, enggak. Ini tadi pengen liat-liat aja. Pegel leher gue.” Gadis itu berusaha ngeles. Karena kan tidak mungkin juga ia berkata bahwa barusan ini ia sedang memperhatikan Ganendra. Bisa-bisa orang akan salah paham. Apalagi di sebelahnya ada Arthur. Bagaimana kalau Shana akan membuat Arthur cemburu? Meski ya semisal Arthur cemburu, pemuda itu tetap akan stay cool.
Rick terdengar ber-oh-ria. Sebelum kembali mengerjakan karyanya yang menganut aliran abstrak—cenderung ngawur—itu, Rick menyempatkan diri mencari masalah dengan Indi. Sehingga terdengar lah jeritan tertahan dari Indi yang terdengar super kesal.
Namun anehnya, setelah Indi diam, justru terdengar teriakan lebih keras dari dalam aula. Tak hanya teriakan, terdengar pula suara-suara barang berjatuhan ke lantai. Suara itu benar-benar ramai sehingga menyita perhatian hampir seluruh peserta makrab yang ada di sana.
“Nah, ada apa lagi, tuh?” celetuk Agatha. Seolah-olah gadis itu sudah bisa melihat bahwa ada kecelakaan lagi di sini.
Shana teringat sesuatu. Soal Rebecca dan percakapannya dengan Ganendra. Jangan-jangan itu Rebecca yang berteriak.
“Coba dicek,” pinta Shana sembari menepuki lengan Arthur beberapa kali.
Arthur bangkit dari duduknya. Ia dengan langkah lebar-lebarnya langsung melangkah ke dalam aula dan mencari sumber dari suara itu.
Verrel dan Rick juga menyusul kemudian. Tak hanya mereka sebenarnya, karena ada juga peserta makrab yang masuk ke dalam aula guna mencari tahu apa yang terjadi di sana.
Shana merapat ke arah Agatha dan Indi. Gadis itu sudah keringat dingin. Tapi tak lama kemudian, Agatha justru mengajak Shana dan Indi masuk ke aula. Itu karena Arthur, Verrel, dan Rick tak kunjung keluar dari sana.
Saat mereka menginjakkan kaki di aula, panitia yang tadi berada di luar juga turut berdatangan. Alhasil karena terlalu banyak orang di sana, ketiga gadis itu memutuskan menunggu di bagian teras aula.
“Gue dengar suara ribut-ribut barang jatuh. Itu apa?” tanya Hea sambil berjalan cepat memasuki aula.
Ganendra mengusap wajahnya kasar. “Jangan-jangan Rebecca.”
“Kenapa dia?” tanya Hea dengan ekspresi cemas.
“Gue sama Rebecca tadi mau ambil persediaan cangkang kerang sama beberapa perlengkapan buat bikin kerajinan ini yang masih kurang. Tapi elo kan minta dibawain walkie talkie satu lagi, makanya gue nyamperin elo dulu.” Ganendra menjelaskan dengan napas terengah-engah.
Selanjutnya, percakapan Hea dan Ganendra tak lagi bisa didengar oleh Shana, Agatha, dan Indi. Jarak mereka sudah terlalu jauh dari Hea dan Ganendra.
“Itu Arthur,” pekik Indi, “sama Verrel juga.”
Dan dikejauhan sana, tampak lah Arthur dan Verrel tengah memapah Rebecca keluar dari ruang panitia. Gadis itu lantas didudukkan di bagian dalam aula sambil disodori botol air mineral oleh Rick.
“Ke sana, yuk!” seru Agatha. Tanpa menunggu persetujuan kedua temannya, ia sudah langsung ngacir saja.
Shana memanggil-manggil Agatha. Namun sahabatnya itu terlanjur tutup telinga. Alhasil karena dorongan dari Indi juga, Shana pun ikut melangkah semakin dalam ke sana.
Sesampainya di dekat Rebecca, Shana bisa melihat kepala gadis itu berdarah. Lengan dan beberapa bagian tubuhnya juga tampak tergores dan mengeluarkan sedikit darah.
“Kejatuhan kardus berisi cangkang kerang,” terang Arthur pada Ganendra.
“Be, Be, lo ada-ada aja, sih.” Ganendra ikutan berjongkok di depan Rebecca. “Kan udah gue bilang tunggu gue aja kalau memang berat.”
“Lo lama b*****t,” kesal Rebecca. Gadis itu menyeka darah yang mengalir dari pelipisnya. “Ini nggak ada yang mau nolongin luka di kepala gue apa? Perih!”
Agatha mencolek Verrel. Ia menanyakan apakah di sana ada kotak P3K atau kotak obat. Tapi rupanya tak ada benda-benda itu di sana.
“Dia bisa jalan nggak?” tanya Agatha kepada Verrel lagi. “Kalau bisa, bawa dia ke ruang kesehatan. Biar gue obatin di sana.”
Verrel pun mencoba bernegosiasi dengan Rebecca. Gadis itu saat terluka justru semakin garang dan bawaannya marah-marah. Padahal kalau sehat seperti tadi saat sebelum ketiban kardus berisi cangkang kerang, jangan tanya ramahnya bagaimana.
Rebecca ingin tetap di aula saja. Ia tidak mau dibawa ke ruang kesehatan karena di sana banyak orang sakit. Ia tidak mau bersama mereka.
“Bawa aja obatnya ke sini,” kata Rebecca dengan entengnya. Ia lantas menunjuk ke arah Ganendra. “Ambil sana, Ndra.”
Ganendra membuang napas dengan keras. “Oke, gue ambilin.”
Agatha sudah berdiri di sebelah Shana, yang mana itu berada tiga langkah di belakang Verrel dan Arthur. Ia berkomentar, “Sakit, butuh pertolongan, tapi galaknya minta ampun. Kaya cewek PMS aja.”
“Nahan sakit kali, Tha. Atau mungkin karena dia syok juga. Makanya jadi gampang tersulut emosinya dan jatuhnya marah-marah.” Seperti biasa, Shana memang seringnya memikirkan kemungkinan yang baik-baik. Itu hampir selalu bertentangan dengan Agatha. Jarang-jarang mereka langsung sepakat pada sesuatu.
Lima menit kemudian, Ganendra sudah kembali dengan membawa kotak P3K. Pemuda itu tampak terengah-engah dan kehabisan napas. Setelah menyerahkan apa yang ia bawa kepada Verrel, ia pun menjatuhkan diri ke lantai. “Engap,” ujarnya dengan d**a kembang kempis.
“Istirahat dulu,” saran Arthur. Ia lantas menoleh ke belakang dan memanggil Agatha untuk mendekat.
Agatha maju ke sana. Ia dengan berhati-hati mendekati Rebecca yang tengah dalam mode galak maksimal. Selanjutnya, pertama-tama, ia menghentikan perdarahan dan mengobati luka yang ada di pelipis Rebecca. Seberes itu, ia berganti ke luka-luka berupa goresan yang tidak terlalu dalam di lengan dan kaki Rebecca.
“Gue minta tolong ke cowok-cowok yang ada di sini buat turunin kardus di atas lemari dong,” seru Hea yang berdiri di ambang antara ruang panitia dengan aula yang biasa dipakai untuk berkegiatan.
Arthur dan Verrel langsung bangkit berdiri. Keduanya dengan gesit langsung meluncur mendekati Hea.
“Tolong itu ya, turun-turunin semua aja. Itu punya kita, fasilitas dari sini memang.” Hea memberi tahu mana-mana saja yang harus diturunkan. “Biar kejadian kaya gini nggak terulang lagi.”
Arthur mencoba menjangkau kardus di atas lemari. Sebelum menariknya, Arthur bertanya kepada Hea. “Isinya apa?”
“Macam-macam, fasilitas di sini,” balas Hea.
“Cangkang kerang?” duga Arthur.
Hea menggelengkan kepala. Ia menunjuk ke lantai. “Kardus berisi cangkang kerang udah jatuh. Itu mungkin kardus yang isinya perkakas buat di dapur atau keperluan di tenda.”
Arthur tak banyak bertanya lagi. Ia menarik turun kardus itu dengan penuh perhitungan. Sehingga saat Arthur harus menangkapnya, Arthur sudah siap.
Verrel juga sudah menurunkan satu kardus dari atas lemari. Masih ada dua kardus tersisa di atas sana. Rick juga bergabung di sana. Ia membantu menurunkan salah satu kardus yang jauh lebih berat dibanding kardus-kardus lainnya.
Sementara para cowok sibuk dengan menurunkan kardus, Hea memilih untuk mengumpulkan cangkang kerang yang berserakan di lantai. Cangkang-cangkang itu akan cukup mengganggu jika tidak dibersihkan. Tidak mungkin kan panitia akan tidur di atas sebaran cangkang kerang? Bisa-bisa badan mereka sakit semua.
“Panitia lain pada ke mana?” Verrel bertanya dengan penasaran kepada Hea. “Kok nggak kelihatan?”
“Masak di belakang,” jawab Hea singkat. Ia pun memasukkan kembali cangkang kerang yang sudah ia kumpulkan barusan.
Verrel ber-oh-ria. Bertepatan dengan itu, ia, Arthur, dan Rick sudah selesai menurunkan kardus-kardus di atas sana. Karena merasa sudah cukup terbantu, Hea mempersilakan agar Arthur, Verrel, dan Rick kembali masuk ke aula bagian pendopo.
Arthur tak menolak kesempatan itu. Ia juga ingin mengecek keadaan Rebecca setelah ditangani Agatha. Semoga saja, luka-luka Rebecca tidak parah-parah amat.
“Gimana?” tanya Arthur sambil berjongkok di sebelah Agatha.
Agatha mengacungkan jempolnya. “Dikit lagi selesai.” Gadis itu lantas menoleh ke Rebecca. Ia manawarkan, “Kaki lo juga ada yang kegores. Mau gue yang obatin atau lo sendiri aja?”
“Gue sendiri aja nggak apa-apa,” katanya sembari mencontoh cara Agatha menangani lukanya.
“Udah, Be, habis ini lo istirahat aja,” kata Hea yang sudah bergabung dengan mereka. “Lo kecapaian kayanya. Makanya nggak fokus gini kerjanya.”
Rebecca manggut-manggut. Ia lantas bertanya, “Dalam sana keadaannya gimana? Gue kalau tidur, tidur di mana?”
“Cangkang kerangnya udah gue beresin kalau yang kelihatan-kelihatan. Kalau yang di kolong, besok pagi aja lah. Kita tidur di bagian tengah, yang udah gue bersihin,” terang Hea.
“Selesai,” ujar Agatha. Ia pun membereskan sampah-sampah bekas plester luka dan memasukkan kembali obat dan kasa ke dalam kotak P3K.
Rebecca mengucapkan terima kasih. Meski ada raut bete di wajahnya. Tapi tentu itu tidak ditujukan untuk Agatha. Mungkin ekspresi itu menggambarkan kekesalan Rebecca pada Ganendra atau panitia lainnya.
“Dah, ya, gue istirahat dulu,” pamit Rebecca sambil berusaha bangkit dari duduknya. Ganendra dan Hea kompak membantunya berdiri. “Perih semua sialan,” keluhnya. Ia pun berjalan tertatih-tatih menuju ke ruang panitia diantar Hea.
Karena tokoh utama dari kejadian tadi sudah tidak lagi berada di sana, orang-orang yang berkerumun karena penasaran pun mulai membubarkan diri. Mereka diminta kembali melanjutkan kegiatan membuat kerajinan dengan cangkang kerang.
“Udah, balik ke halaman depan,” ujar Ganendra. “Nanti buat yang kurang-kurang, gue ambilin. Kalian lanjutin yang bisa kalian kerjain dulu. Thank you buat pengertian kalian.”
Arthur juga menggiring teman-temannya untuk keluar dari sana. Mereka lantas duduk kembali di tempat mereka tadi.
“Ada-ada aja ya kejadian di sini,” gumam Agatha. “Ini kayanya bener karena kutukan deh. Pasti ada yang buat salah di tempat ini. Makanya teman-temannya diteror dengan kesialan. Alam memang selalu punya cara membalas tindakan manusia, entah itu baik atau pun buruknya.”
Tak ada yang menanggapi ucapan panjang lebar Agatha itu. Secara Shana dan Indi sudah mendengarnya tadi. Sementara Arthur dan Verrel tidak terlalu percaya takhayul.
Kalau Rick, fokus pemuda itu sudah tersita oleh kerajinan tangannya yang mulai lepas satu per satu. Padahal ia hanya pergi sebentar. Pemuda itu mengeluh, “Ini kenapa lepas semua, sih? Perasaan tadi udah rekat kok.”