BAB 3 – Pewaris di Balik Nama Palsu

1562 Words
--- 20.30 WIB – Ballroom Hotel Kirana Grand Kilauan lampu kristal menyinari aula penuh tamu istimewa. Dentingan gelas, suara tawa diplomatis, dan musik jazz lembut membaur dalam pesta gala Kirana Group malam itu. Namun suasana hati Nayla justru semakin kacau. Dia menatap pria yang berdiri di depan podium, memperkenalkan diri sebagai Alvaro Dirgantara—Direktur Strategi Dirgantara Corporation. Wajah yang sama, suara yang sama, tapi… bukan orang yang sama dengan pria yang duduk di kantin kampus mengenakan hoodie lusuh dan sepatu robek. Jantung Nayla berdegup cepat. Semua kepingan misteri yang selama ini menggantung mulai menyatu. Alvaro selama ini berbohong. --- Sementara itu di Podium Alvaro tetap tenang. Wajahnya penuh kendali, gerakan tubuhnya meyakinkan. Dia berbicara mewakili perusahaan sang ayah dengan lancar, seolah memang terlahir untuk dunia bisnis. Namun jauh di dalam pikirannya, gemuruh tak terucap menghantam kesadarannya. “Apa Nayla melihatku? Apa dia mengerti kenapa aku menyembunyikan ini darinya?” Matanya sempat menangkap sosok Nayla berdiri di antara kerumunan. Tatapan mereka bertemu. Dingin. Kaku. Tak ada lagi senyum. Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya... Nayla tidak menunduk. Dia berdiri tegak, menatap Alvaro seolah menuntut penjelasan. --- 22.00 WIB – Halaman Parkir Hotel Langit malam dipenuhi bintang, tapi suasana hati Nayla mendung. Ia berdiri sendiri di bawah pohon palem, mencoba menenangkan napas. Tapi suaranya tercekat saat langkah seseorang mendekat. “Nayla,” panggil Alvaro pelan. Ia menoleh, tak ada senyum di wajahnya. “Alvaro… atau lebih tepatnya… Tuan Dirgantara?” Alvaro menghela napas. “Aku bisa jelaskan.” “Berbulan-bulan kamu berbohong. Kamu berpura-pura miskin, pura-pura biasa. Kamu pikir aku mainan?” “Bukan begitu.” “Lalu kenapa? Kenapa kamu masuk kampus sebagai orang biasa? Apa aku cuma bagian dari eksperimen sosial kamu?” Alvaro menatap Nayla dalam-dalam. “Karena aku muak dilihat sebagai pewaris. Setiap orang yang mendekat… selalu punya motif. Aku ingin tahu rasanya hidup tanpa embel-embel nama besar.” “Dan aku? Aku bagian dari eksperimen kamu? Kamu ingin lihat apakah ‘anak kaya bisa jatuh cinta pada anak biasa’ begitu?” “Tidak!” Alvaro meninggikan suara, tapi cepat menurunkannya. “Kamu… adalah satu-satunya orang yang membuatku lupa siapa aku. Bersamamu… aku jadi manusia.” Suara Nayla tercekat. Matanya berkaca. “Tapi kamu nggak kasih aku pilihan. Kamu ambil kepercayaan itu tanpa izin.” Ia berbalik, meninggalkan Alvaro yang terdiam membisu. --- Keesokan Harinya – Kampus Universitas Madya Raya Desas-desus sudah menyebar. Media kampus heboh memberitakan identitas Alvaro yang ternyata bukan siapa-siapa, melainkan putra pemilik Dirgantara Corporation. Foto-fotonya saat gala tersebar cepat, dan mendadak Alvaro jadi pusat perhatian. “Gila! Jadi dia itu Alvaro Dirgantara?” “Kenapa bisa nyamar jadi mahasiswa biasa?” “Pasti buat marketing perusahaan deh.” “Fix cowok paling berbahaya di kampus sekarang.” Semua mata menatap Alvaro ke mana pun ia pergi. Tapi mata yang paling ingin ia cari—mata Nayla—tak lagi menoleh padanya. Nayla benar-benar menjaga jarak. --- 10.30 WIB – Perpustakaan Alvaro duduk sendirian, tapi kali ini bukan di pojok biasa. Ia duduk di tengah, membiarkan orang melihatnya. Tak ada lagi yang bisa ia sembunyikan. Ryan, yang duduk dua meja di belakang, melirik sambil tersenyum licik. “Bagus… sekarang semua mata tertuju padamu, Dirgantara. Dan aku akan buktikan bahwa kamu tak layak mendapatkan Nayla.” --- Sore Hari – Rooftop Kampus Alvaro duduk sendirian. Angin sore bertiup lembut. Ia menatap ke arah horizon, mengingat semua momen yang ia lewati bersama Nayla—dari roti isi plastik, kursi taman, sampai tawa kecil di kedai kopi. Pintu rooftop terbuka. Nayla muncul. Tanpa makeup. Dengan hoodie abu-abu—mirip milik Alvaro. Mereka saling memandang. “Kamu pikir aku masih mau dengar penjelasanmu?” tanya Nayla tanpa basa-basi. “Aku harap begitu.” Sunyi. Hanya suara angin. “Aku tahu kamu pasti punya alasan. Tapi tetap saja... aku kecewa.” “Aku paham.” Nayla menatap langit. “Aku cuma... nggak nyangka. Aku pikir kamu satu-satunya orang yang jujur di dunia palsu ini.” “Aku jujur. Setiap kata yang aku bilang… perasaanku padamu… semuanya nyata.” Nayla menghela napas. “Lalu sekarang?” “Sekarang… aku cuma pengen satu hal.” “Apa?” “Kesempatan. Untuk menebus semuanya. Bukan sebagai pewaris. Tapi sebagai... aku.” Nayla menatap matanya. Dan untuk pertama kalinya sejak gala, tatapan itu tidak penuh kemarahan—tapi penuh pertanyaan. Dan harapan. --- 17.00 WIB – Rooftop Kampus Angin senja menyapu rambut Nayla, dan Alvaro masih berdiri beberapa langkah darinya, menunggu jawaban. Wajah Nayla menatap jauh, menahan pergolakan emosi yang tidak bisa disampaikan dengan kata. “Aku butuh waktu,” ucap Nayla akhirnya. “Memaafkan bukan hal instan. Tapi kalau kamu memang serius, buktikan. Bukan dengan kata-kata… tapi perbuatan.” Alvaro mengangguk pelan. “Aku akan lakukan apa pun.” Nayla menoleh menatapnya lekat-lekat, lalu melangkah pergi, meninggalkan aroma lavender samar yang selama ini selalu melekat di balik senyumnya. --- Malam Hari – Asrama Alvaro Suara notifikasi berdenting dari laptop Alvaro. Sebuah email tanpa nama muncul: 📩 Pengirim: unknown001@protonmail.com Subjek: Kamu tidak bisa sembunyi selamanya. Isi: > “Kami tahu siapa kamu. Dan kami tahu siapa gadis itu. Jangan berpikir dunia hanya soal cinta dan pengkhianatan. Ini juga soal kekuasaan. – R” Alvaro menggertakkan gigi. Ia tahu betul siapa “R” itu: Ryan Akbar. “Dia mulai bergerak... dan ini akan berbahaya.” --- Esok Paginya – Kelas Pagi Fakultas Ekonomi Kelas sudah hampir penuh. Nayla duduk di bangku kedua dari depan, sedangkan Alvaro duduk dua baris di belakangnya. Mereka tak saling sapa, tapi Nayla sempat melirik ke belakang beberapa kali. Saat dosen menjelaskan, seseorang masuk ke ruang kelas dengan langkah mantap. Semua mata tertuju pada sosok perempuan anggun, berambut panjang kecokelatan, mengenakan blouse satin biru dan rok pensil berkelas. Langkahnya terhenti tepat di dekat meja dosen. “Permisi. Saya tidak ikut kelas. Saya mencari seseorang... Alvaro Dirgantara.” Ruangan jadi sunyi. Alvaro bangkit pelan dari bangkunya. “Iya, saya.” Wanita itu tersenyum—senyum menusuk. “Lama tidak bertemu, tunanganku.” Seisi kelas menoleh. Bahkan dosen pun tercengang. Mata Nayla membelalak. Jantungnya mencelos. “T-Tunangan?” --- Beberapa Menit Kemudian – Lorong Gedung Kampus Alvaro berdiri berhadapan dengan wanita itu, wajahnya tegang. “Kenapa kamu datang ke sini, Carissa?” Carissa Tanuwijaya. Pewaris konglomerat teknologi Tanuwijaya Group. Mantan partner bisnis sang ayah dan… calon pasangan yang dijodohkan sejak kecil. “Ayahku bilang kamu kabur dari tanggung jawab. Tapi aku pikir kamu hanya sedang melarikan diri dari realita.” “Tidak ada perjanjian yang pernah aku setujui.” “Kamu tahu kamu pewaris, Alvaro. Dan kamu tidak bisa memilih hidup seenaknya. Termasuk… soal siapa yang akan mendampingimu.” “Kau tidak punya hak bicara soal hidupku.” Carissa mendekat, senyumnya penuh licik. “Tapi Nayla… gadis polos itu… tidak tahu apa-apa soal dunia kita. Dan jika dia tahu, menurutmu… dia akan tetap percaya padamu?” --- Siang Hari – Café dalam Kampus Nayla duduk diam, menatap gelas kopinya. Sheila dan Dara sudah membombardirnya dengan pertanyaan soal “tunangan misterius” Alvaro. Tapi Nayla tidak menjawab satu pun. Pikirannya campur aduk. “Aku bahkan belum sepenuhnya memaafkan dia karena menyembunyikan identitasnya. Dan sekarang… dia punya tunangan?” Ia menghembuskan napas panjang. “Kenapa rasanya aku sedang hidup dalam drama Korea…” Di kejauhan, Alvaro berdiri menatapnya dari balik dinding kaca. Ia ingin masuk, tapi Nayla tak memberinya ruang. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu… Alvaro merasa takut. Bukan pada dunia gelap yang ia sembunyikan. Tapi pada kemungkinan… kehilangan Nayla. --- Sore Hari – Ruang Kerja Ayah Nayla Pak Kirana duduk membaca laporan. Di hadapannya, Galendra Dirgantara duduk dengan wajah serius. “Kita sepakat, kan?” tanya Galendra. “Alvaro dan Nayla memang terlihat dekat, tapi saya tidak ingin mengacaukan rencana perjodohan Anda.” “Perjodohan itu sudah tak bisa ditunda lagi. Kalau Alvaro melawan… maka warisannya akan dibekukan.” Pak Kirana menghela napas. “Saya juga tidak ingin Nayla terlalu jauh terseret. Dia belum siap untuk dunia kita.” --- Malam Hari – Atap Gedung Kosong Belakang Kampus Alvaro berdiri di tepi bangunan, memandang cahaya kota. Ponselnya berdering. Nama di layar: “Ayah” “Aku tidak akan menikah dengan Carissa,” tegasnya. Suara Galendra terdengar tegas. “Kalau begitu, lupakan semua fasilitas. Uang. Perlindungan. Nama keluarga. Kamu akan kehilangan semuanya.” Alvaro tersenyum sinis. “Bagus. Berarti aku bisa jadi diriku sendiri... akhirnya.” --- Keesokan Paginya – Taman Kampus Nayla duduk di bangku taman, membaca novel. Alvaro datang perlahan, tanpa seragam, hanya dengan kemeja putih dan celana jeans. Ia berhenti di hadapan Nayla. “Boleh duduk?” Nayla menoleh, menatapnya datar. “Silakan.” Mereka duduk dalam keheningan. “Carissa bukan tunanganku. Dia... bagian dari rencana yang tidak pernah aku setujui.” Nayla diam. “Aku sudah bilang ke Ayahku. Kalau dia paksa aku menikah dengannya, aku akan tinggalkan semua.” Mata Nayla terangkat. “Kamu serius?” “Untuk pertama kalinya dalam hidupku… aku tahu apa yang ingin aku pertahankan.” Nayla menatapnya lekat-lekat. Dalam hening itu, ada ketegangan—dan benih harapan. “Aku belum bisa terima semuanya sekarang,” ucap Nayla jujur. “Aku akan menunggumu. Tapi izinkan aku tetap ada di dekatmu.” Nayla menunduk, lalu mengangguk pelan. Dan untuk pertama kalinya sejak pesta gala itu… Alvaro tersenyum lagi. --- ⚡ AKHIR BAB 3 --- Bab ini resmi membuka: Konflik perjodohan pewaris vs cinta sejati Ancaman dari luar (Carissa, Ryan, Galendra) Pilihan hidup Alvaro: cinta atau kekuasaan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD