BAB 2 – Cowok Misterius yang Tidak Bisa Ditebak

1886 Words
12.30 WIB – Lapangan Kampus Siang itu, mahasiswa sedang berkumpul di lapangan terbuka untuk acara orientasi organisasi kampus. Ada stand dari berbagai UKM—organisasi jurnalistik, debat, teknologi, bahkan klub mobil mewah. Nayla sedang berdiri sendiri di dekat panggung kecil, memainkan ponselnya. Tak jauh dari situ, seorang pria tinggi besar dari klub olahraga memandangi Nayla sambil berbisik dengan temannya. “Eh, itu Nayla, kan? Yang nolak Vincent?” bisik salah satunya. “Iya. Cewek sombong itu. Sok jual mahal.” “Gimana kalau kita ajarin dia cara bersosialisasi?” Mereka mulai bergerak ke arah Nayla. Alvaro, yang sedari tadi duduk di pojok sambil membaca pamflet UKM teknologi, melihat gerakan mencurigakan itu. Dan saat pria berbadan besar itu menyentuh lengan Nayla, Alvaro sudah berdiri di belakang mereka. “Lepaskan,” ucapnya tegas. Kedua pria itu menoleh. Salah satunya tertawa. “Wah, ini anak beasiswa turun gunung!” “Apa kamu tahu siapa aku?” tanya pria bertubuh besar itu dengan nada menantang. “Ya. Dan itu nggak penting.” Tanpa menunggu, Alvaro mencengkeram pergelangan pria itu dan memutarnya ke belakang dengan teknik cepat. Dalam hitungan detik, si pria meringis kesakitan. “Bilang maaf. Sekarang.” “A—aku... maaf, Nayla!” jerit pria itu. Orang-orang mulai menoleh. Tapi Alvaro sudah melepaskan cengkeramannya dan berjalan pergi tanpa menoleh. Nayla mematung di tempat. Matanya membesar. Tubuhnya bergetar—bukan karena takut, tapi karena terkejut. Pria itu… tahu bela diri. Dan tahu cara membuat orang lain tunduk tanpa mengangkat suara. Dan lebih dari itu... Dia melindunginya. --- 19.00 WIB – Kamar Nayla Hari itu terlalu aneh untuk diabaikan. Nayla memandangi ponselnya, membuka kontak baru, dan mengetik: "Alvaro – Cowok Misterius yang Bikin Jantung Nggak Karuan." Ia tertawa kecil sendiri. Di tempat lain, di asramanya yang sepi, Alvaro berdiri di depan cermin. Matanya kosong, tapi hatinya penuh gemuruh. "Dia tidak boleh tahu siapa aku sebenarnya… Tapi aku juga nggak bisa terus pura-pura tak peduli."--- 06.30 WIB – Kamar Nayla Alarm berbunyi nyaring. Sinar matahari pagi mengintip dari sela-sela tirai jendela. Nayla membuka mata perlahan, wajahnya masih setengah mengantuk, tapi senyuman kecil sudah tersungging di sudut bibir. Pikiran pertamanya pagi itu bukan tentang kuliah, bukan pula tentang jadwal rapat organisasi. Tapi tentang pria misterius yang menyelamatkannya kemarin. Alvaro. “Dia itu siapa, sih…” gumamnya sambil duduk di tepi tempat tidur. Dia bukan seperti cowok lain yang sering Nayla temui. Tidak mencoba mengesankan, tidak mengumbar pujian, dan tidak tertarik dengan popularitas. Justru karena itu... dia menarik. --- 08.00 WIB – Perpustakaan Utama Nayla sengaja datang lebih awal ke perpustakaan kampus. Biasanya, dia baru ke sini saat menjelang ujian. Tapi hari ini, ada alasan lain. Dia melihat Alvaro duduk di pojok ruangan, menghadap jendela besar dengan buku tebal di pangkuannya. Wajahnya serius, dan tangan kirinya mencatat sesuatu di buku catatan. Tanpa berpikir panjang, Nayla berjalan pelan mendekat. “Boleh duduk di sini?” tanyanya pelan. Alvaro mengangkat kepala, sedikit terkejut tapi tetap tenang. “Silakan.” Mereka duduk bersebelahan, sunyi selama beberapa menit. Hanya bunyi gesekan pulpen dan lembaran kertas yang terdengar. “Aku penasaran sama kamu,” Nayla memulai. “Kamu jago bela diri, tenang, pintar, dan… nggak pernah kelihatan panik.” “Apa itu hal yang mencurigakan?” tanya Alvaro tanpa menoleh. “Cuma... bikin penasaran. Kamu bukan orang biasa.” Alvaro menutup bukunya perlahan. “Aku justru orang biasa, Nayla. Sangat biasa. Kamu yang terlalu banyak lihat orang palsu, jadi nggak tahu mana yang asli.” Nayla tercenung. Kalimat itu... menamparnya dengan lembut. Ia mulai merasa bahwa ia hidup dalam dunia yang terlalu banyak topeng, dan mungkin… Alvaro satu-satunya yang tak memakainya. --- 10.00 WIB – Ruang Kelas Hari ini kelas cukup sepi. Banyak mahasiswa absen karena ada acara gala bisnis di hotel mewah, yang hanya diundang untuk “nama-nama besar” dari keluarga konglomerat. Nayla hadir, dan begitu juga Alvaro. “Lihat mereka...” bisik Sheila dari bangku depan. “Kenapa Nayla duduk bareng anak itu terus, sih?” “Katanya cowok itu jago bela diri, loh,” jawab Dara. “Dia selamatin Nayla waktu ada cowok dari klub olahraga yang rese.” “Duh, Nayla tuh emang suka drama. Cari sensasi banget,” dengus Sheila. Tapi Nayla tak menggubris. Dia duduk di samping Alvaro, dan untuk pertama kalinya, dia bisa fokus belajar tanpa tekanan. Bersama Alvaro, dia merasa menjadi dirinya sendiri. --- 12.30 WIB – Rooftop Gedung Tiga Rooftop ini adalah tempat yang jarang dikunjungi mahasiswa. Terlalu panas di siang hari, dan terlalu tinggi bagi mereka yang takut ketinggian. Tapi bagi Nayla dan Alvaro, tempat ini jadi ruang rahasia baru. “Aku capek jadi Nayla Kirana,” ucap Nayla pelan sambil memandang langit. Alvaro menoleh. “Semua orang lihat aku kayak produk keluarga. Mereka pikir aku sempurna. Tapi mereka nggak tahu... aku sendiri kadang nggak tahu siapa aku sebenarnya.” Alvaro terdiam. Kalimat Nayla menyentuh titik lemah dalam dirinya—identitas. “Kalau kamu bisa hidup jadi orang lain selama seminggu, kamu mau jadi siapa?” tanya Nayla. “Orang yang tak dikenal siapa pun,” jawab Alvaro cepat. “Udah kejadian, dong?” Nayla tersenyum menggoda. Alvaro hanya mengangguk pelan. Di dalam hatinya, kalimat itu tak sesederhana candaan. Itu adalah kenyataan. Dia benar-benar sedang hidup sebagai orang lain. --- 15.00 WIB – Sisi Lain Cerita Di sebuah ruangan tersembunyi di gedung lain, seorang mahasiswa tingkat akhir dengan penampilan licik tengah membuka laptop dengan ekspresi serius. Dia bernama Ryan Akbar, anak dari wakil komisaris grup media besar. Ia sedang mengamati rekaman CCTV dari area lapangan kampus kemarin. "Siapa kamu sebenarnya, Alvaro?" gumamnya sambil memperbesar rekaman saat Alvaro melumpuhkan dua mahasiswa lain dengan teknik bersih dan presisi militer. Ryan mengetik sesuatu di program pelacakan internal kampus. Tapi hasilnya nihil. "Tak ada data pribadi? Bahkan akun medsos pun kosong? Ini mencurigakan." Ryan menyeringai. “Kalau kamu benar-benar bukan siapa-siapa... kenapa kamu bisa ngelawan kayak agen rahasia?” --- 18.00 WIB – Kedai Kopi Kecil di Luar Kampus Nayla dan Alvaro duduk berdua di pojok kedai kopi yang sepi. Hari mulai gelap, dan lampu-lampu kuning redup menciptakan suasana hangat. “Aku suka tempat ini,” ucap Nayla sambil memegang cangkir cokelat hangat. “Nggak banyak orang kaya yang mau duduk di tempat kayak gini.” “Mungkin karena mereka lebih suka dilihat di tempat mahal,” balas Alvaro. “Termasuk aku...” bisik Nayla pelan. Alvaro memandang Nayla sebentar. “Tapi kamu ada di sini sekarang. Itu yang penting.” Suasana menjadi sunyi. Tapi bukan sunyi yang canggung. Sunyi yang nyaman. Lalu Nayla bertanya, “Kamu pernah jatuh cinta?” Alvaro terdiam. “Sekali. Tapi saat itu aku terlalu takut kehilangan kontrol. Dan sekarang... aku lebih takut kalau jatuh cinta lagi.” “Kenapa?” “Karena aku hidup di antara dua dunia yang nggak boleh bercampur.” Nayla memandangnya lekat-lekat. “Kamu aneh banget, Alv.” “Dan kamu... terlalu berani untuk terus duduk di hadapan orang aneh kayak aku.” Mereka tertawa kecil. Tapi jauh di dalam hati mereka masing-masing tahu, perasaan yang muncul… bukan pertemanan biasa. --- 08.00 WIB – Hari Berikutnya – Kantin Kampus Suasana pagi di kantin tidak seperti biasanya. Beberapa mahasiswa terlihat berbisik, mengarahkan pandangan ke arah meja pojok—tempat Alvaro duduk sendirian. Layar ponsel mereka memperlihatkan cuplikan video: rekaman Alvaro di lapangan saat melumpuhkan dua mahasiswa kemarin. Diperlambat, diperbesar, dan diberi teks dramatis: > "Si miskin jago bela diri, tapi siapa dia sebenarnya?" "Anak kos misterius itu bukan orang biasa?" Video itu menyebar cepat lewat akun gosip kampus yang dikelola anonim. Tapi Nayla tahu persis siapa dalangnya. Ryan Akbar. --- 08.10 WIB – Di Depan Gedung Kuliah Nayla mendekati Ryan yang sedang tertawa dengan teman-temannya sambil menunjuk layar ponselnya. “Lo yang upload itu, kan?” tanya Nayla dingin. Ryan menoleh, masih tersenyum sinis. “Kalau iya, kenapa?” “Kamu keterlaluan. Kamu fitnah orang tanpa bukti.” “Fitnah? Nay, cowok itu mencurigakan. Mana ada anak miskin bisa jurus ninja kayak gitu? Dia itu agen apa? Pembunuh bayaran?” Ryan tertawa lagi. Nayla mengepalkan tangan. “Apa pun dia, setidaknya dia lebih punya hati dan harga diri daripada kamu.” Ryan mengangkat alis, tidak menyangka Nayla akan membela Alvaro di depan umum. --- 09.30 WIB – Perpustakaan Nayla menemukan Alvaro duduk di tempat biasa, tapi kali ini wajahnya lebih tertutup, lebih dingin. Ada gelombang kekesalan yang samar di balik tatapan matanya. “Kamu udah lihat videonya?” tanya Nayla pelan. Alvaro tidak menjawab. “Maaf ya... aku tahu kamu nggak suka jadi pusat perhatian. Tapi sekarang—” “Aku bilang kan, penasaran itu berbahaya,” potong Alvaro, suaranya rendah dan tajam. Nayla menunduk. Tapi ia tidak menyerah. “Aku nggak peduli kamu siapa. Mau kamu agen, ninja, alien, atau pewaris perusahaan... Aku tetap mau kenal kamu sebagai Alvaro. Bukan yang mereka bilang.” Alvaro memejamkan mata. Jantungnya bergetar. Ini bukan bagian dari rencana. Tapi Nayla... Nayla tidak lagi sekadar gangguan. Dia jadi sesuatu yang terlalu penting untuk diabaikan. --- 13.00 WIB – Restoran Hotel Bintang Lima Alvaro duduk di ruang makan pribadi bersama seseorang yang mengenakan setelan rapi. Pria paruh baya itu adalah Galendra Dirgantara, ayah kandung Alvaro—pemilik Dirgantara Corporation. “Kau terlalu dekat dengan target,” ujar Galendra dingin. “Dia bukan target. Dia manusia,” jawab Alvaro tajam. “Kamu tidak boleh jatuh cinta, Alvaro. Kau tahu konsekuensinya. Jika identitasmu terbongkar, bukan cuma dirimu yang terancam. Kita semua bisa kena serangan politik.” “Aku tidak butuh dinasihati soal hidup, Ayah. Aku sudah cukup hidup dalam kebohongan.” Galendra menatap putranya lekat-lekat. “Jangan lupa siapa kamu. Kau pewaris. Bukan mahasiswa biasa. Kau bukan di sini untuk jatuh cinta.” Alvaro bangkit dari kursi. “Tapi mungkin... justru itu yang aku butuhkan sekarang.” --- 15.00 WIB – Lorong Kampus Hari itu, Nayla duduk sendirian di koridor dekat kelas. Dia sedang membaca catatan ketika sebuah suara memanggilnya. “Nayla.” Ia menoleh. Alvaro berdiri di sana. Tapi kali ini... dia tidak seperti biasanya. Hoodie-nya tak dikenakan. Ia memakai kemeja bersih, rambut disisir rapi, dan tatapannya tajam—bukan dingin, tapi tenang. “Maaf soal tadi pagi,” katanya. Nayla tersenyum kecil. “Nggak apa-apa. Kamu pasti kesel.” “Bukan. Aku takut.” “Takut?” “Takut... kamu beneran tahu siapa aku.” Nayla tertawa pelan. “Kamu kayak tokoh drama banget. Santai aja, aku nggak bakal cari tahu lebih jauh.” Alvaro mendekat, duduk di sebelahnya. “Boleh aku minta satu hal?” “Apa?” “Jangan percaya semua yang kamu lihat atau dengar tentang aku. Percayalah... pada apa yang kamu rasakan.” Nayla menatap matanya. Untuk pertama kalinya, ia melihat kelembutan di balik ketegasan itu. Dan mungkin... luka yang telah lama disembunyikan. --- 19.00 WIB – Pesta Gala Kirana Group Malam itu, Nayla menghadiri gala dinner keluarga yang digelar oleh Kirana Group. Ia memakai gaun hitam elegan, berdiri di samping ayahnya, menyapa para tamu dari kalangan bisnis. Hingga tiba-tiba... pintu utama terbuka. Seorang pria muda memasuki aula, mengenakan setelan jas abu-abu gelap, dengan dasi perak dan postur penuh wibawa. Semua mata tertuju padanya. Nayla membelalakkan mata. Itu... Alvaro. Tapi bukan Alvaro yang dia kenal. Ini sosok yang sepenuhnya berbeda. Sosok yang berdiri sejajar dengan para taipan dan eksekutif. “Selamat malam, Pak Kirana. Terima kasih atas undangannya. Perkenalkan, saya Alvaro Dirgantara, Direktur Strategi dari Dirgantara Corporation.” Dunia Nayla runtuh seketika. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD