Bab 3 Malam Petaka

1067 Words
“Apa-apaan sih lu? Apa maksud ucapan lu? Kita nggak ada dendam apa-apa, ya? Lagian itu bukan urusan lu! Nggak usah sok ikut campur kalau nggak tahu apa-apa!” hardik Angela tak mau kalah dan mendekat pada Arlan untuk menunjuk wajah Arlan. “Lihat saja, gue akan buat lo menyesal dengan semua ucapan lo dan segala perbuatan lo. Lo akan bayar semuanya!” ancam Angela seraya mendorong d**a kekar Arlan dengan kasar. Sambil mengacungkan jari tengah dan mendesiskan kata-kata yang mengartikan sama, Angela pergi meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa. Arlan berusaha mencegah dengan menarik tangan Angela. Karena sepatu hak tinggi yang ia pakai dan gaun yang panjang yang cukup merepotkan, mau tak mau membuat Angela kembali tertangkap. Arlan menarik dan mendekap Angela dengan erat. “Ini baru permulaan, Sayang. Aku akan membuatmu mundur dan menghancurkan pernikahan kalian! Lu nggak pantes buat kakak gue! Seumur hidup gue, lu nggak akan bisa lari dari gue!’’ Arlan benar-benar mengeluarkan ancaman tepat di depan muka Angela yang mulai berkaca-kaca. Tanpa berkata apa-apa Angela memberontak untuk lepas. Kali ini Arlan melepaskan tanpa komentar, hanya saling menatap penuh dendam. Dan lagi-lagi Arlan menatap Angela seraya mengerucutkan bibirnya dengan pandangan melecehkan. Sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba terurai, Angela berjalan melintasi Arlan yang masih memandangnya dengan tatapan yang masih sama sampai gadis itu menghilang memasuki rumah utama. Namun pandangan matanya tertumbuk pada seseorang yang menatapnya tajam dan penuh kemarahan. Andri. Angela mengutuk dalam hati karena gaun dan sepatu yang ia kenakan membuatnya susah untuk berjalan cepat. Setelah ia berhasil membenahi riasan wajahnya yang penuh air mata dengan tisu, dan merapikan lipstik di kamar mandi, ia berjalan cepat-cepat menuju pintu depan dengan susah payah. Bahkan menuju pintu gerbang rumah yang tak terlalu jauh pun terasa setahun, belum lagi orang-orang yang menyapanya dan meminta foto bersama membuatnya terasa lamban untuk melarikan diri dari pesta terkutuk itu. Dan benar saja, seperti yang dipikirkan, Andri mampu menyusulnya. Setelah para penggemar yang berasal dari kalangan teman-teman Arlan pergi meninggalkan Angela sendirian, Andri mendekat dan menarik lengan Angela dengan lembut. Gadis itu tersentak kaget. “Hon... Honey...’’ Angela gelagapan. “Mau ke mana? Pestanya belum selesai.” Andri bertanya dengan datar tanpa melepaskan pegangannya. “Aku mau pulang,” jawab Angela membuang muka, menghindari tatapan Andri yang terasa berbeda. Andri mendekat dan menarik dagu Angela dengan lembut. Untuk beberapa saat mereka berpandangan. “Apa yang kamu lakukan dengan Arlan? Adikku?” tanya Andri sambil menyentuh bibir Angela yang indah. Gadis itu langsung meledak karena perlakuan kecil itu. “Tanya saja pada adik kecilmu yang kurang ajar itu! b******k! Berani-beraninya dia mengatai-kataiku dan memperlakukanku sangat kurang ajar! Dia telah melecehkan aku!” Angela mengelak dari pegangan Andri dengan marah. Namun Andri menyeretnya menuju mobil sport Audi jenis R8 miliknya. Angela mengelak dan terus melangkahkan kakinya menuju pagar rumah dan tak mengindahkan Andri yang telah membuka pintu mobilnya. “Masuk!’’ ucap Andri yang tak dihiraukan oleh Angela. “MASUK!” bentak Andri mengulangi yang membuat Angela tersentak dan berhenti melangkah. Andri menarik Angela dengan kasar hingga membuatnya tersentak dan memaksanya masuk ke dalam mobil itu dan membanting pintu mobil dengan kasar. Mobil melaju dengan kencang, Angela mulai terisak. Selama hampir 2 tahun mereka berpacaran tak pernah sekalipun Andri memperlakukannya dengan kasar, apalagi membentaknya. Andri adalah pria terhormat yang selalu memperlakukannya bak ratu. Dan selama ini dia selalu menjadi wanita yang paling bahagia dalam hidupnya. Angela tak bisa berhenti menangis sampai akhirnya Andri mengerem mendadak dan membuat Angela terpekik kaget dan hampir membuatnya terantuk mobil. Andri menghela napas dengan kasar, seolah ia akan mengumpat namun ucapan itu tertahan di mulutnya. Namun, ia memukul setir mobilnya dengan gusar. “Apa yang kamu lihat itu semua nggak benar, Sayang... Adikmulah....” Angela mencoba membuka suara dengan terbata-bata. Andri menghela napas panjang. “Memangnya apa yang harus kulihat?” sela Andri menatap tajam pada Angela. Wajah Andri merah padam menahan amarah. Angela tergugu tanpa bisa menjawab, ia hanya bisa terisak, karena tak tahu pasti apa yang Andri lihat. Bagian mana yang sebenarnya kekasihnya itu lihat. “Dan... Apa sebelumnya kalian sudah saling kenal? APA YANG SEBENARNYA KALIAN LAKUKAN DI BELAKANGKU!” Andri meledak. Angela tersentak kaget dan menggigil ketakutan. Ia berusaha meraih Andri untuk menenangkannya. “Apa... apa yang kamu lihat itu nggak bener! Adikmu... adikmu... entah.... bagaimana dia tiba-tiba benci banget sama aku dan men... men...ciumku dengan paksa... Please, Honey, percayalah... itulah... yang terjadi...’’ Angela sesenggukan. “Lalu siapa Direktur Sanjaya? Bagaimana Arlan tahu tentang semua itu? Bahkan aku pun nggak tahu cerita yang sebenarnya. Aku selalu...selalu mencoba percaya setiap berita laki-laki yang mengelilingimu! SELALU! AKU...” Andri tak melanjutkan kata-katanya. Dadanya bergerak naik turun menahan emosi. Andri berkaca-kaca “Andri... Andri...Sayang...I love you honey, hanya kamu! Itu semua nggak bener, Sayang...” potong Angela sambil mencoba meraih wajah kekasihnya yang diliputi emosi. Andri memejamkan kelopak matanya rapat-rapat berusaha meredam amarah dalam dirinya, namun saat Angela mengelus pipinya seolah ingin menenangkannya, membuat Andri kembali membuka mata dengan nyalang. “Turun!’’ usir Andri sambil menyuruh Angela turun. Angela tersentak. “Apa?’’ Angela terisak tak berdaya. “Kubilang, TURUN! Aku muak dengan semua kebohonganmu. Bagaimana bisa kamu mencium adikku di saat aku baru saja memperkenalkanmu sebagai calon istriku kepada keluargaku! Kau benar-benar wanita tak tahu malu! Dia adikku, La! ADIKKU!” Andri benar-benar murka. Angela tersentak dan menjauh dari jangkauan Andri. Angela terdiam sejenak, menatap Andri yang kini membuang muka tak mau menatapnya. “Baik! Aku akan turun, semua penjelasanku nggak akan ada gunanya buatmu! Dan ini adalah terakhir kali kita bertemu! Kau akan menyesal, Andri.” Angela mengusap air matanya yang terus meleleh. Gadis cantik itu turun dengan susah payah tanpa menoleh lagi pada kekasihnya. Demikian halnya Andri. Ia segera memutar balik mobilnya dan memacunya dengan sangat kencang. Angela berjalan terseok-seok beberapa langkah, hingga akhirnya ia duduk dan memeluk lututnya, menangis tersedu-sedu. Ia benar-benar tak menyangka, hari yang harusnya menjadi hari yang paling ditunggu-tunggu olehnya malah berubah menjadi bencana. Angela berjalan terseok-seok kembali sambil sesekali menengok menunggu taksi yang lewat. Tapi untuk beberapa lama tak ada satu pun yang melintas. Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang sedari tadi mengawasi Angela yang akhirnya berdiri sendirian. Tanpa basa-basi laki-laki itu berusaha merebut tas tangan miliknya. Angela mencoba mempertahankan dirinya. Gadis itu berhasil memukul dan menendang dengan membabi buta dan bergegas melarikan diri dari tempat itu. Namun naas ia tak melihat mobil yang melaju kencang ke arahnya yang mengakibatkan benturan keras pun tak terelakkan. Angela, terpelanting, terpental dan bersimbah darah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD