Bab 4 Dokter Tyo

1147 Words
Angela tersentak dari tidurnya, ia meraba-raba untuk memastikan di mana ia berada. Apakah dia sudah mati? Apa ini di surga atau neraka? Tidak! Bukan keduanya. Karena semua masih gelap. Dan itu berarti dia masih hidup dan bernapas. Gadis itu kembali merebahkan tubuhnya yang kian berkurang beratnya. Ia memeluk bantal bulu yang berbau wangi bunga lavender, wewangian favoritnya. ‘Mimpi itu lagi. Nggak tahu sampai kapan aku akan terus mimpiin semua kejadian itu, rasa sakitnya terus terulang setiap hari,’ keluh Angela dalam hati dengan tak berdaya. Seseorang membuka pintu kamarnya dan memasuki ruangan dengan tergesa-gesa. "Lala, Sayang... kamu sudah sadar, Nak? Oh, ya Allah...Alhamdulillah...'' Bu Riana menghambur ke dalam ranjang Angela. Mendengar suara ibunya yang terharu menahan tangis, Angela memaksakan untuk bangkit dari tidurnya untuk menyambut ibunya melalui suaranya. Gadis itu memeluk ibunya dengan erat. Pecahlah air matanya. "Mama? Ini beneran, Mama? Mama....! Lala benar-benar masih hidup?'' Angela terisak di pelukan ibunya. Bu Riana pun tak kalah sedihnya. Ia memeluk dan menciumi putri satu-satunya itu di sela-sela ucapan syukurnya yang terus terdengar. "Iya, Sayang... Iya... Ini, Mama, Nak,'' jawab ibunya penuh kelembutan. "Lala pikir, Lala sudah mati, Lala....'' ucap Angela di sela isak tangisnya. Dan langsung di potong oleh ibunya. "Sssssttt.....Jangan bicara seperti itu, Sayang... Lala sudah aman sama Mama. Jangan sedih lagi, ya,'' lanjut wanita setengah baya yang masih terlihat cantik itu. "Mama, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Lala masih hidup, bukannya Lala jatuh ke tebing itu?'' Angela melepas pelukan ibunya sambil tetap memegang erat tangan ibunya. "Tadi kamu memang terjatuh, tapi bukan di tebing tinggi, Nak, Papa membawamu ke pinggiran taman. Papa hanya ingin memberimu pelajaran, agar kamu tahu bahwa bunuh diri itu jalan yang sesat. Mama sempat panik melihat Papa yang sudah emosi tadi. Untungnya pinggiran taman itu nggak terlalu tinggi.'' Bu Riana memaparkan kejadian yang sebenarnya kepada Angela. Gadis itu mendengarkan dengan dahi berkerut terkejut. "Tapi bertepatan saat itu dokter Tyo datang dan melihatmu terjatuh. Dokter Tyo langsung menggendongmu ke dalam.'' “Dokter? Dokter Tyo? Siapa, Ma?'' Angela memotong pembicaraan ibunya dengan terbata-bata. "Iya, Dokter Tyo datang untuk memeriksa keadaanmu. Beliau di kirim dari rumah sakit tempat kamu di rawat. Apa kamu tahu, tadi dokter Tyo sempat marah-marah sama Papa? Dia melihatmu terjatuh tadi.'' Bu Riana menambahkan dengan nada yang mengekspresikan perasaan takjub. "Hah? Dokter itu marah-marahin Papa? Berani banget, Ma? Terus Papa nggak balik marah?'' Angela balik bertanya dengan nada syok keheranan. Ia paling tahu bagaimana ayahnya. Pak Pranata adalah orang yang diktator, namun sangat di segani oleh kalangan pengusaha. Hingga kebiasaannya itu terbawa ke dalam kehidupan rumah tangganya, yang akhirnya berujung ke perpecahan keluarga. "Papa minta maaf! Papa merasa sangat bersalah. Papa berusaha menjelaskan apa yang terjadi tapi dokter itu hanya fokus mengurusimu!'' Ada terselip kesan puas dalam nada bicara ibunya. Dan Angela pun tak kalah syok mendengarnya. Ia ternganga. "Tapi benar juga sih kalau dokter itu sangat marah. Karena keadaanmu masih sangat riskan. Itu kata dokter Tyo tadi. Tapi, Alhamdulillah kamu sudah sadar, Sayang. Sebentar ya, Mama akan panggilkan dokter Tyo lebih dulu, biar dia memeriksamu lagi.'' Bu Riana bergegas menyudahi pembicaraan mereka. Tanpa menunggu jawaban Angela, Bu Riana bangkit dari ranjang itu menuju keluar kamar. Tak berapa lama terdengar langkah kaki beberapa orang memasuki ruangan itu. Bu Riana kembali duduk di sebelah kanan Angela yang masih duduk bersandarkan tepian ranjang. "Nak, ini dokter Tyo. Mulai sekarang dokter Tyo yang akan merawatmu. Beliau akan sering-sering datang mengunjungimu, ayo beri salam.'' Bu Anggara memperkenalkan mereka berdua dengan meraih tangan Angela agar berjabat tangan dengan dokter itu. "Salam kenal, Nona Angela, saya Tyo," jawab dokter Tyo sambil menyambut uluran tangan Angela. Namun saat tangan mereka bersentuhan ada perasaan yang aneh yang tiba-tiba merayapi hatinya. Seperti tersengat listrik, Angela menarik tangannya dengan cepat. "Ah, iya, Dokter. Saya, Angela,'' balas Angela dengan nada kaku dan terkesan canggung. "Tapi sebenarnya ini bukan pertama kali kita bertemu. Selama Nona di rumah sakit, saya juga sempat merawat Nona, dan sekarang kita bisa bertemu secara pribadi,'' lanjut dokter itu sambil menyiapkan alat-alat untuk memeriksa Angela. Angela menjawab sekedarnya. Dengan di bantu ibunya, gadis itu kembali berbaring. Setelah beberapa lama mereka terdiam dan menunggu dokter itu memeriksa keadaan Angela, akhirnya dokter Tyo membuka suara. "Apa Nona merasa pusing, mual atau sejenisnya?'' tanya dokter Tyo melepaskan stetoskopnya. "Sedikit,'' jawab Angela singkat dan lemah. "Yah, semoga tidak terjadi akibat yang fatal karena insiden tadi pagi. Karena tadi Anda sempat pingsan. Walaupun sempat siuman sebentar, Anda kembali tertidur. Untuk saat ini saya akan memberikan resep kepada suster jaga di sini. Ya, Sus nanti tolong perhatikan resepnya dan kalau ada apa-apa, sekiranya ada keluhan sedikit saja, terutama di kepala segera telepon saya.'' Dokter Tyo menjelaskan dan menatap ke pada Bu Riana serta suster Marisa secara bergantian. Wanita setengah baya itu mengangguk patuh, karena ia memang di sewa khusus untuk selalu bersiaga menjaga Angela. Mendengar perintah itu, keduanya menjawab dengan tegas. Akhirnya dokter Tyo pun berpamitan dan mereka meninggalkan Angela sendirian di kamar. Bu Riana mengantarkan dokter itu hingga keluar gerbang vila dan suster Marisa meracik obat resep dari dokter di kamar obat yang telah di siapkan oleh keluarga Angela. Sejak Angela harus rawat jalan di rumah, segala obat-obatan dan beberapa alat kesehatan termasuk kursi roda yang dibutuhkan saat darurat telah di sediakan di vila itu. Tetapi jika ada obat yang kurang, mereka akan segera memesan via daring dengan ongkos yang tidak murah. Hal ini sempat menjadi perdebatan di antara kedua orang tua Angela. Namun demi memikirkan kepentingan pribadi dan keamanan Angela, mereka tidak mau mengambil risiko tersiar kabar kebutaan yang Angela alami. Hal itu bisa membuat Angela semakin terpuruk. ‘Dokter Tyo? Kenapa aku rasanya pernah denger suaranya, ya? Kayak nggak asing?’ pikir Angela dalam hati. Dalam diam, Angela kembali terngiang suara dokter Tyo. Ia merasa mengenali suara itu tapi entah di mana. Mungkin benar, ia memang pernah di rawat laki-laki itu. Karena 6 minggu bukan waktu yang singkat untuk berada di rumah sakit. Selama seminggu lebih ia koma, dan terbangun dalam keadaan buta. Segala pemeriksaan dan operasi kecil untuk matanya telah ia lewati. Sungguh bukan hal yang mudah baginya. Setelah melewati semua hal menyakitkan itu, bagaimana mungkin ia akan ingat siapa saja yang merawatnya? Angela menghela napas panjang dan beringsut memeluk bantal bulunya. ‘Lagian entah berapa dokter yang menanganiku, aku nggak akan inget, nggak penting juga siapa, toh aku nggak bisa ngelihat lagi ‘kan?’ batin Angela mengernyit sedih. Beberapa kali Angela mengerjapkan mata dan mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Sampai suatu saat ia merasakan perih di kedua kakinya. Ia mengernyit menahan sakit, tapi terlalu lelah untuk bangkit dan merabanya. ‘Andai Papa beneran membawaku ke tebing tinggi itu. Aku pasti sudah mati,’ Angela kembali teringat peristiwa yang baru saja di alaminya. ‘Aku ingat betul tebing itu sangat tinggi. Yah, walau sudah bertahun-tahun lalu, aku masih ingat tempat itu.'' Kenang Angela kembali mengingat masa remajanya dulu terakhir dia berdiri di tebing itu, karena alasan yang sama. Yaitu ingin mengakhiri hidup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD