Bab 5 Kenangan Masa Lalu

1495 Words
Saat itu ia masih menginjak 13 tahun. Saat di mana ia masih belum tahu apa itu hidup yang sebenar-benarnya sampai ia mendengar peristiwa yang membuat hatinya hancur dan merusak kehidupan masa remajanya yang seharusnya diisi dengan belajar dan berteman, namun berubah menjadi anak yang nakal dan selalu membuat ulah. Angela menangis diam-diam, saat ia teringat pertengkaran ayah dan ibunya yang memutuskan untuk bercerai karena perempuan lain. Ia merutuk dalam hati, kenapa tiba-tiba harus teringat peristiwa itu. Gadis cantik itu menghela napas panjang untuk meredakan apa yang menyesakkan dadanya. Namun otaknya bekerja di luar kendali, bagai air terjun semua kenangan itu meluncur dengan derasnya, datang silih berganti dan membawanya kembali melamunkannya. Seolah ia melihat rangkaian film masa lalu, Angela hanya bisa pasrah tanpa bisa menolak. Atau semua itu hanya keinginan terdalamnya untuk keluar dari kegelapan yang sekarang mengungkungnya. Kenangan itu kembali menyeretnya ke pinggiran tebing itu. *** Angela berdiri dan berteriak dengan marah. Ia tak terima dengan perpecahan keluarganya. Saat itu dia sudah mencapai bibir tebing. Angela memandang jurang yang menganga di hadapannya dan pegunungan yang terbentang seolah mengitari dan memeluk tempat itu. Semua keindahan itu tak ada artinya di bandingkan kekecewaan hatinya. Ia terus terisak. “Lama amat sih? Gue pikir mau langsung lompat tadi?’’ Terdengar suara seorang laki-laki. Angela celingukan mencari sumber suara dengan kaget. Pandangan matanya tertumbuk kepada seorang remaja laki-laki yang umurnya terlihat tak jauh berbeda dari Angela, namun pemuda itu menjulang tinggi, sehingga menutupi umur yang sebenarnya. Angela mengernyitkan dahi dengan ucapan pemuda itu yang jauh dari ramah ataupun bujukan. Walau kesal Angela mengacuhkan pemuda itu. Ia mengusap air matanya yang terus meleleh. Ia kembali memandang jurang di hadapannya yang seolah siap menelan apa pun yang masuk di dalamnya. “Takut, ya? Elah, sok-sok’an mau bunuh diri, padahal takut sakit. Udahlah... mundur aja. Ntar malah patah tulang doang, teriak-teriak minta tolong. Sakit, tahu, hiii....” celoteh pemuda itu lagi-lagi meledek dan menakut-nakuti Angela. Karena merasa diganggu, Angela naik pitam. “Pergi! Jangan ganggu aku! Nggak usah ikut campur! Ini urusanku! Bukan urusanmu!” bentak Angela di sela isak tangisnya. Ia memejamkan matanya dan menahan segala gemuruh di hatinya. “Ya gimana gue bisa pergi? Kalau lu mau mati entar gue jadi saksi dong? Mending jadi saksi! Yang ada entar gue yang di tuduh ngebunuh lu!” celoteh pemuda itu lagi-lagi membuat Angela makin kesal dan mundur beberapa langkah. Tanpa sadar ia menjauh dari tebing untuk mendatangi pemuda itu. “Apaan sih? Kalau lu mau pergi, pergi aja sana! Ini bukan urusan lu! Gue mau mati kek, mau apa kek itu urusan gue! Gue nggak butuh lu di sini! PERGI!” usir Angela di sela isak tangisnya sambil memukul-mukul pemuda asing itu. Pemuda itu menahan pukulan Angela tanpa membalas, namun beringsut menjauh. “Hei, sakit tahu! Ya, udah sih gue pergi, bukan urusan gue ini,” jawab pemuda itu sambil menghilang di balik rimbunan pepohonan. Angela mengikuti langkah pemuda asing itu dengan tatapannya, untuk memastikan bahwa dia benar-benar meninggalkan tempat itu. Setelah ia benar-benar sendirian, Angela kembali menuju bibir tebing. Ia berdiri mematung dan kembali menangis. “Pa...Ma... Maafin, Lala... Selamat tinggal, Lala sayang kalian!” Angela sesenggukan. Bertepatan Angela mulai melangkah untuk melompat, tiba-tiba ada sebuah kekuatan yang menariknya dengan paksa dan membuatnya terjatuh di tanah. Angela terpekik kaget. Ia menggeliat untuk lepas dari pelukan seseorang. Ia terbangun dan mendapati pemuda asing yang kembali lagi untuk menyelamatkannya. Angela yang tadinya ingin memakinya, mengurungkan niatnya karena mendapati darah yang merembes dari kepala pemuda itu yang kini jatuh pingsan. Angela menjerit sekuat tenaga untuk meminta pertolongan. Ia berlarian ke sana ke mari sambil berteriak minta tolong. Hingga beberapa orang yang ternyata rombongan tur pemuda itu membawa mereka pergi. Angela tersenyum miris setelah teringat kenangan pahit itu. Namun satu pertanyaan yang menggelitiknya, siapa pemuda itu? Apakah dia harus marah atau berterima kasih? Sebelum ia bisa melakukan itu, pemuda itu telah di bawa menuju rumah sakit terdekat dan Angela di bawa pulang dengan paksa ke Jakarta oleh ibunya tanpa bisa saling berpamitan. Tak berapa lama pintu kamar terbuka, suster Marisa datang membawa nampan obat-obatan bersama Bi Isah membawa nampan makan siangnya. “Non, makan dulu ya, Non,’’ kata Bi Isah menyapa Angela yang masih tergolek lemah. Bi Isah membantu Angela untuk bangkit dari tidurnya agar bisa duduk dan bersandar di tumpukan bantal. Angela menjawab dengan gumaman malas. “Ini Bibi masakin kesukaan Non Lala, sup asparagus dan udang, waaahh... enaknya...makan yang banyak ya, Non, biar cepet sembuh. Bubur nasinya juga gurih lho...’’ Bi Isah berbicara dengan nada menghibur seolah berbicara kepada anak kecil. Lagi-lagi gadis itu hanya bergumam tanpa semangat. “Eh, Non tahu nggak? Dokter Tyo itu ganteng banget loh. Ya, Sus, ya?’’ Bi Isah memancing pembicaraan dan tertawa cekikikan setelah menyuapi Angela. “Wah, iya... Ih, Bi Isah tahu aja sama orang ganteng,’’ Suster Marisa menimpali. Suster senior itu mendekat dan duduk di ujung ranjang tepat di samping kaki Angela. Wanita itu membuka selimut bulu yang menutupi kaki indah gadis itu dan memeriksa luka-luka di kakinya. “Ganteng?’’ sahut Angela balik bertanya dengan heran. Ia mengernyit bingung sambil menelan kunyahan terakhirnya. Melihat itu Bi Isah langsung menyuapinya dengan sesendok makanan lagi. “Iya ganteng banget, kayak artis-artis temen Non di tipi,” jawab Bi Isah dengan nada antusias karena Angela mulai mau menanggapi dan berakhir dengan tawa riangnya. “Emang masih muda, Bi?’’ lanjutnya setelah menelan bubur bercampur kuah sup yang ada di mulutnya. “Iya! Masih muda, ganteng pula. Mana orangnya baik, dan perhatian, banget, ya, Suster, ya?” Lagi-lagi Bi Isah melibatkan suster Marisa untuk membenarkan ucapannya. “Bi, ya iyalah dia baik dan perhatian, dokter ‘kan memang begitu. Harus begitu sama pasiennya? Iya, ‘kan, Suster?’’ Angela mencoba mengutarakan fakta yang ada. Suster Marisa tertawa, “Iya benar juga sih. Tapi...’’ Suster Marisa bertatapan dengan Bi Isah, seolah meminta persetujuan. “Tapi apa?’’ Sergah Angela penasaran. Saat itu Bi Isah menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulut Angela. Angela menerima dengan pasrah setelah Bi Isah mengatakan ‘ak’ pada Angela, benar-benar seperti menyuapi anak kecil. “Yah, mungkin cuma perasaan saya saja, ya, kalau dokter Tyo itu memang sangat perhatian dengan Nona. Setahu saya, selama kenal beliau di rumah sakit. Saya nggak pernah melihat beliau bisa semarah dan sepanik itu. Eeemm...ya tapi wajar sih, karena kondisi Nona ‘kan baru pulih dari koma dan operasi mata. Makanya pantaslah dokter Tyo semarah itu.” Suster Marisa kembali mengingat. “Iya juga ya, tapi memang ada yang gimana gitu ya, Sus.’’ Bi Isah menyela dengan semangat. “Bibi, jangan bergosip ah, saya udah capek masuk berita gosip,” Angela menjawab dengan cepat dan membuat kedua wanita itu pun tertawa berderai mengingat pekerjaan Angela sebagai seorang artis yang tak luput dari gosip. Setelah menyelesaikan makan dan meminum obat, Angela kembali merebahkan diri ke dalam balutan selimut bulu lembutnya. Sepeninggal Bi Isah dan suster Marisa yang telah mengobati kedua kakinya yang terluka, ia kembali teringat pembicaraan kedua wanita itu. ‘Apa-apaan sih mereka? Ya kali dokter itu suka sama orang buta kayak aku? Lagian aku nggak mau pacaran lagi! Semua laki-laki itu ba****an. Bilangnya cinta mati, mana buktinya? Hanya karena salah paham sedikit aja main usir!’ pikir Angela mengingat malam petaka yang harusnya menjadi malam terindah dalam hidupnya, namun dalam sekejap berubah menjadi bencana. Dan sekarang ia telah meratapi hasil dari malam naas itu. Pikirannya kembali kepada kekasihnya, Andri yang tak ada kabar sama sekali sejak malam itu. Angela mencoba menghilangkan bayang-bayang Andri yang melekat di pelupuk matanya. Belum sempat ia melupakan Andri, tiba-tiba bayangan wajah Arlan menyusup masuk. Dan semakin Angela berusaha melupakannya, bayangan itu semakin jelas tergambar. Seolah ia masih menatap laki-laki tampan berkaca mata tipis itu di hadapannya. Sesaat Angela menyadari sesuatu, ‘Oh, iya. Kok mama juga nggak pernah nanyain kenapa ini semua bisa terjadi? Mama juga nggak nyinggung-nyinggung soal Andri? Aneh....’ pikir Angela dengan bingung. ‘Apalagi Papa! Papa juga nggak kedengeran membahas Andri sama sekali? Apa mereka menyembunyikan sesuatu yang aku nggak tahu? Apa mungkin memang terjadi sesuatu dan mereka nggak memberitahuku! Hapeku... Oh iya? Pasti hilang entah ke mana?’ Angela mendesah sedih, mengingat semua itu apalagi mengingat telepon selulernya raib entah ke mana. Padahal semua foto-foto dan kenangan bersama Andri ada di ponsel itu. Semua kenangan yang terpatri dalam foto dan video itu raib dalam semalam. Walaupun ia tak bisa melihat semua itu lagi. Setidaknya ia masih bisa mengingat segenggam kebahagiaan itu. Yang kini benar-benar musnah seperti debu. “Andri.....’’ desahnya mulai menangis dan terisak. Gadis itu mencoba merebahkan badannya dengan posisi terlentang. Tiba-tiba kepalanya berdenyut-denyut sangat kuat. Ia melenguh kesakitan. Rasa sakit itu merambat ke bagian dahi dan kedua matanya. “Mama....’’ Suaranya terlalu lemah untuk memanggil seseorang. Angela meraba-raba sekitar tempat tidurnya. Gadis itu bergerak-gerak kesakitan dengan terisak. Hingga tiba-tiba terdengar geluduk yang menderu di langit saat itu. Untuk sesaat Angela tersentak kaget dan menggigil ketakutan. “Mama...Mama....’’ Suara lemah Angela tertelan oleh suara deru geluduk yang makin lama makin terdengar dengan keras dan mengerikan. BRUK! Angela jatuh dari tempat tidurnya dan tergeletak tak berdaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD