Dokter Tyo memutar mobilnya dengan tergesa-gesa. Ia hampir saja menabrakkan mobil kesayangannya itu ke pepohonan yang berjajar di pinggiran jalan utama vila sebelum memasuki jalan raya. Untung gerakannya sangat gesit untuk mengerem mobil tepat waktu. Jalanan yang berliku, naik turun dan berbatu bisa saja membuat pengemudi kendaraan yang tak sabar akan mengalami celaka. Ditambah lagi suasana saat itu turun hujan lebat yang membuat jalanan tanah itu agak berlumpur dan licin.
Dokter muda itu kini mulai berhati-hati dengan keadaan hujan yang mengguyur di pegunungan. Dia melirik ponselnya yang ia letakkan di sebelah kirinya. Ponsel itu bergetar oleh bunyi pesan singkat. Ia menjadi sangat tergesa-gesa setelah mendapat telepon dari suster Marisa yang mengabarkan Angela sedang kesakitan, sampai gadis itu terjatuh dari tempat tidurnya.
"Untung aku belum jauh dari vila. Semoga masih keburu,'' gumam dokter muda itu pada dirinya sendiri, sambil terus memperhatikan jalanan sekitarnya yang mulai tertutup air hujan yang cukup deras.
Sementara itu, Bu Riana berjalan mondar-mandir dengan gelisah dari kamar Angela ke ruang tamu. Wanita paruh baya bertubuh semampai itu gelisah menunggu kedatangan sang dokter. Entah sudah yang ke berapa kali ia mengintip dari jendela ruang tamu untuk memastikan kedatangan dokter Tyo.
Hujan yang mengguyur makin deras di sambut dengan petir yang menggelegar bersahut-sahutan seolah menelan suara apa pun yang ada di pegunungan itu.
Bu Riana kembali ke kamar Angela, ia menyeka air mata yang terus menetes sejak melihat putri satu-satunya itu tergeletak tak berdaya dan menutup matanya sejak tadi. Gadis itu masih tak sadarkan diri. Ia terus menerus menggumamkan dzikir di sela isak tangisnya sambil menggenggam tangan kurus Angela. Tak lama terdengar pintu di ketuk dari luar.
"Masuk!'' perintah Bu Riana tanpa bertanya terlebih dahulu siapa yang ada di balik pintu. Mendengar perintah itu, pintu terbuka dan Bibi Isah memasuki ruangan bersama dokter Tyo. Mereka memasuki ruangan dengan tergesa-gesa.
"Oh, alhamdulillah, akhirnya Dokter datang. Angela, Dok...'' Bu Riana terbata-bata karena panik.
"Tenang, Bu, sebentar saya periksa dulu.'' Dokter Tyo mulai memeriksa Angela yang tergolek diam. Masih ada sisa napasnya yang sangat lemah. Bu Riana ingin melihat usaha dokter muda itu dan suster Marisa untuk membuat putrinya siuman. Wanita itu terus berdoa.
Sama halnya dengan Bi Isah, yang menunggu dengan sabar dan sesekali menghapus air mata yang mengalir di wajah renta nya. Bibirnya tak berhenti komat-kamit dalam doa.
"Maaf, Bu, saya mohon untuk Anda berdua sebaiknya jangan berada di sini. Percayakan kepada saya dan suster Marisa, ya? Saya, mohon.''
Dokter Tyo meminta Bu Riana dan Bibi Isah untuk meninggalkan kamar itu dengan sopan, agar tak mengganggu konsentrasi kerja kedua tenaga medis tersebut. Dengan berat hati Bu Riana dan Bi Isah meninggalkan kamar dan menutup pintu. Mereka menunggu dengan gelisah dan pasrah dalam doa.
"Suster, apa saja yang sudah diupayakan untuk membuatnya bangun?'' tanya dokter Tyo kepada suster Marisa.
Suster senior itu menjelaskan beberapa metode pertolongan pertama untuk membangunkan orang pingsan dari mengoleskan minyak dan membauinya, kemudian mengangkat kedua kaki Angela lebih tinggi dari posisi kepalanya, agar mengembalikan aliran darah kembali ke otak. Tapi masih belum ada respons dari pasien.
Setelah memastikan denyut nadinya masih ada, walau sangat lemah, dokter Tyo mencoba menepuk pundak Angela pelan sambil memanggil-manggil namanya. Tapi tiba-tiba gadis itu seperti kejang-kejang untuk sesaat sebelum akhirnya kembali terkulai lemas setelah tubuhnya menyentak ke atas.
Tanpa sempat berkomentar kedua petugas medis itu langsung berpandangan dan dokter Tyo segera melakukan gerakan CPR atau resusitasi jantung dan paru kepada Angela. Dengan diselingi pemberian napas buatan, dokter Tyo tetap melakukan CPR untuk Angela, dengan menekan dan menghentakkan d**a gadis itu dengan telapak tangannya. Hingga ia memberikan napas buatan yang ke tiga kalinya Angela tersentak dari tidurnya dan terbatuk-batuk.
"Oh...Alhamdulillah...'' pekik suster Marisa senang. Wanita setengah baya itu hampir menangis karena lega. Bersamaan dengan dokter Tyo yang menghela napas panjang tak kalah leganya.
Angela tersengal-sengal untuk beberapa saat sebelum akhirnya bisa bernapas dengan lebih normal. Ia tetap memejamkan mata dan mengernyitkan dahinya.
"Nona? Non Angela... Non...?'' panggil dokter Tyo dengan lembut kepada Angela yang mulai bergerak dan perlahan membuka matanya. Angela menggumam kecil dan terbatuk-batuk dan seperti hendak muntah.
Dengan dibantu suster Marisa, dokter Tyo segera memiringkan badan Angela menghadapnya. Menarik salah satu tangan gadis cantik itu untuk di letakkan di pipinya dan menekuk lutut Angela. Terakhir laki-laki itu menengadahkan wajah Angela menghadapnya. Gadis itu seolah habis berlarian, ia bernapas dengan berat dan tersengal-sengal. Dengan sabar dokter Tyo menunggu sampai napas Angela kembali teratur dan lebih tenang.
"Nona, bisa mendengar suara saya?'' panggil dokter muda itu dengan suara lembut. Angela menggumam tak jelas dengan mata yang masih tertutup. Dokter Tyo dan suster Marisa saling memandang dengan perasaan lega.
“Walau sedikit, Non Angela sudah bisa merespons suara. Alhamdulillah...” gugu suster Marisa duduk di tepian ranjang Angela dengan mata berkaca-kaca.
“Alhamdulillah, Sus,” ucap Dokter Tyo tersenyum, tetap tak berpindah tempat dari duduknya yang berjongkok di hadapan Angela.
"Nona...coba bilang sesuatu. Non Angela,'' panggil dokter Tyo memancing respons Angela kembali. Lagi-lagi gadis itu menggumam tak jelas, lalu membuka matanya perlahan dan bola matanya bergerak mencari-cari. Walau ia tahu pasti ia tak akan pernah menemukan gambaran pemandangan apa pun yang ada di hadapannya.
"Nona, ini saya, Tyo. Saya ada di tepat depan Anda. Ikuti suara saya. Apa Anda merasa sakit? Di bagian mana yang sakit? Coba jelaskan pada saya.”
Dokter Tyo sengaja berbicara lebih panjang, agar Angela bisa tahu pasti posisi lawan bicaranya. Dan benar saja, bola mata Angela bergerak menyamping ke atas mengikuti suara laki-laki itu. Dokter Tyo tersenyum, demikian juga suster Marisa.
"Iya, Nona, ini saya suster Marisa. Apa Nona sudah lebih baik?'' tanya suster paruh baya itu menimpali.
"Heeemmm...'' Angela menjawab sebisanya dengan napas mulai stabil. Tetapi ia terlihat seperti kelelahan.
"Dok, saya akan mengabarkan pada Bu Riana,'' ucap suster Marisa dengan wajah lega. Dokter Ian mengangguk tanda setuju.
"Saya...pusing...'' jawab Angela lemah dan tak berdaya.
Gadis itu mengernyit menahan sakit. Melihat itu tanpa sadar dokter Tyo membelai rambut panjang Angela yang terkulai menutupi wajah cantiknya. Laki-laki itu dengan lembut merapikan rambut Angela yang berantakan di wajahnya. Hal itu membuat Angela bergerak mengangkat wajahnya, seolah ingin melihat laki-laki yang ada di hadapannya.
"Ah, maafkan saya!'' ucap dokter muda itu seperti terkejut dengan apa yang telah ia lakukan.
"Saya sudah nggak sopan. Maaf.'' Dokter itu beranjak berdiri dari posisi duduknya yang bertumpukan salah satu lututnya dengan posisi tepat di depan Angela.
“Dokter... Tunggu...”