Bab 7 Maafkan Aku

1177 Words
Baru saja Angela ingin mengatakan ia tak keberatan, pintu terbuka oleh suster Marisa di ikuti oleh Bu Riana yang langsung mendatanginya dan bersimpuh di hadapannya. "Lala, Sayang... ini Mama, Nak. Alhamdulillah... Ya Allah....'' pekik Bu Riana dengan isak tangis harunya. Angela menjawab dengan gumaman yang lemah. "Nona, sebaiknya minum dulu untuk memulihkan kondisi Nona ya,'' ucap dokter Tyo sambil kembali mendekat dan mencoba mendudukkan Angela dengan dibantu suster Marisa. Tak berapa lama Bibi Isah datang membawa teh manis hangat atas permintaan suster Marisa. Setelah duduk dengan nyaman, Angela menyesap teh hangat itu sedikit demi sedikit dengan bantuan ibunya. Perlahan-lahan terlihat rona merah seolah merayapi wajahnya yang putih. Dan suhu tubuhnya perlahan menghangat kembali. Semua terlihat lega dan sangat bersyukur karenanya. "Sebenarnya tadi apa yang terjadi, Bu? Kenapa Non Lala terjatuh?'' tanya dokter Tyo kepada Bu Riana. Wanita paruh baya yang anggun itu menceritakan semua kejadian sepeninggal dokter itu pergi hingga saat ia kembali lagi. Mereka semua terdiam membisu karena terlalu sedih akan keadaan Angela. Hingga suara bersin dokter Tyo membuyarkan suasana hening dan tegang di kamar itu. Semua mata menatapnya dengan kaget. Apalagi mereka baru menyadari ternyata dokter muda itu dalam keadaan basah kuyup. "Ah, maafkan saya,'' ucap dokter Tyo dengan segan yang langsung di sambut tawa cekikikan suster Marisa. "Ya Allah, Dokter basah kuyup begitu? Pasti karena kehujanan pas mau masuk rumah, ya?'' Bibi Isah terlihat kaget karena baru menyadarinya. "Ya sudah, dokter istirahat di vila ini saja dulu kalau tak keberatan. Mandi dulu dan ganti baju. Bi, tolong siapin air panasnya buat dokter Tyo, hawanya lagi dingin-dinginnya sekarang,'' sahut Bu Riana memberi perintah kepada Bibi Isah. "Eh, tapi, Bu. Saya nggak apa-apa, kok, lagi pula saya nggak bawa baju ganti. Jangan repot-repot, Bi,'' ucap dokter muda itu terlihat sungkan kepada kedua wanita itu secara bergantian. "Nggak apa-apa gimana? Sudah, Bi siapkan saja. Masalah baju. Eemm...saya akan carikan baju-baju papanya Lala yang ada di sini. Seingat saya, banyak baju-bajunya yang jarang sekali di pakai dan masih bagus-bagus di tinggalin di sini. Sudah, nggak apa-apa, Dok, kami nggak merasa di repotkan, kok,'' sahut Bu Riana dengan lugas dan panjang sampai dokter Tyo tak bisa memotong pembicaraannya. Bu Riana berlalu dari kamar itu dengan cepat untuk menyiapkan baju ganti dokter Tyo. Dokter muda itu menggaruk pelipisnya yang tak gatal dengan canggung. "Nggak apa-apa, Dok, lagian Nona masih butuh Dokter, ‘kan?'' Suster Marisa menyahut tiba-tiba seraya meninggalkan dokter itu sambil tersenyum. Melihat kode dari suster Marisa, laki-laki tampan itu berdeham karena malu. "Eeemm...Dok...ter...'' panggil Angela lemah. Dokter Tyo segera menghampiri gadis cantik yang kini duduk bersandarkan bantal-bantalnya. "Ah, iya? Nona, istirahat aja, jangan terlalu banyak pikiran,'' ucap laki-laki itu dengan lembut. Angela bergumam lemah sebagai jawaban atas saran dokter itu. Sesaat setelah suster Marisa pamit meninggalkan kamar itu dengan alasan akan menyiapkan air hangat untuk menyeka badan Angela. Dokter Tyo masih duduk di samping ranjang Angela yang mulai gelisah. "Nona? Ada apa?'' tanya dokter Tyo yang melihat Angela bergerak-gerak dengan gelisah. Gadis itu memejamkan matanya dan mengernyit menahan sakit. Dokter Tyo duduk mendekat di ranjang Angela. Dokter muda itu menyentuh kening gadis itu perlahan. "Anda demam rupanya,'' gumamnya pelan seperti berbicara pada dirinya sendiri. Kemudian laki-laki itu menggendong tubuh Angela dan merebahkannya dalam ranjang. Gadis itu melenguh gelisah dan sesekali mengingau tak jelas. Bertepatan dengan suster Marisa datang membawa nampan berisi baskom yang berisikan air panas dan waslap. "Ada apa, Dok?'' tanya wanita itu seraya meletakkan bawaannya di atas meja yang terletak di samping ranjang Angela. "Nggak apa-apa cuma demam aja. Sebaiknya jangan di seka dulu. Lebih baik di kompres aja,'' ucap dokter Tyo bertepatan Bu Riana datang dan mempersilahkan dokter muda itu untuk segera membasuh badannya dengan air hangat yang telah disiapkan di kamar tamu. Setelah memastikan keadaan Angela bisa teratasi dengan baik, dokter Tyo meninggalkan kamar itu menuju kamar tamu di bimbing oleh nyonya pemilik rumah. Laki-laki tampan berperawakan tinggi itu terlihat kagum akan keadaan vila yang cukup besar dan terawat dengan apik. "Maafkan saya, Dokter, Anda jadi terjebak di sini karena saya.'' Bu Anggara membuka suara saat mengantar dokter Tyo ke kamar tamu yang selalu bersih walau jarang di tempati. Dokter muda itu tersenyum sungkan. "Tidak, Nyonya....'' "Ibu, panggil saya ibu saja, ya, jangan terlalu sungkan, saya bukan siapa-siapa, Dok. Saya bukan nyonya besar,'' potong Bu Riana meralat ucapan dokter Tyo yang langsung disambut tawa keduanya. "Baik, Bu... Saya sangat berterima kasih sekali. Dan ini sama sekali tidak merepotkan saya,'' jawab laki-laki tampan itu tersenyum ramah. Setelah mereka sampai di depan sebuah kamar utama yang terdapat di sayap barat vila itu, Bu Riana membuka pintu kayu yang bercat coklat terang itu, tampak serasi dengan warna kuning gading yang menghiasi dinding kamar itu. Setelah membukakan pintu kamar itu, Bu Riana meninggalkan laki-laki itu untuk mengurus dirinya sendiri yang menahan dingin karena kehujanan. Sepeninggal wanita paruh baya itu, dokter Tyo menutup pintu dan mengunci kamar itu. Ia langsung menuju kamar mandi. *** Angela terbangun dari tidurnya saat ia mendengar suara ibunya yang terpekik terkejut. Angela mencoba mencuri dengar percakapan ibunya yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Sesekali ia juga mendengar desah napas ibunya dan nada khawatir dalam suara wanita itu. "Kenapa bisa begini sih, Ta? Seinget tante semua kontrak itu sudah selesai, ‘kan? Kenapa mereka tiba-tiba menuntut Lala?'' Bu Riana tak bisa menutupi keterkejutannya. Angela menajamkan telinganya untuk mencuri dengar pembicaraan ibunya. Namun, sepertinya ibunya menyadari posisinya yang berdiri di depan pintu kamar Angela. Wanita itu cepat-cepat menutup pintu kamar dan berjalan menjauh dari kamar, agar pembicaraannya tak terdengar oleh putri tunggalnya itu. ‘Mama pasti lagi ngobrol sama kak Renata. Tapi ada masalah apa? Kontrak apalagi yang belum selesai?' pikir Angela dalam hati mengingat semua pekerjaan yang terpaksa ia tinggalkan karena kecelakaan yang telah menimpanya. Ia sangat berterima kasih pada wanita yang berumur lima tahun lebih tua darinya itu. Sebagai manajer pribadinya, Renata bukan hanya saja bagus dalam pekerjaannya, tapi ia juga sahabat sekaligus kakak yang baik buat Angela. Apalagi sejak ia mengalami musibah, Renata dan ibunya yang harus mengurus semua masalah yang ada. Tak berapa lama ia menunggu, akhirnya Angela mendengar seseorang membuka pintu kamarnya. Mendengar langkah yang tampak ragu-ragu. Angela memastikan seseorang itu bukanlah ibunya, gadis itu tetap menutup matanya berpura-pura tidur. Langkah kaki itu mendekat perlahan, seolah ia tak ingin mengganggu si pemilik kamar. Langkah yang ringan dan terdengar berbeda dari biasanya. Jantung Angela berdetak sangat kencang dan tak karuan saat langkah kaki ringan itu berhenti di pinggiran ranjangnya. Rasanya Angela tak bisa menahan diri dengan kepura-puraannya. Ia sangat yakin seseorang yang ada di hadapannya itu bukanlah Bibi Isah, suster Marisa, apalagi ibunya. 'Siapa? Langkah ini sangat asing, aku nggak....' Pikiran Angela langsung buyar saat ada jari-jemari yang membenahi rambutnya yang menutupi wajah cantiknya. Seseorang itu terdiam dan hanya terdengar sesekali desahan napasnya yang tenang. Seolah orang itu hanya terdiam menatapnya tertidur. Angela benar-benar kaku dan seolah membeku saat tiba-tiba desahan napas yang hangat itu mendarat di keningnya. Seseorang itu mengecup keningnya dengan dalam dan sayang. Lalu sepasang bibir itu menjelajahi wajah cantik Angela perlahan, dari kedua mata indahnya, kedua pipi, hidung mancungnya dan berakhir di bibir tipisnya. "La... Maafkan aku.''
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD