Bab 8 Kegelisahan Angela

1423 Words
"Siapa?'' pekik Angela tersentak dari tidurnya dengan tangan yang menggapai-gapai apa yang ada di hadapannya. "Sayang, ada apa?'' sahut Bu Riana dengan nada panik dan berusaha menangkap kedua tangan putrinya yang terlonjak dari tidurnya. Angela terkesiap. "Mama? Mama, ada di sini? Sejak... Sejak kapan, Ma?'' Angela mencicit gelagapan. Mengingat baru saja apa yang ia alami. "Apa maksudmu, Nak? Mama selalu ada di sini? Kamu mimpi buruk, ya? Ada apa, Nak? Tenanglah, Sayang...'' bujuk Bu Riana pada putrinya sambil duduk mendekat dan memeluknya. Gadis itu terlihat ragu dan kebingungan. Ia meraba d**anya yang berdegup sangat kencang, seolah menandakan bahwa apa yang ia alami itu nyata. "Ma, apa Mama tadi menerima telepon dari kak Renata? Tadi Mama sempat pergi karena menerima telepon itu ‘kan?'' tanya Angela memastikan. Terdengar gumaman tak jelas yang spontan keluar dari mulut wanita itu. "Jadi benar? Ada masalah apa, Ma?'' lanjutnya mendesak. "Iya, kak Renata memang telepon. Tapi semua urusannya sudah selesai,'' jawab Bu Riana dengan malas. "Sebenarnya ada apa, Ma? Beneran ada yang nuntut Lala? Perusahaan iklan, ya?'' Angela mendesak lebih jauh. "Lala... Sudahlah, nggak apa-apa. Semua sudah Mama atasi bersama kak Renata. Kamu nggak usah mikir macam-macam. Pulihkan kondisi kesehatanmu dulu, ya,'' Bu Riana berusaha membujuk. "Tapi, Ma....'' "Sudah! Mama nggak mau dengar apa-apa. Sebaiknya sekarang kau tidur. Mama akan menemanimu tidur di sini,'' potong Bu Riana dengan nada memerintah. Angela mengangguk dengan lemah sebagai jawaban atas perintah ibunya. ‘Kalau benar mama menerima telepon kak Renata, berarti tadi bukan mimpi dong? Tapi... Tapi mama bilang selalu di sini? Apa aku ketiduran dan cuma mimpi?’ batin Angela berkecamuk. ‘Tapi rasanya seperti nyata. Bahkan terlalu nyata. Bahkan suara laki-laki itu sangat jelas terdengar... Dan... Bibirku... Oh...' pekik Angela dalam hati dengan gelisah. Gadis itu meraba bibirnya yang kering. ‘Beneran! Rasanya aku seperti mengenalnya... Oh... Apa itu Andri?' Terlintas Andri dalam benaknya. Tapi ia lalu menggelengkan kepalanya dengan pasti karena itu hal yang mustahil. ‘Ya Allah, apa sih yang kupikirin? Bahkan Andri nggak tahu tempat ini. Dan juga ini sudah malam pastinya. Rasanya aku benar-benar gila! Kenapa aku masih mikirin dia setelah perbuatannya padaku? Nggak! Aku harus melupakannya!' Gadis cantik itu mendesah dengan kasar. Angela merutuk dalam hati saat mendapati air mata tiba-tiba membasahi pipinya. Ia mendekap wajahnya dengan bantal, karena ia tak ingin mengganggu ibunya yang telah terlelap di sampingnya. *** Pagi itu suasana terlihat sibuk. Angela terbangun dari tidurnya karena mendapati suara riuh di ruangannya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, walaupun ia tahu tak akan mendapati pemandangan apa pun di hadapannya. Semuanya tetap gelap gulita dan hitam. "Selamat pagi, kau sudah bangun, Sayang?'' sapa Bu Riana sambil mengecup kening putrinya dengan sayang. "Selamat pagi, Ma. Ada apa kok kayaknya ribut banget?'' tanya Angela dengan lemah. "Oh, iya, hari ini kita akan bersiap-siap ke rumah sakit. Kemarin dokter Tyo sudah bilang sama Mama, kalau kau harus di rawat lagi, agar kondisimu cepat pulih, juga benar-benar terjaga dan terpantau.'' Bu Riana menjelaskan sambil sesekali memberi perintah kepada Bibi Isah dan Bibi Nuri, juga Pak Dahlan, Sopir mereka. "Dokter Tyo?” gugu Angela tak mengerti. Ia mengernyit heran. "Iya! Oh, kau pasti lupa, kemarin kamu pingsan gara-gara terjatuh dari tempat tidur. Mama menelepon dokter Tyo untuk kembali ke sini, untuk memastikan kondisimu. Makanya dokter Tyo meminta kamu kembali ke rumah sakit untuk memastikan bahwa kamu nggak mengalami luka apa-apa karena terjatuh dari tempat tidur.” Bu Riana mendekatkan wajahnya pada Angela seolah ingin berbisik. “Apa kamu tahu? Dia sampai menahan dingin karena kehujanan kemarin. Makanya Mama menyuruhnya menginap di sini. Tapi, tadi, pagi-pagi banget dia sudah pergi duluan ke rumah sakit menyiapkan ruangan buatmu,'' papar Bu Riana dengan nada puas. "APA? Dokter Tyo menginap?'' sahut Angela tersentak kaget. "Iya, kenapa? Ya, mau bagaimana lagi? Hujannya lebat banget, Sayang. Sedangkan dia sampai ke sini juga sudah menjelang malam. Mama nggak mau terjadi apa-apa sama Pak dokter. Ini di pegunungan, La, jauh dari mana-mana. Mama yang meminta dokter itu menginap. Apa kau tahu? Hujan benar-benar baru berhenti pagi tadi.'' Angela mengernyit mendengar semua penuturan ibunya. Gadis itu menggigit bibirnya dengan penuh tanda tanya. "Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Bu Riana terlihat khawatir. Angela menggeleng perlahan. "Eeemm... nggak, Ma, Lala cuma kasihan saja sama Dokter itu,” sahut Angela beralasan. "Iya, memang, orangnya sabar dan baik. Mama sempat ngobrol banyak saat makan malam kemarin. Ya, sudah, kita bersiap sekarang,” potong Bu Riana tergesa-gesa seraya bangkit dari duduknya. Wanita itu berjalan menjauh dan sayup-sayup terdengar, ibunya sedang berbicara dengan suster Marisa tentang obat-obatan yang sekiranya harus di bawa saat dalam perjalanan mereka nanti. ‘Nggak mungkin orang itu, ‘kan? Yang benar saja! Berani-beraninya dia!' pekik Angela dalam hati menahan marah. Tapi saat ia teringat kata-kata yang di ucapkan laki-laki itu, hatinya kembali berdegup kencang. ‘La...? Laki-laki itu juga memanggilku begitu. Tapi hanya Andri yang memanggilku begitu? Oh, ya ampun! Ini membuatku bingung!’ *** Sesampainya di rumah sakit, dokter Tyo dan seorang perawat laki-laki yang mendampinginya menyambut Angela dan rombongannya. Melihat kondisi Angela yang terlihat lemah akibat kelelahan dalam perjalanan, tanpa pikir panjang dokter Tyo menggendong Angela dari mobil dan meletakkannya di sebuah kursi roda. Gadis itu terkulai dalam sandaran kursi dan membuat selendang yang menutupi kepalanya tersibak dan memperlihatkan rambutnya berwarna coklat kemerahan yang indah berkilau. Sesaat perawat laki-laki itu terkejut, namun melihat kesigapan dokter Tyo yang langsung menutupi rambut Angela dengan selendang dan membenahi masker yang menutupi wajah gadis itu membuat sang perawat terdiam seperti tak melihat siapa sosok spesial pasien tersebut. Keterkejutannya itu pun ia telan diam-diam. Tanpa di perintah lagi, perawat laki-laki itu mendorong kursi roda Angela. Mereka berjalan berdampingan dengan suster Marisa yang sibuk membawa koper besar. Sementara dokter Tyo berjalan di belakang mereka berdampingan dengan Bu Riana yang juga membawa koper tak kalah besar dari Suster Marisa. “Saya membawa baju cukup banyak, Dok. Seperti yang Dokter minta. Karena kata Dokter, Lala nggak tahu sampai kapan akan di rawat di sini,” ucap Bu Riana pada dokter Tyo yang tersenyum penuh arti. Mereka memasuki UGD dan dengan bantuan perawat laki-laki itu, dokter Tyo kembali menggendong Angela dan merebahkannya pada salah satu ranjang yang paling ujung. Sementara Bu Riana pergi ke meja perawat untuk mengisi beberapa data yang dibutuhkan. Karena Angela pernah di rawat di situ dengan waktu yang cukup lama, beberapa perawat yang telah mengenali wajah Bu Riana menyapanya dengan ramah dan ada sedikit perbincangan di antara mereka. Hal itulah yang membuat keluarga pasien lain yang kebetulan ada di situ dan melihat kehadiran Angela merasa penasaran dan beberapa di antaranya sengaja menjenguk ke ranjang Angela. “Angela? Angela, artis itu, ya, jangan-jangan?” “Iya, kayaknya. Itu pasti mamanya, kayaknya orang itu pernah muncul di acara gosip waktu itu!” “Eh, beneran? Jadi, beneran dia separah itu? Kepo, ih? Tapi, beneran nggak sih? Katanya dia cuma luka-luka doang?” Terjadilah kasak-kusuk dan kehebohan di antara mereka. Yang akhirnya membuat beberapa orang itu di tegur oleh para perawat yang sedang bertugas dan mempersilahkan mereka untuk menunggu di luar area UGD yang terbuka itu. Beberapa orang yang siap dengan kamera ponselnya sempat di tegur keras oleh para perawat dan terpaksa berurusan dengan petugas keamanan. Karena di area UGD tidak di perbolehkan menggunakan ponsel. Melihat kehebohan yang sempat terjadi, para petugas medis itu memutuskan untuk memberikan ruangan khusus kepada Angela agar jauh dari jangkauan orang luar dan selalu menutup korden di mana Angela berbaring. Setelah memastikan semua pemeriksaan selesai, Angela yang masih terkulai lemah itu memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur tanpa tahu kehebohan yang terjadi karena dirinya. “Sebaiknya kita lewat pintu samping khusus karyawan aja. Di luar jadi makin rame orang,” ucap dokter Tyo kepada perawat laki-laki yang mendampinginya dan langsung disetujui oleh pemuda itu. Dengan menutupi wajah dan rambut Angela sedemikian rupa, mereka berhasil membawa gadis itu memasuki paviliun ruang VIP tanpa ada masalah yang berarti, selain itu mereka lewat pintu samping UGD itu untuk mengelabui orang-orang yang sempat melihat sosok Angela. Selesai memastikan kondisi Angela, dokter Tyo beranjak pergi dari kamar di mana Angela di rawat. Gadis itu memejamkan matanya dan memusatkan pendengarannya kepada suara dokter muda itu saat berbicara dengan ibunya. Angela benar-benar yakin ia tak asing dengan suara dokter itu. Walaupun begitu ia masih ragu, apakah laki-laki itu yang telah mencium dan meminta maaf malam itu. Ia mendesah gelisah dan mencoba melupakan semua yang berkecamuk dalam pikirannya. ‘Tapi gimana caranya aku nanya sama dia? Mama pasti akan selalu ada di sampingku. Dan, yang pasti itu nggak mungkin dia berani berbuat begitu? Ya, ampun semakin dipikir semakin memusingkan! Cukup, La. Anggap ini hanya mimpi! Mimpi!’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD