Bab 9 Siapa Dokter Sebenarnya

1350 Words
Beberapa hari di rumah sakit membuat Angela terlihat lebih sehat. Saat itu ia telah melewati jam kunjungan dokter mata, yang selalu di lakukan setiap siang hari. Angela menikmati suara televisi yang sedang menayangkan sebuah film anak-anak yang sangat terkenal dengan karakter utamanya yang bisa mengeluarkan kekuatan es. Angela tersenyum saat ia mendengar lagu pengiring film yang sangat terkenal itu, tanpa sengaja ia ikut menyenandungkan nyanyian itu. "Wah, suara Non Angela bagus juga loh, kenapa nggak jadi penyanyi aja?'' DHEG! Angela langsung terdiam kaku mendengar suara laki-laki yang tiba-tiba mengomentari suaranya. Gadis itu berdeham dengan canggung. Ia tak pernah merasakan kehadiran seseorang di sana. Setelah sebulan ia mulai terbiasa dengan kegelapan, ia pun mulai terbiasa dengan pendengarannya yang semakin sensitif dengan suara sekecil apa pun. Tapi, kini ia tak mengira ada seseorang yang tanpa ia sadari ada di sisinya. Dan lagi-lagi ia merasa ini bukan pertama kalinya terjadi. "Dok...Dokter Tyo? Terima kasih. Eeemm... Sejak kapan dokter ada di sini?'' tanya Angela dengan segan menoleh ke mana asal suara itu berasal. "Oh, saya baru masuk karena pintunya setengah terbuka, dan suster Marisa sedang menerima telepon di luar.'' Dokter itu menjelaskan dengan tetap menjaga jarak. "Apa, Nona sudah makan? Ini sudah hampir jam satu siang loh?'' lanjutnya mengingatkan. "Sudah, baru saja selesai. Terima kasih, Dok....'' Angela menggantungkan ucapannya dan menoleh ke arah televisi seolah ia bisa melihat. "Seperti yang sudah di beritakan sebelumnya, bahwa menghilangnya Angela Anggara setelah insiden perampokan malam itu menyisakan berjuta misteri....'' KLIK! "Ah! Kenapa dimatiin? Siapa yang matiin tivinya?'' pekik Angela dengan panik. "Em...maaf sudah waktunya Anda beristirahat, Nona. Dan saya harus pergi....'' "Nggak, Dok! Tolong nyalakan tivinya kembali! Tolong!'' ratap Angela dengan nada memohon. "Dokter...Saya mohon...'' desak Angela dengan suara sedih, karena merasa dokter muda itu tetap tak bergeming. Mendengar suara Angela yang sedih, akhirnya dokter itu kembali menyalakan televisi yang ada di ruangan itu. Sambil berharap semoga berita itu telah usai. Namun ia salah perkiraan. "Diduga Angela sempat mengalami koma sebagai akibat insiden kecelakaan itu. Namun sejak berita ini di turunkan belum ada kepastian dari pihak keluarga yang mengklarifikasi tentang berita yang beredar. Sedang di sisi lain pihak sponsor yang telah mengikat kontrak kerja sama dengannya harus mengalami kerugian besar karena masalah ini. Hal ini membuat Angela harus mengganti kerugian dengan jumlah yang cukup fantastis. Dan inilah petikan pernyataan dengan Renata selaku manajer dan perwakilan Angela Anggara." Suara narator yang menjelaskan kondisi Angela dan permasalahan yang mengikutinya. ''Iya, buat seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya dan khususnya para fans Angela, saya mohon doanya untuk Angela kita. Ya, eee... beliau memang mengalami koma dalam beberapa hari, jadi, kondisinya masih belum cukup stabil. Jadi, saya mohon doanya, ya, teman-teman. Demi untuk kesembuhan Angela agar kembali bisa menghibur Anda sekalian di layar kaca." Renata terlihat berusaha tegar walau ia berkaca-kaca dengan kepungan wartawan di sekelilingnya. "Mbak Re, boleh di jelaskan secara rinci kondisi Mbak Angela sekarang? Apa Mbak Angela terluka parah atau bagaimana, ya, kok berita yang beredar tak ada satu pun yang boleh menjenguknya?'' tanya salah seorang wartawan yang menyudutkan Renata. Mendengar itu Angela mulai terisak. "Iya, Mbak, apa yang sebenarnya dialami Mbak Angela?'' sambung yang lain. "Maaf, ya Mbak, saya tidak bisa menjelaskan secara rinci. Dalam hal ini, saya menghormati keinginan keluarga Angela. Masalah tidak boleh menjenguk, bukan kita melarang. Tapi untuk saat ini kondisi beliau memang sedang tidak bisa di jenguk. Terima kasih atas perhatiannya dan mohon doanya ya....'' potong Renata sambil memaksa menembus kerumunan wartawan. Tetapi para pencari berita itu terus mengejarnya dan bahkan terdengar oleh Angela salah satu pertanyaan yang sempat terlontar dari salah satu dari mereka. "Mbak Re, Mbak, apa benar Angela mengalami kecacatan?'' KLIK! Dokter Tyo mematikan televisi itu cepat-cepat. Angela terisak. Ia hanya bisa terisak. Suster Marisa tergopoh-gopoh memasuki ruangan tanpa menutup pintu. Wanita setengah baya itu terlihat kaget saat mendapati Angela menangis terisak dan dokter Tyo dengan posisi berdiri yang canggung tak jauh dari sisi ranjang tempat Angela berbaring. "Ada apa ini? Nona, ada apa? Dokter?'' Suster Marisa mencicit panik. Dokter Tyo menjawab tanpa bersuara dengan menunjuk televisi yang terpajang di dinding dengan anggukannya. Perawat cantik itu menepuk jidatnya dengan cemas. Ia merasa sangat bersalah karena keteledorannya. "Nona, maafkan saya. Saya benar-benar minta maaf atas keteledoran saya. Tadi saya menerima telepon dari anak saya. Ya Allah, Non, saya mohon jangan menangis lagi,'' bujuk suster Marisa dengan lembut. "Tinggalkan aku sendirian, Sus...'' pinta Angela tak mengindahkan alasan wanita itu. Suster Marisa saling berpandangan dengan dokter Tyo. Setelah menyetujui permintaan gadis itu, suster Marisa melangkah pergi dan menutup pintu ruangan itu. Setelah mendengar suara pintu kamarnya di tutup, Angela mendesah perlahan. Ia mencoba menahan tangisnya. Namun, semakin ditahannya semakin ia terisak. Gadis itu menangis tersedu-sedu. Angela tak menyadari seseorang yang masih menetap di ruangan itu, hingga ia merasakan tangan seseorang menarik tubuhnya dan mendekapnya dalam pelukan d**a bidangnya. "Si..siapa? Dok...ter... Dokter Tyo, ‘kah?'' pekik Angela terkejut di sela isak tangisnya. Laki-laki tampan itu berdeham sebagai jawaban pertanyaan gadis itu. "Kenapa...kenapa, Dokter masih di sini? ‘Kan... ‘Kan tadi saya udah bilang...saya ingin sendirian...'' ucap Angela terbata-bata di sela isak tangisnya. "Setahu saya tadi Nona cuma ngomong gitu sama suster Marisa. Nona, ‘kan nggak nyebutin nama saya. Ya, jadi saya masih di sini dong,'' elak dokter muda itu terdengar ringan. Angela memukul d**a laki-laki itu dengan kesal. "Iiihh... Nyebelin banget sih....'' Angela menahan kesalnya, namun ia tetap tak bisa menghentikan tangisnya. Ia semakin terisak. "Nggak apa-apa... Nggak apa-apa....'' ucap dokter Tyo dengan lembut dan menenangkan. Bukannya marah dan menolak, akan tetapi tanpa sadar Angela malah membenamkan wajahnya dalam d**a bidang dokter muda itu. Angela sudah tak memedulikan siapa pun itu, ia hanya butuh teman untuk berbagi kesedihan. Ia kembali terisak dan menangis tersedu-sedu. Entah ia tak peduli atau tak merasakan hal lain selain kesedihannya, ia membiarkan laki-laki itu membelai rambutnya yang tergerai indah di punggungnya. Hingga tangan kekar itu menarik dagunya dengan perlahan dan mengecup bibir tipisnya dengan lembut. Angela tersentak dan terdengar lenguh kaget dalam napasnya. Dokter Tyo menunggu reaksi kemarahan gadis itu. Namun melihat gadis cantik itu hanya terdiam canggung dan menggigit bibirnya, laki-laki itu tersenyum kecil. “Kuanggap itu sebuah penerimaan,” bisik dokter Tyo mendekatkan bibirnya kembali pada bibir Angela yang masih bergetar. Oleh karenanya laki-laki tampan itu kembali membenamkan bibirnya ke bibir Angela. Angela melenguh pasrah, tak ada pemberontakan dalam dirinya. Ia hanya merasakan kehangatan ciuman laki-laki yang tak pernah ia lihat wujudnya. Jantungnya berdegup sangat kencang, hingga ia takut bila suara itu terdengar oleh laki-laki yang berdiri di hadapannya itu. Tanpa sadar tangannya meraba wajah laki-laki itu. Ia mendapati kulit wajah yang halus, kening yang datar dengan beberapa rambut tergerai di atasnya. Alis yang lebat dan kasar, hidung yang lurus dan mancung, hingga ke pipi dan rahang yang kokoh. Angela melenguh dalam tenggorokan saat ciuman laki-laki itu makin dalam dan menuntut, membuatnya tak bisa berpikir apa pun. Bahkan degup jantungnya yang kencang pun seperti tak terdengar. ‘Andri...Andrian?’ Sesaat Angela benar-benar tenggelam dalam kehangatan dan kelembutan sentuhan laki-laki itu. Sampai laki-laki itu menyudahi ciumannya dengan tiba-tiba. Mereka saling melenguh dalam diam. Laki-laki itu menghapus air mata yang membasahi kedua pipi gadis itu. "Jangan menangis lagi...'' ucap laki-laki itu di bibir Angela. "Andrian...'' gumam Angela tanpa sadar menyebut nama mantan kekasihnya. "Apa? Siapa?'' gugu dokter Tyo terkejut. Lebih-lebih Angela. "Oh... Nggak! Bukan siapa-siapa!'' Gadis itu gelagapan menjauh dan meraih tepian ranjang dan mendapati sebuah bantal kecil yang ada di sekitarnya. Ia menutupi wajahnya dengan bantal itu. "Maafkan saya atas apa yang saya lakukan pada, Nona. Saya... saya mohon diri.'' Terdengar suara langkah kaki laki-laki itu dengan tergesa-gesa, walaupun begitu langkah kakinya terasa ringan dalam benak Angela. Gadis itu mengernyit teringat akan sesuatu. "Tunggu!'' pekiknya membuat langkah dokter Tyo terhenti. "Ya?'' sahut dokter itu singkat dan tegas. Ada nada yang berbeda dari suaranya yang terdengar seperti orang lain. Melihat raut ragu di wajah Angela, laki-laki itu kembali mendekat ke arah Angela dengan langkah perlahan. Hati Angela berdegup kencang tiba-tiba. ‘Langkah yang sama... Benar! Aku yakin!' jerit hati Angela. Gadis itu menghadapi laki-laki yang berdiri menunggu ucapannya. ''Tolong katakan pada saya. Sebenarnya Dokter ini siapa? Kenapa saya merasa nggak asing sama Dokter? Apa kita pernah saling bertemu sebelumnya?''
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD