"Saya?''
"Iya, sebenarnya, Dokter ini siapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?'' potong Angela cepat mengulangi pertanyaannya.
Bukannya menjawab, tetapi dokter itu terkekeh geli mendengar pertanyaan Angela, seolah pertanyaan sebuah lelucon yang sangat lucu.
Angela mengernyit heran mendengar tawa renyah dokter itu. Gadis itu meraba-raba tepian ranjangnya dan membenahi posisi duduknya agar bisa menghadap di mana laki-laki yang berdiri di depannya itu. Walaupun ia tahu, ia tak bisa melihat bagaimanapun rupa sosok itu.
"Apanya yang lucu? Kenapa, Dokter malah tertawa?'' desak Angela dengan kesal.
Gadis itu mengernyit kesakitan saat gerakan mendadaknya itu membuat punggung tangannya terasa ngilu karena selang infusnya tersenggol.
"Ya, Anda ini benar-benar lucu, Nona Angela. Tentu saja kita pernah bertemu, sering bahkan! Karena Anda adalah pasien saya. Yah, walau saya bukan satu-satunya dokter yang mengurus Anda,” sahut Dokter Ian dengan ucapan diplomatis.
"Enggak, bukan! Maksud saya, sebelum itu. Sebelumnya apa kita pernah bertemu? Apa kita...”
Pintu terbuka dengan tiba-tiba, memotong perkataan Angela. Dan dari sapaan ramah dokter Tyo, Angela tahu yang datang adalah ibunya. Dengan segera dokter itu berpamitan dengan sopan dan bergegas meninggalkan ruangan.
"Ada apa ini? Kenapa suster Marisa ada di luar? Apa Lala memarahi suster Marisa? Tadi Mama lihat dia nangis?'' Bu Riana mendekati Angela yang duduk dengan tegang di ranjangnya.
"Apa maksud, Mama? Lala nggak marahin kok?'' ucap Angela dengan terkejut, lalu ia menjelaskan apa yang sudah terjadi padanya dan suster Marisa.
Bu Riana segera mengajak wanita itu masuk kembali. Suster Marisa merasa bersalah dan meminta maaf atas keteledorannya dan membuat Angela mendengar berita tentang dirinya di televisi.
"Suster, Lala nggak bermaksud marah. Lala hanya ingin sendirian, tadi bukan berarti Lala mengusir, Suster. Maafkan saya, Sus.'' Angela menggapai-gapai dan suster Marisa menyambut tangan Angela yang memang mencarinya.
"Iya, Non. Saya memang bersalah, harusnya saya lebih berhati-hati. Lain kali nggak akan saya ulangi. Saya benar-benar minta maaf," lanjut wanita itu dengan nada penuh penyesalan.
"Tapi, ‘kan mana kita tahu kalau selingan berita itu akan muncul dan membahas tentang Lala, ‘kan? Sudahlah...'' Bu Riana berusaha menengahi dan tak menyalahkan suster Marisa.
"Iya. Tapi, Ma, tolong mulai sekarang, jangan pernah larang Lala untuk mengetahui berita apa pun yang menyangkut tentang Lala. Please, Ma,'' rengek Angela.
"Iya deh. Kemarin itu memang Mama sempet larang semua orang menyalakan televisi atau apa pun yang membahas berita tentangmu. Mama nggak mau Lala makin sakit karena stres. Yang penting sekarang Lala sehat dulu, ya,'' papar wanita paruh baya itu dengan bijaksana sambil mengelus rambut putri tunggalnya itu. Angela mengangguk menyetujui.
"Emmm... Tapi tadi Lala nggak sendirian Mama lihat? Lala berduaan dengan Dokter Tyo?'' ucap ibunya dengan singkat dan tak mau memperpanjang masalah yang ada. Karena kini fokusnya teralih ke hal yang lain.
"Ah...itu... Lala pikir orang itu juga ikut pergi, ternyata dia masih di sini! Ngeselin banget! ‘Kan Lala jadi kaget,'' jawab Angela dengan lugas.
Bu Riana dan suster Marisa ternganga mendengar ucapan Angela yang seolah menceritakan dokter Tyo sebagai sosok seseorang yang sudah sangat dekat dengannya. Bukan sebagai dokter dan pasien yang canggung dan ada jarak. Kedua wanita itu berpandangan untuk sesaat.
"Terus tadi ngobrol apa aja sama dokter Tyo? Padahal hari ini setahu Mama, dokter Tyo, nggak ada jadwal ke rumah sakit?'' Bu Riana memancing pembicaraan. Angela terdiam kaku.
"Oh, pantesan tadi dokter Tyo pakai baju biasa, kemeja garis-garis, rapi banget. Cakep banget, deh. Saya pikir memang baru datang,'' sahut suster Marisa menimpali melihat kedipan mata Bu Riana. Angela terlihat canggung dan mengedipkan matanya berkali-kali dengan gelisah.
"Nggak ada apa-apa kok, kami hanya ngobrol sedikit karena berita di tivi. Ya... Itu karena Lala udah nggak pernah denger berita apa-apa lagi tentang kasus Lala, ya, Lala kaget dan nangis, gitu aja. Jadi Dokter itu berbela sungkawa, gitu,'' papar Angela menjelaskan dengan canggung seraya mengendikan bahunya beberapa kali.
"Dokter itu siapa? Kok berbela sungkawa? Emang ada yang meninggal?'' desak Bu Riana.
"Ih, Mama, ih! Dokter Tyo, Mama....'' potong Angela mendengar suara ibunya yang terkesan meledeknya.
Semburat merah mengalir di kedua pipinya. Ia merasakan hawa panas itu dan buru-buru memalingkan wajahnya. Gadis itu berguling ke samping membelakangi kedua wanita itu yang kini duduk di sofa.
"Udah ah, Lala mau tidur,'' imbuhnya sambil mencoba memejamkan mata. Tanpa ia sadari kedua wanita itu saling bertatapan menahan senyum.
***
Hari itu, selepas makan siang. Renata datang menjenguk Angela. Wanita yang berumur akhir tiga puluh tahunan itu memiliki aura yang tegas dan sedap di pandang mata. Wanita itu memeluk Angela dengan erat, seolah ia ingin menyampaikan dengan pelukan itu bahwa ia bersyukur Angela masih hidup dan bernapas.
"Maaf ya, aku nggak bisa sering-sering dateng,'' kata wanita itu seraya melepas pelukannya. Angela menggeleng cepat mendengar ucapan yang ia rasakan bukan bermaksud sekedar basa basi.
"Nggak, Kak, aku tahu kakak pasti sibuk banget dengan kasus tuntutan iklan sampo dan pewarna rambut itu, ‘kan?'' sahut Angela cepat.
"Apa? Dari mana....'' sahut Renata terkejut dan Angela merasakan gerakan wanita itu memalingkan wajah dan tubuhnya ke arah lain.
Dan memang benar, Renata beralih kepada Bu Riana yang sedang duduk di sofa seolah meminta kepastian dan kebenaran yang akan ia ucapkan.
"Aku nggak cerita, Re, tapi Lala sendiri yang dengerin saat Rena kemarin telepon. Tante nggak tahu kalau dia sudah bangun. Terus tahu-tahu dia dengerin berita di tivi juga. Yah, mau gimana lagi,'' papar Bu Riana menghela napas.
"Yaelah... kacau dah, rugi gua! Padahal udah susah-susah hapalin skenario hari ini buat ketemu kamu, biar nggak ngebahas masalah ini. Eh, ternyata kamunya udah tahu,'' sahut Renata dengan nada kecewa, yang langsung di sambut dengan tawa renyah Angela dan ibunya.
"Skenario film, Kak?'' ledek Angela di sela gelak tawanya. Renata tersenyum getir dan menyentil jidat Angela yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Angela tersentak kaget, tapi tetap dengan tawanya.
"Seneng banget sih...'' gerutu Renata sambil duduk di tepian ranjang Angela.
"Kak Rena, aku udah bicara sama Mama, kalau ada masalah apa-apa, tolong katakan aja. Aku juga harus tahu. Soalnya aku yang terlibat langsung di dalamnya. Jadi kalau ada apa-apa, ngomong bareng-bareng gini, ya. Dan tebakanku benar, memang cuma kedua iklan itu yang belum sempat syuting,'' ucap Angela kepada manajernya itu.
Renata menggenggam tangan Angela erat-erat, "Yah, aku nggak bisa janji itu. Tapi akan aku usahakan. Yang penting kamu sehat aja dulu, ya?'' jawab wanita itu jujur.
Inilah salah satu sifat Renata yang disukai oleh Bu Riana dan Angela. Renata bukanlah wanita yang bermulut manis yang suka berbasa-basi. Mungkin karena dia seorang ibu tunggal, maka dengan sendirinya sifat tegas dan apa adanya itu terbentuk karena berbagai kesulitan hidup yang telah ia lewati. Hingga ia bertemu Angela dalam sebuah acara sekitar lima tahun yang lalu.
Setelah membahas masalah tuntutan produk iklan yang gagal tayang karena belum selesainya proses pengambilan gambar secara utuh itu, membuat mereka diam tak bersuara, karena memikirkan sejumlah uang yang tak sedikit dalam tuntutan itu, jika Angela mangkir dari syuting sesuai kontrak perjanjian.
"Gimana kalau aku akan tetep jalanin syuting itu? Tapi konsepnya harus di ganti. Mungkin aku nggak harus menghadap kamera atau adegan jalan-jalannya di hapus? Atau kita masih bisa diskusiin lagi dengan pihak sponsornya?'' celetuk Angela senang dengan ide briliannya.
"Hei! Yang benar saja, La! Kamu nggak mikirin gimana kondisimu sekarang? Semua orang akan tahu kalau kamu...''
"Buta!'' sahut Angela menimpali, memotong ucapan Renata.
"Sorry! Aku nggak bermaksud gitu,'' ucap Renata dengan lembut dan merasa bersalah, ia meremas tangan Angela sebagai permintaan maafnya.
"Kak Rena bener, La. Masyarakat belum ada yang tahu tentang kondisimu sekarang. Mama juga nggak akan ngizinin kamu berbuat begitu. Kau belum sepenuhnya sehat. Kamu baru sebulan ini lepas dari maut, belum lagi kamu juga sempat menjalani operasi kornea mata waktu itu.” Bu Riana beringsut mendekat.
“Itu aja gagal karena kamu terus membuat ulah, yang harusnya bisa mencegahmu dari buta permanen, kini mata kamu hampir buta permanen. Kamu harusnya benar-benar istirahat total dan nggak berkegiatan apa pun, apalagi kegiatan yang berat-berat, buat gerak aja nggak boleh kuat-kuat, harus pelan-pelan, sekarang kamu malah mikirin syuting!'' tegur Bu Riana dengan nada sedih. Suasana jadi berubah senyap.
"Mama... Maafin Lala, Ma... Maaf... Lala cuma kepikiran dengan jumlah tuntutan mereka, Ma... Maafin Lala...'' Angela menahan tangisnya dan menggapai-gapai agar disambut oleh ibunya.
Wanita paruh baya itu berjalan ke arah putri tunggalnya setelah gadis itu terus memanggil-manggilnya. Angela memeluk ibunya dengan berurai air mata dan terus menerus menggumamkan kata maaf kepada ibunya.
"Lala janji akan nurut sama Mama dan mau terus di rawat, maafin Lala, Ma, kalau Lala selalu ngrepotin Mama...'' Gadis itu terisak.
"Bukan apa-apa, La. Lala yang ngerasain sakit, Lala yang capek karena harus terus di rawat, minum obat terus, jalanin pemeriksaan berkali-kali. Mama aja capek lihatnya, Sayang. Hati Mama tuh hancur, melihat putri Mama seperti ini. Tolonglah Nak, pikirin juga perasaan Mama,'' ucapan Bu Riana kali ini benar-benar menusuk hati Angela.
Gadis itu tak henti-hentinya meminta maaf di sela tangisnya. Mereka berpelukan dan bertangisan, begitu pula dengan Renata. Wanita itu ikut berurai air mata melihat momen mengharukan yang terjadi di hadapannya.
Angela sesenggukan memeluk tubuh kurus ibunya, ‘Ya Allah, apakah memang sudah nggak ada jalan keluar buatku? Kasihan, Mama.’