Bab 11 Para Pemburu Berita

1304 Words
Pagi itu, Angela merasa gelisah dan tanpa sadar ia menghela napasnya dengan berat. Ia kembali terbayang saat bersama sang dokter. Pikiran dan hatinya sudah terpenuhi oleh suara dan sentuhan laki-laki bersuara dalam dan rendah itu. Tapi sejak insiden beberapa hari lalu, dokter itu sama sekali tak memperdengarkan suara merdunya di telinga Angela. Ada setitik rindu merayapi hatinya. Apalagi kala ia mendengar, ia telah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit setelah memastikan kondisi kesehatannya dalam keadaan baik. Hingga selang infus di tangannya di lepas oleh seorang perawat rumah sakit, dokter muda itu juga tak menampakkan batang hidungnya di depan Angela. Gadis itu mengutuk dirinya sendiri dalam hati karena tak bisa menghentikan otaknya yang terus mengharapkan kehadiran sang dokter. ‘Yang benar saja! Sadar diri, La! Kau kini wanita cacat dan buta! Jangan pula kau harus buta hatimu juga! Harusnya aku menolaknya waktu laki-laki itu menciumku! Aku benar-benar bodoh! Bagaimana mungkin aku bisa sebodoh itu?’ rutuk Angela dalam hati. ‘Apalagi aku nggak pernah sekalipun melihat wajahnya, tapi dengan bodohnya aku mau dipeluk dan diciumnya. Sumpah! Dia pasti sudah menganggapku perempuan gampangan! Sial! Aku memang benar-benar bodoh!' sesal Angela dalam hati yang hanya bisa ia pendam diam-diam. Ia berharap kesalahan dan kebodohannya itu tak akan terulang lagi. Dan semua aib itu akan ia kubur dalam-dalam tanpa perlu ada yang tahu. Rasanya ia ingin melemparkan dirinya ke dalam lautan, saat ia kembali memikirkan laki-laki itu yang menertawakan kebodohannya. ‘Dia pasti tertawa di belakangku. Dia pasti puas bisa mengerjai perempuan buta sepertiku! Aghk...! Aku benar-benar menyedihkan banget sih! Sial! Aku ini Angela Anggara, seorang artis terkenal! Artis papan atas, tapi bisa dengan gampang di permainkan oleh laki-laki sialan seperti dia? Aaaggkk! Dasar laki-laki b******k!' Angela terus mengumpat marah dalam hati. "Apa? Yang benar, Sus?" Bu Riana terkejut dan membuat Angela terkesiap kaget. Ia menajamkan telinganya. "Iya, Bu, makanya sudah 3 hari ini beliau nggak datang. Ya, karena ada musibah itu. Saya tadi sempat mendengar para perawat jaga membicarakan itu,'' jawab suster Marisa dengan serius. "Inalillahi wa innailaihi roji'un... Saya turut berduka cita, tolong titip salam saya, ya buat beliau, kalau sekiranya Suster bisa menghubungi beliau,'' ucap Bu Riana dengan nada penuh simpati. Angela terdiam mendengar percakapan ibunya dan suster Marisa yang sedang membicarakan hal serius. "Ada apa? Siapa yang meninggal, Ma?'' tanya Angela dengan mengernyit, dan mencoba mengira-ngira siapa yang sedang mereka bicarakan. "Itu, Dokter Tyo....'' "APA? DOKTER TYO MENINGGAL?" Angela terpekik kaget bukan kepalang. "Hei, dengerin dulu, Mama belum selesai ngomong udah main potong aja. Itu keluarga dokter Tyo ada yang kecelakaan,'' jawab Bu Riana dengan nada menegur Angela yang terlanjur panik. “Iya, Non. Adiknya apa kakaknya, gitu. Saya cuman dengerin saudaranya yang kecelakaan,” imbuh suster Marisa menimpali. "Oh... Saudaranya kecelakaan... Inalillahi wa inna ilaihi roji’un...'' sahut Angela yang lebih terdengar lega daripada bersimpati. Bu Riana menggumam tak jelas sebagai jawaban. "Kenapa, Ma? Ya, Lala ‘kan kaget aja. Kirain dokter itu yang meninggal, pantesan udah empat hari nggak dateng-dateng. Em..maksudnya buat memeriksa keadaan Angela,'' Angela berusaha menutupi perasaannya yang terlalu kentara. "Ih, orang Mama nggak ngomong apa-apa, kok, Lala aja yang ngerasa. Mama loh nggak nanya apa-apa, cuma heran aja, kok Lala tahu dokter Tyo udah empat hari nggak dateng, bukannya baru tiga hari?'' sahut Bu Riana dengan menahan tawanya. Diikuti tawa tertahan suster Marisa. "Ih, Mama, ih... Lala tahu Mama pasti ngeledek Lala, ‘kan?” Angela berdecak menahan kesal. “Lagian Lala yang sakit, Lala pasti inget dong!'' Gadis itu merengut kesal. Bu Riana terkekeh melihat reaksi putrinya yang merajuk karena malu. "Tadi kata suster, kecelakaannya parah, ya, Sus?'' ucap Bu Riana beralih ke suster Marisa yang sedang sibuk membereskan barang-barang bawaan mereka untuk di bawa pulang. "Iya, Bu, katanya sekarang lagi koma. Tapi saya kurang jelas di rawat di rumah sakit mana. Sepertinya sih di luar Jakarta,'' papar suster Marisa menjelaskan. "Eeemm... Pantesan sampai nggak dateng jenguk pasien. Kangen deh nggak ada dokter Tyo,'' celetuk Bu Riana dengan nada suara gemas. "Ih, Mama, ih siapa juga yang kangen!'' sahut Angela cepat-cepat, seolah ingin menutupi perasaannya. "Loh... emang Mama nyebut nama Lala. Orang mama juga kangen kok!'' Bu Riana tak bisa menahan gelak tawanya. Kali ini Angela tak bisa menahan malunya. Gadis itu terpekik kesal saat mendengar derai tawa ibunya dan suster Marisa. Hingga terdengar ketukan di balik pintu kamar menghentikan senda gurau mereka. Bu Anggara membuka pintu kamar itu dan mendapati seorang perawat muda dan berparas cantik sedang membawakan semua data hasil lab dan pemeriksaan Angela, serta surat kontrol selanjutnya. Perempuan itu juga mengingatkan sebelum mereka pulang, ada beberapa obat yang masih di siapkan untuk di bawa pulang. Mendengar percakapan yang tak terlalu penting baginya, membuat gadis itu merebahkan dirinya kembali di atas pembaringannya. Angela memiringkan badannya memeluk bantal bulu yang sengaja di bawakan ibunya dari rumah. Hatinya makin resah memikirkan dokter muda yang kini merajai hatinya. ‘Ternyata dia kena musibah... Duh, kenapa malah ngerasa bersalah sih? Ya, emang aku tahu kalau dia ada musibah... huh...' batin Angela berkecamuk. Selang beberapa lama kemudian mereka di jemput oleh seorang perawat yang membawa obat-obatan dan kursi roda untuk Angela. Dengan berhati-hati, perawat perempuan itu dengan di bantu Bu Riana menurunkan Angela dari ranjang pembaringannya dan menduduki kursi rodanya. Sebelum mereka meninggalkan ruangan itu, Bu Riana membungkus kepala Angela dengan selendang untuk menutupi rambutnya. Selain itu Angela juga mengenakan masker dan kacamata hitamnya. Setelah memastikan kondisi aman mereka akhirnya bergegas keluar dari kamar itu. Mereka menyusuri lorong panjang rumah sakit menuju pintu samping halaman yang di perkirakan lebih sepi dari pengunjung yang berlalu lalang. Namun mereka salah mengira. "Itu dia! Itu Angela! Itu Angela!'' pekik suara-suara yang ada di luar pintu kaca rumah sakit, di sekitar area tempat parkir rumah sakit itu. Angela sangat syok. Ia tahu pasti itu para wartawan. Rombongan itu berhenti seketika dan memutar kembali memasuki rumah sakit, tapi terlambat para pemburu berita itu berusaha menerobos masuk ke dalam rumah sakit. Melihat kekacauan itu, para petugas keamanan langsung turun tangan dan mencoba menolong Angela. Suster Marisa menggantikan perawat jaga yang mendorong kursi roda Angela dan dengan sigap membawa Angela melarikan diri dari tempat itu. Sementara yang lain menghalau para pemburu berita itu. ‘Gimana mereka bisa tahu aku di rawat di sini? Ya Allah, gimana ini?’ pikir Angela dengan panik. Jantungnya berdegup sangat kencang. Angela berhasil melarikan diri bersama suster Marisa dengan memasuki lift yang kebetulan terbuka. Mereka terengah dan bernapas lega saat bisa lepas dari para pemburu berita itu. "Sus, kita mau ke mana?'' tanya Angela dengan d**a yang masih berdegup kencang, membuat suaranya terdengar bergetar karena panik. "Nggak tahu, Non, pokoknya kita naik aja dulu, ya,'' jawab suster Marisa juga dengan kebingungan. Angela bergumam sambil terus membenahi selendangnya agar tak bisa sembarangan terjatuh. Pintu lift pun terbuka. Setelah memastikan keadaan lorong lantai itu aman dari orang-orang mencurigakan, suster Marisa mendorong Angela perlahan. Wanita itu celingukan dengan menahan panik dan bertanya-tanya ke mana sekiranya harus membawa Angela bersembunyi. Namun saat ia memasuki lorong berikutnya, ia mendapati dua orang yang ia curigai sebagai orang-orang pemburu berita. Suster Marisa menghentikan langkahnya tiba-tiba. Angela terpekik kaget. "Suster...'' bisik Angela dengan tegang. "Sssstt... Nona tenanglah. Tunggu di sini sebentar, saya akan mengintip keadaan di lorong samping itu,'' bisik suster Marisa meninggalkan Angela dan melangkahkan kakinya perlahan-lahan. Angela menggumam perlahan sebagai jawaban sebelum wanita itu pergi darinya. Angela benar-benar kaku. Ia hanya bisa diam mematung tanpa bergerak, karena ia tak tahu ada di mana dan apa yang terjadi di sekitarnya, gadis itu diam tak bergerak. Debaran jantungnya terdengar semakin kencang saat ia menyadari bahwa lorong rumah sakit itu terlalu sepi dari suara-suara orang maupun lalu lalang kaki. ‘Sebenarnya ini di mana sih? Kenapa sepi banget? Nggak ada suara-suara orang? Ini lantai berapa?' batinnya terus bertanya-tanya dengan panik. Ia meremas-remas tangannya dengan gelisah. Tiba-tiba Angela merasakan embusan angin di dekat wajahnya, dan sepasang tangan yang kekar membekap mulutnya dan memeluk pundaknya. ‘SIAPA?’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD