Setelah Arlan meraih kunci mobil yang terletak di lemari pajangan, ia kembali menyeret kakaknya ke garasi mobil diikuti oleh ibunya. "Bunda, kami pamit dulu, assalamualaikum...'' Arlan membukakan pintu mobil untuk kakaknya. "Wa’alaikumsalam... Hati-hati, Nak,'' jawab ibunya dengan wajah sedih. Arlan mendorong kakaknya memasuki mobil itu. Andrian menurutinya dengan pasrah. Laki-laki itu seolah tak bisa memikirkan apa-apa lagi selain Angela. Hati dan pikirannya sudah benar-benar kosong. Bahkan ia mengabaikan keberadaan semua orang yang melepas kepergian mereka dengan tatapan sedih. *** "Bener apa yang lu bilang. Harusnya gue percaya sama dia. Andai gue percaya sama dia, gue nggak bakal nurunin dia di jalan dan itu semua nggak akan terjadi. Bre***ek! Gue bener-bener gelap mata! Gue terla

