Paket Lengkap Permintaan Cium

1148 Words
Kaget! Alza bertemu dengan tetangga ganteng itu di dalam ruangan. Ternyata pria yang bersebelahan rumah dengan dirinya adalah seorang dosen di universitas tersebut dan mengajar di fakultas kedokteran. "Ganteng banget," ucap Uli. Semua orang terpana dengan ketampanan pria itu. Bukan berarti cowok juga kagum ya. Tapi maksudnya semua cewek yang ada di dalam ruangan tersebut sangat senang karena kehadiran Alzayn. "Selamat pagi semuanya ..." "Pagi, Pak ..." "Sebelumnya saya mau memperkenalkan diri. Saya adalah dosen baru kalian menggantikan dosen lama." "Nama bapak siapa?" tanya Uli. "Nama saya Alzayn Arzan ... Saya sudah menyelesaikan pendidikan hingga S3 dengan mengambil jurusan yang sama yaitu kedokteran. Jadi saya berkesempatan untuk mengajar di sini," ungkap Alzayn. "Selain itu, saya juga merangkap sebagai dokter di salah satu rumah sakit." "Emangnya bapak nggak capek banyak kerjaan gitu?" tanya gadis lainnya. "Laki-laki ... Saya rasa kata capek tidak boleh di ucapkan oleh laki-laki. Karena dia memiliki tanggung jawab yang sangat besar." Sungguh luar biasa! Jawaban dari Alzayn membuat para wanita itu jatuh cinta. Benar kata pria itu, seharusnya seorang laki-laki tidak boleh mengeluh dalam hal apa pun itu. Karena kodratnya memang menjadi tulang punggung keluarga. Baik dalam rumah tangga maupun dalam keluarga orangtuanya. "Pak." Uli mengangkat tangannya. "Iya." "Nama bapak sama kayak nama temen saya. Ini orangnya," tunjuk Uli kearah Alza. Alzayn tersenyum, tanpa berkenalan pun ia sudah tau siapa nama gadis itu. "Namanya Alza, Pak. Sedangkan nama bapak, Alzayn ... Cocok Pak, tapi bapak lebih cocok sama saya," ucap Uli. "Huuu ..." Bukan hanya laki-laki, para gadis-gadis itu menyoraki Uli. "Sudah. Jangan ribut!" Alza tidak berkutik, ia tidak tau harus bagaimana lagi. Rasa malunya mulai muncul ketika mengetahui pria yang sering ia ganggu adalah dosennya. "Bapak udah nikah?" tanya gadis memiliki mata empat. Alias, pakai kacamata. "Saya duda." "Ha!" Alza mengernyitkan dahinya menatap pria itu. Dia baru tau jika laki-laki yang sudah akrab dengan dirinya itu adalah seorang duda. "Waaah ... Banyak pengalaman ya, Pak," sahut Uli. Alzayn tersenyum, tatapan menuju Alza yang tengah memandangi dirinya. "Ada yang bertanya lagi sebelum kita lanjutkan pelajaran?" "Bapak udah punya anak?" "Belum ... Pernikahan saya tidak sampai setahun," jelas Alzayn. Sungguh menarik bukan, seorang duda masih muda berstatus sebagai dosen sekaligus jadi dokter. Dan belum memiliki keturunan. Sangat tepat dijadikan sebagai suami. [] [] [] Sore hari seorang gadis yang mengenakan baju over size menutupi paha mulusnya dengan rambut yang di kuncir dua sedang mengendap-endap di depan pagar rumahnya sendiri. Gadis itu sedang menanti seseorang pulang entah dari mana. Berkali-kali Alza mondar mandir, setelah duduk di kursi teras rumah, ia pun kembali melangkahkan kakinya menuju pagar. Sebuah mobil berwarna pink masuk ke dalam ke halaman rumahnya. Alza tidak terlalu fokus pada mobil itu karena ia lebih fokus kepada rumah di sebelah. Setelah turun dari dalam mobil, Selvi menghampiri teman seatap-nya itu. Selvi sangat heran karena Alza seperti pencuri yang sedang memperhatikan kondisi sekitar. "Za." "Jangan ganggu dulu, makanan udah siap itu." "Alza." "Apa?" tanyanya tanpa menoleh kearah Selvi. "Kamu ngapain sih? Mengendap-endap kayak pencuri aja." "Aku mau nungguin duren itu." Ujar Alza tanpa menoleh kearah Selvi. "Duren? Maksud kamu?" tanya Selvi. "Duda keren." "Astaghfirullah, Za ... Baru aja kamu kenal sama Om ganteng. Sekarang kamu malah mau deketin duda." Alza menghembuskan napasnya dengan perlahan, ia pun membalikkan tubuhnya untuk menatap gadis itu. "Kamu dengerin aku. Om ganteng itu ternyata duda. Dia dosen di kampus ku. Dia juga seorang dokter," ungkap Alza. "Paket lengkap 'kan." Selvi menganga mendengar ungkapan dari Alza. Ternyata pria itu sangat beruntung dalam hal rejeki. Namun seperti yang ia dengar barusan, om ganteng tersebut kalah dalam asmara. Buktinya saja dia adalah duda. "Kamu jangan deket-deket sama dia lagi," larang Selvi. "Kenapa?" tanya Alza. "Kamu mikir dong, Za ... Dia itu duda, hasratnya pasti mudah naik. Dan aku khawatir sama kamu, karena kamu kalau ngomong nggak bisa dikontrol." "Aku yakin, Vi. Walaupun Om itu duda, dia nggak akan mau melecehkan perempuan." "Ingat, Za. Kelakuan manusia yang paling susah dihindari adalah khilaf." "Ya ampun, Vi ... Kalau pun betul Om itu gitu, palingan dia jajan. Secara dia ganteng, punya duit. Pasti semua perempuan mau tidur sama dia," ucap Alza. Terdengar suara mobil, ya orang yang di tunggu-tunggu oleh Alza sudah pulang. Dengan gagahnya pria itu keluar dari dalam mobil masih mengenakan almet putih, ciri khas dari baju seorang dokter. "Ganteng banget sumpah," ucap Selvi. "Jangan gatel. Nanti diperkosa sama Om baru tau kamu." "Udah ah, panas ... Aku mau masuk duluan." Selvi meninggalkan Alza sendiri di depan rumah. Alza tidak tau harus berbuat apalagi. Sebenarnya ia ingin bertemu dengan pria itu. Namun setelah mengetahui status Alzayn. Sepertinya ia akan mengurungkan niatnya. [] [] [] Tok! Tok! Tok! "Assalamualaikum ..." Alzayn tengah duduk di sofa sambil memakan roti bolu yang sengaja ia beli untuk mengganjal lapar. Alzayn beranjak dari tempat duduknya untuk membukakan pintu kepada orang yang dari suaranya saja ia sudah tau itu siapa. "Waalaikumssalam ..." Alza kaku, ia menelan salivanya ketika melihat pria itu dengan baju tipis warna putih memperlihatkan bagian tubuh pria itu. "Alza boleh masuk nggak?" "Kamu nanya? Biasanya juga langsung masuk," ujar Alzayn. "Kalau Alza di izinkan masuk, Alza akan masuk. Tapi kalau enggak, Alza akan pulang." Why? Alzayn bertanya-tanya dalam dirinya. Kemana sikap asli gadis ini. Tumben dia tidak berisik seperti sebelumnya. Biasanya Alza membuat dirinya emosi, tapi sekarang tidak. "Masuk." Dengan rasa gugup Alza masuk ke dalam, duduk di sofa tepat di depan laptop Alzayn. "Kamu geseran dikit. Saya mau ngerjain pekerjaan." "Makan dulu. Alza sengaja bawa ini." "Kenapa kamu bawain saya makan? Kamu nggak perlu repot-repot. Saya bisa beli makanan." "Beli makanan rugi, buang-buang duit. Lagian Alza selalu banyak masak. Alza ikhlas kok." "Hmmm ..." Masih sama, laki-laki itu heran karena Alza sangat kalem saat ini. Entah apa yang merasuki tubuh gadis itu sehingga ia begitu pemalu saat ini. "Nanti saya lanjut kerja. Boleh saya makan?" tanya Alzayn. "Boleh." Alza sengaja membawa makanan itu untuk Alzayn, bahkan ia juga menyiapkan teh dingin untuk tetangganya itu. Alzayn tidak mau menunggu lama, rejeki tidak boleh di tolak kan. Dia pun menyantap makanan tersebut dengan bahagia. "Pak," lirih Alza. "Pak?" Alzayn heran dengan pengucapan Alza kali ini. "Maafin Alza ya udah gangguin Bapak. Udah buat kesel Bapak." "Kamu kenapa tiba-tiba berubah gini?" tanya Alzayn. "Iya, Pak ... Alza malu, ternyata Bapak dosen Alza." "Udahlah ... Lain di kampus, lain di luar," ucap Alzayn. "Beneran, Pak?" tanya Alza. "Iya," ucap Alzayn dan segera meneguk segelas air putih. Plak! Byuuur! Baru saja Alzayn minum, ia harus menyemburkan teh dingin tersebut ketika Alza menepuk bahunya dengan sangat kuat. "Sorry Om, Alza nggak sengaja." "Kamu ya. Baru tadi kalem sekarang udah pecicilan aja." Alza mengambil tisu dan ia langsung mengelap bagian bibir Alzayn. "Alza 'kan memang gini orangnya. Jadi Om bapak harus bisa memahami." Alzayn terdiam ketika ia mendapat hal romantis dari gadis itu. Sebelumnya ia sangat jarang mendapatkan perlakuan seperti itu dari sang mantan istri. "Alza ... Bolehkah saya mencium kamu untuk yang kedua kalinya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD