Alza Mau Jadi Pelakor

1043 Words
Alza dan Alzayn sedang berada di dalam mobil. Alzayn akan mengantarkan gadis kecil itu menuju kampus. Mengingat Alza sudah membantunya dan bahkan memberinya makan membuat Alzayn merasa berhutang budi kepada wanita itu. Heran! Alzayn Arzan mengernyitkan dahinya tapi tetap fokus untuk menyetir mobil. Gadis itu sama sekali tidak berucap apapun. Bahkan tatapan Alza dari tadi hanya mengarah ke depan. "Ternyata dia bisa diam," batin Alzayn. Pria itu bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa tetangganya tersebut tidak berisik seperti biasanya. Bahkan Alza sama sekali tidak ada menatap Alzayn. "Gadis kecil." "I-iya, Om." Semakin heran, tumben saja Alza gugup berbicara dengan Alzayn. Bukankah ia adalah wanita periang. "Kamu kenapa?" "Nghhh ... Enggak apa-apa." Alzayn tersenyum miring, ia tau kenapa gadis kecil itu terdiam sekarang. Pasti sudah merasa malu bukan? "Kamu bilang kemaren mau merasakan bibir saya. Tadi udah saya cium, sekarang kamu malah diam aja," ucap Alzayn. Alzayn tersenyum simpul. "Kenapa? Bibir saya enak sesuai yang kamu bilang." "Bu-bukan." "Terus?" tanya Alzayn. "Om udah ambil ciuman pertama Alza." Mobil berhenti seketika, Alzayn menginjak rem secara mendadak. "Itu ciuman pertama kamu?" tanya Alzayn kaget. "Iya, Om ... Om udah nodai, Alza." "Saya minta maaf ... Saya tidak bermaksud lancang," ucap Alzayn. "Kamu sudah menantang saya dengan mengatakan saya G. Makanya saya mau buktikan sama kamu kalau saya itu lurus." "Tapi kenapa harus cium Om?" "Saya beneran minta maaf. Saya tidak sengaja." "Hmmm ..." "Gadis kecil." "Apa om?" sahut Alza. "Lihat saya." Perintah Alzayn. "Hmmm ..." "Gadis kecil lihat saya sebentar." Tidak ada reaksi apapun dari Alza, Alzayn mendekatkan wajahnya kepada wajah gadis itu. Takut hal tadi terulang lagi, Alza langsung menampar wajah Alzayn. Plak! "Aw! Perih!" lirih Alzayn mengusap-usap wajahnya tepat pada bagian yang ditampar oleh mahasiswi itu. "Kalau Om mau perkosa Alza jangan di sini. Di rumah 'kan bisa." Alzayn membulatkan matanya, baru saja ia tenang melihat wanita itu terdiam. Sekarang Alza kembali pada sikap sebelumnya. "Di sini sempit Om. Kalau di rumah 'kan luas." "Siapa yang mau memperkosa kamu. Saya sama sekali tidak tertarik dengan kamu." "Nggak tertarik? Berarti Om beneran G dong." Deg! Tatapan mereka bertemu, Alzayn menggenggam kuat lengan gadis itu. Tubuh mereka berdua sangat dekat. "O-om mau ngapain?" tanya Alza. "Jangan pancing saya. Kamu belum kenal siapa saya sebenarnya." "Sakit, Om." Alzayn tersadar dan segera melepaskan genggamannya pada lengan gadis itu. "Sorry." "Om pasti kepanasan 'kan. Lemah banget, baru juga di goda sedikit." "Masalahnya saya ini duda. Saya merindukan sentuhan seorang wanita, jadi saya mudah aktif," batin Alzayn. "Om." Panggil Alza. "Apa?" "Om nggak denger yang Alza bilang tadi?" "Lebih baik kamu tunjukin arah jalan ke kampus kamu?" "Oh, iya juga ya. Sampai lupa Om. Hehehe ..." Kali ini Alza tidak akan berisik lagi, dia memang wanita yang sangat periang. Namun ia akan fokus sama satu titik, kalau lagi belajar dia tidak akan memikirkan hal lain. Kalau dia bercanda, maka keseriusan orang tidak akan ada gunanya. [] [] [] "Ini kampus kamu?" tanya pria itu. "Iya, Kenapa?" tanya balik Alza. "Enggak apa-apa." "Hmmm ... Makasih ya Om udah anterin Alza." "Iya ... Belajar yang rajin." "Ha! Barusan Om menyemangati Alza?" tanya gadis itu. "Enggak ... Barusan tadi saya mencoba untuk membuat kamu down." Jawab Alzayn. Pertanyaan dari Alza sungguh tidak ada faedahnya, hal itu membuat Alzayn menjawabnya dengan asal. "Ya Tuhan ... Om gemes banget sih." "Ah! Apaan sih, pegang-pegang lagi." Ucap Alzayn menepis tangan Alza. "Sekali lagi terima kasih Om ... Bye, bye, Om tiang listrik." Alza langsung keluar dari dalam mobil. Saat sudah menjauh, Alza merasa aneh karena pria itu malah mengambil tempat parkir di halaman kampus tersebut. "Pasti mau ngikutin aku. Mendingan aku lari aja." Alza segera berlari, ia tidak mau jika pria dewasa itu mengikuti dirinya hingga masuk sampai ke dalam. Alza menuju kantin di mana ia sudah janjian dengan temannya. "Uli." Panggil Alza ketika sampai di depan pintu kantin. "Ya ampun ... Tumben kamu lama datang?" tanya Uli. Uli, tidak lain dan tidak bukan adalah teman gibah Alza. Mereka sama-sama mahasiswi kedokteran yang mungkin sebentar lagi akan wisuda. Alza duduk di samping wanita itu, ia langsung mengambil roti milik Uli yang tinggal sepotong lagi karena sudah dimakan oleh teman seperjuangannya itu. "Aku ada cerita." Ucap Alza tiba-tiba. "Seru nih. Masih pagi udah ada bahan," timpal Uli. Gadis itu segera memperbaiki posisi duduknya agar menghadap kearah Alza Wilona. "Tapi kali ini kita nggak ngomongin orang." "Terus ngomongin apa?" tanya Uli heran. "Aku mau curhat tentang Om ganteng." Ungkap Alza. "Astaghfirullah ... Sadar, Za." Uli meletakkan telapak tangannya pada jidat wanita itu. Bahkan ia menempelkan tangannya dengan sangat kuat. "Sadar! Sadar! Sadar!" "Setan-setan pelakor tolong keluar ... Sahabat ku ini emang bar-bar, tapi dia baik kok. Baik banget malahan." "Iiih, apaan sih." Alza kesal dan menepis tangan Uli. Sedikit dia merapikan rambutnya. "Za, aku bilangin sama kamu ... Suka sama suami orang itu nggak baik." Ucap Uli dengan raut wajah khawatir. "Siapa bilang aku suka sama suami orang?" tanya Alza. "Aneh kamu." "Itu ... Barusan kamu bilang, kalau kamu mau cerita tentang Om-om." Gumam Uli. "Itu artinya kamu suka sama suami orang. OMG!!!" "Uli, Uli ... Nggak semua Om-om itu punya istri." Ungkap Alza. "Lagian yang aku bilang ini kayaknya emang nggak punya istri dan belum nikah ... Karena dari wajahnya sih dia masih muda banget, ya walaupun umurnya hampir kepala tiga." "Terus lo berhubungan sama dia?" tanya Uli mulai penasaran. "Najis! Berhubung apaan sih ... Ya kali aku mau sama Om-om. Walaupun dia ganteng, dia bukan tipe ku." Ting! Kedua ponsel gadis itu berbunyi menandakan adanya notifikasi masuk sebuah pesan dari Group w******p. Fakultas Kedokteran: "Lima menit lagi dosen masuk! Hari ini kita belajar di ruangan lab kesehatan." Begitulah kira-kira pesan singkat yang mereka dapatkan dari mahasiswa lainnya. Tidak ada balasan dari orang lain lagi. Namun Alza dan Uli segera beranjak dari tempat itu. Karena mereka yakin kalau anak-anak satu kelas mereka pasti sudah menuju ruangan kuliah. Belum pernah dalam sejarah Alza masuk telat, karena ia sangat menghargai proses pendidikan. "Terus kamu pacaran sama Om itu?" tanya Uli. Saat ini mereka sedang melangkahkan kaki menuju rumah perkuliahan. "Aku udah bilang, dia bukan tipe ku." "Tapi kamu 'kan suka sama cowok ganteng." Alza menghembuskan napasnya dengan kasar. "Tapi nggak berumur juga, Uli." Uli terkekeh geli saat temannya itu menatapnya. Keduanya berlari pelan agar tidak telat untuk masuk ke dalam ruangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD