Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, Alza Wilona masih betah di dalam rumah pria itu. Sedangkan sedari tadi Alzayn berdoa di dalam hatinya supaya Alza cepat keluar.
"Gadis kecil."
"Iya, Om."
"Kamu kalau main hp di rumah kamu sendiri 'kan bisa."
"Alza mau di sini." Ucapnya tanpa menoleh kearah Alzayn.
"Tapi ini sudah malam, nggak baik kita berduaan seperti ini."
"Ya ampun Om. Kalau pun kita digrebek, Om jangan khawatir. Alza nggak akan mau nikah, Om bukan tipe Alza."
Alzayn membulatkan matanya, ia seperti direndahkan oleh wanita itu. "Kamu pikir saya mau dengan kamu!"
"Pikiran Alza memang gitu Om. Walaupun Alza main hp, Alza tau kok dari tadi Om lihatin Alza."
"Saya lihatin kamu karena saya lagi berdoa supaya kamu cepat keluar dari rumah saya ... Saya sudah mengantuk dan besok harus segera bekerja."
Satu tarikan napas, Alza menganga mendengarnya. Dia pun langsung berdiri dari tempat duduknya. "Ya udah, kalau Om ngantuk Alza pulang dulu."
"Hmmm, bagus."
Baru beberapa langkah Alza pergi, ia kembali berbalik badan dan gerak-geriknya diketahui oleh Alzayn. "Apalagi gadis kecil?"
Alza mengambil pulpen yang ada pada meja itu, ia meraih telapak tangan Alzayn dan menuliskan angka di sana.
"Ini nomor Alza. Kalau Om lapar nggak usah beli makanan ya. Telpon Alza aja, nanti Alza bawain makanan." Alza kembali pergi, oh tidak. Dia kembali berbalik badan.
"Apalagi?" Kesal lelaki itu.
"Ada yang ketinggalan Om."
Alza mengecup telapak tangannya lalu menempelkannya bagian yang ia kecup tadi pada wajah laki-laki itu. "Bye, bye, Om ganteng. Semoga mimpi indah."
Alza langsung berlari. Alzayn tersenyum melihat tingkah wanita itu. Sangat kekanak-kanakan membuat dirinya rindu dengan sang adik perempuan.
[] [] []
Menjelang pagi hari terdengar suara adzan subuh. Alzayn tipikal laki-laki yang tepat waktu dalam melaksanakan sholat, dia segera beranjak dari tempat tidurnya.
Setelah bersih-bersih, Alzayn segera berangkat ke masjid. Yang awalnya dia senang, raut wajahnya langsung datar ketika melihat dua orang gadis yang baru saja keluar dari pagar.
Salah satu gadis itu adalah si gadis kecil yang selalu mengganggunya.
"Om tiang listrik mau ke masjid?" tanya Alza.
"Iya!"
"Hai, Om.""
"Hai juga," balas Alzayn kepada Selvi.
"Senang bertemu dengan Om."
"Nice to meet you."
Alza dan Selvi kagum, ternyata pria itu sangat pintar dalam berbahasa Inggris. Alzayn berlalu pergi dan di ikuti oleh kedua makhluk hidup berjenis kelamin wanita itu.
"Gimana, Vi. Kayak ditemenin sama bodyguard 'kan."
Alzayn langsung membalikkan badannya menghadap kearah belakang.
"Mampus!" batin Selvi.
Tatapan pria itu sungguh menusuk. Namun tidak dengan Alza, Selvi tau gadis itu pasti biasa saja dengan sorot mata dari Alzayn.
"Kamu bilang apa tadi?"
"Bodyguard ... Om kayak bodyguard kami. Badan besar, otot juga besar. Tapi kalau itu," ucap Alza menunjuk ke bawah.
Selvi langsung menepis tangan gadis itu.
"Besar nggak Om?" tanya Alza.
Plak!
Selvi menepuk jidatnya, Alza sungguh gila mempertanyakan hal pribadi pria. Melihat badan Alzayn saja dia sudah ngeri-ngeri sedap. Apalagi melihat pria itu marah dengan ekspresi tersebut.
"Kalau mau sholat pikirannya di bersihkan," ucap Alzayn.
"Bersih kok Om. Alza 'kan cuma tanya. Bukan minta liat."
"Astaghfirullah ..."
Sepertinya laki-laki itu terkena tekanan batin karena ulah Alza. Dia kembali melanjutkan perjalanan dan di ikuti oleh kedua gadis itu.
"Kamu ada-ada, Za. Masak nanya itu."
"Aku 'kan bercanda, masak nggak boleh."
"Masalahnya dia itu laki-laki. Kalau dia aktif, kita bisa habis," ucap Selvi.
"Ya ampun. Kita berdua sedangkan dia sendirian ... Nanti kita lecehkan dia."
"Heh gadis kecil!"
Kembali Alzayn memutar badannya kearah Selvi dan Alza yang sedang mengikutinya.
"Kamu itu mau sholat 'kan. Kenapa kamu membicarakan hal-hal yang negatif. Itu tidak baik."
Kedua wanita itu menundukkan pandangan.
"Lebih baik kalian pulang saja."
Alzayn bergerak seolah sudah membalikkan tubuhnya. Dia ingin tau bahwa gadis tersebut pasti akan melakukan hal sesuatu.
Dan benar dugaan Alzayn, Alza mendongak keatas menjulurkan lidahnya mengejek pria itu. Alza sama sekali tidak tau, ia pikir Alzayn sudah berjalan di depan dan memunggungi mereka.
"Om," lirihnya.
"Kamu mau saya cium di sini?"
"Mau," tantang Alza.
"Kamu!"
Rahang Alzayn mengeras, saat dia hendak maju, Selvi menahan tubuh pria itu dan Alza segera bersembunyi di belakang Selvi. "Jangan Om," larang Selvi.
"Nggak takut," ucap Alza.
"Udah ah," ketus Selvi.
"Dia ngeselin tau. Dari pertama ketemu nggak ada asik-asiknya," ucap Alza.
"Bukan Om ini yang nggak ada asik-asiknya. Tapi kamu yang sok akrab," timpal Selvi.
Keduanya memandang ke sembarang arah, pria yang tadi bersama mereka sudah tidak ada ditempat lagi.
"Om tiang listrik mana?" tanya Alza pada dirinya sendiri.
"Gara-gara kamu sih. Tetangga itu di buat nyaman bukannya membuat dia marah."
"Ribet, ah."
Alza langsung menarik lengan Selvi. Mereka segera bergegas menuju masjid takut waktu sholat subuh akan selesai.
Alza sama sekali tidak merasa bersalah dengan pertanyaannya tadi. Baginya itu hanyalah candaan saja karena ia sangat ceria orangnya.
[] [] []
Jam menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, Alza mulai berjalan di aspal menuju ke depan untuk mencari angkutan umum. Kan tidak lucu juga ada angkot yang masuk di perumahan elit.
Alza duduk di halte sambil menunggu angkot selanjutnya, ia memutar musik dan menyumpal telinganya dengan earphone.
Sambil memejamkan mata, kepalanya menggeleng mengikuti alunan musik yang sedang ia dengarkan.
"Ah, ganggu," ucap Alza ketika seseorang mencabut earphone yang ia kenakan.
Mata Alza terbuka, ia tersenyum ketika melihat seorang pria tinggi sedang berada di hadapannya.
"Kenapa Om?"
"Kamu ngapain di sini?" tanya Alzayn.
"Lagi nungguin angkot."
"Mau ke mana?"
"Ke kampus," jawab Alza.
"Kamu tidak punya mobil?" tanya Alzayn. "Atau diantarkan sama teman mu itu?"
"Alza malas nyetir. Mending naik angkot, ada supir pribadi."
Alzayn menarik tangan Alza dan ia mendorong tubuh mungil gadis itu untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Om mau ngapain. Alza masih kecil Om. Jangan apa-apain Alza. Alza takut punya Om nggak muat."
"Heh!"
Sama seperti yang Alza lihat sebelumnya, tatapan itu sungguh tajam namun ia tidak akan takut.
"Kamu cewek apa cowok sih?" tanya Alzayn. "Kata-katanya kotor banget melebihi pikiran cowok!"
"Om kenapa sih? Susah banget diajakin bercanda."
"Saya nggak suka bercanda. Apalagi bercanda dengan anak kecil seperti kamu."
"Alza bukan anak kecil. Alza udah kuliah."
"Sekarang kamu masuk!"
"Masuk ke mana?"
"Masuk ke mobil saya. Saya yang akan anterin kamu ke kampus."
"Nggak mau, ah," tolak Alza.
"Ini sudah jam tujuh, kamu mau telat?" tanya Alzayn.
"Iiih, modus ya Om ... Pasti Om mau tiru karakter cowok di novel-novel gitu 'kan? Ujung-ujungnya minta hadiah cium."
"Ya ampun ... Saya kalau mau modus juga mikir. Kamu berisi juga enggak. Apa yang saya modusin coba."
"Ya udah, Om buahi Alza. Biar berisi."
"Astaghfirullah. Anak ini ya."
"Kenapa? Om mau buat anak sama Alza. Alza 'kan udah bilang, Alza takut."
Tuk!
Ya, Alza mendapatkan ketukan pada ujung kepalanya. "Kamu kalau lagi bicara sama laki-laki. Tolong di kondisikan, kamu itu perempuan. Tidak baik berbicara seperti itu."
"Kenapa emangnya?" tanya Alza.
"Iya ... Kalau laki-laki itu G, dia tidak akan merespon kamu. Kalau dia normal, detik itu juga dia bisa macam-macam sama kamu," ucap Alzayn.
Alza menatap pria itu, dari atas sampai bawah dan kembali menatap wajah Alzayn.
"Kenapa?" tanya pria itu.
"Alza lihat Om nggak seperti G kok."
"Maksud kamu apa?" tanya Alzayn.
"Ya, Alza heran aja ... Kalau Om normal, berarti Om udah pasti melecehkan Alza seperti yang Om bilang tadi. Berarti Om—"
Cup!