Alzayn Dipaksa Alza

1046 Words
Malam telah tiba, Alza dan temannya sedang duduk di teras rumah. Mereka sedang menyaksikan keindahan bintang yang bertaburan di malam hari. Tidak ada tanda-tanda hujan yang akan turun. Sangat cerah! Ditambah dengan sinar cahaya bulan purnama membuat langit semakin bercahaya dan berkilau. Anugrah terindah dari Tuhan yang sepatutnya kita agungkan dan disyukuri. "Jadi Om itu udah deket sama kamu?" "Ya enggak lah, aku cuma mau kenalan aja tadi. Dia lucu, gemesin kalau lagi dikerjain." "Hati-hati lho, nanti ada rasa lagi," ucap Selvi. Selvi adalah teman Alza, mereka sama-sama berjuang di kota orang. Bedanya, Alza hanyalah mahasiswi yang sedang memperjuangkan gelar kedokteran. Sedangkan Selvi adalah seorang pegawai di salah satu perusahaan. Keduanya di pertemukan oleh takdir saat berada di kota itu. Karena sebelumnya mereka memang tidak pernah saling mengenal satu sama lain. Sambil memakan kacang goreng yang sengaja mereka siapkan di toples. Keduanya selalu menghabiskan waktu di malam hari setelah seharian tidak bertemu. "Mana mungkin aku suka sama Om-om. Ada-ada aja kamu," ucap Alza. "Lagian umurnya sama umurku jauh beda." "Kamu tau dari mana umur kalian beda jauh?" tanya Selvi. Perlahan Alza menghembuskan napasnya. "Aku 'kan udah bilang, tadi kami sempat kenalan." "Kalian kenalan atau kamu yang pecicilan minta kenalan sama Om itu?" tanya Selvi memastikan. "Om tiang listrik!" teriak Alza. Bukannya menjawab pertanyaan dari Selvi, Alza malah meneriaki seorang pria yang sedang lewat di depan rumah mereka. Selvi kagum, ternyata laki-laki yang di ceritakan oleh temannya tadi sangatlah tampan dengan postur tubuh yang tinggi. "Om ganteng tunggu!" teriak Alza lagi karena pria itu terus saja melangkah. "Kamu tunggu di sini ya." Ucapnya pada Selvi. Alza menghampiri laki-laki itu. Alzayn baru saja pulang dari masjid melaksanakan kewajibannya. Dengan peci yang masih lengkap di kepala serta memakai sarung yang warnanya senada dengan baju koko yang ia kenakan membuat pria itu semakin tampan saja. "Apalagi gadis kecil?" "Om dari mana?" "Menurut kamu?" tanya balik Alzayn. "Dari masjid." "Udah tau ngapain tanya." "Jangan ketus gitu Om, nanti nggak ganteng lagi." Alzayn memutar bola mata malas, ia pun kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah. Namun dengan cepat Alza berdiri di hadapan laki-laki itu. "Apalagi?" Alza sama sekali tidak melihat wajah marah dari pria itu. Padahal sebisa mungkin Alzayn sudah memperlihatkan ekspresi tidak sukanya kepada Alza. "Om udah makan?" "Bukan urusan kamu!" "Alza tanya baik-baik Om, kok jawabnya gitu." Alzayn menghembuskan napasnya dengan perlahan. "Belum gadis kecil." "Ya udah deh, Om pulang aja," lirih Alza. Alza minggir ke samping, ia membiarkan laki-laki itu untuk berlalu pergi. Alzayn benar-benar tidak nyaman, gadis yang baru saja ia kenal itu sungguh membuat mood-nya hancur. "Kamu kenapa?" tanya Alza. "Itu Om yang kamu maksud tadi?" tanya Selvi yang sekarang sudah berdiri di depan pagar. "Iya." "Ganteng banget." "Jangan gatel," ujar Alza. "Tapi seriusan, Za. Dia ganteng banget." "Udah, ah. Aku mau masuk dulu." Selvi memutar badannya menoleh kearah Alza. "Kamu tidur?" "Enggak." "Terus mau ngapain?" tanya Selvi. "Om itu belum makan, kasian dia baru pindah, terus dia laki-laki. Mungkin nggak biasa atau nggak tau masak. Jadi aku bawain makanan kita aja." "Bawain yang banyak, Za. Biar Om ganteng kenyang," ucap Selvi. Wanita itu mulai tergila-gila kepada Alzayn seperti temannya. Pesona dari Alzayn Arzan sungguh berkharisma. [] [] [] "Assalamualaikum ..." Alzayn menghembuskan napasnya dengan perlahan, ia sangat kenal dengan suara tersebut. "Waalaikumssalam ..." Dengan rasa malas yang menyelimuti tubuhnya, Alzayn melangkahkan kakinya menuju keluar untuk membukakan pintu kepada gadis itu. Ceklek! Pintu terbuka. "Om tiang listrik." Alza tersenyum gembira. "Kamu mau apa lagi?" Alza langsung masuk. "Saya belum menyuruh kamu masuk." "Biarin!" Alza duduk di sofa dan meletakkan piring yang sudah berisi nasi beserta lauk pauknya. "Kamu kurang kerjaan ya, bawa nasi dari rumah terus makan di tempat orang." Kini Alzayn sudah duduk di depan wanita itu. Masih dengan tatapan mata yang tajam, namun Alza sama sekali tidak gentar. "Ini untuk Om. Om 'kan belum makan." "Sudah." "Tadi katanya belum," ucap Alza. "Saya baru aja makan." Detik berikutnya, sungguh malu yang dirasakan oleh Alzayn. Perutnya tidak bisa di ajak kerjasama. "Udah, tapi perutnya berbunyi ... Om tau nggak, dosa lho kalau bohong," ucap Alza. "Kamu ngapain panggil saya tiang listrik?" tanya Alzayn. "Saya manusia." "Ya karena Om itu tinggi. Apalagi kalau lagi berdiri, Alza harus gini." Gadis itu mendongak keatas mempraktekkan ketika ia melihat Alzayn. Sial, ada yang menegang! Alzayn menelan salivanya melihat leher jenjang gadis itu. Apalagi saat ini Alza sedang memakai pakaian yang sedikit memperlihatkan lekuk tubuhnya. Ya, pandangan Alzayn mengarah ke, skip! Alzayn tersadar dan segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Om kenapa?" tanya Alza. "Saya tidak kenapa-kenapa, lebih baik kamu pulang sekarang." "Alza akan pulang, tapi Om harus makan dulu." "Saya tidak mau makan." "Kenapa?" tanya Alza. "Kamu pasti mau racuni saya 'kan?" "Ya ampun Om, kalau Alza mau racuni orang. Alza pilih-pilih tau. Masa orang ganteng Alza racuni." "Udah berapa banyak pria yang kamu gombali?" tanya Alzayn. "Banyak Om, nggak kehitung," jawab Alza. "Sekarang Om tiang listrik makan ya." "Jangan panggil saya itu." "Terserah Alza dong, 'kan mulut Alza." "Pulang." "Enggak." "Pulang," usir Alzayn lagi. "Enggak." "Pulang!" bentak Alzayn. "Enggak!" Alza tidak mau kalah, sepertinya dia memang tidak takut dengan hal-hal seperti itu. "Kamu ya, di bentak malah nge-bentak balik." "Om pikir Alza takut? Enggak!" ucap Alza. "Alza nggak akan pulang kalau Om belum makan. Lagian Alza 'kan berbuat baik sama Om, masa Om nggak suka." Tanpa memperlambat lagi, Alzayn meraih piring tersebut dan ia pun memakan nasi yang dibawa oleh Alza. Detik demi detik sudah berlalu, Alza tersenyum karena pria itu mulai menghabiskan makanan yang sempat ia bawa tadi. "Om mau minum?" "Mau. Tapi—" "Air minum di sini belum ada?" tanya Alza. Alzayn mengangguk pelan. "Ya udah, Alza ke rumah dulu ya," ucapnya. "Om mau nambah? Biar Alza ambilkan lagi." "Enggak." "Oke!" Alza berlalu pergi ia menuju rumahnya untuk mengambilkan minuman kepada tetangganya tersebut. Mata Alzayn berkaca-kaca, andai saja ia diperlakukan seperti itu oleh mantan istrinya, mungkin saat ini ia sudah merasa bahagia. Alza kembali ke rumah Alzayn, pria itu mengernyitkan dahinya. "Saya 'kan nggak minta nambah." "Om harus banyak makan. Biar sehat." "Saya sehat. Nggak perlu makan banyak." "Kalau Om nggak mau nambah. Alza nggak akan pulang." "Ya Tuhan! Kenapa saya harus memiliki tetangga seperti dia!" batin Alzayn. Alzayn pun akhirnya mengalah dengan gadis itu. Dia mengikuti permintaan dari Alza untuk menambah makanan yang sudah disediakan untuknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD