Chapter 9

1818 Words
Keindahan yang terpampang nyata di depan Kanaya membuatnya seperti memakan buah simalakama. Kali ini, matanya tidak hanya dimanjakan oleh birunya air laut saja. Tapi, seseorang yang tak jauh dari tempatnya saat ini, begitu mempesona. Membuatnya berulang kali harus menundukkan kepala, kemudian mengangkatnya lagi. Menunduk lagi, mengangkatnya lagi. Kondisinya saat ini benar-benar seperti lagu milik Raisa, Serba Salah. Tidak dilihat, sayang. Jika dilihat, dosa. Akhirnya ia mengambil handphone dari saku celana. Membidik keindahan yang sempurna di sana secara diam-diam. Agar orang itu tidak tahu bahwa ia sedang mengambil gambarnya.          Kanaya mengulum bibir seraya menyembunyikan senyumnya. Di foto itu Kenan sedang berjalan di atas pasir, dengan banyak bekas cetakan kaki. Laki-laki itu sedang menenteng kamera yang dibawanya. Background tebing dan air berwarna hijau menambah kesan eksotis. Dan yang membuat Kanaya hampir panas dingin adalah Kenan topless, alias tidak memakai bajunya. Akibat ulahnya, Kenan terpaksa harus melepas kaos yang dipakai untuk dijemur di bawah terik matahari. Ia tidak menyangka kalau tubuh Kenan akan sebagus itu. Kalau Kanaya tahu, Kanaya tidak akan menjahili laki-laki itu, karena efeknya yang sangat berbahaya. Kanaya kembali meletakkan handphone itu ke saku. Ia tidak bisa update snapgramnya karena di sini tidak ada sinyal. Terlebih, handphonenya masih dalam mode airplane, jadi seseorang pasti tidak akan bisa menghubunginya. Ia langsung salah tingkah saat Kenan mendekat. Laki-laki itu sudah memakai kaosnya yang sempat dijemur. Udara yang terik disertai angin yang kencang membuat kaos laki-laki itu cepat kering. "Udahan yuk. Kita ke harus ke tempat selanjutnya," ujar Kenan yang menjatuhkan diri di samping Kanaya. "Yaaa, saya masih betah," pungkas Kanaya. Kenan terkekeh. "Pantai Kelingking ini memang buat susah move on," ujar Kenan yang disetujui oleh Kanaya. "Habis ini kita mau ke mana?" "Ke Broken Beach ..." Jeda sedetik. "Dengan perempuan yang lagi broken heart," lanjut Kenan dengan satu alis yang terangkat. Ia tersenyum menggoda ke arah Kanaya. "Apaan sih!" Kanaya berdiri dari duduknya. Menghempas pasir sejenak, kemudian berjalan ke arah tangga tempat awal ia ke sini. "Kayaknya saya salah ya bawa kamu ke sini? Jadi makin inget mantan." Kenan sudah berjalan di sisi Kanaya. Ia menatap gadis itu yang tengah menunduk merasakan kelembutan pasir di kakinya. "Mantan itu apa, ya?" "Ehm ... " Kenan pura-pura berpikir sejenak. "Mungkin sejenis kelapa yang diparut, dikasih air, terus diperas deh." "Itu santan!" pekik Kanaya yang membuat Kenan terkekeh. "Atau bahasa Inggrisnya sticky rice," lanjut Kenan. "Itu ketan!" "Atau yang seperti ini." Kenan melipat kedua tangannya ke perut, kemudian ia loncat-loncat di tempatnya. "Itu pocong!" "Ih, itu setan." Kenan mendengus. Usahanya tidak berhasil, atau memang Kanaya yang lemot. "Ulah cemberut kitu atuh, Kang. Engke moal kasep duei." (Jangan cemberut gitu dong, Kang. Nanti nggak ganteng lagi). "Artinya apaan?" tanya Kenan dengan kening yang mengerut. "No smoking in this area." Kanaya terkekeh melihat ekspresi Kenan, laki-laki itu seperti sedang berpikir keras mencerna ucapannya. ✈✈✈ Broken Beach tidak kalah bagusnya dengan Kelingking Beach yang membuat Kanaya sampai berdecak kagum. Perjalanan dari tempat parkir yang lumayan menguras tenaga, akhirnya bisa terbayar saat melihat pemandangan yang ada di depannya. Dinamakan Broken Beach karena ada pantai dengan karang, dan di tengah karang itu ada lubang besar. Kalau kata Kanaya seperti orang yang sedang broken heart, hatinya berlubang. "Fotoin dong, Ken," pinta Kanaya yang sudah berdiri di spot terbaik. Kenan masih sibuk mengambil gambar pantai dengan kamera SLR yang sedang ada di tangannya. Kenan menoleh ke arahnya. "Minta tolongnya yang bener dulu," ujar Kenan. Kanaya mendengus kesal. Jeda beberapa detik, Kenan kembali bersuara. "Mas Ken, Kanaya minta tolong fotoin ya," ujar Kenan lagi dengan menekan kata minta tolong. "Oke-oke." Kanaya menarik napas sejenak. Memanggil Kenan dengan sebutan Mas, rasanya begitu aneh. Saat ia pacaran dengan Marvin saja tidak ada panggilan seperti itu, meski laki-laki itu juga lebih tua darinya. Aish, kenapa jadi membayangkan Marvin lagi? "Mas Kenan." Kanaya sengaja mengubah nadanya menjadi selembut mungkin. "Kanaya yang cantik nggak ada duanya ini minta tolong difotoin ya." Setelah mengucapkan itu, Kanaya bergidik ngeri. Dan Kenan malah terkekeh mendengarnya. Beberapa gambar Kanaya dengan berbagai pose, sudah diambil oleh Kenan. Biasanya kalau Kenan pergi ke tempat seperti ini, ia lebih senang untuk mengambil gambar pemandangan. Sejak dulu, lelaki yang berprofesi sebagai pilot itu memang mempunyai hobi fotografi. Oleh karena itu, kalau ia mendapatkan cuti libur dari perusahaan ia gunakan untuk hunting foto sekaligus liburan. Namun belakangan ini ia tidak pernah lagi pergi berlibur, kalau mendapatkan jatah libur ia gunakan untuk menjaga Eyangnya. Berbeda kali ini, ia memang mendapatkan tugas terbang ke Bali, dan ada libur mingguan dua hari berturut-turut. Jadilah ia gunakan kesempatan itu. "Sini Mas sama Mbaknya Bapak yang fotoin," ujar Pak Wayan menawarkan diri. Keduanya saling pandang untuk menerima tawaran itu. Saat Kanaya menganggukkan kepalanya, Kenan menyerahkan kamera yang sedang dibawanya pada Pak Wayan. Kemudian Kenan mendekat ke arah Kanaya. Ekor mata Kanaya melirik pada lengan Kenan yang besar dan berotot. Sepertinya lelaki itu rajin ngegym hingga mempunyai tubuh yang begitu atletis. Lagi dan lagi, Kanaya gagal fokus. "Hitungan ke-tiga, ya Mas, Mbak. Satu, dua, tiga." Suara Pak Wayan menyadarkan Kanaya. Beberapa gambar sudah diambil oleh Pak Wayan, meski awalnya keduanya masih terlihat canggung. "Foto yang ini bagus, Nay," ujar Kenan saat ia melihat-lihat lagi hasil bidikannya. "Yang mana?" Kanaya mendekat. Kenan langsung memperlihatkan layar kamera ke arah Kanaya. Netra Kanaya melihat gambar dirinya dan Kenan yang tengah membelakangi kamera. Keduanya duduk melihat pemandangan hijaunya air serta karang yang sangat memanjakan mata. "Iya, bagus banget," puji Kanaya. Keduanya langsung berjalan menuju destinasi selanjutnya, Angel's Billabong, yang masih satu lokasi dengan Broken Beach. Lagi dan lagi, Kanaya dibuat kagum oleh pemandangan yang ada. Angel's Billabong terlihat seperti infinity pool, alias sebuah kolam yang seolah-olah menyatu dengan pantai. Airnya begitu jernih, hingga karang yang ada di dalamnya pun terlihat. "Huaaah, nggak sabar mau berenang!" pekik Kanaya. "Kamu nggak bawa baju ganti, Naya," sergah Kenan. "Kalau tahu mau ke sini, saya pasti bawa bikini. Kamu sih nggak bilang." Kanaya merengut, sebal. Ia mau merasakan dinginnya air di 'kolam' itu. "Mau turun?" tanya Kenan yang diberikan anggukkan oleh Kanaya. Akhirnya Kenan turun terlebih dahulu, setelah itu Kanaya, dan disusul oleh Pak Wayan. "Seger banget airnya! Ya ampun!" Lagi, Kanaya memekik saat kedua kakinya telah menyentuh air. "It's so amazing! This is paradise!" Kanaya melangkahkan kakinya menuju ke arah pantai. Namun segera ditahan oleh Pak Wayan. "Jangan ke sana Mbak, takutnya tiba-tiba ada ombak besar," ingat Pak Wayan. Dengan berat hati, Kanaya tidak jadi ke sana. Ia hanya bermain air di tempatnya semula. Saat ini situasi air memang sedang tenang. Tidak ada ombak sama sekali. Tapi menurut Pak Wayan, bisa saja tiba-tiba ombak besar datang dan terbawa arus. Jadi, Kanaya dan Kenan dilarang ke sana untuk berjaga-jaga. Ckrek! Tanpa dipinta, Kenan membidik Kanaya yang sedang merentangkan tangan dengan kepala yang terangkat ke atas. Mata gadis itu terpejam, sehingga tidak tahu kalau seseorang sedang mengambil gambarnya. Kenan melihat hasil bidikannya. Harus diakui, gadis itu memiliki pesona yang dapat menarik setiap mata yang melihat. Bahkan beberapa kali, para wisatawan yang sempat berpapasan dengannya menoleh ke arah gadis itu. Jujur, ia sendiri pun tertarik padanya. Namun bukan karena kecantikkan paras. Ada sesuatu yang sampai saat ini belum ia temukan jawabannya. "Huaaah, serasa punya kolam renang pribadi!" Kenan menggelengkan kepala. Sudah dibilang gadis itu tidak membawa pakaian ganti, namun ia tetap keukeh menceburkan diri ke dalam air. Kanaya sibuk renang dengan berbagai macam gaya. Gadis itu terlihat sangat bahagia, bahkan mungkin ia sudah bisa melupakan patah hatinya. Juga tidak peduli, kalau nanti ketika pulang ke penginapan dengan pakaian yang basah. "Sini ikut renang!" Kanaya memanggil Kenan yang masih sibuk dengan kameranya. Lelaki itu menggeleng, ia tidak ingin masuk angin setelah pulang dari tempat ini. "Ayo! Nggak seru ah, kamu!" Kenan tetap pada pendiriannya. Setelah liburan, ia tetap harus bekerja yang membutuhkan kondisi badan fit. **** Kanaya merebahkan tubuhnya di kasur. Meskipun lelah, hatinya terasa senang. Pukul 17.00 WITA ia sampai di penginapan. Ia mengingat lagi perjalanannya hari ini bersama Kenan. Apalagi tadi setelah ia selesai berenang di Angel's Billabong, ia sempat menantang Kenan makan siri di pemukiman penduduk. Laki-laki itu nampak kepedasan dan ingin muntah. Ah, menjahili laki-laki itu memang sangat menyenangkan. Terlebih saat di Pantai Kelingking. Ups. Dan yang paling membuat hati Kanaya deg-deg ser adalah, Kenan meminta kepada penduduk setempat agar memberikannya kain. Dengan alasan, kalau baju yang Kanaya kenakan menerawang karena basah. Memang benar, akibat berenang di Angel's Billabong, pakaian dalam Kanaya terlihat jelas. Dan itu menjadikan Kanaya objek indah lain, terutama bagi wisatawan laki-laki. Kanaya mengulum bibirnya, menahan senyum. Ia meraih tas kecil di atas nakas. Mengeluarkan handphone dari dalam, kemudian mengaktifkan benda persegi itu. Ia langsung mengganti mode airplane dengan mode biasa. Ternyata tidak ada sinyal. Akhirnya Kanaya langsung mengkoneksikan handphonenya dengan wifi milik penginapan. Handphonenya bergetar. Segala pemberitahuan dari media sosialnya masuk saat itu juga. Termasuk pesan w******p dari Gita dan Devina. Mbak Naya? Gimana kabarnya? Itu pesan dari Gita. Banyak pesan lain yang gadis itu kirim. Rata-rata menanyakan kabar dan keberadaannya. Gue baik, Git. Sekarang lagi di Bali. Mau nenangin diri dulu sebentar. Balas Kanaya. Ia tidak ingin membuat Gita khawatir padanya. Devina: Serius lo terbang pake pesawat itu? Ketemu suami gue nggak? Suami gue bilang tadi nomor penerbangannya sebelum berangkat. Eh ternyata sama kayak lo. Me: Nggak ketemu. Gue malah ketemu sama kenan. Balasnya. Masih ceklis satu. Kanaya langsung menutup aplikasi w******p dan membuka Safari. Ia mengetik satu nama di mesin pencarian. Beberapa menit kemudian muncul berita mengenai laki-laki itu. Ini dia, Kenan Asyari. Pilot ganteng yang salat di cockpit pesawat. Kanaya membaca artikel itu. Juga ada beberapa foto Kenan di dalamnya. Matanya langsung tertuju pada sebuah kutipan dari wawancara langsung. "Itu teman saya yang ngeshare. Salat itu kan kewajiban setiap muslim. Itu waktu saya melakukan perjalan selama 8 jam penuh. Kalau saya tidak salat di cockpit tidak akan keburu, Mbak," ujar Kenan saat di wawancara di Terminal 3 Soetta. Setelah menutup Safarinya, Kanaya berpindah pada akun i********:. Ia mengetik satu nama pada mesin pencarian. Beberapa menit muncul profil atas nama Kenan. Dan ia langsung mengklik profil paling atas. "Gilaaa, followersnya banyak juga." Kanaya terkejut saat melihat pengikut laki-laki itu yang mencapai angka 45k. Namun foto yang ia share tidak begitu banyak. Hanya ada lima foto saja, itu pun foto pemandangan. Ada satu foto yang menampakkan wajahnya, Kanaya tidak tahu itu di mana. Tapi sepertinya di luar negeri. Di foto itu wajah Kenan masih muka bantal. Rambut yang biasa klimis dan berjambul sedikit acak-acakkan tertiup angin. Tidak lupa lelaki itu tersenyum ke arah kamera. Harus Kanaya akui, senyum itu begitu manis. Sangat manis malah. Dan yang menggelitik adalah caption yang ditulis laki-laki itu. Anginnya kencang. Rambut terbang. Mari bermain layang-layang. "Nggak jelas!" Kanaya terkekeh sendiri. Jarinya bermain lagi, kali ini ia menemukan sebuah video. Ia pun langsung mengklik video itu. Di video itu, sepertinya Kenan sedang berada di cockpit. Karena sepanjang video hanya menampakkan awan-awan putih bersama matahari yang masih malu-malu menampakkan diri. Sunrise masih tertutup gumpalan awan. Kali ini, Kanaya mengklik sebuah foto di arena gym. Benar dugaannya kalau laki-laki itu suka gym, mengingat tubuhnya yang atletis. Tapi lagi-lagi Kanaya tergelitik karena captionnya. Celana sobek gede di gym pas squat itu rasanya... Adem.  Tak pelak Kanaya langsung tertawa terbahak. Sekaligus membayangkan apa yang terjadi di sana. Juga membayangkan bagaimana b****g lelaki itu saat celananya sobek. Astaga! Kanaya langsung menghapus pikiran nakal itu. Foto terakhir yang Kanaya lihat, tubuh Kenan membelakangi kamera. Laki-laki itu menghadap pantai sambil menatap senja. Tidak jauh darinya ada sampan kecil. Semburat jingga yang terlihat membuat tubuh tegap laki-laki itu hanya seperti siluet.  Di foto itu tertulis keterangan .... Missing the beach. And you. Terdiam sejenak. Entah mengapa dunia seperti berhenti berputar. Kanaya pun terpaku sambil memandang handphonenya. Ia melihat tanggal dan tahun kapan Kenan memposting foto itu. Dua tahun yang lalu. Dan satu pertanyaan muncul dalam benak Kanaya, siapa yang laki-laki itu rindukan? **** Maaf kalo part ini gaje, alias gak jelas. Happy reading... Luvvv    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD