Chapter 10

1355 Words
Matahari belum sepenuhnya menampakkan diri di ufuk timur. Namun Kanaya sudah bersandar pada kursi sun longer yang ada di pinggir kolam renang. Gadis itu terhanyut pada buku bacaan yang sudah berulang kali ia baca, ditambah udara pagi yang sejuk, dengan suara debur ombak seperti iringan musik klasik yang membuatnya tenang. Di zaman era digital seperti sekarang ini, siapa sangka, seorang Kanaya membaca buku bentuk fisik. Padahal, segala informasi bisa dengan mudahnya didapat hanya dengan satu jari. Juga banyak buku digital yang tersebar di internet, mulai dari yang legal sampai yang ilegal. Namun menurut Kanaya, membaca buku fisik mempunyai rasa yang berbeda. Bau dari kertas serta tinta yang ada di buku membuatnya bisa larut ke dalam bacaan dan bisa menghabiskan bacaan tersebut. Berbeda kalau ia membaca di handphone, baru beberapa menit, matanya sudah sakit.  Hal itu menarik perhatian lelaki yang sedang lari pagi di pinggir pantai depan penginapan mereka. Ia setengah berlari menghampiri dan langsung duduk di kursi samping Kanaya. "Outliers," ucap Kenan membaca judul buku karya Malcolm Gladwell. Kanaya yang menyadari kehadiran seseorang, langsung menurunkan buku itu dari wajahnya. "Waaah, penulis buku itu salah satu pengarang favorit saya," lanjut laki-laki itu tanpa diminta. "Oh ya?" tanya Kanaya. Kenan mengangguk sebagai jawaban. "Tapi saya belum sempat baca yang itu. Saya baca yang berjudul BLINK sama David and Goliath," aku Kenan. "You must read it!" kata Kanaya seraya menunjuk buku yang dibawanya. "Saya selalu baca ini kalau lagi down masalah pekerjaan." Kenan mengambil buku yang di pegang Kanaya. Ia mengamati sebentar, kemudian membaca sinopsisnya. "Kalau Mas lihat gambar di cover belakang, ada satu apel merah di antara banyaknya apel hijau. Jika kita lihat dari sudut pandang negatif, kita sebagai apel merah, misal, akan berpikiran 'kok gue beda ya dari orang lain?'. Di sini Malcolm membalikkan argumentasi kita bahwa kita berbeda justru malah membuat kita stand out," jelas Kanaya dengan semangat. Kening Kenan mengerut. Selama Kanaya berbicara ia terus memerhatikan gadis itu. "Di sini juga diceritakan Beatles sama Bill Gates ya?" tanya Kenan lagi seraya menimang-nimang buku itu. "Nah, iya Mas. Ada satu hal yang menarik banget dari buku itu. 'The rule of ten thousand hours'. Beatles, mereka bisa mencapai kelas dunia seperti sekarang setelah melewati ten thousand hours training," lanjut Kanaya dengan penuh semangat. Pikirannya kembali lagi pada saat ia di ESMOD dulu. Kebetulan sewaktu SMA, gambarnya belum bagus seperti sekarang. Setelah membaca buku itu, Kanaya mempunyai semangat dalam dirinya, harus banyak berlatih. Alhasil, ketika teman-temannya tertidur, ia lebih memilih mengurangi jatah tidurnya untuk berlatih menggambar. Pernah dengar kata pepatah, bisa karena terbiasa? Itu yang dilakukan Kanaya. Hingga akhirnya mimpinya terwujud saat salah satu design yang ia buat tembus di majalah Internasional. "Can i borrow?" Kanaya mengangguk, "ya, pinjam aja Mas." Netranya menatap lekat Kenan yang kini tengah meneguk air mineral yang dibawa. Ia kesulitan menelan salivanya sendiri saat melihat jakun Kenan naik turun. Terlebih saat ada sebulir keringat yang mengalir di lehernya, mambuat laki-laki itu nampak seksi. "Ehm, hari ini kita mau ke mana, Mas?" tanya Kanaya sambil menyelipkan sejumput rambut di belakang telinga. Ia merubah posisi duduknya, salah tingkah. "Kamu maunya ke mana?" Kanaya berdecak, "kan Mas yang tahu. Gimana sih?!" Kenan terkekeh. Bukan karena melihat wajah Kanaya yang terlihat kesal. Tetap gadis itu tidak sadar kalau sedari tadi memanggilnya dengan sebutan 'Mas'. Padahal kemarin ia sempat menolaknya. "Kamu siap-siap aja dulu." Kenan sudah berdiri, berniat pergi ke kamarnya. "Lho kok gitu Mas? Mau main rahasiaan sama saya?" Kenan tak menghiraukan Kanaya. Ia sudah berjalan ke arah tangga. "Nggak bisa gitu dong, Mas. Kalau tiba-tiba Mas ajak saya ke KUA kan enak di saya!" Kanaya langsung menutup mulutnya karena tersadar sesuatu. "Eh maksudnya nggak enak di saya!" Kenan membalik tubuhnya. "Kamu siap-siap aja." ***** Kanaya sudah siap dengan atasan bermodel sabrina ditambah celana kulot yang senada dengan atasannya. Kali ini rambutnya di kuncir kuda dengan poni depan. Wajahnya begitu cerah, tidak nampak seperti orang yang baru saja patah hati. Jika dipikir-pikir, ia justru lupa permasalahan hatinya itu. Ia mencoba untuk memaafkan Marvin juga diri sendiri, tentunya. Hatinya pasti tidak akan sesakit ini, kalau dia tidak terlalu berharap pada lelaki itu. Rasa kecewa itu bersumber dari ekspektasi yang terlalu tinggi, kemudian dijatuhkan pada kenyataan yang jauh di bawah ekspektasinya. Kanaya mengambil kesimpulan, semakin berharap, maka jatuhnya akan semakin sakit. Pintu diketuk seseorang, ia yakin orang di baliknya adalah Kenan. Ia menyambar tasnya kemudian berjalan ke arah pintu. "Mas?" tanya Kanaya dengan raut khawatir sekaligus bingung. Pasalnya lelaki itu nampak panik dan sedikit berantakan. Matanya memerah seperti habis menangis. "Kenapa?" "Saya minta maaf nggak bisa antar kamu berlibur. Saya harus pulang ke Jakarta." Kenan menarik napas dalam seraya menetralkan sesuatu yang berkecamuk di hatinya. "Eyang ... Kondisi Eyang drop." "Ya Allah." Kanaya terkejut, ia menutup mulutnya sendiri. Rasa khawatir menyelinap begitu saja di hatinya. Netranya beralih pada Kenan, ia baru sadar kalau laki-laki itu sudah membawa kopernya. "Mas saya ikut ke Jakarta sama Mas ya? Mas tunggu dulu sebentar, saya mau siap-siap." Tidak lama kemudian, Kanaya sudah siap. Keduanya langsung check out dari penginapan. Dengan diantar Pak Wayan, keduanya pergi ke pelabuhan. Beruntung keduanya berada di waktu yang tepat. Fast boat yang mengantarkan mereka menyebrang ke pelabuhan Sanur sudah datang. Jadi tidak perlu menunggu lama. "Terima kasih Pak, atas waktunya," ucap Kenan pada Pak Wayan. "Sama-sama, Mas. Semoga kita bisa bertemu lagi. Dan Eyang Mas baik-baik saja." Kenan memang bercerita mengenai kondisi Eyangnya pada Pak Wayan saat di mobil. "Aamiin, makasih Pak doanya." Begitu pula dengan Kanaya yang juga berpamitan pada Pak Wayan. Setelah itu, keduanya langsung menaiki fast boat. **** Kanaya dan Kenan sudah menaiki pesawat menuju Jakarta. Keduanya memilih diam tidak ada yang membuka percakapan. Kanaya menatap gumpalan awan di luar sana, sesekali melihat ke arah Kenan yang masih menampakkan raut wajah khawatir. Ia tahu, kalau laki-laki yang berada di sampingnya ini sangat menyayangi eyangnya. "Don't worry. Everything's gonna be alright, Mas." ucap Kanaya memecah keheningan di antara keduanya. Kenan yang tadinya menatap ke arah depan, kini mengalihkan pandang ke Kanaya. "Saya khawatir sama Eyang." "Saya tahu. Saya juga tahu kalau Mas sayang banget sama Eyang." Jeda beberapa detik. "Kita berdoa saja Mas, demi keselamatan Eyang." Tiba-tiba Kenan mengingat lagi ucapan Eyang tempo hari. Tentang permintaan terakhir dan Kenan membenci hal itu. Seolah-olah eyang tidak akan lama lagi berada di sisinya.  Eyang nggak minta apa-apa dari kamu, Ken. Eyang cuma mau kamu menikah. Itu saja. Kalau kamu sudah ada yang menemani, Eyang akan pergi dengan tenang. Hal itu membuat Kenan makin tak keruan. Ia mengusap wajahnya frustasi. "Kanaya," Kenan menghentikan ucapannya. Ia ragu mengucapkan kalimat selanjutnya. "Masalah ajakan menikah di cafe waktu itu." Jeda tiga detik. "Sebenarnya itu adalah permintaan Eyang." Kanaya tidak terkejut mendengar hal itu. Pantas saja, Kenan yang baru mengenalnya tiba-tiba mengajak untuk menikah. Sangat tidak masuk di akal. "Saya tidak tahu perempuan mana yang akan saya ajak nikah. Di kepala saya cuma ada satu nama, yaitu kamu. Makanya saya datang menghampiri kamu waktu itu. Saya takut, saya tidak bisa memenuhi permintaan Eyang." Hening. Keduanya tidak ada yang bersuara lagi, baik Kanaya maupun Kenan. Namun tiba-tiba Kanaya membuka suara. "Saya bersedia, Mas." Tak pelak, Kenan langsung terkejut. "Maksud kamu?" "Saya bersedia menikah sama Mas Kenan." Kanaya menghentikan ucapannya sejenak, "mari kita menikah demi Eyang." "Kamu serius? Buat saya menikah itu bukan suatu permainan, Kanaya. Menikah itu satu kali seumur hidup." "Ya, saya serius," ucap Kanaya dengan penuh keyakinan. "Kenapa kamu bisa seyakin itu?" tanya Kenan seraya menanti jawaban Kanaya. Dulu, saat Kanaya masih duduk di bangku sekolah dasar, ia adalah anak yang bandel di sekolah. Tidak pernah menurut perintah guru, sering bolos, hingga tak jarang Mamanya dipanggil oleh wali kelasnya. Ia juga benci pelajaran yang ada di sekolah. Pelajaran yang ia suka adalah menggambar, hanya itu. Sampai suatu hari, Mamanya jatuh sakit. Kanaya menjadi pendiam dan anti sosial. Ia selalu menyalahkan dirinya sendiri kalau apa yang terjadi pada Mamanya adalah karena ulahnya. Suatu ketika, sang Mama kritis. Permintaan Mamanya adalah melihat Kanaya menjadi anak yang berprestasi. Kebetulan waktu itu, ia sedang mengikuti lomba menggambar tingkat sekolah dasar. Belum sempat panitia mengumumkan pemenangnya, Kanaya harus menerima kenyataan pahit kalau Mamanya sudah tiada. Mamanya tidak bisa melihat Kanaya pulang membawa trofi kemenangan, karena mata malaikatnya itu sudah tertutup untuk selamanya. Kanaya tidak ingin Kenan mengalami penyesalan seumur hidup seperti yang ia alami. Rasanya sangat tersiksa saat tidak bisa memenuhi permintaan dari orang yang paling kita sayangi. Oleh karena itu, Kanaya bersedia menerima pinangan Kenan, meskipun mereka baru saling kenal. Demi membantu laki-laki itu. Kanaya menghela napas dalam. "Saya pernah mempertaruhkan hidup saya sama Mas. Itu waktu Mas jadi pilot pesawat yang saya tumpangi. Jadi, mari kita lakukan itu sekali lagi." **** Happy reading... Luvvv  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD