Logika Kanaya berceceran entah kemana. Otak yang ia banggakan, yang terkenal cerdas itu kesulitan menerima informasi yang baru saja di dengarnya. Kanaya merasa bahwa dirinya benar-benar orang paling bodoh se-dunia.
"Saya istri Marvin."
"Saya istri Marvin."
Kata itu yang terus terngiang di telinganya. Netranya menatap nanar, pandangannya kosong, dengan air yang menggenang di pelupuk mata.
"Bagaimana bisa? Sejak kapan?" lirih Kanaya. Ia sudah tidak punya tenaga lagi, bahkan untuk bicara sekali pun. Mungkin kalau ia tidak duduk di kursinya, ia pasti akan jatuh.
"Dua tahun yang lalu."
Ingatan Kanaya berpindah pada dua tahun yang lalu. Kala itu Marvin tidak pulang ke Indonesia. Menurut kabar yang Kanaya dapat, kekasihnya itu sedang berlayar ke China. Memang dasarnya ia bodoh, ia percaya saja.
"Saya mohon tinggalkan Marvin, Mbak. Demi anak ini. Selama ini saya sudah cukup sabar dengan hubungan kalian, dan pacarnya yang lain. Saya tidak ingin berdampak buruk pada psikologis anak saya."
Tunggu! Mengapa ia yang seolah menjadi perebut suami orang? Mengapa ia yang disalahkan? Di sini ia juga tertipu.
Kanaya mengembuskan napas dalam. Ia menyeka air matanya dengan cepat. Sebisa mungkin ia berdiri, menyeimbangkan tubuhnya dengan wanita itu. Ia tidak ingin terlihat lemah hanya karena laki-laki.
"Bawalah dia. Bawalah si pengkhianat itu. Saya nggak butuh!"
"Saya nggak akan bertemu lagi dengannya."
"Lebih baik sekarang Mbak pergi. Saya mau sendiri."
Wanita itu mengelus perutnya yang buncit. Merasa puas dengan pernyataan Kanaya. Selanjutnya ia pergi tanpa sepatah kata pun.
Sedangkan Kanaya, ia terduduk lagi di kursinya. Tubuhnya lemas seperti tak ada tulang sebagai penyangga. Dalam mimpi pun, Kanaya tidak pernah mengharapkan hal ini terjadi.
Netranya menatap lookbook yang masih terbuka di atas meja, menampilkan sebuah gaun pernikahan berwarna silver, dengan balutan mutiara yang menghiasi seluruh permukaannya. Kanaya mengangkat lookbook itu, dan langsung menghempaskannya ke lantai kemudian diinjak-injak.
"Perkenalkan Mbak Kanaya, saya April." Wanita itu mengelus perutnya. Tatapannya penuh harap ke arah Kanaya. "Saya istri Marvin."
Bayangan dan suara itu terus muncul. Seolah menjadi pengingat Kanaya bahwa apa yang ia harapkan selama ini sia-sia. Untuk apa delapan tahun ini? Untuk apa ia menghabiskan waktu pada orang yang tidak ingin bersamanya? Untuk apa ia menemani laki-laki itu dari nol, hingga pada akhirnya ia hanya dibuang seperti sampah. Oh, bahkan sampah lebih berharga dari pada dirinya.
Bagaimana bisa lelaki itu menjalin hubungan dengan perempuan lain, saat di semua media sosial masih memajang foto bersamanya? Bagaimana bisa lelaki itu melakukan pedekate, saat statusnya adalah masih milik orang lain?
"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa?" ucap Kanaya dengan terisak.
"Marvin b******k!" Kanaya melempar benda apa saja yang ada di hadapannya sebagai bentuk pengalihan rasa kesalnya.
Gita muncul dari balik pintu karena mendengar suara teriakan Kanaya serta benda yang berjatuhan. Kepalanya hampir saja terkena gunting yang melayang ke arahnya. Untung saja gerakan refleksnya cepat.
"Astagfirullah! Mbak Kanaya kenapa?"
Gita berlari ke arah Kanaya, kemudian mendekap tubuh gadis yang sudah dianggap saudaranya itu. Ia tidak ingin Kanaya sampai menyakiti dirinya sendiri.
"Mbak, istigfar, Mbak. Ya Allah ...."
Kanaya terduduk di lantai. Ia masih menangis. Bukan karena harus melepaskan Marvin untuk wanita lain. Ia menangis karena dirinya sendiri yang bertahun-tahun ini terlihat bodoh mengemis agar laki-laki itu mau menikahinya. Pertanyaannya selama ini terjawab sudah. Benar kata Devina, laki-laki itu tidak pernah memilihnya sebagai istri.
"Gue salah apa, Git? Apa yang kurang dari diri gue? Selama ini gue berusaha jadi apa yang dia mau. Tapi kenapa dia lakuin ini ke gue?!"
Hati Kanaya terpaut pada seseorang yang ia yakini akan menjadi nakhoda terbaiknya. Hari demi hari dalam delapan tahun Kanaya menunggu dalam kesabaran. Menanti kedatangannya pulang hingga tak mengenal putus asa, meski ia sendiri sudah lelah. Rindu demi rindu ia rajut dengan sulaman doa, berharap agar Tuhan selalu menjaganya dan membawanya pulang dengan selamat. Delapan tahun menjaga hati untuk dia, seseorang yang ia yakini sebagai teman berlayarnya.
Namun tanpa disangka, nakhoda itu memilih kapal lain sebagai tempat berlayarnya dan pergi ke dermaga impian. Tinggallah Kanaya sendiri memandang bahtera yang ditinggalkan oleh sang nakhoda. Delapan tahun dalam kesia-siaan. Haruskah kapalnya karam, bahkan sebelum berlayar mengarungi lautan?
Gita bergeming, tidak bisa menjawab pertanyaan Kanaya. Melihat keadaan Kanaya yang hancur seperti ini, Gita paham apa yang telah terjadi sebenarnya.
•••
Satu minggu Kanaya hanya berdiam diri di kamar, tanpa keluar dari apartementnya. Bahkan untuk makan pun ia hanya memesan lewat ojek online. Handphone atau segala jenis alat yang bisa menghubunginya ia matikan. Seminggu ini ia benar-benar dalam kegamangan.
Sebenarnya hal itu ia lakukan untuk introspeksi diri. Seperti apa yang ia tanyakan pada Gita waktu itu. Apa yang salah pada dirinya? Apa yang kurang dari dirinya? Hingga membuat laki-laki itu pergi dan memilih wanita lain?
Kanaya bangkit dari posisinya menuju wastafel. Ia tidak bisa seperti ini terus, mau sampai kapan? Iya kalau semuanya karena kekurangannya, kalau bukan? Ia hanya menghabiskan waktunya untuk hal yang sia-sia.
Bayangan di cermin itu seperti bukan dirinya. Rambut panjangnya kusut seperti rambut singa. Lingkaran hitam di bawah matanya nampak jelas. Dan juga wajahnya yang semakin tirus karena beberapa hari kurang makan. Dengan langkah gontai, ia berjalan ke kamar mandi. Membersihkan tubuhnya, dan pergi ke suatu tempat untuk menenangkan dirinya.
Kanaya meraih handphonenya, ia mengaktifkan lagi benda yang sudah satu minggu ini tak ia sentuh. Jeda beberapa detik, setelah itu banyak notif masuk ke dalamnya. Termasuk dari Marvin.
Ia jengah dengan laki-laki itu. Kanaya harus mengakui aktingnya yang begitu sempurna, bahkan mampu mengalahkan Adipati Dolken atau Jefri Nichol, aktor muda kesayangannya. Kanaya langsung menghapus kontak Marvin dan memblok semua akun sosmednya. Bahkan feeds i********: miliknya ia hapus semua menyisakan satu foto siluet di pantai sambil menghadap ke kapal. Satu foto itu ia hapus juga, feeds instagramnya benar-benar kosong. Mungkin nanti ia akan mengisinya dengan seseorang, yang mau memulai hidup baru dengannya.
Devina:
Nay, angkat telpon gue, kek.
Gue khawatir.
Pliiis...
Jangan buat gue gila mikirin lo nay!
Pesan itu masuk kemarin, bukan melalui aplikasi w******p, melainkan pesan bawaan handphone. Sebelum ia benar-benar menghilang seminggu, ia sempat menceritakan semuanya pada Devina apa yang terjadi. Seperti dugaannya, sahabatnya itu tidak terima dengan perlakuan Marvin padanya.
Kanaya mendial nomor Devina. Tidak seperti waktu itu, kali ini Devina langsung mengangkat panggilannya.
"NAY ARE YOU OKAY?" sambar dari seberang sana.
"I'm fine, Dev." Kanaya menghela napas panjang. "Gue baik-baik aja," ulangnya lagi.
Keduanya sama-sama diam, hanya ada napas berat yang terdengar. Baik Kanaya maupun Devina, memilih untuk tidak bersuara.
"Gue mau pergi." Setelah sekian lama Kanaya bersuara.
"Kemana Nay? Lo jangan gila!"
"Apaan sih, Dev. Gue cuma mau nenangin pikiran gue doang. Sehari dua hari lha."
Terdengar napas lega dari seberang sana. "Gue kira lo nekad mau bunuh diri."
"Hidup gue terlalu berharga buat laki-laki seperti itu."
"You deserve better, Nay. Ntar lo foto ya tiket pesawatnya, biar gue tau lo mau kemana. Gila setres banget gue."
Kanaya terkekeh, ia saja belum tahu mau ke mana. "Iya Dev." Panggilan langsung terputus, ia harus siap-siap.
•••
Kanaya tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Hal pertama kali yang ia lakukan adalah check in tiket. Setelah mendapatkan boarding pass, ia mengecek kembali jadwal keberangkatannya, dan langsung menuju ke ruang tunggu keberangkatan.
"For the passanger traveling by Garuda Indonesia Airlines, the flight number ...."
Itu adalah pemberitahuan bahwa seluruh penumpang harus segera menaiki pesawat. Kanaya mendorong koper kecilnya, dan mengikuti perintah untuk menaiki pesawat.
"Selamat pagi," sapa seorang pramugari dengan ramah padanya.
"Pagi," balas Kanaya dengan senyum.
Hal yang paling ia sukai saat menaiki pesawat adalah memilih kursi di dekat jendela. Selain bisa melihat pemandangan awan selama perjalanan, ia paling tidak suka diganggu oleh penumpang lain saat tidur. Setelah meletakkan kopernya, ia pun langsung duduk di kursi.
Kanaya menatap ke arah jendela. Kepergiannya kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Jika sebelumnya ia pergi untuk masalah kerjaan, kali ini ia pergi untuk menenangkan dirinya. Tidak mudah bagi Kanaya menerima kenyataan yang tidak siap ia terima. Bahkan tidak pernah siap.
Semuanya bagaikan mimpi di siang bolong. Membawa Kanaya pada titik paling rendah dalam hidupnya. Begitu lah kalau terlalu berharap pada manusia, pasti tidak pernah terlepas dari rasa kecewa. Sebenarnya bukan lelaki itu yang salah, tapi harapannya terlalu besar hingga menyakiti dirinya sendiri.
Anouncement in progress
Kanaya mengalihkan pandangannya pada layar kecil di depannya yang tengah menunjukkan cuaca. Cuaca hari ini sangat cerah, hatinya lah yang tengah mendung. Di tambah saat ia mendengar ....
"Today's GA 404 flight pilots Captain Kenan Asyari and First Officer Tommy Himahwan Saputra."
Mengapa harus dia?
•••
"Waaah nggak nyangka bisa terbang lagi sama Captain Kenan," ujar Tommy saat keduanya belum memasuki pesawat.
Kenan terkekeh mendengar itu. "Apa kabar, Bro?"
"So good," jawab Tommy. Keduanya memang berteman, hanya saja jadwal penerbangan yang berbeda membuatnya kesulitan bertemu.
"Captain apa kabar nih?" Jeda tiga detik, "hatinya."
"Waaah nanya kabar saya apa nanya hati saya?"
"Dua-duanya." Terdengar tawa dari Tommy.
"Semuanya baik," jawab Kenan. Keduanya berjalan beriringan menuju pesawat dengan pramugari. Sedari tadi, Kenan menjadi buah bibir diantara beberapa perempuan cantik itu.
"Setelah lamaran itu, baik, Capt?"
Kenan tersentak namun detik berikutnya ia bisa mengusai diri. Awalnya ia bertanya-tanya, dari mana Tommy tahu, namun setelah diingat kembali, pantas saja. Tommy adalah suami dari sahabatnya Kanaya.
"Baik dong. No woman no cry."
Kali ini Tommy juga terkekeh sekaligus miris. Nasib Captain ganteng ini sungguh sial. Tidak pernah terdengar dekat dengan wanita, sekalinya ingin melamar malah ditolak. Dan yang lebih buat sakit hati, adalah mendapat tamparan dari wanita itu.
Sebenarnya tidak sulit kalau Captain itu ingin mencari wanita mana pun. Siapa yang tidak ingin dengannya? Selain profesinya sebagai pilot yang sudah punya jam terbang yang banyak, pria 30 tahun itu memiliki kharisma yang dapat membuat seluruh mata yang memandang tidak lepas menatapnya. Bahkan ia sering mendengar nama Kenan menjadi buah bibir para pramugari atau petugas bandara yang lain.
Tommy ingat pembicaraannya waktu itu dengan Kenan. Topik yang mereka bicarakan adalah pernikahan. Saat itu Tommy sedang memanas-manasi Kenan agar segera menikah.
"Nikah itu enak tau, Capt. Pulang-pulang habis terbang ada yang urus. Belum lagi terbang dua kali sama istri," ujarnya sambil terkekeh. "Target menikah kapan emangnya?" tanya Tommy mewakili pertanyaan dari teman-temannya yang lain tentang Kenan.
Kenan langsung menjawab. "Menurut saya pernikahan itu bukan suatu hal yang mesti di target. Beda halnya dengan kuliah, misal. Kalau kuliah, harus ada target empat tahun, atau paling maksimal tujuh tahun lha. Kalau lewat dari itu kan di DO. Nah kalau pernikahan, misalnya ada target 30 tahun harus nikah, terus lewat dari target. Kan nggak mungkin di DO dari kehidupan."
"Iya juga sih, emangnya kriteria idaman Captain yang seperti apa?"
"Tentunya seseorang yang bisa membuat saya lebih pintar. Saya bisa mendapatkan added value dari dia. Bukan hanya sekedar cantik dan menawan, tapi juga bisa menjadi sparring partner untuk mengarungi hidup bersama. Saling mengisi, tough, tegar dan mandiri. I like independent woman." Cerita Kenan waktu itu.
Keduanya telah masuk ke dalam cockpit. Seorang pramugari muncul untuk memberikan informasi.
"Ada 189 penumpang. Dua bayi dan sisanya orang dewasa."
"Salah satunya ada Kanaya, Capt," lanjut Tommy saat pramugari itu sudah pergi.
Kenan bergeming sejenak saat mendengar nama Kanaya. "Berdoa dulu supaya penerbangan ini lancar," titah Kenan untuk mengalihkan pembicaraan.
"Sekalian berdoa juga Capt, supaya berjodoh dengan Kanaya." Jeda tiga detik, "dia udah putus sama pacarnya."
****
Author Note:
Setelah baca ini jangan memandang profesi pelaut jelek ya. Ini cuma karangan aku aja. Nggak semua pelaut yang sering dibilang orang-orang. Banyak juga pelaut yang lurus.
Siapa yang tebakannya bener? Wkwkwk
Happy reading