Chapter 6

1091 Words
My Popeye: Aku udah di depan Saat pesan itu masuk, Kanaya sedang memoles bibirnya dengan lipstick berwarna merah. Sengaja ia memilih riasan bold pada bibir dan riasan mata yang natural karena ingin menunjukkan bibirnya yang sering dibilang seksi oleh kebanyakan orang. Kanaya juga sudah siap dengan kebaya modern berwarna abu-abu, dilengkapi dengan kain lilit songket dengan warna senada, yang membuat kecantikannya nampak paripurna. Rambut panjangnya sudah digelung rapi, yang menambah kesan anggun pada penampilannya hari ini. Ya, ia ingin menemani Marvin untuk pergi ke acara pernikahan temannya saat sekolah pelayaran dulu. Bel pintu apartementnya berbunyi, ia yakin seseorang di balik pintu itu adalah Marvin. Sebelum ia memakai heels, ia membukakan pintu untuk kekasihnya terlebih dahulu. "Udah siap?" tanya Marvin yang berdiri tegak di depan pintu. Kanaya menyuruhnya untuk masuk, dan menunggunya bersiap-siap. "Bentar lagi, Beb." Kanaya masuk ke kamarnya, menyambar cluth hitam yang berada di lemari. Kemudian memakai stiletto berwarna senada dengan kebayanya hari ini. "Aku siap, Beb," tukas Kanaya dengan senyum merekah ke arah Marvin. Lelaki itu bangkit dari duduknya kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Kanaya. Wajahnya sedikit maju seraya berbisik di telinga sang kekasih, "selalu cantik." Kanaya mengulum senyum malu-malunya. Sudah lama rasanya ia tidak mendengar kata itu dari bibir Marvin. Kalau perlu rasanya ia ingin merekamnya agar bisa diputar ulang saat lelaki itu kembali berlayar. "Ayo berangkat," ajak Kanaya. Sepanjang perjalanan dari apartement hingga menuju parkiran senyum manis terus terukir di wajahnya yang cantik. Delapan bulan tidak bertemu rasanya terbayar lunas dengan pertemuan mereka. "Kita kondangan mulu sih, Beb? Ngondangnya kapan?" Marvin tertekeh mendengar pertanyaan itu. Ia yang sudah berada di belakang kemudi, mengalihkan pandang pada Kanaya. "Nanti, kalau sudah waktunya." Jawaban yang sama. Kanaya mendengus kesal. Tubuhnya bersandar pada kursi, ia lelah dengan semua ini. Khususnya dengan hubungan yang tidak ada kejelasan. "Kamu serius nggak sih sama aku?" Pertanyaan itu hanya sampai di benaknya saja, untuk mengucapkannya Kanaya ragu. Ia tidak ingin merusak suasana hari ini. Ekor mata Kanaya melirik laki-laki yang sedang fokus menyetir itu. Bibirnya bergerak mengikuti alunan musik yang berasal dari radio di dalam mobil. Penampilannya tidak banyak berubah sejak delapan tahun yang lalu, hanya saja nampak lebih dewasa serta kulit yang lebih gelap. Pikiran Kanaya melalang buana ke saat-saat pertemuan awal mereka. Kanaya yang masih sekolah fashion waktu itu memiliki teman, dan dia yang mengenalkan Kanaya pada Marvin, teman pacarnya. Awalnya Kanaya tidak terlalu menanggapi. Setiap Marvin menelpon atau mengirim pesan, ia hanya bicara seperlunya saja. Tapi lama kelamaan usaha Marvin semakin gencar, dan hati Kanaya pun luluh dibuatnya. Genap enam bulan mereka kenal, akhirnya memutuskan untuk pacaran. Itu terjadi sebelum Marvin sekolah pelayaran. Bisa dibilang ia menemani laki-laki itu dari nol. Dari yang dulunya taruna, prala, wisuda dan akhirnya bekerja. Meski berat, Kanaya harus mendukung keputusan lelaki itu untuk mengejar mimpinya. Hubungan mereka pun tidak selalu berjalan mulus. Di awal-awal pacaran, Kanaya belum mengerti keadaan Marvin seperti apa. Terlebih Marvin berada di asrama yang tidak boleh membawa handphone. Alhasil, keduanya baru bisa bertemu satu bulan sekali. Kanaya pikir hubungan jarak jauhnya berakhir saat Marvin wisuda. Namun itu hanya bayangannya saja. Ketika Marvin bekerja malah semakin parah. Mereka hanya bisa bertemu setiap enam bulan, delapan bulan, atau bahkan sepanjang tahun kekasihnya tidak pulang. Untuk berkomunikasi pun sulit karena terhambat sinyal. Terkadang Marvin bisa menelponnya dua minggu sekali, atau jika ada wifi, saling bersapa rindu lewat email.  Untuk itu, saat pacarnya kembali ke daratan sebisa mungkin setiap harinya Kanaya ingin membuat quality time. Tanpa terasa keduanya telah sampai di salah satu hotel di daerah Jakarta. Resepsi pernikahan diadakan di Grand Ballroom hotel itu. Marvin memilih jasa valet untuk memarkirkan mobilnya. "Kamu yakin di sini tempatnya?" tanya Kanaya. "Huum." Keduanya masuk dan langsung disambut oleh dekorasi yang sangat menawan dengan warna ungu yang mendominasi. Mulai dari kursi, meja, serta pelaminan yang megah juga berwarna ungu. Kanaya memicingkan mata, menatap lamat-lamat wanita yang berdiri di pelaminan. Perempuan yang memakai gaun berwarna ungu dengan butiran-butiran swarovski yang menghiasi gaun itu adalah Clara, kliennya. Dan gaun itu adalah buatan Kanaya. "Mbak Naya!" Clara memanggilnya dari pelaminan seraya melambaikan tangan. "Kamu kenal sama pengantin wanitanya?" tanya Marvin. "Dia klien aku. Yang laki-lakinya temen kamu?" Marvin mengangguk sebagai jawaban. Keduanya langsung berjalan menuju pelaminan. Melihat Kanaya yang tengah menggandeng Marvin, Clara tersenyum menggoda. "Oh jadi ini Popeyenya Mbak Naya." Kanaya balas tersenyum juga. "Iya," "Selamat ya, Bro." Kali ini Marvin yang berkata pada Andra, temannya. "Thanks ya, semoga cepet nyusul kalian," ucap Andra. Dalam hati Kanaya mengamini ucapan itu. "Mbak kok baru ke sini, sih? Yah nggak ngeliat pedang poranya," ucap Clara lagi. "Dia baru jemput jam segini. Ya gimana dong?" kekeh Kanaya seraya melirik Marvin. "Nggak papa deh, nanti Mbak juga ngerasain." "Doain aja, ya." "Iya Mbak." ••• Pernikahan Clara kemarin membuat Kanaya iri sekaligus senang dan lega. Iri karena ia belum mendapat kepastian, senang karena Clara bercerita pacarnya sangat setia padanya. Mematahkan pendapat orang lain mengenai pelaut selama ini, dan sukses membuat hati Kanaya lega. Ada memang yang sering diceritakan kebanyakan orang, namun ada juga yang tidak. Semuanya tergantung pribadi masing-masing. Keduanya sempat sharing sebentar suka dukanya menjadi pasangan seorang pelaut. Dan yang dirasakan keduanya hampir sama. Kanaya melihat-lihat lagi lookbook desain gaun pengantin yang nanti akan ia perlihatkan pada Marvin. Sudah dua minggu sejak kepulangan laki-laki itu, namun Kanaya tidak punya kesempatan untuk berbicara serius dengannya. Sewaktu Marvin ke apartementnya pertama kali, Marvin langsung pamit pulang setelah menghabiskan makan karena ada urusan mendadak. Sampai saat ini rencana itu masih belum terlaksana. Kalau bukan Kanaya yang sibuk, Marvin yang tidak bisa ditemui. "Mbak Nay, ada yang mencari Mbak." Gita muncul dari balik pintu ruangan Kanaya. "Siapa, Git?" "Mas GGS." Kanaya terkesiap seketika. Mau apa laki-laki itu datang? "Bilang gue nggak ada, Git." Gita salah tingkah. "Tapi Mbak, kan nggak boleh bohong." "Lo nggak bohong, Git. Sebentar lagi gue mau pergi. Males ketemu orang itu." "Mas ganteng, kata Mbak Naya Mbak Nayanya nggak ada." Kanaya menepuk keningnya sendiri. Asistennya itu terlalu polos, atau bodoh sih? Mengapa bilang seperti itu pada Kenan? "Oh yasudah Mbak. Saya permisi dulu." Suara Kenan terdengar. Laki-laki itu pasti tahu bahwa ia sedang berbohong. Mengapa ia malah pasrah seperti itu? Sebenarnya Kanaya merasa cemas dengan keadaan Eyang. Sejak hari dimana Kenan melamarnya, ia sama sekali tidak pernah ke rumah Eyang lagi. Bukan tidak ingin menjenguknya, hanya saja Kanaya terlalu malas kalau harus bertemu dengan Kenan. "Mbak Nay, ada yang mau ketemu lagi." Kanaya mendengus. "Kalau si Kenan lagi yang dateng, usir aja!" "Bukan, Mbak. Bumil cantik yang dateng." "Mau ngapain?" tanya Kanaya heran. "Mungkin mau pesen baju buat foto maternity?" tebak Gita. Kening Kanaya mengerut. Selama ini ia tidak pernah ikut terlibat project maternity photo. Namun Kanaya menyuruh Gita untuk mempersilakan wanita itu masuk. "Mbak Kanaya, ya?" tanya wanita itu setelah ada di ruangan Kanaya. "Iya." Kanaya memerhatikan wanita yang tengah hamil tua itu. Penampilannya cukup modis, tidak kalah dengan para artis yang sering datang ke butiknya. "Boleh saya bicara dengan Mbak?" "Ya." Wanita hamil itu menjelaskan maksud kedatangannya. Kanaya terus memperhatikan wanita itu, bahkan untuk berkedip pun rasanya tidak sanggup. Apa yang dikatakan oleh wanita itu semuanya tidak bisa diterima oleh logika Kanaya. "Nggak mungkin!" *****  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD