Chapter 5

1593 Words
Plak! Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Kenan. "Kamu pikir saya cewek apaan, hah?! Nggak ada angin, nggak ada hujan ngajak nikah. Dasar laki-laki sinting!" Kanaya beringsut dari duduknya, hingga menimbulkan suara gaduh dari lantai dan kursi yang berdecit. Ia langsung mengambil tas dan meninggalkan Kenan yang masih terpaku dengan telinga yang berdenging serta pipi yang panas. "Dasar sinting!" Sampai di depan kasir pun Kanaya masih mengumpat atas sikap Kenan. Bahkan ia sudah tidak peduli saat beberapa pasang mata melihat ke arahnya, kemudian berpindah ke Kenan. Mereka mengira keduanya sepasang kekasih yang sedang bertengkar. "Mbak Nay tadi ada laki-laki yang datang cari Mbak," ucap Gita saat Kanaya sudah berada di butiknya. "Udah ketemu belum, Mbak?" "Gue dosa apa sih, Git. Bisa-bisanya ketemu laki-laki sinting macam dia!" "Hah?" Gita masih tidak paham arah pembicaraan Kanaya. "Dia itu GGS ya, Mbak? Ganteng-Ganteng Sinting." "Gue mau balik dulu, lo handle semuanya," tukas Kanaya. Dan selanjutnya langsung pergi ke apartementnya. Kepalanya terasa berdenyut nyeri,seperti ada puluhan ton besi yang menimpa. Ia masih tidak habis pikir dengan sikap Kenan. Baru saja semalam keduanya baikan. Sekarang sudah cari masalah lagi. Memang ia ingin menikah. Usianya saat ini sudah 26 tahun. Bahkan sahabatnya di Bandung rata-rata sudah memiliki anak. Namun orang yang ia inginkan bersanding dengannya bukanlah Kenan, yang baru saja dikenalnya. Kanaya sudah punya satu nama yang pantas untuk menjadi nakhoda impiannya. Ia yakin, nakhoda itu akan membawa bahtera cintanya ke pelabuhan impian. Tinggal menunggu harinya saja, mereka berdua akan berlayar di atas bahtera mengarungi samudera kehidupan yang luas. Satu nama terbesit dalam otaknya. Ia butuh seseorang yang bisa mendengarkan keluh kesahnya saat ini juga. Untung saja jalanan ibukota sedang bersahabat padanya, kalau tidak, mungkin kepalanya bisa pecah memikirkan kenyataan ini. Setelah membayar taksi, ia memasuki apartementnya. Kanaya langsung mendial nomor Devina. Cukup lama sahabatnya itu tidak mengangkat panggilannya. Sambungan ke tiga barulah terdengar suara dari seberang sana. "Ada apa, Say?" "Ke mana aja, Dev? Kok baru diangkat?" "Sorry, suami gue lagi nggak terbang." Kanaya menghela napas panjang, untuk menyiapkan hatinya berbicara dengan Devina. "Gue mau curhat. Ganggu lo, nggak?" "Nggak kok. Curhat aja." "Tes pilot pake IQ nggak sih? Kenapa ada pilot sinting kayak dia?" cecar Kanaya langsung. Dadanya sudah panas kala mengingat lagi kelakuan Kenan di cafe tadi. "Tunggu dulu, nih. Lo lagi ngomongin siapa sih? Kok nggak nyantai gitu?" "Kenan lah, siapa lagi." "Kenapa sama Captain Ken? Semalem lo WA katanya udah baikan." "Dia ngelamar gue," lirih Kanaya. "WHAT? YANG BENER LO? CAPTAIN KEN NGELAMAR LO?" Kanaya menjauhkan handphonenya dari telinga. Ia tidak mau gendang telinganya pecah karena ulah sahabatnya ini. "Iya," ucap Kanaya frustasi. "Terus lo jawab apa?" "Nggak gue jawab. Gue gampar dia. Biar dia bisa bangun dari kenyataan." "Parah lo, mah. Orang ganteng gitu digampar." "Ya habisnya gue kesel, Dev!" Terdengar suara tawa dari seberang sana. Sahabat macam apa Devina itu, sahabatnya sendiri susah malah ditertawakan. "Kenapa Beb?" Itu suara laki-laki yang terdengar. Kanaya yakin, pemiliknya adalah suami Devina. "Captain Ken ngelamar si Naya." Kalau itu suara Devina yang menjelaskan pada suaminya. "Terus diterima?" tanya suami Devina lagi. "Di gampar, Beb." Suami Devina pun tertawa. "Kenapa? Captain Ken itu royal lho. Baik banget orangnya. Banyak pramugari yang ngejar dia, tapi ditolak." "Tau tuh Beb, si Naya itu oon emang." "Devina!" sentak Kanaya. Bisa-bisanya dia menghina di depan telinga orangnya langsung. Sahabat memang gitu. Devina tertawa renyah. "Kalau gue jadi lo nih, gue terima aja. Gaji pilot kan gede, dua kali lipet gaji suami gue." "Ini bukan soal gaji, Devina. Masalahnya kita baru aja kenal. Udah gitu gue kan punya pacar." "Nah baru gue mau ngomong. Lo pacaran delapan tahun sama Marvin belum ada omongan serius. Di bawa ke Bandung aja buat ketemu bokap lo belum siap mulu. Kita tuh sebagai cewek kan maunya diseriusin, minimal dikasih kepastian lah hubungan ini mau di bawa ke mana." Kanaya bergeming, ia merubah posisinya dari duduk di ranjang menjadi telentang. Menatap langit-langit kamar sambil memikirkan orang yang tengah berada di laut lepas sana. Tiba-tiba ia teringat dengan salah satu kliennya yang juga punya pacar pelaut, Clara. Dia jauh lebih muda darinya, tapi hubungan mereka sudah serius. Tidak seperti dirinya. "Dia kan lagi ngumpulin duit buat nikahin gue, Dev." Devina menarik napas dalam di seberang sana. "Kan gaji pelaut gede, Nay. Apalagi lo juga kerja. Desaigner terkenal lagi. Buat masalah modal nikah sih kalian itu nggak begitu kesulitan. Maksud gue tuh, ini bukan soal modal nikah, tapi dia milih lo nggak buat jadi istrinya?" Deg! Pertanyaan Devina berhasil menghujam jantungnya. Sesuatu di dalam sana terusik memutar-mutar membuat lingkaran yang makin lama makin besar, tinggal tunggu waktunya saja kapan akan meledak. "Sorry to say, bukan gue banding-bandingin Marvin sama laki gue. Setiap laki-laki punya prinsip sendiri tentang hubungan. Tapi gue sama laki gue dulu pas ngerasa klik, dia langsung kasih komitmen ke gue kalo hubungan kita bukan buat main-main. Tapi buat serius dan menuju ke pernikahan." Kanaya bergeming berusaha mencerna perkataan Devina. Namun otaknya saat ini tidak bisa berpikir jernih. "Nay sorry kalo omongan gue nyakitin lo. Gue cuma nggak mau lo menyesal. Sebagai sahabat, gue pasti mau lo dapet yang terbaik." "Iya, Dev. Makasih lo udah dengerin curhatan gue. Udah dulu ya, takut lo mau dibawa terbang." Devina terkekeh, "apaan sih. Udah kali sebelum lo telpon. Dia bawa gue ke langit ke tujuh." Keduanya sama-sama tertawa. Panggilan pun sudah terputus. Menyisakan Kanaya yang masih bimbang dengan hubungannya bersama Popeye. Ucapan Devina memang sedikit menyentil hatinya, namun ada benarnya juga. Kanaya jadi pusing. Seketika sesuatu yang mengusik perasaannya sejak tadi, kini meledak. Kanaya menangis terisak karena tidak tahu harus bagaimana. Tangisan Kanaya tidak terbendung lagi, ia butuh Popeyenya sekarang juga. Ia butuh Marvin untuk menenangkan hatinya. Terlebih untuk menyakinkan kalau hubungan keduanya serius, tidak seperti yang diucapkan oleh Devina. "Popeye pulang, kek. Gue kangen." Bel pintu apartementnya berbunyi. Kanaya langsung bangkit dengan sebelumnya menyeka habis air matanya. Ia berjalan sebentar ke arah wastafel, membenarkan penampilannya yang sedikit kusut dengan mata yang sembab. Dirasa sudah cukup rapi, ia berjalan ke arah pintu sambil mengomel siapa yang datang di waktu yang tidak tepat ini. Pintu terbuka. Seketika mata Kanaya terbelalak tak percaya. Kedatangan orang yang berdiri di hadapannya bagaikan menemukan oase di tengah padang pasir. Membuat Kanaya mereguk nikmat dengan sejuknya pertemuan, kala berbulan-bulan dahaga akan kerinduan itu muncul. Kedatangannya bagaikan hujan di tengah kemarau panjang. Hari demi hari Kanaya merajut rasa rindunya dengan sulaman pengharapan kala hari ini tiba. Kemarau panjang di hatinya lenyap tersapu air yang turun dari langit harapan yang membuatnya hampir frustasi menanggung semuanya sendiri. Tanpa terasa setetes bulir jatuh mengalir di pipi dan berhenti di sudut bibirnya. "Aku kangen." Kanaya langsung menghambur ke pelukan orang itu. Ia semakin terisak bahkan menangis sesenggukkan di d**a bidang milik orang yang begitu dirindukan. "Me too," balasnya seraya melepas pelukan Kanaya. Namun gadis itu menolak, ia bersikukuh mempertahankan kedua lengannya melingkar di pinggang sang kekasih. Marvin mendorong Kanaya masuk ke apartementnya. Menutup pintu dengan satu kakinya, kemudian menjatuhkan tubuhnya di sofa. Otomatis, tubuh Kanaya pun ikut ambruk bersama tubuh Marvin. Kanaya buru-buru bangkit, karena posisi keduanya yang terlalu intim. Ia duduk di samping Marvin dengan lengan yang masih memeluk tubuh Popeyenya itu. "Nay, kamu kenapa sih? Nggak biasanya kayak gini?" "Aku kangen," ucap Kanaya dengan manja. Sisi mandiri yang melekat padanya terhempas, saat bersama dengan Marvin. Kanaya berubah seperti kucing bersama dengan sang majikan. Marvin terkekeh mendengar itu. "Aku tau. Aku pun sama kangennya kayak kamu." Tangannya menari di poni Kanaya, kemudian turun untuk mengusap air mata gadisnya itu. "Nay," panggil Marvin. Kanaya menoleh ke arah Marvin. Dagu Kanaya diangkat oleh Marvin sehingga wajah keduanya menjadi dekat. Bahkan Kanaya bisa merasakan hembusan hangat di pipinya yang tersapu napas Marvin. "Kamu laper nggak?" tanya Kanaya seraya menjauhkan diri. Setan di dalam dirinya bersorak kegirangan saat hampir saja bibir keduanya bertemu. Benteng pertahanan Kanaya cukup kuat, ia tidak ingin nantinya berlanjut pada sentuhan-sentuhan yang lebih jauh. "Laper. Kamu masak, nggak?" "Nggak sih. Aku mana tau kamu mau dateng. Coba bentar, aku liat di kulkas ada apa." Kanaya bangkit dan menuju ke dapurnya. Satu fakta tentang Kanaya ia bisa masak. Di tengah kesibukan pekerjaannya ia menyempatkan diri untuk belajar masak. Agar dirinya pantas bersanding dengan Marvin. "Ada ayam ungkep nih, Beb. Aku goreng dulu, ya." Kanaya menutup pintu kulkasnya. Kemudian langsung menyiapkan peralatan untuk menggoreng. Sesekali ekor matanya melirik laki-laki yang tengah duduk di sofa itu. Dia menggunakan kaos berwarna abu dan celana jeans. Sayang sekali, ia tidak melihat Marvin pulang dengan seragam pelayarannya, padahal itu adalah saat yang paling menyenangkan. "Kamu udah pulang dari kapan, Beb?" tanya Kanaya. Biasanya kalau apartementnya menjadi tujuan awal Marvin pulang, lelaki itu masih memakai baju kebesarannya. Kalau sekarang, pasti sudah pulang ke rumah terlebih dahulu. "Dua hari yang lalu." "Kok nggak langsung temuin aku, sih?" "Ada urusan, Beb. Nggak sempet main ke sini." "Sesibuk-sibuknya kamu harusnya ngehubungi aku. Apa aku bukan lagi prioritas kamu?" Kanaya merengut. Ia kesal dengan Marvin. Tiba-tiba ucapan Gita terdengar kembali, namun ia segera menepisnya. Toh, Gita bicara itu seminggu yang lalu. "Udah nggak usah ngambek, lah. Temen aku di kapal yang dari luar negeri main ke sini. Jadinya aku nganter dia kemana-mana. Jadi tour guide gitu lho," jelas Marvin. "Terus sekarang dia di mana?" "Udah pulang." Kening Kanaya mengerut. Ia mencari kebohongan di mata Marvin. Namun sayang, ia tidak tahu apakah laki-laki itu sedang jujur atau malah berbohong. Akhirnya ia mengalah. Dan kembali melanjutkan niat awalnya memberi pacarnya itu makan. Ia paling tidak bisa melihat seseorang kelaparan. "Ada peningkatan juga rasa masakan kamu," puji Marvin disaat suapan pertama. Hidung Kanaya langsung kembang kempis dipuji seperti itu oleh kekasihnya. "Iya lah, Kanaya gitu lho." Marvin mencubit hidung Kanaya dan langsung mendapat pekikan keras dari Kanaya. "Beb jorok. Itu tangan kamu habis nyuil ayam! Ih ada minyaknya!" Si pelaku hanya bisa terkekeh melihat Kanaya yang mencak-mencak. "Di laut nggak ada nih yang bawel gini." "Kalau yang cantik kayak aku ada nggak?" "Ada." "Siapa?" Mata Kanaya membesar sempurna. "Putri duyung." "Dugong!" Keduanya tertawa bersama. Kanaya menatap lekat laki-laki yang sudah sewindu menemaninya ini. Ia memerhatikan Marvin yang makan begitu lahapnya. Salah satu hal yang ia rindukan. Setelah ini, ia akan membicarakan perihal hubungan mereka ke depan akan seperti apa. Semoga saja akan ada titik terang bagi keduanya. ***** Hayooo jadi milih pilot apa pelaut nih? Happy reading...   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD