"Mau apa kamu ke sini?" tanya Kanaya dengan nada yang tidak bersahabat. Netranya menatap nyalang pada laki-laki yang sudah berdiri di hadapannya sambil tersenyum. Kalau saja pertemuan pertama mereka memberikan kesan baik, mungkin saat ini Kanaya sudah meleleh melihat senyuman semanis madu itu.
"Saya mau kasih ini," ujar Kenan seraya menyodorkan goodie bag bercorak batik ke arah Kanaya. Namun perempuan itu tetap bergeming. "Saya minta maaf atas perkataan saya yang mungkin menyakiti hati kamu. Saya mohon terima ini."
"Nggak usah! Saya bisa beli sendiri!"
Setelah mengatakan itu lengan kiri Kanaya disenggol oleh Devina. Kanaya menaikkan sebelah alisnya sebagai isyarat, Devina langsung berbisik, "yang sopan sama cowok ganteng."
"Gue bilangin suami lo, ya. Kalau lo genit."
Devina langsung mencebik, "suami gue lagi terbang," bisik Devina dengan nada yang ditekan. Suaminya itu co-pilot di maskapai yang sama dengan Kenan. Kenan dan suami Devina berteman baik saat keduanya sering menjadi partner terbang.
"Terima aja itu hadiah dari doi," lanjut Devina dengan masih berbisik. Sesekali netranya menatap ke arah Kenan yang sedang berharap kalau sahabatnya ini menerima hadiah darinya.
"Makasih, tapi saya bisa beli sendiri. Saya bukan parasit dalam hidup Eyang anda."
Kenan memencet hidungnya yang tidak gatal. "Saya sudah minta maaf soal itu."
"Kamu pikir dengan minta maaf semuanya beres?! Nggak ada yang namanya penjara kalau orang yang ngelakuin kesalahan semuanya bilang maaf," tukas Kanaya dengan nada naik satu oktaf. Devina yang mendengar itu sedikit malu atas kelakuan sahabatnya.
"Ya sudah kalau kamu tidak memaafkan saya. Tapi ini dari Eyang, saya mohon diterima. Eyang lagi sakit, saya harap kamu tidak menambah beban pikirannya."
Kenan meraih tangan Kanaya agar perempuan itu menerima goodie bag darinya. Perlakuan itu membuat Kanaya terkejut, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena Kenan segera pergi.
"Ya Allah, Nay. Lo kenapa sih sama dia? Kok bisa-bisanya kayak gitu?" geram Devina. "Coba gue liat apa ini isinya." Devina meraih goodie bag di tangan Kanaya dan membukanya. "iPhone X? Kok captain Ken bisa ngasih lo ini?"
Kanaya menaikkan bahunya tanpa berniat menjawab pertanyaan Devina. Namun sahabatnya itu terus-menerus memaksa, dan mau tidak mau akhirnya ia jawab juga. "Dua hari yang lalu Eyangnya nggak sengaja jatuhin iPhone gue. Ya udah itu gantinya."
"Terus kenapa lo nggak mau?" tanya Devina heran.
"Dia ngatain gue macem-macem. Gue nggak suka."
"Ya ampun Nay, maklumin aja dia begitu sama cewek. Udah lama jomblo, jadi dia lupa cara perlakuin cewek dengan baik gimana."
"Pantes sih jomblo, kelakuannya aja kayak gitu! Mana ada cewek yang mau sama dia!"
"Sstt nggak boleh gitu lho, Nay. Siapa tau nanti lo yang kepincut sama dia," goda Devina.
"Amit-amit cabang orok! Gue udah punya calon suami. Popeye gue di sana lagi berjuang buat halalin Olivenya."
Kanaya melihat goodie bag yang diberikan Kenan. Ia harus memulangkannya lagi pada Eyang. Ya harus.
•••
"Mbak Nay, Daisy tipe 001 sudah sould out," lapor Gita pada Kanaya.
"Oh ya? Ya sudah bilang ke penjahit re-stok lagi."
"Siap, Mbak." Gita langsung keluar dari ruangan Kanaya, namun saat ia mengingat sesuatu ia masuk lagi dengan kepala menyembul dari balik pintu. "Mbak Nay kemarin habis jalan ya sama Popeyenya?"
"Popeye gue masih di laut, Git. Kenapa emangnya?"
"Oh, nggak papa Mbak. Kemarin Gita ke Taman Anggrek sama temen, terus ngeliat Popeyenya Mbak. Gita kira perempuan itu Mbak."
Kening Kanaya mengerut, namun ia segera menepis pikiran jelek tentang kekasihnya. Kalau dia sudah pulang, pasti langsung menghubungi Kanaya.
"Astaga!" Kanaya baru ingat sesuatu. Hampir satu minggu ini ia tidak memegang ponsel. Ia berhubungan dengan kliennya menggunakan surel.
"Oh yasudah deh, Mbak. Gita permisi dulu."
"Iya, Git."
"Mbak Nay jangan lupa makan," ingat Gita. Kanaya itu kalau sudah kerja suka lupa makan. Harus selalu diingatkan tentang kebutuhan satu itu.
"Iya, Git. Thanks ya."
Kanaya melihat jam tangannya, sudah waktunya makan siang. Pantas saja asistennya itu mengingatkan untuk makan.
Akhirnya Naya bangkit dari kursinya, menyambar goodie bag bercorak batik. Setelah makan siang nanti, ia akan pergi menemui seseorang.
•••
Kanaya sudah tiba di sebuah rumah mewah di daerah Pantai Indah Kapuk. Rumah ini bercorak putih gading dengan lantai dua dan dihiasi oleh tiang-tiang penyangga yang tinggi sehingga nampak megah. Di bagian depan terdapat taman kecil yang menambah kesan asri. Baru di luar saja Kanaya sudah merasa nyaman berada di tempat ini.
"Nyonya besar sedang berada di kamarnya," terang Bi Kempri pada Kanaya saat ia menanyakan keberadaan Eyang.
Ya, Kanaya memang ingin menemui Eyang untuk mengembalikan handphone yang diberikan Kenan kepadanya. Kanaya paling tidak suka harus berutang budi pada orang lain. Untuk itu, ia meminta alamat Kenan pada Devina, beruntung sahabatnya itu tahu.
Seluruh dinding di cat warna putih gading, sehingga rumah ini terlihat sangat luas. Di beberapa sudut, terdapat guci-guci antik sebagai hiasan. Furniture yang dipakai berdesaign modern dengan rata-rata berwarna hitam. Di atas nakas samping televisi ada miniatur pesawat dengan nama maskapai terkenal Indonesia. Sepertinya itu adalah maskapai tempat Kenan bekerja, karena sama dengan suaminya Devina.
"Bi, Kenan ke mana?" tanya Kanaya lagi. Bukannya dia mengharap ada lelaki itu, justru ia sangat berharap lelaki menyebalkan dengan jambul itu tidak ada di sini.
"Tuan lagi terbang," jawab Bi Kempri. "Non pacarnya Tuan ya?" Pertanyaan Bi Kempri sukses membuat Kanaya terperangah.
"Ih nggak, Bi. Enggak! Amit-amit saya jadi pacarnya dia!"
Bi Kempri terkekeh karena reaksi Kanaya. "Baru kali ini lho Non, ada perempuan yang nolak Tuan. Biasanya Tuan yang selalu dikejar-kejar."
"Yang ngejar-ngejar dia tuh matanya suwer, Bi."
Bi Kempri tertawa. Selanjutnya ia pergi ke lantai dua untuk memanggil Eyang.
"Non Naya disuruh ke kamar aja sama Nyonya besar," ucap Bi Kempri setelah tiba di lantai satu. Ada sedikit perasaan tidak enak, namun setelah diyakini beberapa kali oleh Bi Kempri, akhirnya Kanaya menurut.
Setelah mengetuk pintu kamar Eyang dan mendapat sahutan dari dalam sana, Kanaya membuka pintu. Ia melihat Eyang tengah bersandar di kepala ranjang dengan kondisi yang nampak lemas. Wajah Eyang juga pucat, tidak seperti pertemuan pertama kali mereka.
"Eyang sakit?" tanya Kanaya dengan nada khawatir. Ia berjalan mendekat ke arah ranjang.
"Biasalah, Nak. Maklum sudah tua," ucap Eyang seraya menepuk sisi ranjang yang kosong. Memberi isyarat agar Naya duduk di sana.
Ia pikir Kenan berbohong saat berkata Eyang sedang sakit, dan ternyata benar. Kanaya pun menjatuhkan tubuhnya di tempat yang Eyang mau.
"Naya nggak tau Eyang sakit, maaf Eyang."
Eyang tersenyum dan berusaha melawan rasa sakitnya. Namun melihat hal itu malah membuat Kanaya ingin menangis. Ia jadi teringat almarhumah ibunya.
"Nggak papa, Nak. Ada perlu apa kamu ke sini?" tanya Eyang dengan suara yang lemah.
"Naya mau mengembalikan ini, Yang," jawab Kanaya seraya menunjukkan goodie bag yang ada di tangannya. "Kenan datang ke acara JFW Naya dan memberikan ini, tapi Naya nggak bisa terima. Maaf Eyang."
"Ya ampun, Nak. Eyang sedih kalau kamu nggak terima itu. Kenan memang Eyang suruh memberikan handphone pada kamu."
"Naya sudah ikhlas, Yang. Naya tidak mau berutang budi."
"Kamu tidak perlu menganggap utang budi, Nak. Anggap saja itu pemberian dari Eyang pada cucunya. Eyang mohon kamu terima ya, Nak."
Mau tidak mau, Kanaya pun mengangguk. Untuk kali ini ia harus menurut perkataan Kenan, demi Eyang.
Kanaya jadi bertanya-tanya, apa Kenan bukan cucu kandung Eyang? Mengingat Eyang yang baiknya seperti angel tetapi cucunya berhati devil.
•••
Beberapa hari ini semenjak kejadian itu, Kanaya selalu menyempatkan waktu untuk menjenguk Eyang. Beruntung, saat ia ke sana Kenan sedang tidak ada di rumah. Entah sedang terbang, atau sedang pergi, Kanaya tak terlalu ambil pusing. Yang pasti, ia hanya ingin melihat kondisi Eyang, itu saja.
Seperti saat ini, ia menggantikan suster yang merawat Eyang untuk menyuapinya. Nafsu makan Eyang jadi bertambah selama disuapi oleh Kanaya. Kedua wanita beda generasi itu terkadang juga bercerita tentang apapun, yang bisa mereka ceritakan.
Sudah lama rasanya Kanaya tidak berbuat seperti ini. Terakhir kali ia merawat almarhumah ibunya saat ia duduk di bangku kelas 6 SD. Ibunya mengidap kanker p******a.
"Naya sudah menikah?" tanya Eyang saat suapan terakhir makanannya. Kanaya mengulurkan gelas pada Eyang yang sudah disiapkan oleh suster.
"Belum Eyang," jawab Kanaya seraya tersenyum. Ah, ia jadi merindukan Popeyenya jika ditanya perihal pernikahan.
"Pasti laki-laki yang memperistri Naya adalah laki-laki beruntung."
Kanaya tersenyum malu. "Eyang ini bisa saja. Doakan ya, Eyang, semoga pernikahan Naya lancar."
"Sudah ada calon?" tanya Eyang lagi.
Kanaya mengangguk sebagai jawaban. "Insya Allah, Naya berharap dia yang jadi jodoh Naya, Yang."
Air muka Eyang berubah sendu. Kanaya yang menyadari itu bertanya ada apa, takut Eyang merasa sakit. Namun Eyang hanya menggelengkan kepala.
"Nanti kalau Naya nikah Eyang dateng ya. Naya kasih baju yang bagus untuk Eyang. Eyang juga harus sehat setelah ini."
"Insya Allah, Naya. Doakan Eyang supaya panjang umur, ya."
"Iya, Yang. Naya pasti selalu doain Eyang," ucap Naya seraya menggenggam tangan keriput Eyang.
Tanpa keduanya sadari, di balik pintu seseorang sedang memperhatikan keduanya. Laki-laki itu belum masuk ke kamar, masih memakai seragam pilot, serta memegang koper. Kedua sudut bibirnya tertarik, mungkin ia sendiri pun tidak sadar. Baru kali ini Eyangnya bisa kembali tersenyum setelah mengetahui penyakit yang dideritanya.
Dalam hati ia berdoa, semoga senyum itu selalu terlukis di wajah Eyang. Hal itu sudah cukup untuknya.
*****