Ingin menangis, tapi malu. Ingin marah, tidak mungkin karena itu juga salahnya yang terburu-buru. Akhirnya ia hanya mengembuskan napas gusar, meski dadanya bergemuruh melihat benda persegi itu hancur di bagian layar. Terlebih saat panggilan Popeyenya yang terputus.
Baru lima bulan ia membeli benda keluaran dari Apel seri ke-8, hasil kerja kerasnya selama ini. Hanya dalam waktu hitungan detik saja, benda itu sudah tak keruan bentuknya. Ditabungannya memang sudah ada sedikit uang, tapi akan ia gunakan untuk biaya pernikahan dan biaya hidup setelahnya. Budget untuk membeli gawai tidak termasuk ke dalam list.
"Eyang minta maaf Nak Naya," ucap wanita baya itu lagi. Melihat ekspresi Kanaya membuatnya sangat merasa bersalah.
Kanaya diam, tidak menjawabnya sama sekali. Memangnya minta maaf bisa membuat gawainya seperti semula!
"Ehm begini saja, Eyang akan ganti rugi. Kita pergi ke ibox sekarang juga," putusnya.
"Eyang tidak perlu seperti itu. Tinggal servise saja layarnya," seru satu-satunya lelaki yang ada diantara mereka. Ia tak terima uang Eyangnya habis membeli gawai baru untuk perempuan di depannya.
"Iya Eyang, nanti biar saya servise. Ya mungkin butuh waktu lama sih. Tapi tidak masalah kok, Yang."
Tangan Kanaya langsung ditarik Eyang sehingga ia tidak bisa berkutik. Mereka berjalan untuk mencari letak ibox di dalam mal itu. Sedangkan Kenan berjalan di belakang mengikuti dua wanita berbeda generasi itu dengan wajah yang nampak kesal. Bisa-bisanya Eyang bersikap baik pada orang yang baru saja ditemuinya. Tanpa ada rasa curiga sama sekali. Bisa saja kan Kanaya itu hanya mengambil kesempatan di dalam kesempitan.
"Wong iPhone mu sudah rusak, mana bisa di servise. Ngawur si Ken itu," seru Eyang saat tiba di depan ibox. "Pilihlah yang kamu suka, biar Eyang yang bayar."
"Tapi, Yang ...."
"Kalau Eyang nggak ganti rugi, sampai mati pun Eyang tetap merasa bersalah."
"Eyang! Apa-apaan sih ngomongnya?!" pekik Kenan saat mendengar ocehan Eyang. Ia tidak suka saat kata itu keluar dari bibir Eyang.
Eyang tertawa, seperti tidak melakukan kesalahan apapun. "Yasudah Ken, kamu bantu itu Nak Naya pilih-pilih. Kalau bisa yang keluaran terbaru yang memorynya besar."
Dengan berat hati, Ken menurut. Ia melangkahkan kaki mendekat ke arah Kanaya yang sedang melihat-lihat deretan gawai, dan berhenti di belakang tubuh gadis itu.
"Kamu sengaja memanfaatkan kebaikan Eyang saya demi kemauan kamu, kan?" bisiknya di telinga Kanaya.
Sontak gadis itu langsung menoleh, rahangnya mengeras menahan amarah. "Maksud kamu apa bicara seperti itu?"
Kenan berdecih. "Saya sudah hapal perempuan macam kamu. Perempuan kota yang matrealistis."
Tangan Kanaya mengepal kuat. Harga dirinya seakan direndahkan oleh lelaki bertubuh tegap itu. Rasanya Kanaya ingin sekali berteriak di hadapan lelaki itu, kalau ia juga bisa membeli benda persegi nan canggih dengan uangnya sendiri.
"Sayang sekali ya, hati Eyangnya seperti malaikat. Namun sayang, Punya cucu berhati iblis seperti kamu!"
Kanaya melangkah ke arah Eyang yang juga sedang memperhatikan gawai yang dipajang. Eyang nampak terkejut dengan kedatangan Kanaya yang mendadak. Terlebih saat melihat wajah Kanaya yang terlihat marah.
"Eyang, mohon maaf sepertinya Naya tidak bisa menerima pemberian Eyang. Naya sudah ikhlas, dan Eyang tidak perlu memikirkan hal itu lagi. Naya mohon pamit, Eyang."
"Lho? Nak Naya tunggu dulu!"
Kanaya terus berjalan meninggalkan ibox, tanpa peduli panggilan dari Eyang. Ia ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini. Terlebih dari orang seperti Kenan.
Sedangkan Eyang menatap Kenan dengan wajah penuh curiga. Pasti sikap Kanaya berubah itu karena ulah sang cucu. Bisa dipastikan setelah pulang dari sini, Kenan akan mendapatkan ocehan panjang dari Eyang.
•••
Jakarta di sore hari, jangan berharap jalanan akan lancar. Padahal dari Plaza Indonesia ke apartmentnya tidak terlalu jauh. Namun tetap saja membutuhkan waktu satu setengah jam untuk sampai karena mobilnya berjalan sangat lamban seperti keong.
Masih kesal dengan ucapan Kenan, ditambah lagi saat dijalan ketika lampu merah ia melihat dua remaja yang masih duduk di bangku SMA berboncengan penuh mesra. Kalau Kanaya menjadi tokoh utama di komik, mungkin dari telinganya sudah muncul asap. Dan kepalanya keluar tanduk. Memang dasar, anak SMA tidak berperikemanusiaan. Tidak tahu apa jika ada pejuang LDR yang jealous melihatnya.
Mobil Kanaya tiba di apartementnya di daerah Semanggi. Ia langsung menuju kamarnya yang berada di lantai 10 karena tubuhnya yang sudah lengket ingin segera dibersihkan.
Guyuran air di tubuhnya membuat pikirannya sedikit tenang. Rasa kesal dengan lelaki itu sedikit berkurang meski masih tersisa. Kanaya berharap dia tidak akan dipertemukan lagi dengan laki-laki menyebalkan seperti itu, meski hanya dalam mimpi sekalipun.
Kanaya sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Kaki jenjangnya berjalan ke arah balkon yang menampilkan pemandangan ibu kota Jakarta dari atas. Tidak ada yang menarik sama sekali, kecuali semburat jingga dari matahari yang ada di ufuk barat.
Pikirannya tertuju pada delapan bulan yang lalu, saat hari terakhir Popeyenya berada di daratan. Keduanya berdiri di tempat yang sama, seperti sekarang ia berada. Menatap senja dengan senyum yang tak lepas, juga perasaan takut karena esoknya ia akan kembali ditinggal oleh sang kekasih. Tapi ia percaya kekuatan jodoh, sejauh apapun mereka berpisah pasti akan dipersatukan juga pada akhirnya.
Menjadi kekasih pelaut memang tak mudah. Kekasihnya itu lebih sering berada di laut daripada di daratan. Dalam setahun, waktu bertemu mereka hanya tiga bulan saja, bahkan pernah hanya satu bulan.
Juga kendala komunikasi yang tidak intens, berbeda dengan pejuang LDR yang sama-sama berada di daratan. Selain sinyal yang kadang sulit, Kanaya juga harus beradaptasi dengan perbedaan waktu karena pacarnya itu bekerja di kapal asing. Yang mengharuskannya berlayar ke laut China, Taiwan, Inggris atau ke Amerika. Yang pasti memiliki perbedaan waktu yang sangat lama.
Belum lagi kabar burung yang teman-temannya sering bilang. Kalau pelaut itu biasanya suka foya-foya, mabuk-mabukkan, suka main perempuan atau bahkan tipe yang tidak setia. Tapi Kanaya tidak terlalu ambil pusing soal itu, toh tidak semua pelaut seperti itu. Ia sangat percaya pada laki-laki yang sudah delapan tahun ini bersamanya. Di daratan pun, kalau mereka pergi ke mal, Popeyenya itu tidak akan melirik ke sana ke mari. Apalagi di laut yang sepanjang mata memandang hanya melihat air saja.
Ah, sungguh ia sangat merindukan lelaki itu.
Duhai senja, tolong sampaikan pada laut. Bersahabatlah pada kapal yang sedang berlayar di atasnya. Bawalah dia pulang ke daratan dengan selamat. Karena ada wanita yang begitu merindukan prianya.
Kini Kanaya sudah berada di meja kerjanya yang terletak di samping kamar. Biasanya kalau ia sedang merindukan Popeye, ia senang mendesaign gaun pernikahan yang akan ia kenakan pada hari bahagianya kelak. Sudah ada beberapa desaign hasil karyanya di lookbook, setelah Popeye pulang ia akan memperlihatkan kepadanya.
•••
Suasana di backstage terlihat riuh. Para model sudah bersiap dengan riasan serta baju yang mereka kenakan. Kali ini Palazzo Style mengeluarkan koleksi busana muslim dengan jilbab yang bertemakan Daisy. Sederhana namun indah, dengan pemilihan warna pastel.
Kanaya sendiri sudah menggunakan salah satu koleksinya, ditambah pashmina yang ia kenakan untuk menutupi rambut hitam panjangnya. Riasan yang ia pakai terkesan natural, namun membuatnya terlihat nampak cantik dan juga segar. Ia akan berjalan di runway, setelah para modelnya.
Ini adalah kali pertama Kanaya mengeluarkan koleksi busana muslim. Salah satu kenalannya yang memiliki brand kosmetik halal di Indonesia mengajaknya kolaborasi untuk membuat koleksi kali ini. Akhirnya Kanaya terima, meski ia harus keluar dari zona nyamannya.
"Mbak Nay, habis ini waktunya keluar," seru Gita, asistennya.
"Oke."
Kanaya mulai berjalan di runway dengan senyum yang tak lepas di wajah cantiknya. Sesekali ia melambaikan tangan saat ada yang memanggil namanya. Ia sangat bersyukur, cukup banyak orang yang datang hari ini.
Ia berdiri sejajar dengan para modelnya. Beberapa temannya datang membawakan sebuket bunga sambil mengucapkan selamat atas acaranya yang sukses malam ini.
"Gimana tadi penampilan gue, bagus nggak?" tanyanya pada Gita setelah kembali ke backstage.
"Bagus banget, Mbak. Cantik parah lagi," ujar Gita sambil menunjukkan ibu jarinya. Kanaya terkekeh mendengar itu.
"Hai Say," sapa wanita cantik pada Kanaya. Melihat siapa yang menyapanya, ia berteriak histeris.
"Devina?! Akhirnya bisa dateng juga ya, lo."
"Iya nih," serunya sambil memberi sebuket bunga pada Kanaya.
"Thank you, ya. Lo dateng aja gue udah seneng banget."
"Santai aja. Eh by the way ada yang mau ketemu sama lo," ucap Devina lagi.
"Siapa?"
"Itu." Devina menunjuk ke arah seorang pria memakai kemeja biru langit yang tengah melihat ke arah mereka. Laki-laki itu berbadan tegap, berambut jambul dan klimis, hidung bangir, bibir yang berbentuk sempurna. Kalau di novel-novel mungkin di ceritakan rahang laki-laki yang tegas, namun lelaki satu itu berahang halus khas laki-laki Jawa.
"Lo kenal sama dia?" tanya Kanaya dengan nada sarkastis. Melihat laki-laki itu datang, moodnya hancur seketika.
"Dia itu rekan kerja suami gue. Waktu gue snapgram acara lo ini dia langsung DM gue dan nanya acaranya di mana. Yaudah gue ajak bareng aja. Dia masih single, Nay," bisik Devina di akhir kalimatnya. "Pilot muda," lanjutnya.
Kanaya hanya memutar bola matanya malas. First impression mereka sudah tidak enak. Doa Kanaya agar tidak bertemu dengannya lagi ternyata tidak terkabul. Laki-laki yang paling tidak ingin ia temui malah berada di depannya.